Penyesalan

1940 Kata
Bab 37 Penyesalan Menghentikan langkahnya sejenak kala sudah sampai ke depan rumah Jayden, Divi kemudian mengatur napasnya. Dari tempatnya berdiri, Divi melihat Jayden sedang berjalan ke luar dari rumah dengan kaki terpincang. Dari telepon Tante Nia tadi, Divi mengetahui bahwa Jayden baru saja mengalami kecelakaan, tapi laki—laki itu tidak ingin dirawat atau dibantu oleh keluarga ayahnya. Tante Nia dan keluarganya pun baru tahu karena ketidak sengajaan. Adik Jayden, Lilina pergi bersama kawan—kawannya di dekat rumah Jayden, lalu gadis muda itu menemukan kondisi kakaknya yang agak terpincang. Lebih kaget lagi, kepala Jayden masih diperban. Lilina pun melapor pada Tante Nia –sang ibu—hingga sampai ke telinga sang ayah dan Divi. Baru saja melangkah ke luar, Jayden akhirnya menemukan sosok yang selama ini dihindarinya, Divi. Divi –sang calon istri—menatap Jayden dengan tatapan iba. Ia terdiam di tempatnya berdiri sambil menatap Jayden. Keduanya saling menatap lalu membuang muka. Mulai kembali berjalan, Divi pun memasuki gerbang rumah Jayden yang berwarna hitam. Ia melepaskan sepatu yang dipakainya lalu mendekati Jayden yang kini berjalan terpincang ke arah kursi kayu di teras. “Kamu kenapa nggak bilang kalau habis kecelakaan?” tanya Divi sambil ikut duduk di kursi kayu yang ada di samping Jayden. Mereka hanya terhalang pada meja di tengah dua kursi. “Aku malu sama kamu,” kata Jayden sambil membuang mukanya. Mendadak jantung Divi berdebar dengan kencang. Apakah Jayden akan membahas soal perselingkuhannya dengan Sabrina? “Kamu tahu seberapa brengseknya aku,” kata Jayden lagi. Ia sama sekali tak bergerak untuk menatap Divi. “Seharusnya kamu nggak perlu ke sini! Seharusnya kamu tetap di rumah kamu dan memakiku karena sudah berselingkuh.” “Kamu mengaku, Jay? Kalau kamu memang berselingkuh dengan teman kerja kamu itu?” Meskipun menyakitkan, Divi tidak lagi menangis. Ia sudah cukup puas menangis saat bersama Hana. Jayden menganggukkan kepalanya dengan singkat. “Maafin aku, Div!” Akhirnya kalimat penyesalan itu terdengar. Divi terdiam. Ia kemudian berhenti menatap Jayden dan justru melihat ke arah luar rumah yang kini kembali hujan. Padahal dalam perjalanan ke rumah Jayden, hujan perlahan mulai reda, tapi setelah sampai dan ia berada di dalam rumah Jayden, hujan mulai datang kembali. “Aku nggak tahu, Jay,” kata Divi ragu. “Apa aku bisa maafin kamu atau nggak? Tapi yang pasti, aku masih mencintai kamu meskipun aku tahu kamu udah berkhianat dengan wanita lain.” Jayden mulai mengangkat kepalanya. Ia menatap Divi seolah memiliki harapan. “Apa kamu tahu, saat aku dengar semua kenyataan dari Sabrina, rasanya sakiiiit banget hati aku?!” Divi menatap Jayden dengan tatapan mata berkaca—kaca. Bibirnya mulai bergetar. Ia pun menunduk karena merasa sedih dan tak bisa menahan laju air matanya yang akhirnya kembali turun. Jayden merasa kesakitan saat melihat Divi terluka. Menangis karenanya. “Aku janji sama kamu, Div. Kalau kamu mau maafin aku, aku nggak akan melakukan hal itu lagi. Aku janji sama kamu akan berhenti berhubungan dengan Sabrina. Kalau perlu, aku akan minta kembali dimutasi ke Bogor,” kata Jayden. Ia ingin menyakinkan Divi bahwa penyesalannya adalah benar. Bahwa ia akan mencoba berubah dengan hubungan mereka. Divi masih tak menjawab hingga membuat Jayden bergerak. Ia mendekati Divi lalu memeluk kepalanya dengan erat. Tak merasakan penolakan, Jayden terus menahan kakinya yang sakit untuk berdiri. Divi memegang kaos yang dipakaianya lalu mencengkramnya dengan kuat. Tak lama kemudian, cengkraman itu berubah menjadi pukulan ringan. “b******k kamu, Jay! Aku nggak nyangka kamu bisa melakukan itu ke aku! Saat kita mau menikah! Saat aku lagi hamil anak kamu, kamu justru berselingkuh dengan teman kerja kamu! b******k! Jahat kamu, Jayden!” Jayden menerima semua pukulan Divi. Ia memang pantas mendapatkannya. Satu hal yang diinginkan Jayden setelah Divi melampiaskan semua kemarahannya adalah maafnya. “Apa Sabrina lebih cantik dariku?” tanya Divi sambil menjauhkan tubuh Jayden dari kepalanya. Ia mendongak dan bertanya dengan ekspresi marah. “Dia bilang pelayanannya lebih baik dariku. Apa karena itu kamu tidur dengannya? Apa karena itu kamu lebih suka bersamanya di banding bersamaku?” Jayden menggelengkan kepala. “Kamu lebih baik daripada Sabrina. Hubunganku dan Sabrina hanyalah kesalahan. Maafin aku, Div. Sungguh! Maafin aku!” Divi menangis tersedu. Ia bangkit berdiri tapi Jayden buru—buru menahan kekasihnya. Jayden memeluk Divi dengan erat dan hangat. Hawa hujan di luar membuat pelukan mereka begitu hangat dan lekat. Meskipun Divi terus mencoba untuk melepaskan diri, tapi Jayden tetap mencoba mempertahankannya. Tak peduli bahwa tangan dan kakinya masih nyeri. *** Divi pulang dari rumah Jayden dengan mata yang sembab. Ia memutuskan tetap pulang dan meminta waktu pada Jayden untuk menenangkan dirinya. Mereka belum membahas masalah mereka lebih jauh, yang Jayden lakukan tadi hanyalah mengakui kesalahannya. Merasa menyesal dengan kebodohan yang sudah diperbuatnya. Membuka pintu rumah menggunakan kunci cadangan yang dibawanya, Divi pun mulai berjalan masuk ke dalam rumah dengan tubuh setengah basah. “Divi ... kamu baru pulang?” tanya Papa Dwika. Ia berada di ruang tamu karena sengaja menunggu kedatangan putrinya yang belum pulang padahal sudah jam 20.30 malam. “Iya, Pa,” Divi menganggukkan kepala. “Pa, aku masuk dulu ya. Dingin, mau mandi!” “Iya, Nak.” Setelah itu, Divi berjalan masuk ke dalam rumah. Namun saat menuju kamarnya, ia bertemu dengan sang ibu yang kelihatan khawatir. “Div, kamu kehujanan?” “Iya, Ma. Sedikit! Aku bawa payung kok,” kata Divi menjelaskan. Mama Kayla menghela napas pelan. “Ibu hamil kok hujan—hujanan. Apapun masalahnya, seharusnya kamu jaga diri dengan baik sekarang, Div. Kamu kan lagi hamil. Kasihan calon anak kamu loh.” Divi memaksakan dirinya untuk tersenyum. Ia pun menganggukkan kepala. “Aku ke kamar dulu, Ma,” kata Divi pamit kembali. Ia masuk ke dalam kamarnya lalu terduduk di atas ranjang tak peduli kondisi pakaiannya yang agak basah. Obrolannya dengan Jayden menyakitkan. Hatinya sedih sekali. Namun setelah terdiam cukup lama, Divi mendengar suara pintu kamarnya yang diketuk. Mama Kayla membuka pintu kamar putrinya lalu memperhatikan sang anak yang dalam kondisi kedinginan tapi justru terdiam di atas ranjang. “Div, jangan duduk di atas kasur dong! Kamu kan habis kehujanan. Nanti kasurnya ikutan basah, Div!” Divi tak peduli dan hanya menatap ibunya. “Mama udah siapin air hangat buat kamu mandi! Sekarang mandi gih! Biar nggak masuk angin!” Divi tersenyum mendengar perkataan ibunya. Mama Kayla memang sosok yang sangat perhatian. “Makasih ya, Ma.” Mama Kayla mengangguk. “Cepetan ke luar ya buat mandi!” “Iya, Ma....” Divi kembali bisa tersenyum lagi. Ia mulai bangkit berdiri sementara Mama Kayla sudah berjalan ke luar dari kamar anaknya. ***   “Div, hari ini kamu mau ke rumah Jayden?” tanya Papa Dwika saat pagi hari mereka makan bersama di meja makan. “Papa dengar kemarin dari Mama, katanya Jayden habis kecelakaan tapi nggak bilang apa—apa ke kamu atau keluarganya.” “Iya, Pa. Kemarin juga aku baru dikasih tahu sama Tante Nia.” “Hari ini kamu mau jengukin Jayden lagi?” tanya Papa Dwika. “Divi kemarin habis keujanan, Pa. Nanti agak sorean aja, ke rumah Jayden. Nanti biar sama Mama. Biar sekarang Divi istirahat aja di rumah.” “Oh gitu ... nanti Papa sekalian ikut aja lah,” kata Papa Dwika membuat Divi mendelik. “Nggak usah, Pa. Mama juga mending nggak usah ikut. Paling Mama mau nanyain soal persiapan pernikahan kan?” tanya Divi. “Nggak lah! Tega banget misal Mama begitu! Mama cuma mau ngelihat kondisi, Jayden. Sekalian habis ini Mama mau ke pasar dan siapin makanan untu Jayden. Kasihan juga dia, habis kecelakaan tapi ngurus diri sendiri.” Divi terdiam. Dalam hati ia memang kasihan pada kekasihnya karena dalam kondisi terluka setelah mengalami kecelakaan justru harus hidup sendiri. Mengurus segala keperluan yang dibutuhkannya sendiri. “Iya, Ma.” Akhirnya agak sore, setelah makanan di siapkan oleh ibu Divi, sekeluarga itu pun pergi ke rumah Jayden. Kedua orang tua Jayden untuk kali pertama pergi ke rumah calon suami anaknya. Mereka datang dengan membawa bekal makan yang cukup banyak. Tak hanya bekal makanan, Mama Kayla juga sengaja meminta suaminya berhenti di kios buah untuk membelanjakan buah—buahan untuk sang calon menantu. Sesampainya di rumah Jayden, laki—laki yang baru saja ke luar dari rumah itu pun cukup kaget dengan keberadaan keluarga Divi yang membawa banyak bawaan. “Ya ampun, Tante, Om, kenapa harus repot—repot bawa banyak barang?” Jayden sangat sungkan dengan kebaikan hati kedua orang tua kekasihnya. Dari tatapan matanya, ia menatap Divi tapi gadis itu justru membuang muka. Jayden mengulum senyum. Pasti tidka mudah bagi Divi untuk memaafkan sekarang. Mempersilakan tamu—tamunya untuk masuk ke dalam rumah, Papa Dwika pun mulai melihat kondisi rumah Jayden yang sangat rapi. “Kamu tinggal sendiri kan di sini, Jay?” “Iya, Om.” “Rumah kamu rapi banget ya,” kata Papa Dwika sambil tersenyum. “Oh ya, silakan duduk, Om, Tante!” kata Jayden mempersilakan duduk pada tamu—tamunya. “Div, kamu kan sering main ke rumah Jayden, kamu sekalian gantiin wadah taperware Mama ya?” kata Mama Kayla menyuruh anaknya itu untuk pergi ke dapur. Divi menghela napasnya. Ia sudah menyangka akan seperti ini. Padahal saat di rumah, Divi sudah menasihati Mamanya untuk tidak memakai wadah taperware tapi wadah bekal berbahan foodgrade biasa. Namun mamanya tidak peduli. Sekarang lihat! Akhirnya ia yang jadi pesuruh sekarang! “Div,” kata Mama Kayla lagi dengan mata penuh maknanya. Jayden memperhatikan kekasihnya sejenak. Mendapat tatapan dari Jayden, Divi pun segera membawa barang bawaan orang tuanya masuk ke dalam rumah. Ia meninggalkan kedua orang tuanya bersama Jayden. “Jadi ada apa, Jay? Bagaimana bisa kamu mengalami kecelakaan?” tanya Mama Kayla sepeninggalkan Divi. Jayden mengulum senyumnya. “Saya juga nggak tahu, Tante. Tiba—tiba aja dari arah kiri ada mobil mini bus yang menabrak mobil saya.” “Kata kepolisan gimana setelah mendalami kasus tabrakan ini?” “Memang supir mini busnya kecapekan dan dalam kondisi ngantuk, Tante, jadi nabrak. Semua biaya rumah sakit pun sudah diganti oleh supir mini bus yang menabrak saya.” “Huft … seharusnya kalau udah tahu ngantuk ya jangan nyetir ya.” “Iya, Tante. Kata polisi juga, supir mini bus ini habis nganterin penumpang dari Lamongan ke Bogor. Udah ngantuk berat tapi masih harus mengantar satu penumpang lagi yang tinggal di Bogor Selatan.” “Ya sudah, yang penting sekarang kamu sudah baik—baik aja kan, Jay?” tanya Mama Kayla. Jayden mengangguk singkat. “Iya, Tante. Ini juga bentar lagi sembuh.” Mama Kayla menatap ke arah sekitarnya lalu bertanya pada Jayden. “Kamu sama Divi apa perlu menunda sebentar pernikahan kalian, Jay?” Jayden langsung menggeleng. “Aku nggak papa kok, Tante. Nggak perlu diundur.” “Emangnya Divi minta diundur, Ma?” tanya Papa Dwika bingung. Ia baru pertama dengan masalah mengundurkan akad pernikahan. “Tapi kondisi kamu sekarang nggak cukup baik, Jay.” “Nggak kok, Tante. Nanti di Hari H, aku pasti udah biasa lagi.” “Tante nggak yakin kalau di Hari H kamu sudah pulih seutuhnya.” Mama Kayla terlihat tidak yakin. “Kamu nggak perlu memaksakan diri kamu. Kalau kamu merasa belum sehat, Tante akan coba bilang ke pihak KUA untuk mengundurkan jadwal pernikahan kamu dan Divi. Toh kalian akan menikah di KUA jadi, mungkin bisa diatur kembali jadwalnya.” Jayden kembali menggelengkan kepala. “Saya benar—benar nggak papa, Tante. Saya bisa melakukan akad pernikahan nanti.” Mama Kayla terlihat tersenyum paksa. “Ya sudah lah. Kalau kamu tetap mau seperti itu. Kita lakukan akad pernikahan sesuai jadwal.” Setelah mengatakan itu, Mama Kayla pun bangkit berdiri. “Mama coba bantu Divi aja ya, Pa. Kasihan kalau Divi sendirian.”[] *** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN