Mencoba Melupakan

1603 Kata
Bab 39 Mencoba Melupakan Setelah hari pernikahan, Divi dibawa oleh Jayden ke rumahnya. Kondisi Jayden kala melangsungkan pernikahan pun cenderung membaik meskipun masih terdapat plaster luka yang membalut kepala, lengan, dan kakinya. Lukanya sudah mulai mengering dan hanya menyisakan luka ringan biasa. “Div, ayo turun!” ajak Jayden sambil menyentuh pundaknya. Divi yang tersadar pun segera menoleh. Ia menatap laki—laki yang kini sudah sah menjadi suaminya. Rasanya seperti mimpi kala ia dan Jayden sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Lebih terasa mimpi lagi setelah ia mengetahui ketidaksetiaan kekasihnya tapi tetap mau menikah dengannya. Menganggukkan kepala, Divi pun perlahan turun dari mobil Jayden. Laki—laki itu juga ikut turun setelah menekan kunci bagasi mobilnya dari dalam. Divi sudah menunggu di depan bagasi dan membuka pintu bagasi lebih dulu. Ia mengeluarkan barang—barang yang akan dipindahkannya untuk tinggal di rumah Jayden. Saat Jayden hendak membantu Divi, wanita itu segera menahan tangannya. “Biar aku aja, Jay! Aku bisa sendiri kok. Lagian tangan kamu kan lagi sakit,” kata Divi menolak pertolongan yang hendak diberikan oleh suaminya. Jayden terdiam sejenak. Ia merasa ditolak. Meskipun mereka sudah saling menerima. Divi sudah menerima kesalahannya dan memberikannya kesempatan kedua. Namun kini Divi lebih berbeda. Sikapnya kadang begitu defensif. Tatapannya kadang begitu tajam padanya. “Aku udah nggak papa kok. Kamu tenang aja! Mending aku bantu biar cepet selesai!” kata Jayden. Ia kembali bergerak. Divi menghela napasnya sejenak lalu membiarkan laki—laki yang sudah menjadi suaminya itu membantunya. Ia hanya diam hingga akhirnya Jayden membawakan koper, kardus berisi buku—bukunya, dan tas ransel berisi barang miliknya. Setelah membawanya ke teras depan rumah, Jayden pun membuka pintu rumahnya yang tadi terkunci. “Oh ya, ini kunci cadangan rumah ini!” kata Jayden setelah membukakan pintu depan rumahnya. Ia menyerahkannya pada Divi. Menerimanya, Divi pun menganggukkan kepala. Setelahnya ia kembali bersiap membawa masuk barang—barang miliknya. Memasuki rumah bersama semua keperluannya, Divi mulai menahan napas. Ia sudah masuk ke rumah Jayden yang akan menjadi tempat tinggalnya. Ia harus siap untuk menjalani rumah tangga ini dengannya. *** Beberapa hari kemudian.... Pernikahan sudah dilaksanakan, pengajian untuk syukuran pernikahan pun sudah digelar, semua sudah berjalan dengan lancar. Tak ada hal yang perlu dipikirkan lagi, kini hanya terdapat Jayden dan Divi yang mencoba memulai hidup baru sebagai sosok suami dan istri. “Div, kayaknya minggu depan aku udah harus balik ke Jakarta,” kata Jayden membuat Divi yang hendak meminum s**u hamilnya terhenti. Ia tidak jadi minum. “Kamu akan minta kembali dimutasi ke Bogor sama bos kamu kan?” tanya Divi tegas. Jayden mendadak terdiam. “Aku nggak lebih baik kalau aku tunggu sampai waktu magang kontrakku di sana selesai saja, Div? Hanya bersisa satu bulan lagi.” Mendadak wajah Divi tersenyum miris. Wanita itu tak bisa lagi berpikir karena Jayden mengingkari ucapannya yang dulu. Yang mengatakan siap untuk bicara dengan bosnya agar kembali bekerja di kantor arsitekturnya yang berada di cabang Bogor. Kenapa ucapan itu kini berubah? “Div, please ngertiin aku! Aku janji nggak akan ada hubungan lagi dengan Sabrina....” Jayden mencoba menyentuh tangan Divi yang berada di atas meja. Divi tidak menyambut tangan suaminya dan lebih memilih mengambil gelas yang ada di atas meja makan. “Kalau itu udah jadi keputusan kamu dan ucapanku sama sekali nggak bisa mengubah apapun, ya lakuin aja apa yang kamu suka, Jay,” kata Divi dengan dingin. Ia meminum susunya dalam beberapa kali tegukan hingga habis. Jayden terdiam sejenak. “Aku minta maaf sama kamu kalau keputusanku bikin kamu nggak nyaman. Tapi aku khawatir, kalau aku minta dimutasi balik ke Bogor padahal waktunya udah mepet, aku malah dipecat, Div. Please ngertiin aku! Tolong sabar sedikit lagi ya?” Divi menaruh gelas yang sudah kosong. Isinya sudah masuk ke dalam mulutnya. Ia menatap Jayden sejenak lalu mengangguk. “Iya, terserah kamu!” katanya pasrah sekaligus jengkel. “Aku berangkat kerja dulu ya!” Jayden merasakan tangannya dicium oleh Divi sejenak lalu melihat sang istri meninggalkannya di meja makan. “Nanti piring dan gelas kotornya biar aku aja yang cuci! Aku bersihin habis pulang kerja,” pesan Divi. Jayden hanya mendengarkan dan tidak menanggapi. Laki—laki itu merasa berada di ujung tanduk. Hubungan mereka mungkin menikah dan tinggal bersama. Namun rasanya ada retakan besar di antara mereka. Menghela napasnya sejenak setelah itu Jayden melanjutkan sarapan yang belum dihabiskannya. *** Hubungan rumah tangga itu terasa begitu dingin. Apalagi kala Jayden mulai kembali bekerja dan mereka harus LDM (Long Distance Married). Bahkan bisa dikatakan hubungan LDM mereka lebih suram dibanding saat mereka masih pacaran. Kini Divi tidak banyak mengirim pesan pada Jayden, sedangkan Jayden yang awalnya sering mengirim pesan tapi tidak pedulikan perlahan mulai malas mengirim pesan lagi pada Divi. Keduanya seolah hidup dalam dunia masing—masing. Bahkan kala Divi yang sedang hamil lebih sering pergi memeriksakan kandungannya sendirian, dibanding dengan suami yang bahkan sekali pun tak pernah menemaninya memeriksa kandungan. “Div,” panggil Hana. Gadis itu sudah memakai tasnya. Berdiri. Divi menoleh dengan mendongakkan kepalanya. “Hmm?” “Balik yuk?” Divi menggelengkan kepalanya. “Nanggung nih! Duluan aja!” kata Divi sambil tersenyum. Hana menghela napasnya. Ia menyadari perubahan Divi sejak menikah. Wanita itu seolah lebih suka berada di kantor daripada pulang ke rumah. “Ya udah deh kalau gitu!” kata Hana sambil menganggukkan kepalanya. “Gue duluan ya, Div!” Divi mengangguk singkat. Ia melihat kepergian Hana beberapa saat kemudian kembali mengerjakan tugasnya. Membaiki naskah akan dimuat agar layak terbit. “Div....” suara seseorang yang berat menyapa Divi kembali. Suara laki—laki milik Pak Bagas. “Pak Bagas? Ada apa ya?” “Sudah waktu pulang. Kamu belum mau pulang?” tanya Pak Bagas dengan senyum ramahnya. Divi menggelengkan kepalanya. “Mungkin setengah jam lagi saya pulang, Pak. Bapak sudah mau pulang?” tanya Divi balik pada sang kepala redaktur. Pak Bagas mengangguk singkat. “Kalau begitu saya duluan ya. Ingat jangan terlalu memforsir tubuh kamu! Kamu sedang hamil kan?” “Iya, Pak. Bapak tenang aja!” kata Divi. “Kalau begitu hati—hati di jalan, Pak Bagas!” Pak Bagas mengangguk lagi lalu meninggalkan Divi. Sepeninggalan bosnya, Divi pun mendesah pelan. Ia mengucak matanya perlahan lalu menguap. Rasanya mengantuk karena terlalu sering melihat layar komputer di depannya. Setelah beberapa saat meregangkan tubuhnya, Divi pun kembali bekerja. Ia lebih suka banyak bekerja daripada banyak menganggur dan membuatnya mengingat kemungkinan suami dan selingkuhannya bersama. Siapa yang tahu, apa yang sedang mereka lakukan saat ini? *** Jayden pulang dari kantor sesuai jam kantor. Ia meninggalkan semua pekerjaannya dan berlalu meninggalkan kantor. Bukan hanya kantor, tapi juga sosok wanita yang selalu mencoba menghampirinya, mendekat padanya. Baru saja mobil yang ditumpanginya hendak ke luar dari tempat parkir, Jayden mengerem mendadak karena ada seseorang yang berdiri di depannya tanpa takut. Jayden melihat ke arah Sabrina dan terdiam. Hal ini pernah terjadi padanya, jadi ia tidak terlalu kaget. Sabrina tetap diam untuk menghadang perjalanan ke luar mobil Jayden, begitu pun Jayden. Laki—laki itu menunggu Sabrina minggir dan melajukan kembali mobil yang sedang dikendarainya. Sabrina merengut karena Jayden begitu dingin padanya. Padahal banyak hal yang ingin dibagi padanya, tapi Jayden begitu lihai untuk menghindar. Saat Sabrina mencoba menghampiri mobil Jayden, ia terkejut bukan main saat melihat mobil itu begitu saja melewatinya. Saat ia melihat ke dalam mobil, bahkan kepala Jayden sama sekali tak menoleh sedikit pun ke arahnya. Seolah Jayden tak mempedulikannya sama sekali. Sabrina kesal bukan main, tapi ia tidak akan mudah menyerah hanya karena sebuah penolakan. Ia mencintai Jayden. Ia bahkan tak peduli meskipun Jayden kini sudah menikah dengan Divi. Ia tidak peduli sama sekali! Jayden adalah orang yang tepat yang bisa mengenalinya. Ia tidak ingin kehilangan Jayden begitu saja. *** Jayden baru saja mandi dan sedang mengeringkan rambutnya saat mendapat pesan dari nomer yang tak dikenalinya. [ Halo, Mas Jayden. Perkenalkan saya Bruce, salah satu manajer dari agensi model baru Dirgantara Management Jakarta. Saya ingin menawarkan dan mengajak Mas Jayden menjadi salah satu model kami. Kami menjanjikan perhitungan royalti yang menarik. Kami juga memiliki program khusus untuk part time. Jika berminat bisa balas pesan ini. Bruce Anang ] –Bruce. Jayden membaca pesan dari seseorang yang tak dikenalnya kemudian mengabaikannya begitu saja. Bahkan ia tak peduli jika Bruce mengetahui namanya sama sekali. Jayden duduk di kursi belajarnya. Ia mengirim pesan pada Divi sebelum mulai menggunakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Menjatuhkan handuknya di belakang sandaran kursi, Jayden pun mulai mengeringkan rambut menggunakan pengering rambut. Tak butuh waktu lama hingga rambutnya yang pendek kering. Kembali melihat ponselnya, Jayden hanya bisa tersenyum miris karena pesannya hanya dibaca oleh Divi. Istrinya sudah tak peduli padanya. [ Div, aku habis kehujanan. Dingin banget! ] isi pesan Jayden beberapa saat lalu. *** Divi terdiam setelah membaca pesan dari Jayden. Ia ingin berbasa—basi tapi setelah selesai mengetik beberapa kata, ia justru ke luar dari pesan chatnya bersama Jayden. Ia tidak jadi membalas pesan dari suaminya dan kembali ke dapur. Memasak seblak. Kemarin sepulang dari kantor, ia membuat bumbunya sendiri, dan hari ini ia memasaknya menggunakan bumbu yang sudah diraciknya kemarin. Sadar diri, bahwa rumah Jayden cukup bersih tanpa keberadaannya, ia pun mencoba menjadi sosok yang lebih baik. Membersihkan rumah ketika kotor atau hendak meninggalkan rumah. Setelah masakannya matang, Divi membawa mangkuk berisi seblak ke ruang tengah. Ia memakannya sambil menonton televisi. Merasa kepedasan, Divi pun berjalan menuju dapur kembali. Ia membuka pintu lemari es lalu mengambil air mineral dingin yang ada di sana. Membawanya ke ruang tengah, Divi pun kembali menikmati me timenya dengan memakan seblak. Sambil menonton televisi, seorang diri. Divi benar—benar mencoba melupakan segala kenangan buruknya.[] *** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN