Pagi Emosional

1622 Kata
Bab 40 Pagi Emosional Jayden baru saja pulang saat ia melihat ke dalam rumah yang cukup sepi. Laki—laki tak banyak berpikir kemudian berjalan memasuki teras depan rumahnya setelah melepaskan sepatu kantor yang dipakainya sejak pagi tadi. Membuka pintu depan rumah setelah memutar kunci di lubangnya, Jayden pun kemudian memasuki rumah yang gelap. Terus berjalan hingga ia masuk ke dalam rumah. Dari pandangan matanya sejak memasuki rumah, Jayden melihat pemandangan rumahnya yang berantakan. Namun anehnya ia justru senang ketika melihat rumahnya berantakan. Ia merasa rumah berantakan adalah sebuah tanda bahwa ia kini tidak lagi tinggal seorang diri. Ia kini memiliki seseorang yang tinggal bersamanya. Istri yang dicintainya tapi terus ia berikan rasa sakit. Jayden membuka pintu kamar dan menemukan Divi sedang meringkuk di atas tempat tidurnya. Ia menghela napas lalu menghampiri sang istri. Duduk di sisi ranjang, setelahnya Jayden mengusap rambut lurus Divi yang menutup wajahnya. Menyingkirkannya lalu mencium pipi dan bibirnya. Divi membuka matanya kala merasakan seseorang mengecup bibirnya beberapa kali. Ia menyipitkan mata dan menemukan sang suami yang sudah pulang ke rumah mereka. “Jayden?” Jayden hanya tersenyum. Ia mengusap pipi Divi lagi hingga sang istri kembali mengantuk lalu memejamkan matanya. Setelah meyakini bahwa istrinya itu kembali terlelap, Jayden pun angkat kaki. Ia akan membersihkan dirinya sebelum menidurkan tubuh dan pikirannya. *** Keesokan harinya, Divi terbangun dan segera mengucak—ucak matanya beberapa kali. Tiba—tiba bayangannya kembali pada beberapa jam yang lalu. Ada Jayden yang datang dan mengecupi wajahnya. Apa semalam Jayden pulang ke rumah ya? tanya Divi pada dirinya sendiri dengan tidak yakin. Divi menghela napas lalu mulai turun dari ranjang. Ia hendak ke luar dari kamar untuk pergi ke kamar mandi yang ada di dekat dapur. Namun saat ia berada di dapur, Divi segera melihat sosok yang dipertanyakan keberadaannya. Jayden kini sudah bangun dan sedang membereskan dapur. Di atas meja makan terdapat wadah sterofoam makanan. “Kamu udah bangun?” tanya Jayden sambil terus mengelap kitchen set di dapur. “Hmm ... aku mau pipis,” kata Divi lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ia dan Jayden berubah menjadi dua orang asing yang kini tinggal satu rumah. Meskipun status mereka menikah, tapi Divi menjauh dan bersikap dingin pada Jayden sejak awal pernikahan mereka. Berbeda dengan Jayden, laki—laki itu akan sedikit perhatian pada Divi di waktu—waktu senggang ketika bersama. Namun, kadang jika tidak direspon, ia pun akan melakukan hal yang sama. Jayden sadar akan kesalahannya, tapi kadang ia juga jadi emosi dengan sikap Divi yang tak mempedulikannya. Selesai mengelap kitchen setnya hingga kembali bersih, Jayden pun mulai duduk di kursi makan. Tangannya sudah memegang sendok. Namun saat hendak makan, ia kembali berdiri untuk mengambil minuman dari dalam lemari es. Divi ke luar dari kamar mandi dan hendak kembali ke kamarnya. Ia tidak mau terlalu lama bersama dan berhadapan dengan suaminya sendiri. Rasanya lebih baik jika Jayden tak berada di rumah dan mereka terus LDM. “Div, makan dulu!” “Iya, nanti!” “Sekarang, Div! Sekalian ada yang mau aku bicarain ke kamu,” kata Jayden membuat langkah Divi terhenti. Laki—laki itu menatap Divi sejenak lalu melihat sang istri kembali berbalik badan dan menghampirinya. Mereka pun akhirnya sama—sama duduk di kursi makan. Saling berhadapan satu sama lain. “Ada apa?” tanya Divi seolah tidak ingin terlalu lama bersama dengannya. Jayden yang awalnya terdiam pun mulai membukakan tutup wadah makanan sterofoam yang ada di depan Divi. Ia memberikan sendok pada Divi lalu menatapnya lagi. “Makan dulu. Aku beliin kamu bubur ayam tadi di depan taman.” Divi menerima sendok lalu melihat makanan di depannya dengan tidak berselera. Ia lapar tapi bersama Jayden membuatnya tak nyaman. Mulai menyendokkan bubur di depannya dan menyuapinya ke dalam mulut, Divi pun segera menikmati sarapannya. Melihat Divi sudah makan dengan santai, Jayden pun kembali memakan bubur ayam miliknya. “Div ... ada yang harus kukasih tahu ke kamu.” “Hmm? Apa?” “Kantor nerima aku jadi karyawan di pusat.” Deg! Divi mendadak berhenti makan. Ia merasa tidak berselera. Tangannya pun melemas saking khawatirnya dengan apa yang hendak dikatakan oleh Jayden selanjutnya. “Aku udah tanda tangan kontrak.” “Kenapa kamu nggak ngomong sama aku dulu sebelum menerima tawaran pekerjaan itu?” tanya Divi. Ia menatap Jayden dengan sorot mata marah. Ia merasa bahwa Jayden kini sengaja melakukan itu. “Apa jangan—jangan kamu takut kehilangan dan jauh dari selingkuhan kamu itu?” “Aku sama Sabrina nggak ada hubungan apa—apa,” kata Jayden lelah. “Aku menerima kontrak kerjaku di sana karena aku mikirin masa depan anak kita nanti.” “Masa depan anak kita?” “Aku mendapat promosi kerja di sana dan akan mendapat kenaikan gaji hingga dua kali lipat. Itu hal yang bisa kudapatkan kalau aku kerja di sana, Div. Kamu juga kan lagi hamil, kita pasti akan butuh uang lebih banyak untuk keperluan melahirkan dan merawat anak kita nanti. Please, Div! Coba kamu pikirin lebih jauh! Jangan berpatok dengan perasaan kamu aja!” Seolah sedang diremehkan, Divi mendadak terdiam. Ia merasakan sesak di tenggorokan dan dadanya. Kembali mencoba makan bubur, Divi rasanya ingin menangis. Ia merasa sedih karena perasaannya ternyata tidak penting bagi Jayden. Laki—laki itu hanya menggunakan akalnya tapi tidak dengan perasaaannya. “Div ... kamu marah?” tanya Jayden setelah beberapa saat. Ia sudah tahu bahwa kediaman Divi adalah bentuk kemarahannya. Namun dengan bodohnya ia masih saja untuk tetap bertanya. “Ehm, Jay! Terserah kamu aja. Terserah kamu mau lanjut kerja di Jakarta ya udah. Aku nggak masalah. Tapi aku nggak perlu ikut pindah ke sana kan, aku punya pekerjaanku sendiri di sini.” Jayden yang mendadak terdiam. Padahal ia punya pikiran untuk membawa Divi dan mereka tinggal meyewa sebuah rumah di Jakarta. Usia kandungan Divi makin lama akan makin membesar, istrinya itu pasti akan membutuhkan seseorang bersama dengannya. Jika mereka melanjutkan LDM, Jayden khawatir jika terjadi sesuatu dengan Divi kala sendirian di rumah. Namun kala mendengar ucapan Divi yang tidak ingin pindah dari Bogor, membuat Jayden bingung. Ia seolah tak berani mengatakan bahwa alangkah baiknya jika Divi resign dari pekerjaannya saat ini. Divi menundukkan kepalanya saat tak mendengar jawaban apapun dari Jayden. Ia kembali menikmati sarapannya yang terasa menyebalkan. Membayangkan Jayden lebih lama tinggal di Jakarta dan bersama dengan wanita yang sudah membuatnya cemburu selama ini membuat dadanya terasa sesak. “Ya udah kalau itu mau kamu! Aku nggak akan maksa kamu untuk ikut sama aku,” kata Jayden. “tapi....” Tatapan mata Divi mulai tertuju pada sang suami. “Tapi apa?” “Kamu kan lagi hamil, apa akan baik—baik aja kalau kamu tetap tinggal sendirian di rumah ini?” “Nggak papa. Lagian selama ini juga begitu kan. Kamu di Jakarta dan aku di Bogor. Mungkin kalau nanti ada apa—apa, aku akan langsung telepon mamaku untuk minta bantuan.” Jayden menghela napasnya yang berat. “Aku ngerasa nggak enakan kalau kamu menghubungi Mama kamu dan merepotkannya. Kamu sekarang udah jadi tanggung jawabku, Div,” kata Jayden. “Apa nggak lebih baik kalau kita tinggal bersama di Jakarta? Apa nggak lebih baik kalau kamu resign aja dari kantor kamu?” Deg! Serangan menukik terasa dan akhirnya mengenai jantungnya. Membuat dadanya makin sesak karena sakit diakibatkan ucapan Jayden. “Kalau aku nggak mau gimana?” Jayden menatap Divi yang terlihat begitu tajam menatap ke arahnya. Ia berdehem sejenak lalu mengunyah bubur yang ada di dalam mulutnya. “Enghh ... kalau kamu nggak mau, aku nggak akan paksa kamu. Tapi bukankah lebih baik....” “Aku udah selesai makan!” Divi masih menyisakan banyak bubur di wadahnya. Ia menutup wadah makanan itu lalu bangkit berdiri. Divi berjalan mendekati tempat sampah lalu membuang wadah bubur yang membuatnya sangat tidak berselera pagi ini. Setelah menaruh sendok makannya ke dalam bak cuci piring, Divi pun meninggalkan dapur. Meninggalkan Jayden bahkan tanpa sedikit pun menatap ke arahnya. Jelas sekali bahwa wanita hamil itu tengah emosi karena perbuatan sang suami. *** Jayden kembali memakan bubur yang ada di wadah makanannya. Ia tak mempedulikan Divi dan sikap gadis itu yang jelas saja tak menghormatinya sebagai sosok sang suami. Mendadak ia emosi dan terus menahan kekesalannya sambil menghabiskan makananya. Selesai makan, ia membuang wadah makanan miliknya yang memang tak bisa didaur ulang ke tempat sampah. Di tempat sampah, Jayden melihat bagaimana wadah makanan milik Divi yang masih banyak, istrinya sudah membuang—buang makanan. Jayden menghela napasnya karena kesal. Andai Divi tahu, ia pergi untuk membelikan sarapan Divi sambil berjalan kaki ke taman di waktu shubuh yang dingin. Tapi usahanya sama sekali tak dihargai. Makanan yang diniatkan untuk dimakan oleh Divi justru wanita itu sia—siakan. Menahan emosinya. Jayden kemudian mencuci sendok kotor yang ada di bak cuci piring. Ia mencucikan juga milik Divi karena tidak suka adalah bekas sendok atau piring dan gelas kotor di dalam bak cuci. Sebisa mungkin setelah selesai makan, ia bersihkan. Setelah selesai mencuci dua sendok, Jayden berjalan menuju kamar. Ia membuka pintu kamar Divi dan mendekatinya. Tak butuh basa basi, Jayden membawa istrinya ke atas ranjang. Pagi sabtu itu terasa dingin dan Jayden membutuhkan tubuh seseorang untuk menghangatkannya. Divi yang sedang marah terus menolak tapi ia tak bisa menghindar dari ciuman yang diberikan oleh Jayden terus menerus. Laki—laki itu melumat bibirnya seolah membutuhkan oksigen dari ciuman mereka. Divi mencoba melepaskan diri tapi pergelangan tangannya dicengkram oleh Jayden dengan kuat di kedua sisi kepalanya. “Kita udah lama kan nggak berhubungan badan?” tanya Jayden sambil berbisik di telinga istrinya. Divi hendak menjawab sambil melepaskan cengkraman Jayden, tapi laki—laki itu kembali melumat bibirnya dengan penuh dan b*******h. Laki—laki itu begitu kuat dan Divi hanya bisa pasrah dan merasakan keintiman mereka dengan kesuperioran Jayden.[] *** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN