Sabrina dan Jayden

1689 Kata
Bab 42 Sabrina dan Jayden “Ya udah kalau gitu, Div,” kata Hana lalu cium pii kanan dan kirinya secara bergantian. “Balik dulu ya!” lanjutnya lalu melambaikan tangan. Hana memperhatikan Jayden beberapa saat dengan tanda tanya besar, tapi kemudian tersenyum. Ia akan menunggu cerita selengkapnya dari Divi nanti saat ada waktu senggang. Divi balas melambaikan tangan lalu berjalan masuk menuju mobil Jayden yang pintunya sedang dibuka oleh sang pemilik. “Makasih,” kata Divi lalu duduk dengan nyaman di dalam mobil. Jayden menutup pintu mobil dengan pelan lalu berjalan memutar mobilnya. Terlihat olehnya bahwa mobil yang dikendarai oleh atasan Divi dan teman sekantornya itu mulai meninggalkan area parkiran restoran setelah membunyikan klakson sekali. Masuk ke dalam mobilnya, Jayden pun mendapati Divi yang kini sedang menggunakan ponselnya. “Chattingan sama siapa?” tanya Jayden sambil memakai sabuk pengamannya. Mendapati Jayden memakai sabuk pengamannya, Divi pun melakukan hal serupa. “Sama Hana. Katanya yang tadi jangan dikasih tahu ke teman—teman di kantor.” “Oh ... emangnya hubungan mereka dirahasiakan?” “Kurang lebih gitu sih!” kata Divi jujur. “Hana belum mau jujur. Apalagi kan Pak Bagas itu atasan kita. Khawatirnya malah dikira Hana dapat perlakuan khusus dari Pak Bagas. Hana nggak mau aja misal dia dibilang kayak penjilat gitu.” “Rumit juga ya hubungan mereka!” “Hmm....” Padahal ada yang lebih rumit! Hubungan aku sama kamu, Jay! Tapi kayaknya kamu nggak terlalu menyadarinya. “Habis ini kita mau ke mana?” tanya Jayden. “Ke mana ya?” Bukannya menjawab, Divi justru bertanya balik. Wanita itu memang tidak ada keinginan untuk pergi ke suatu tempat. “Kamu nggak pengin pergi ke mana—mana emangnya?” tanya Jayden lagi. “Kalau nggak ada. Ya kita pulang aja habis ini.” Divi diam sejenak. Mobil yang tadinya sedang dipanaskan sejenak pun mulai dilajukan kembali oleh Jayden. “Nanti mobil ini kayaknya bakal aku balikin ke Papa,” kata Jayden sambil menyetir mobilnya, ke luar dari area restoran. Menatap suaminya beberapa saat kemudian, Divi kemudian menatap lurus ke jalanan. “Kamu nggak nyaman ya pakai mobil Papa kamu?” “Hmm,” balas Jayden. “Aku kemarin ditawarin mobil bekas. Mobilnya masih bagus. Tergolong mobil baru juga, masih beberapa bulan katanya.” “Oh ya....” “Hmm,” Jayden bersyukur karena kini Divi sudah bisa menjadi teman mengobrol lagi untuknya. Akhirnya kemarahan Divi berangsur berkurang. “Tapi aku khawatir.” “Kenapa?” “Yang ditawarkan temanku ini tergolong mobil mahal. Pasarannya 200 juta, tapi temanku memberi harga 65 juta. Aku khawatirnya ... kalau semisal mobil ini mobil perusahaan gimana?” “Emangnya teman kamu bilang itu mobil perusahaan?” tanya Divi balik. “Tapi aneh juga ya, kalau harga pasaran 200 juta tapi dijual 65 juta?” “Iyap. Aneh banget! Makanya aku ragu buat ambil. Tapi temanku bilang mobilnya milik perseorangan. Sama sekali nggak masalah. Cuma dia jual harga banting seperti itu karena butuh uang!” “Apa nggak lebih baik kalau ketemu langsung aja sama yang jual mobilnya, Jay?” tanya Divi memberi solusi. “Nggak bisa. Katanya yang jual sekarang tinggal di luar negeri.” “Tinggal di luar negeri dan butuh uang! Kok rasanya sangat mencurigakan sih?” tanya Divi balik membuat Jayden mengangguk. “Tapi aku nggak enak jika terus menerus pakai mobil Papa.” “Papa bukannya nggak masalah?” tanya Divi lagi. “Nggak masalah sih, tapi aku nggak suka ngerepotin Papa. Aku ngerasa berhutang pada Papa dan aku nggak suka hal itu terjadi.” Divi terdiam. “Tapi kan urgent juga, Jay. Kamu kan butuh kendaraan.” “Makanya aku harus beli mobil. Aku nggak bisa begini terus.” Divi menghela napasnya. “Ini kita jadi pulang aja ke rumah?” tanya Jayden lagi. “Hmm ... pulang aja deh,” balas Divi. Ia mendadak merasa boros. Setelah berbaikan, ia merasa bahwa Jayden dan dirinya harus memikirkan keuangan keluarga bersama—sama. Sekarang pun Divi mulai paham, kenapa Jayden menerima untuk tetap bekerja di Jakarta. Dengan gaji yang lebih baik. Dengan kondisinya yang sedang hamil. “Jay ... dari awal kita menikah, kita belum pernah membahas soal keuangan kita. Kayaknya kita harus diskusikan hal ini. Apalagi kamu kan sekarang butuh mobil.” Jayden mendadak terdiam. Benar, mereka memang belum membicarakan mengenai keuangan masing—masing. “Ya. Mungkin lebih baik kita bahas ini di rumah setelah ini.” Divi setuju. Ia pun menganggukkan kepalanya. Setelahnya mereka menuju rumah. *** Beberapa hari kemudian.... “Jay ... tunggu sebentar!” suara Sabrina membuat Jayden berhenti sejenak. Gadis itu menyuruh Jayden berhenti karena setelah melihatnya masuk melewati tangga darurat, Jayden justru buru—buru hendak ke luar. Seolah tak ingin dekat dengannya sedikit pun. Sabrina kembali melangkah mendekati Jayden hingga berdiri di depannya. “Makasih ya karena lo pernah mencoba melindungi gue dulu dari orang yang mencoba nyakitin gue,” kata Sabrina. Ia ingat apa yang sudah dilakukan oleh Jayden dulu saat ibu tirinya datang ke apartemen. “Gue nggak pernah melakukan itu. Jadi lo nggak perlu merasa berterima kasih sama gue, Sabrina.” Sabrina menatap Jayden dengan tatapan sedihnya. Tak disangka bahwa Jayden benar—benar menganggapnya sebagai orang asing. Padahal mereka pernah berbagi hari dan ranjang bersama. “Lo nggak pernah cinta sama gue ya? Barang sedikit pun, Jay?” “Apa pantas lo tanya hal kayak gini ke orang yang sudah menikah?” tanya Jayden balik. “Gue sadar ... beberapa waktu lalu, gue gelap mata. Kita berdua udah melewati batas, Sab.” “Apa mencintai seseorang itu disebut melewati batas?” tanya Sabrina membuat Jayden menghela napasnya. “Ketika dua orang itu tidak memiliki hubungan dengan orang lain, Sabrina. Berbeda dengan kita! Apalagi sekarang gue udah punya istri. Bentar lagi, gue akan jadi seorang bapak. Gue nggak mau menyesal. Hubungan gue sama Divi udah lebih baik sekarang,” kata Jayden jujur. Sabrina mulai menitikkan air matanya. Ia seolah harus sadar diri, kalau hubungannya dengan Jayden memang takkan pernah berhasil. Bagaimana pun mencoba, hubungan mereka seolah genangan air yang memiliki batu halangan. Takkan pernah bersama meskipun berada di jalur kolam yang sama. “Please, Sabrina! Berhenti mendekatiku!” kata Jaydeng seolah memohon. “Bukannya kamu akan kembali bekerja di Bandung? Kamu bisa kembali ke kehidupan lamamu sebelum bertemu denganku.” “Kembali?” Sabrina terkekeh pelan. Aku bahkan tidak punya tempat untuk kembali. Aku tidak kembali ke Bandung, Jay. Tapi ibu tiriku meminta agar aku tidak bekerja lagi di perusahaan. “Iya, tentu aja. Aku akan coba. Tapi aku nggak yakin. Apa aku bisa melupakan kamu dengan mudah.” Jayden menatap Sabrina dengan dalam. “Itu bukan urusan gue, Sab.” Jayden kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Sabrina begitu saja. Ia membuka pintu yang berada di depannya lalu kembali ke meja kerjanya. Sabrina nyaris menitikkan air mata. Ternyata ada yang lebih menyedihkan dari kesepian. Yakni ketika ada yang dulunya peduli tapi memutuskan berhenti peduli padanya. Mendudukkan dirinya di tangga darurat, Sabrina dengan d**a sesaknya kemudian mulai menangis tersedu. Ia kecewa sekaligus sedih. Ia tak menyangka bahwa Jayden bisa bersikap begitu dingin dan membuatnya sakit hati. *** Setelah ke luar dari pintu tangga darurat yang ada di belakangnya, langkah Jayden mendadak begitu pendek dan lemah. Ia yakin bahwa ia tak memiliki perasaan apapun pada Sabrina, tapi entah mengapa ia merasa begitu sedih. Apalagi saat melihat mata Sabrina yang berkaca—kaca. Jayden yakin bahwa Sabrina pasti sudah menderita karena hubungan mereka. Sejak awal, hubungan Jayden dan Sabrina tak berdasarkan apapun. Menghabiskan waktu bersama bukan karena sepasang kekasih. Menghabiskan malam bersama yang intim padahal bukan sepasang kekasih. Yang Jayden tahu, Sabrina menyukainya dan menginginkannya. Sedangkan yang Jayden lakukan hanyalah menjadikannya pelampiasan. Saat ia dan Divi bertengkar karena perbedaan pendapat atau karena mereka saling tidak menyukai situasi yang ada, saat itulah Jayden mendekat dan menerima Sabrina. Baru saja duduk di kursi kerjanya, Jayden mendapati seseorang menghampiri meja kerjanya. Ineke. “Jay, kamu ngelihat Sabrina nggak?” tanya Ineke padanya. Entah mengapa sejak ia menjadi karyawan tetap di perusahaan ini, orang—orang yang dulu tak begitu dengannya mulai berubah. Seolah mulai menganggapnya sebagai manusia pada umumnya. Mereka mungkin menganggapnya manusia karena sekarang mereka sama—sama karyawan tetap. “Sabrina?” tanya Jayden balik. “Iya. Tadi bukannya dia nyariin kamu. Kamu belum ketemu sama dia?” tanya Ineke balik dengan bingung. Wajahnya nampak berpikir. “Kenapa emangnya, Mbak?” tanya Jayden akhirnya. “Nggak sih,” kata Ineke sejenak. Namun tak lama kemudian, ia mendekati Jayden dan mulai menyebarkan gosip yang didengarnya. “Kamu udah tahu belum?” “Tahu apa, Mbak?” tanya Jayden balik pada wanita yang jelas lebih tua darinya itu. “Soal Sabrina. Eh kamu kan sama Sabrina itu biasanya ke mana—mana bareng. Kamu pasti dekat kan sama Sabrina. Kamu pasti udah tahu kan soal siapa Sabrina itu?” Jayden mengerutkan alis matanya. “Saya benar—benar nggak ngerti, Mbak. Maksudnya apa ya?” Ineke menggerakan tangannya di udara. “Jadi kamu nggak tahu, Jay?” tanya Ineke sambil menutup mulutnya. Setelah membuka bekapan di mulutnya, Jayden melihat bagaimana Ineke mulai merunduk dan mendekat padanya. “Sabrina itu ternyata anak yang punya perusahaan kita ini. Keren ya!” kata Ineke membuat Jayden terdiam beberapa saat. “Masa sih, Mbak?” Ineke lalu berdecak pelan. “Wah kayaknya kamu benar—benar nggak tahu ya soal ini, Jay. Ya ampun....” Jayden kemudian diam beberapa saat. “Yang saya dengar lagi. Dia nggak dilanjutkan lagi kontrak kerjanya karena permintaannya sendiri.” “Permintaannya sendiri gimana, Mbak?” “Saya sih cuma dengar gosipnya aja. Tapi katanya dia minta nama orang lain buat gantiin namanya.” Jayden terdiam. Otaknya ingin berpikir terlalu jauh, tapi apakah benar seperti itu? Apakah misal ada seseorang yang bekerja di kantor ini dan menggantikan namanya itu adalah dia? Apakah? Jayden masih terdiam saat Ineke menjauh darinya. Wanita itu melihat Sabrina yang berjalan kembali ke meja kerjanya dan buru—buru kembali lagi ke meja kerjanya sendiri. Jayden melihat ke arah Sabrina, begitu pun Ineke. Sedangkan Sabrina hanya bisa menundukkan kepala. Ia tak ingin orang menyadari bahwa ia baru saja menangis untuk beberapa saat.[] *** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN