Bab 41
Berbaikan
Divi bangkit dari ranjang tapi kemudian tertahan karena pergelangan tagannya yang ditahan oleh Jayden. Ia menatap pergelangan tangannya sejenak, kemudian menatap ke arah Jayden yang kini menatapnya dengan serius.
“Kita harus bicara, Div. Jangan lari dulu!”
Divi yang tadinya hendak lari pun mendadak kembali mendudukan dirinya di atas ranjang bersama Jayden yang kembali membaringkan kepalanya di atas bantal. Tangan Jayden pun berpindah, kini memeluk Divi dengan posesif seolah tak ingin istrinya meninggalkannya begitu saja di atas ranjang.
“Ada apa?”
“Bukan ada apa, Div! Tapi emang di antara kita ada sesuatu hal yang sudah bengkok. Mau kamu sebenarnya gimana, Div? Kamu nggak capek apa, kita terus menerus bersikap dingin satu sama lain. Bukannya lebih baik ketika kita pacaran daripada sekarang.”
“Aku nggak akan begini kalau kamu nggak nerima pekerjaan kamu di Jakarta. Apalagi jelas—jelas di Jakarta, kamu akan kerja sama terus kan sama Sabrina.”
“Sabrina nggak ditawari kontrak yang sama denganku, Div! Dia kemungkinan akan kembali ke tempat kerjanya dulu, di cabang Bandung,” kata Jayden membuat Divi terdiam beberapa lama.
“Jadi Sabrina nggak akan kerja sama kamu lagi di kantor?”
“Nggak!” kata Jayden lalu mendesah. “Aku juga baru tahu beritanya.” Dari Sabrina, Jayden tak mengatakan apa yang harus disimpannya sendiri.
“Aku minta maaf soal dulu, aku sadar dan aku menyesal. Sudah berulang kali kan kalau aku minta maaf ke kamu karena aku udah mengkhianati kamu.”
Divi diam.
“Hubungan kita nggak akan berhasil kalau kamu tetap seperti ini, Div. Kamu nggak mencoba memaafkanku dengan tulus dan mencoba untuk mempercayaiku lagi!”
Apakah aku bisa mempercayai kamu lagi ketika kamu sudah pernah mengkhianatiku?
“Aku tahu ... aku memang yang bersalah di sini, tapi aku mohon sama kamu, Div. Tolong kembalilah seperti dulu! Seenggaknya kalau kamu nggak mau melakukan itu demi aku, tapi tolong lakukan hal itu demi calon anak kita! Aku memang b******k, Div! Tapi aku nggak mau anak kita jadi korban broken home. Aku pernah merasakannya dan itu sama sekali tak menyenangkan,” Jayden akhirnya mengatakan apa yang selama ini membuat hatinya tak nyaman. “Kamu bisa lihat sendiri kan gimana kondisiku bersama keluargaku. Aku merasa asing karena dulu ... merekalah yang mengasingkanku.”
“Aku nggak mau, Div, kalau hal yang dulu kurasakan juga kembali dirasakan oleh calon anak kita ini....” Jayden mengusap perut Divi dengan lembut. Tubuh mereka masih sama—sama polos seusai berhubungan intim yang cukup canggung dan agak terpaksa awalnya.
Jayden bergerak. Ia mengecup perut Divi beberapa kali hingga Divi merasa geli dan menundukkan kepala untuk melihat apa yang dilakukan oleh sang suami.
Divi mulai merasa ciuman Jayden di perutnya makin turun. Ia mengecup pinggangnya. Turun lagi, hingga sampai ke bagian depan sensitifitasnya. Ia mengecupnya dan tangannya kembali bermain ke sana.
Divi yang kembali digoda pun mulai mengangkat bokongnya. Ia membiarkan jemari Jayden menggoda pusat sinsitiftasnya.
Merasakan benda asing di tubuhnya, Divi kemudian menarik rambut Jayden dengan gerakan tak beraturan.
Merasakan cambakan di rambutnya dan erangan tertahan sang istri, Jayden pun makin mempercepat gerakan tangannya di dalam diri Divi.
Tubuh Divi mulai lunglai saat ia merasakan tubuhnya hendak mencapai k*****s. Namun sayangnya belum sampai ke luar, ia merasakan Jayden menghentikan kegiatannya.
Divi menatap ke arah Jayden dengan tatapan protes. Laki—laki itu tersenyum menggoda lalu menidurkan tubuh Divi ke tempat tidur. Ia mengambil posisinya dan mereka pun kembali melanjutkan ronda permainan yang kedua.
Jayden begitu agresif, karena ia sudah lama tak mendapatkan kebutuhan biologisnya. Apalagi beberapa saat lalu kondisi fisiknya masih belum begitu baik.
Sekarang ia akan melakukan apapun yang menjadi haknya sebagai seorang suami. Yaitu untuk memuaskan hasratnya pada sang istri.
***
Jayden dan Divi memakai pakaiannya masing—masing setelah sebelumnya melakukan ritual mandi bersama. Mereka sudah terlihat selayaknya pengantin baru.
Jayden menurunkan egonya dengan terus mencoba menggoda Divi, dan Divi pun mulai menurunkan egonya juga. Apalagi setelah tahu bahwa Jayden tidak akan bekerja bersama Sabrina karena gadis slingkuhannya itu akan pindah ke cabang kantornya kembali, yakni Bandung. Rasanya kemarahannya berangsung memulih. Meskipun retakan itu tetap berada di tempatnya.
“Habis ini cari makan yuk?” ajak Jayden pada istrinya. “Kamu juga pasti laper kan, Div, habis ke luar berkali—kali.”
“Apaan sih kamu, Jay! Jorok banget ngomongnya.”
Jayden terkekeh saat melihat wajah Divi yang memerah karena perkataannya. “Tapi mau kan diajak makan?”
Dengan wajah cemberutnya, Divi pun menganggukkan kepala. “Ayo! Aku lapar! Sekarang yang makan itu bukan cuma satu orang, Jay! Tapi dua ... aku sama anakku.”
“Anak kita,” ralat Jayden.
Divi terkekeh pelan sambil menganggukkan kepala. Setelah memakai baju, keduanya bergantian menggunakan hair dryer. Mulanya Divi mengeringkan rambut suaminya, kemudian bergantian dengan Jayden yang mengeringkan rambut sebahu milik sang istri.
“Div, rambut kamu udah mulai panjang!”
“Hmm....”
“Mau kamu panjangin atau nanti dipotong pendek lagi?”
“Nggak tahu, Jay. Tapi kayaknya sekarang biarin aja,” kata Divi.
Jayden mengambil sisir dan menaruh hair dryer yang sejak tadi dipegangnya. Ia mulai merapikan rambut sang istri lalu mengecup puncak kepalanya.
Divi melihat perlakuan Jayden dari cermin rias yang ada di depannya lalu tersenyum tipis.
Setelah sisir yang dipegang Jayden kembali ditaruhnya di atas meja, Divi pun bangkit berdiri. Ia melihat penampilannya di depan cermin. Wajahnya nampak lebih baik sekarang setelah tak bertengkar dengan Jayden. Ia juga tak menyangka, mereka berbaikan hanya dengan hubungan intim.
“Sayang, kamu mau makan apa?” tanya Jayden pada Divi. Laki—laki itu mengambil dompet dan kunci mobil. Ponselnya pun sudah masuk ke dalam saku jaket yang dipakainya.
“Apa aja, Jay. Tapi cari nasi ya. Aku lapar pengen makan nasi.”
“Iya, Sayang,” balas Jayden lembut. Ia kembali menghampiri Divi lalu mengecup kembali pipinya. Istrinya sudah selesai memulas wajahnya dengan bedak. Riasan tipisnya membuat kecantikan alaminya terpancar.
Setelahnya mereka pun bersama—sama ke luar dari kamar. Menuju ke luar rumah untuk pergi ke sebuah restoran untuk menikmati makan siang bersama.
***
“Hari libur jadi ramai ya jalannya, Jay,” gumam Divi sambil melihat ke arah sekitarnya. Parkiran mobil nampak penuh dengan banyak kendaraan. Baik kendaraan roda empat atau roda dua.
“Iya, Div. Apalagi ke arah puncak, pasti ramai banget,” kata Jayden. “Mendadak macetnya pindah, dari Jakarta ke Bogor.”
Divi langsung tertawa mendengar perkataan suaminya. Ia paham maksud dari Jayden.
“Ya udah yuk!” ajak Jayden lalu menghampiri Divi. Mereka saling bergandengan tangan lalu berjalan bersama menuju pintu depan restoran.
Restoran nampak ramai tapi Jayden dan Divi tetap masuk ke dalamnya. Saat ia melihat ke kanan dan kiri dan tak menemukan meja yang kosong, ada seorang pelayan restoran yang langsung menghampirinya.
“Teh, ada meja kosong nggak?” tanya Jayden.
“Kalau di bawah udah penuh semua, A. Paling di atas, masih ada beberapa meja yang kosong.”
“Gimana, Div, kamu mau makan di atas?” tanya Jayden pada istrinya. Keduanya menatap ke arah tangga yang berada di restoran.
Divi diam sejenak. Ia sebenarnya malas jika harus naik tangga, tapi karena perutnya sudah lapar. Apalagi saat sarapan ia hanya memakan bubur sedikit. Akhirnya Divi pun menganggukan kepala. “Ya udah, nggak papa deh.”
Jayden dan Divi pun segera berjalan menuju tangga restoran. Namun saat sedang berjalan, keduanya mendengar seseorang yang memanggil nama Divi.
“Divi!”
Jayden dan Divi menoleh. Kedua melihat laki—laki yang tengah menatap ke arah mereka.
“Kamu kenal, Div?” tanya Jayden. Ia tak mengenali laki—laki yang menyapa istrinya itu.
“Bos aku yang baru di kantor, Jay.” Divi menghampiri meja makan Pak Bagas lalu menyadari bahwa perempuan yang duduk bersama sang bos adalah Hana. “Hana?”
Hana terkekeh pelan setelah ketahuan.
“Hai, Div!” sapa Hana balik.
Divi tiba—tiba tersenyum. Ternyata teman kantornya itu sedang makan bersama calon laki—laki yang dijodohkan olehnya. “Pak Bagas sama Hana lagi makan bareng ya?”
“Ehm iya. Kamu mau ke mana? Ke atas?” tanya Pak Bagas. Ia melihat arah jalan Divi dan suaminya.
“Iya, Pak. Soalnya di bawah udah nggak ada meja makan yang kosong. Hanya sisa di atas, jadi harus ke atas,” kata Divi jujur.
“Kalau mau, kamu sama suami kamu makan di sini aja. Bersama kami. Iya kan, Hana?” tanya Pak Bagas sambil menoleh. Ia meminta pendapat calon wanita yang masih belum bersedia dijodohkan dengannya itu.
“Ehm ... iya,” kata Hana akhirnya. Hana terlihat tidak nyaman, membuat Divi bingung. Ingin menaiki tangga atau bergabung dengan Hana dan Pak Bagas.
“Ya sudah, di sini aja! Kamu juga kan jadi nggak perlu naik turun tangga nantinya, Div.” Jayden ikut menjawab. Membuat Divi menoleh dan akhirnya mereka pun duduk bersama, satu meja.
Jayden duduk di samping Pak Bagas, sedangkan Divi duduk bersama Hana.
“Cie lagi nge¬—date ya?” kata Divi sambil berbisik pada Hana.
Hana yang jengkel segera menginjak kaki temannya itu.
“Aw....” Divi mengeluh membuat Jayden dan Bagas yang mendengarnya menoleh dengan khawatir.
“Kenapa kamu, Div?” tanya Jayden. “Perut kamu sakit?”
“Ngg ... nggak, bukan!” balas Divi sambil tersenyum canggung.
“Terus?” tanya Jayden bingung. “Tadi kamu bilang aww?”
“Nggak papa kok.”
Jayden tetap merasa aneh, sedangkan Bagas menggelengkan kepala. Setelahnya, Jayden pun memanggil pelayan restoran. Ia memesan makanan untuk dirinya dan Divi pun melakukan hal serupa.
Sambil menunggu makanan mereka sampai, keempat orang itu pun melakukan obrolan. “Sebelumnya mohon maaf nih,” kata Jayden memulai obrolan. “Kamu bos Divi kan?”
“Iya, saya kepala redaksi di Harian Buana yang baru.”
“Pak Bagas ini baru jalan 3 bulan jadi kepala redaktur, Jay,” kata Divi menambahkan.
“Saya sama Divi sebenarnya satu almamater dulu. Kita udah saling kenal, tapi di luar kantor masih aja manggil Pak.... Panggil Kak saja nggak papa, Div,” tegur Bagas.
Jayden menatap Divi dan Bagas bergantian.
“Nggak enakan, Pak. Takutnya juga kalau di kantor malah jadi kebiasaan manggil Kak.”
“Nggak papa kok. Hana juga panggil saya Mas. Nggak masalah,” gumam Bagas membuat Hana menendang kaki laki—laki itu dengan tidak sopan.
Melihat kedekatan antara bosnya dengan Hana membuat Jayden merasa curiga. “Saya melihat ada hubungan yang lebih dekat, yang lebih dari atasan dengan bawahannya. Pak Bagas dan Hana pacaran?” tanya Jayden membuat Hana menggeleng dengan cepat.
“Kelihatan sekali ya!” sayangnya Bagas memberikan pernyataan yang berbeda. “Saya dan Hana memang berpacaran. Divi juga pasti tahu! Iya kan, Div?” tanya Bagas membuat Divi tersenyum canggung.
Jayden kemudian terkekeh. “Saya jadi merasa sungkan kalau begitu,” kata Jayden. “Div, kamu kok nggak cerita sih kalau bos baru kamu dan Hana pacaran. Kalau gini, kita jadi gangguin orang pacaran!”
Hana tersenyum canggung.
“Sama sekali nggak mengganggu,” kata Bagas sambil menggelengkan kepala. “Iya kan, Han?”
“Iya, Jay. Nggak masalah kok.” Hana menatap Jayden. Ia dan Jayden memang sudah beberapa kali bertemu karena dulu pernah projek bersama. Jadi mereka saling mengenal.
Jayden kemudian menghela napas lega. Setelahnya beberapa saat kemudian, makanan Jayden dan Divi pun akhirnya sampai. Mereka makan bersama dan sesekali menceritakan sesuatu bersama. Membangun obrolan.[]
***
bersambung