Bab 43
Rumor
Jayden sesekali melirik Sabrina dengan pandangan bertanya.
Ia melakukan itu karena penasaran dengan ucapan Ineke beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa Sabrina seorang anak dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Rasanya tidak percaya, tapi ada bagian dirinya seolah mempercayai hal itu.
Menghela napasnya, Jayden kemudian bangkit berdiri.
“Mau ke mana, Jay?” tanya Ineke saat melihat laki—laki di sampingnya berdiri. Malam ini, mereka sedang melakukan acara makan malam bersama sebagai pesta perpisahan untuk pegawai magang yang harus kembali bekerja ke kantor cabang.
“Hmm ... mau ke toilet sebentar,” balas Jayden dan melanjutkan perjalanannya menuju toilet laki—laki. Saat ia berada di toilet laki—laki, Jayden teringat bahwa ia belum mengirim pesan pada Divi sama sekali malam ini.
Merasakan suasana yang lebih baik di rumah tangganya bersama Divi, Jayden pun masuk ke dalam bilik kloset di toilet umum itu. Duduk di atas kloset yang tertutup, Jayden pun mulai membuka ponselnya.
Namun baru saja mencoba mengetik sesuatu, ia mendengar suara yang familiar. Suara atasannya, Pak Rian.
“Pak, jadi bener isu yang ada di kantor sekarang soal Sabrina?” tanya Devan dengan suaranya yang menarik perhatian. Memulai gosip di toilet dan sialnya Jayden justru mencoba mendengarkannya dengan seksama.
“Iya karena sebentar lagi Sabrina nggak bakal lagi kerja di kantor kita, saya akan kasih bocorannya.”
“Hmm?”
“Sabrina itu anak yang punya perusahaan.”
“Wah ... nggak bisa dibiarin ini! Jadi berita kalau Sabrina nggak masuk jadi pegawai tetap di perusahaan ini juga bener? Soal orang yang menggantikan Sabrina itu?”
“Ssst ... jangan keras—keras lah! Kalau sampai bocor namanya saya bisa dibilang nggak profesional.”
“Ayolah, Pak! Kasih tahu! Lagian juga kan sama saya ... saya jamin nggak akan bocor ke telinga yang lain!”
Pak Rian terkekeh pelan membuat Jayden berdegup dengan kencang. Ia takut namanya akan disebut dari banyaknya orang lain yang diangkat sebagai pegawai tetap di perusahaan ini.
“Apa jangan—jangan bener juga berita soal Jayden itu?” tanya Devan membuat Jayden menggenggam ponselnya dengan erat. Bahkan meremasnya.
“Waaah ... kayaknya kamu tahu banyak hal ya, Dev! Kita sepertinya memang cocok sebagai rekan kerja,” kata Pak Rian ambigu tapi sudah bisa ditebak oleh orang lain yang memiliki otak bahwa apa yang dikatakan oleh Pak Rian sama saja dengan jawaban YA.
“Aahh Bapak bisa aja! Kalau saya sih sebenarnya pernah dengar langsung dari Sabrina,” kata Devan lagi sampai di telinga Jayden.
Dari Sabrina? Apa maksudnya Devan mengetahuinya dari Sabrina? Sabrina sengaja memberitahu orang lain hingga semua orang di kantornya tahu bahwa ia menjadi pegawai tetap bukan karena kemampuannya tapi karena bantuan orang lain.
Jayden rasanya tak terima. Apakah pekerjaannya selama ini tak bagus hingga ia merasa harga dirinya terluka seperti ini?
“Sudah sudah ... ayo balik!” ajak Pak Rian pada bawahannya itu.
Tak lama kemudian Jayden tak mendengar suara apapun. Ia tersenyum miring karena merasa bodoh. Mengapa ia justru berdiam diri di balik toilet dan membiarkan orang lain membicarakannya dari belakang?
Sialan!
Sialan!
Jayden memukul bilik di sampingnya lalu bangkit berdiri. Ia tidak jadi mengirim pesan pada Divi dan justru membuka pintu bilik tempatnya bersembunyi.
Melangkah dengan langkah lebar, Jayden kemudian kembali ke meja makan panjang tempat makan malam tim diadakan.
Dari kejauhan, ia menatap ke arah Sabrina. Wanita itu sudah terlihat biasa bahkan bisa tertawa bahagia menanggapi obrolan orang di sekitarnya.
Ah aku hampir lupa, Sabrina kan anak yang punya perusahaan, pasti semua orang akan hormat padanya. Menyanjungnya meskipun ia tidak akan menjadi pegawai tetap di kantor.
Saat Sabrina menatap ke arah Jayden, wanita itu diam sejenak. Jayden memberikan senyumannya hingga Sabrina ikut membalas dengan canggung dan terpaksa.
Beberapa orang yang tengah menjadikan Sabrina sebagai fokus utamanya pun menoleh. Ia memperhatikan Jayden dan Sabrina dan menemukan kedekatan yang tak biasa di antara keduanya.
***
Divi melihat ponselnya yang sejak tadi tak kunjung memberikannya notifikasi dari Jayden. Padahal sudah sejak tadi ia menunggu pesan dari suaminya. Setidaknya meskipun mereka tinggal bersama, komunikasi mereka haruslah lancar.
Tak perlu terlalu lebay, asal cukup saling memberi informasi keadaan masing—masing.
Tak kunjung mendapat pesan Jayden, Divi yang tak tahan lagi pun akhirnya memutuskan untuk mencoba menelepon suaminya itu lebih dulu. Ia harus membuang egonya jauh—jauh dan mencari tahu keberadaan sang suami.
Dalam hatinya, Divi kembali mengingat bagaimana dua kali panggilan yang diperuntukkan suaminya justru diangkat wanita lain. Mengingat hal itu rasanya Divi menjadi was—was. Ia takut kembali sakit hati padahal baru beberapa hari ini ia merasa lebih baik.
“Halo....” Divi bersyukur karena panggilannya tidak diangkat oleh seorang wanita, melainkan oleh sang suami langsung.
“Halo, Jay! Kamu lagi ngapain?” tanya Divi memulai sesinya.
Jayden berdehem sejenak. “Aku lagi di kamar kosan aku, Div. Baru aja aku pulang dari kantor. Habis makan malam tim gitu.”
“Habis makan malam ya? Ya udah deh.”
“Maaf ya, aku belum sempat ngasih kabar. Aku baru aja mau ngasih kabar ke kamu, kamu udah telepon aku duluan.”
“Iya, Jay. Ya udah deh, barang kali kamu mau istirahat, udah dulu ya?”
Jayden berdehem. “Ya udah kalau gitu. Bye....”
“Hmm ... bye!” setelah itu Divi memutus panggilan teleponnya. Ia mendesah lega kemudian kembali menonton televisi. Ternyata tak ada salahnya untuk menghubungi Jayden lebih dulu.
***
Divi menatap Jayden yang baru saja pulang ke rumah di hari weekend. Tak disangka waktu berlalu begitu cepat, Jayden tetap bekerja di Jakarta sedangkan Divi masih setia menjadi salah satu redaktur di Redaksi Buana Bogor.
Dengan perut membesarnya, Divi menghampiri Jayden yang baru saja pulang. Laki—laki itu tersenyum lalu melepaskan dasi yang masih dipakainya, meskipun dalam kondisi tidak tersimpul rapi.
“Katanya pulang telat?” tanya Divi sambil mengulurkan tangannya.
Jayden yang paham bahwa istrinya ingin salim pun segera mengulurkan tangan juga. Tak lama kemudian, Divi pun mencium tangannya.
Divi dan Jayden duduk di kursi depan yang ada di teras depan rumah lalu mulai melihat hujan yang mulai turun. “Wah hujan turun!”
“Iya, Div! Pas banget ya aku udah sampai rumah terus hujan turun.”
“Hehe iya ya,” balas Divi sambil tersenyum. Ia mengusap perutnya dengan lembut saat merasakan tendangan dari sang buah hati yang berada dalam kandungannya. Hal itu juga membuat Divi mengerang.
Mendengar keluhan sang istri, Jayden pun menoleh. Laki—laki itu sudah selesai melepaskan sepatu yang dipakainya sejak tadi.
“Kamu kenapa, Div?” tanya Jayden sambil melepaskan juga kaos kaki yang dipakainya. “Perut kamu sakit?”
“Nggak kok, Jay. Tapi calon anak kita lagi sering nendangin perut Bundanya.”
“Oh ya?” Jayden pun bangkit dari kursi yang didudukinya. Ia mendekat pada Divi lalu mengusap perut besar istrinya itu. Mengusapnya dengan lembut, Jayden pun tak lama kemudian merasakan tendangan dari dalam kandungannya.
“Ya ampun, Sayang. Tendangannya kuat banget!” kata Jayden sambil tersenyum lebar.
Divi menganggukkan kepalanya. “Iya dong! Dia kan jagoan jadi tendangannya kuat!” kata Divi sambil tersenyum lebar juga. Tak hanya Jayden, Divi pun sangat senang. Mereka sama—sama sedang menunggu kehadiran buah hati mereka.
“Jay?”
“Hmm?”
“Besok kamu bisa kan nganterin aku buat periksa kandungan?” tanya Divi. Ia sangat ingin Jayden mengantarkannya periksa kandungan. Hal yang bahkan sekali pun belum pernah laki—laki itu lakukan.
“Kamu bukannya udah jadwal periksa hari rabu kemarin? Kenapa jadi minta besok? Emang dokter kandungannya praktik hari minggu?”
Divi mendesah pelan. “Kita ke bidan juga nggak papa.”
Jayden kemudian terkekeh pelan. “Bukannya lebih baik ke dokter kandungan ya?”
“Iya sih! Tapi aku pengen banget kalau kamu nganterin aku periksa kandungan. Usia kandunganku udah masuk 7 bulan, tapi sekali pun kamu nggak pernah nemenin aku periksa kandungan bareng.”
“Masa sih kalau aku belum pernah temenin kamu?” tanya Jayden balik. Laki—laki itu benar—benar tak ingat. “Pasti pernah lah! Sekali! Iya kan?”
Divi tak menjawab. Wanita hamil itu hanya menghela napasnya dengan jengkel.
Melihat tatapan tajam istrinya, Jayden pun buru—buru memeluk Divi yang kini tengah bangkit berdiri. Ia memeluknya dengan erat dari belakang sambil bertopang dagu di bahunya.
“Ya deh, nanti besok kita periksain kandungan kamu! Jangan marah—marah ya, nanti kamu kelihatan tua lima kali lipat kan aku yang rugi!”
Divi merasakan pipinya ditarik dengan kuat oleh suaminya. Namun bukannya marah, ia justru tersenyum. Wanita itu tak bisa terlalu lama marah pada suaminya. Apalagi Jayden sudah mau menuruti permintaannya. Jadi ia harus bersenang hati.
“Udah ih! Berat banget, Jay!” kata Divi sambil mencoba melepaskan pelukan suaminya.
Jayden tak peduli dan terus berjalan bersama Divi memasuki rumah. Mereka terus mengobrol dan saling bertukar gurauan bersama.
***
“Jay, kamu lagi ngapain?” tanya Divi sambil memperhatikan suaminya yang kini tengah membuka laptop. Di depannya, ia melihat sang suami sedang membuat sebuah desain. Ia tak tahu desain apa dan memutuskan untuk tidak bertanya.
“Hmm ... nge-desain. Kenapa?” tanya Jayden balik sambil mendongakkan kepala.
“Kamu sibuk banget nggak?” tanya Divi lagi. “Aku pengen mangga nih. Aku lupa, kemarin bawa mangga dari rumah. Kamu bisa tolong anterin aku ke rumah Mama Papa nggak sekarang?”
“Harus sekarang ya?” tanya Jayden balik.
“Iya, kalau kamu luang dan nggak terlalu sibuk ... sekarang aja bisa? Aku pengen banget! Udah beberapa hari ini, aku lagi demen banget makan mangga.”
“Kamu ngidam ya?”
Divi tersenyum sambil duduk di samping suaminya di kursi makan. Meja makan mereka kini lebih seperti meja kerja bagi Jayden.
“Huft ... ya udah deh,” kata Jayden terdengar pasrah. “Demi calon jagoannya Ayah maka apa boleh buat!”
“Kamu kayak nggak ikhlas gitu?”
“Ikhlas kok, Sayang,” balas Jayden dengan penekanannya yang lebih lembut. Ia mulai menutup laptopnya lalu menyimpannya dalam satu tumpukan berkas.
“Aku cuci muka dulu ya sebentar,” kata Jayden lagi. Ia kemudian bangkit berdiri, meninggalkan Divi yang memutuskan untuk menunggu di kursi makan.
Sambil menunggu Jayden ke luar dari kamar mandi, Divi menatap ke arah berkas dan laptop suaminya yang masih berada di atas meja. Namun seingatnya ponsel suaminya itu dibawa pergi bersamanya.
Divi buru—buru menggelengkan kepala kala ia memikirkan hal negatif yang hanya membuat perasaan dan pikirannya memburuk.
Nggak, Div! Jayden dan Sabrina udah nggak kerja di kantor yang sama lagi. Mereka pasti nggak akan lagi saling kontak. Mereka udah memutuskan hubungan mereka. Jayden! Aku harus mempercayai Jayden, gumam Divi dalam hati. Ia terus menggelengkan kepalanya.
Setelah beberapa menit kemudian, Jayden kembali. Ia sudah bersiap dan memakai jaket jeansnya. Suaminya nampak tampan dan itu membuatnya menghela napas dengan berat.
“Kamu kenapa sih?” tanya Jayden merasa aneh dengan sang istri yang menghela napas kala di sampingnya.
“Aku kesel aja! Lihat perut aku buncit kayak gini, tapi kamu tetep nggak berubah sama sekali! Menurutku sih ini nggak adil banget tahu nggak,” gumam Divi.
Mendengar jawaban istrinya, Jayden pun terkekeh pelan. “Jadi kamu maunya aku gimana? Aku banyak makan dan nggak ngegym? Biar kita menggendut bersama?”
Divi tiba—tiba mengingat perut beberapa laki—laki paruh baya yang terlintas begitu saja di benaknya. “Ih ya jangan juga lah!”
Jayden pun tertawa mendapat penolakan tegas dari istrinya. “Ya udah bersyukur aja! Nanti kamu juga pasti langsing lagi setelah melahirkan nanti.”
Divi dan Jayden mulai berjalan bersama. Mereka menuju mobil baru Jayden. Laki—laki itu jadi membeli mobil dengan harga sangat miring setelah bertemu langsung dengan sang pemilik yang tinggal di luar negeri. Ia membelinya setelah 3 bulan kemudian sejak tawaran pertama diberikan olehnya.
Memang aneh, tapi mobil itu belum laku terjual selama itu padahal dengan harga super duper miring.
“Jay, kalau aku nanti nggak langsing lagi gimana? Kamu bakal nyesel nggak karena udah menikah denganku....”
“Jangan bicara seperti itu, Div! Aku juga nggak nyesal sama sekali. Malah aku sering mikir, mungkin kamu lah yang menyesal karena harus menikah denganku.”
Perkataan Jayden di akhir kalimat membuat pasangan suami istri itu terdiam. Keduanya sudah bisa memikirkan hal yang sama. Soal perselingkuhan Jayden yang dilakukannya sebelum menikah dengan Divi.
Meskipun keluarga Jayden dan Divi tidak tahu dan ikut campur masalah mereka, tetap saja keduanya saling mengetahui hal itu dan menganggapnya sebagai celah kotor yang takkan pernah bisa bersih. Masih ada bekas yang tak bisa hilang di sana.
Jayden membukakan pintu mobilnya untuk Divi dan sang istri segera duduk di jok mobil di depan. Setelahnya, ia menutup pintu mobil.
Divi menunggu Jayden masuk ke dalam mobilnya, tapi sang suami terlihat sedang menerima panggilan sambil memunggunginya.
Menunggu beberapa saat, Jayden pun akhirnya masuk ke dalam mobil.
“Telepon dari siapa, Jay?” tanya Divi ingin tahu.
“Oh itu tadi dari Pak Rian, atasanku. Dia nanyain beberapa hal kecil.”
“Oh gitu.” Divi menganggukkan kepala. Diam sejenak kemudian Divi tersenyum simpul sambil memperhatikan wajah suaminya.
Mendapat tatapan dari sang istri, Jayden pun menoleh dengan penasaran. “Kenapa? Aku ganteng ya dan bikin kamu terpesona?”
Divi terkekeh pelan. Ia kemudian menggelengkan kepala beberapa kali.[]
***
bersambung