Sah

1633 Kata
Bab 38 Sah Divi duduk diam di sofa. Ia kini hanya berdua saja dengan Jayden. Setelah beberapa waktu lalu di rumah Jayden, kedua orang tua Divi berkunjung. Jayden yang berada di sampingnya, ikut terdiam. Ia masih memikirkan perkataan ibu Divi yang ingin menunda pernikahan mereka. Dalam pikiran negatifnya, ia menebak bahwa yang ingin pernikahan mereka ditunda adalah Divi. “Kamu udah bilang ke Mama Papa kamu soal masalah kita?” tanya Jayden akhirnya membuka mulut. Mencari tahu apakah pikirannya yang salah atau memang itu terjadi begitu saja. “Soal apa?” tanya Divi. Pikirannya kosong sejenak, hingga akhirnya ia teringat dan segera menggelengkan kepala. “Nggak. Itu murni permintaan Mama. Aku bahkan baru tahu saat Mama bantuin aku beresin makanan.” “Div,” Jayden mengambil tangan Divi tapi segera ditepis oleh gadis di sampingnya. Divi seolah enggan bersentuh tangan dengan sosok yang sudah mengkhianatinya. Jayden kaget dengan sikap Divi, tapi kemudian ia menghela napasnya. Di sini, memang ia lah yang bersalah, maka ia harus maklum dengan emosi yang diberikan oleh Divi padanya. “Kamu nggak berniat membatalkan pernikahan kita kan?” Divi tersenyum miring. “Bukannya kamu sejak awal nggak peduli dengan pernikahan kita nanti? Kenapa mendadak bertanya?” “Div, please ... aku memang salah, aku janji nggak akan melakukan hal itu lagi!” kata Jayden memohon. Tubuhnya menggeser dan ia menatap kekasihnya dengan iba. “Anggaplah kecelakaan yang kualami sebagai teguran dari Tuhan karena sudah mengkhianatimu. Jangan hukum aku lagi, Div!” Tangan Jayden kembali mencoba menggenggam tangan gadis yang kini berada di hadapannya. Divi memperhatikan kedua tangan mereka. Tangan Jayden yang masih terlihat luka basah dengan ditutup oleh perban. Kakinya yang masih ditutup oleh perban juga. Ia menunduk beberapa saat dan terus melihat dua luka Jayden yang berada di tubuh sebelah kirinya. “Maafin aku! Aku janji sama kamu, aku nggak akan mengulanginya lagi! Cuma kamu perempuan yang aku cintai, Div,” kata Jayden hiperbola. Karena nyatanya, yang paling dicintainya adalah dirinya sendiri. Perlahan, Divi mulai mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Jayden dengan tatapan penuh luka. Masih hangat di pikirannya bagaimana Jayden memanggil Sabrina dengan mulutnya sendiri di telepon yang masih aktif. “Gimana caranya aku maafin kamu, bahkan aku sendiri nggak tahu, Jay? Yang pasti aku sangat kecewa dengan apa yang udah kamu lakuin!” “Aku tahu, aku tahu!” “Kalau kamu tahu, seharus kamu nggak melakukan itu!” Divi dengan kasar menepis tangan Jayden dengan kasar. Ia mulai menangis. Emosinya seolah dipermainkan oleh Jayden. Jayden menundukkan kepalanya sejenak. Keduanya sama—sama terdiam. “Seenggaknya maafkan aku demi anak kita, Div? Atau kamu mau kita batal nikah dan membuat calon anak kita seperti aku? Aku yang nggak pernah dapat kasih sayang dari kedua orang tuanya secara utuh! Itu sangat menyakitkan Div. Aku tahu gimana rasanya? Jadi apa kamu mau, kalau calon anak kita merasakan hal tidak menyenangkan karena harus jadi anak tanpa kasih sayang kedua orang tuanya?” Jayden menyerang Divi di titik terberatnya. Wanita itu langsung luluh dan menundukkan kepala. Ia memperhatikan perutnya beberapa saat. Benar kata Jayden. Demi sang anak, ia tidak boleh egois. Bukankah hal ini juga yang selama ini membuatnya bertahan dan tak sekali pun menyebut pisah dengan Jayden meskipun sudah diselingkuhi? “Div....” Divi merasakan genggaman tangan Jayden lagi. Namun kali ini ia tidak berniat untuk menepisnya. “Maafkan aku, Div. Seenggaknya demi calon anak kita yang sama sekali nggak bersalah. Seenggaknya demi calon anak kita yang akan jadi sumber kebahagiaan rumah tangga kita.” “Kesalahan ini nggak akan aku lakukan lagi. Aku berjanji sama kamu! Aku berjanji ke kamu, bahkan aku mempertaruhkan profesiku! Andai hal ini terjadi lagi, aku akan berhenti jadi arsitek. Nggak peduli betapa aku mencintaiku pekerjaanku, aku akan mempertaruhkannya misal aku kembali berselingkuh di belakangmu lagi!” Divi menatap Jayden dengan serius. Ia mulai mempercayai Jayden, apalagi laki—laki itu mau mempertaruhkan pekerjaan yang sangat diminatinya. “Kamu benar—benar nggak akan pernah selingkuh lagi kan?” Jayden menganggukkan kepala. “Aku nggak akan melakukannya lagi. Aku sadar, apa yang sudah kulakukan pasti membuatmu sangat terluka.” Divi kemudian memeluk Jayden. Ia tidak tahu pasti apa yang sudah dilakukannya adalah hal yang baik atau bodoh. Yang pasti, ia sudah memutuskan untuk memberikan kesempatan pada Jayden. *** Hari pernikahan. Jayden berdiri di depan penghulu dengan menggunakan tuksedo berwarna hitam. Kemeja yang dipakainya berwarna putih dengan dasi yang berwarna merah. Untuk kali pertama, Divi melihat kekasihnya itu memakai peci. Membuatnya nampak tampan dan islami. “Div, ayo jalan! Kamu jangan kaget karena sebentar lagi akan jadi istri Jayden!” kata Mama Nia sambil berdiri di samping kirinya. Sedangkan di samping kanannya, sang ibu sedang membantu mengurus gaun pernikahan sang anak yang terhampar ke lantai KUA. Padahal gaunnya tidak terlalu panjang, tapi tetap saja membuat simpul, membuat Mama Kayla harus bersusah payah membereskannya. “Ayo, Divi! Jalan ke depan!” kata Mama Kayla lalu berjalan di belakang anaknya bersama Mama Nia. Sesampainya di depan meja penghulu yang ada di depan Jayden, Divi pun tersenyum kala melihat tatapan ayahnya yang penuh hari. Wanita itu bisa melihat bagaimana sang ayah berkaca—kaca di hari pernikahannya. Bahkan sebelum datang ke KUA, di dalam rumah, Papa memeluknya sambil memberikannya sebuah nasihat panjang. Di dalam rumah, hari akad pernikahannya, keluarganya secara resmi melepasnya sebagai seorang anak untuk menjadi istri dari laki—laki lain. Semua doa yang baik Papa Dwika panjatkan untuk sang putri, membuat suasana begitu haru. Hingga kini, mereka pun berada di kantor urusan agama untuk melangsungkan akad nikah antara Divi dan Jayden. Jayden berdiri kemudian menarik kursi yang ada di sampingnya. Ia membantu Divi duduk di kursi dengan kondisi gaun pengantin yang cukup rumit. Namun tak butuh waktu lama, Divi sudah duduk dengan jantung berdegup kencang. Duduk kembali di kursinya, Jayden pun kini melihat ke arah ayahnya yang berada di samping kanan sejenak. Melihat ekpresi gugup di wajah Jayden, Papa Julian pun tersenyum. Ia tak menyangka karena melihat langsung pernikahan yang akan digelar oleh putranya yang sudah bersia 28 tahun. Berbeda dengan Jayden, Divi pun melihat ke arah kanannya. Sang ayah terlihat berkaca—kaca. Sang ayah sedang melihat ke arah penghulu dan petugas nikah yang ada di depan mereka semua. Mendengarkan perihal poin—poin pernikahan yang harus Divi dan Jayden ketahui. Setelah poin—poin pernikahan disebutkan dan mendapatkan respon dari kedua calon mempelai, sang penghulu pun bersiap memulai pernikahannya. Ia mengulurkan tangannya dan bersiap untuk menyebutkan kalimat ijab kabul yang harus diulang oleh Jayden. “Bismillahirrohmanirrohim, astaghfirullahhal’adzim astaghfirullahhal’adzim astaghfirullahhal’adzim, ashadu allah illaa ha illallah, wa ashadu anna muhammaddarasullullah....” “Wahai saudara Jayden Raffael Anthony bin Julian Anthony ... saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan ananda Diviana Anindya Ayleen binti Dwika Ayleeno dengan mas kawinnya seperangkat perhiasan dengan berat 15 gram beserta uang tunai senilai 15 juta rupiah di bayar ... TUNAI!” Jayden sudah menghapalnya. Ia menahan napasnya lalu menjawab dengan cepat. “Saya terima nikah dan kawinnya Diviana Anindya Ayleen bintin Dwika Ayleeno dengan maskawinnya tersebut dibayar ... tunai!” “Alhamdulillah ... bagaimana para saksi? Sah?” “SAAAAAAAAHHHH!” seru para tamu yang ada di ruangan tersebut. Saat penghulu mulai melanjutkan dengan berdoa untuk kedua mempelai, Jayden dan Divi pun tersenyum. Semua orang tersenyum bahagia. *** “Maah, ayo masuk aja!” kata seorang anak laki—laki berusia 12 tahun itu. Ia heran dengan ibunya, kenapa ibunya hanya berdiri depan ruangan dengan pintu terbuka. “Ini pernikahan siapa sih, Ma?” tanya bocah itu lagi penasaran. Sang wanita berrambut pendek dengan riasan make up standarnya pun kemudian tersenyum. Apalagi ia melihat anak yang dulu pernah disia—siakannya kini sudah tumbuh sebagai anak yang tampan. “Maa....” “Dirga, ayo pulang!” “Loh pulang? kita nggak masuk dulu, Ma?” tanya Dirga bingung. Pasalnya mereka sudah jauh—jauh dari Jakarta ke Bogor, tapi ketika sudah sampai, sang ibu justru mengajaknya pulang. “Aku nggak mau pulang, Ma. Kita jalan—jalan dulu yuk, Ma!” ajak Dirga pada ibunya. Sang ibu pun segera menganggukkan kepala. Ia menurut pada sang anak semata wayang dari pernikahan keduanya lalu berjalan pergi meninggalkan KUA di mana pernikahan Jayden –sang anak—telah selesai dilaksanakannya. *** “Pa—“ suara Mama Nia terdengar gelisah. “Kenapa, Ma?” tanya Papa Julian balik. “Apa ada sesuatu?” Mama Nia menghela napasnya lalu mendekatkan bibirnya di telinga suaminya. Ia hendak berbisik. “Tadi Mama lihat ibu kandungnya Jayden ke sini!” Papa Julian kemudian menganggukkan kepala. “Terus orangnya ke mana?” “Loh Papa nggak kaget?” tanya Mama Nia bingung. “Papa yang hubungi ibunya, supaya datang ke acara pernikahan anaknya.” “Papa kok nggak bilang ke Mama,” ketus Mama Nia. “Maaf,” kata Papa Julian dengan entengnya. “Jadi orangnya sekarang di mana? Kok kayak nggak ada di sini?” Mama Nia menggelengkan kepala. “Mama tadi lihat dia balik lagi ke luar. Cuma melihat sebentar tapi nggak masuk.” Papa Julian menganggukkan kepala. “Ya sudahlah. Lupain aja, Ma.” “Seharusnya kalau nggak mau memberi selamat mending nggak usah datang aja sekalian. Gimana kalau Jayden lihat, kalau tiba—tiba Jayden marah—marah di hari pernikahannya kan nggak lucu, Pa? seharusnya Papa juga nggak perlu undang dia ke acara pernikahan Jayden.” “Tapi gimana pun juga itu ibu kandung Jayden, Ma.” “Jayden mungkin udah nggak menganggapnya sebagai ibu kandung. Kenapa Papa repot—repot?” Papa Julian kemudian menggelengkan kepalanya. Ia sadar bahwa selama ini istrinya sangat kesal dengan apa yang sudah dilakukan oleh mantan istrinya pada Jayden. Istrinya kesal karena merasa kasihan pada apa yang sudah menimpa Jayden selama ini. Meskipun Jayden tak menganggap Nia, kasih sayang Nia dan kepeduliaannya benar—benar ada. Dan itu hal yang membuat Papa Julian banyak bersyukur.[] *** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN