Bab 36
Mendapat Kabar
“Div,” panggil Hana saat sudah sampai di kafe dekat kantor mereka. Sebelumnya mereka sudah janjian untuk bertemu di sana sepulang kerja, tapi karena Hana dipanggil oleh Pak Bos, akhirnya Divi pergi lebih dulu.
Hana yang sudah mengetahui masalah asmara yang dialami oleh teman sesama redaktur di kantor surat kabar itu pun meluangkan waktu untuk mendengarkan segala keluh kesahnya.
Duduk di kursi yang kosong di hadapan Divi, Hana lalu memanggil pelayan. Cuaca di luar sudah mulai mendung, saat ia dalam perjalanan menuju kafe pun, ia terkena percikan kecil gerimis dari langit. Maka dari itu ia segera memesan minuman hangat.
“Mau pesan apa ya, Teh?” tanya pelayan coffee shop itu sambil menghampiri meja makan Divi dan Hana.
“Saya pesan hot chocolate ya, Teh,” kata Hana. Ia menatap menu di coffe shop itu lagi lalu menunjuk banana cheesse yang ada di sana. “Sama ini ya, Teh.”
“Baik, Teh. Ada lagi?”
Hana kemudian menatap ke arah Divi. “Divi, kamu udah pesan belum? Mau pesan apa?” tanya Hana, menawarkan.
Divi tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya. “Gue udah pesan kok, Han.”
“Oh....” Hana melihat ke arah pelayan lagi lalu menggelengkan kepala. “Itu aja ya, Teh. Makasih.”
Pelayan coffe shop pun kembali meninggalkan meja makan. Tinggallah Divi dan Hana di atas kursi sambil melihat ke arah jendela. Di luar, suara guntur terdengar bersaut—sautan meskipun air hujan belum turun.
“Permisi, Teh. Ini pesan teteh,” kata pelayan coffee shop sambil mengantarkan hot chocolate yang dipesan oleh Divi.
“Lo pesen apa, Div?” tanya Hana berbasa—basi.
“Pesen hot chocolate juga kayak lo.”
Hana tersenyum tipis. Ia juga melihat gorengan pisang yang dipesan oleh Divi. Memang enak makan gorengan pisang di cuaca mendung seperti sekarang ini.
“Han, menurut lo ... apa gue akan baik—baik saja misal memaafkan Jayden?”
“Memaafkan Jayden gimana?” tanya Hana bingung. Ia merasakan kemurungan Divi selama beberapa hari ini, tapi ia masih belum tahu sebab pastinya. Karena setiap ditanya, Divi selalu menjawab tidak ada apa—apa. Dan hari ini, Divi meminta padanya untuk mengobrol berdua. Untuk mencurahkan perasaannya saat ini.
Hana yang sudah penasaran tentu saja mengiyakan. Maka dari itu ia membersamai Divi saat ini. Namun belum apa—apa, dengan satu kalimat awal ia merasa sangat bingung.
Apa jangan—jangan?
“Lo udah tahu, Div, kalau misal Jayden di Jakarta itu....”
“Iya, Han! Beberapa hari lalu gue udah mengetahui kenyataan itu. Kalau Jayden punya cewek lain selain gue! Gue bingung banget, tapi semakin berpikir ... gue semakin yakin kalau gue nggak bisa ninggalin Jayden. Gue nggak bisa ninggalin Jayden karena calon anak kita!”
“Apa?” Hana kaget. Selama ini ia baru dengar soal kehamilan Divi. “Elo hamil, Div? Jadi elo mau nikah sama Jayden secara mendadak ini karena elo lagi hamil?” tanya Hana berturut—turut.
Divi menahan tangisnya. Namun akhirnya ia menganggukkan kepala dan menunduk dalam. “Gue nyesel, Han! Kenapa gue harus hamil dan tahu kalau Jayden selingkuh sekarang? Di saat gue harusnya menikah dengan dia, gue harus tahu kalau dia nggak setia ke gue!”
Hana mulai mendengar isak tangis dari wanita yang usianya lebih tua darinya itu. Bangkit berdiri, Hana pun kemudian berpindah tempat. Ia menarik kursi lalu duduk dengan posisi yang sangat dekat. Memeluknya dari samping sambil mengusap punggungnya yang naik turun.
Divi merasakan tepukan pelan di pundaknya. Ia merasakan kehangatan Hana saat ini. Di luar terdengar suara hujan yang cukup lebat tapi Divi tak peduli. ia bahkan bersyukur karena di luar turun hujan. Membuat suara tangisannya yang tersedu sedan tersamarkan oleh suara hujan yang cukup terdengar meskipun berada di dalam ruangan.
Setelah Divi menangis cukup puas, ia pun menghapus air matanya. Hana mengambil tisu yang dibawanya di dalam tas lalu memberikannya pada Divi.
Menerimanya, Divi pun menyeka air mata yang terjatuh di pipi. Ia menenangkan dirinya lagi kemudian menatap Hana yang masih duduk di sampingnya. Memberikan senyuman dengan raut wajah yang begitu miris.
Benar, Hana terlihat mengasihaninya. Divi merasakannya lalu balas tersenyum.
“Terus sekarang gimana, Div? Apalagi sekarang lo lagi hamil?” tanya Hana ingin tahu.
“Gue nggak bisa kehilangan Jayden, Han,” kata Divi. “Gue nggak seberani itu untuk membatalkan pernikahan gue dan Jayden meskipun gue tahu kalau dia udah berkhianat di belakang gue.”
Hana menarik kedua tangan Divi lalu menggenggamnya dengan erat. “Jadi lo akan tetap menerima Jayden, Div, untuk jadi suami lo? Meskipun lo tahu kalau dia udah berkhianat?”
Divi diam sejenak. Hingga akhirnya, ia menganggukkan kepala. “Gue nggak bisa kehilangan Jayden sekarang, Han. Gue cuma berharap kalau kenyataan kalau Jayden udah selingkuh sama cewek lain ini cuma mimpi. Tapi makin gue pikirin, hari demi hari sejak gue terima telepon dari Sabrina, gue makin sadar kalau ini bukan mimpi. Kalau Sabrina memang selingkuhan Jayden.”
“Sabrina nelepon elo, Div?” tanya Hana penasaran.
“Gue telepon hape Jayden, tapi yang angkat Sabrina lagi. Kayak waktu itu! Dan lo tahu, Han, gue telepon saat udah malam! Gue bahkan dengar dari mulutnya Sabrina sendiri kalau Jayden dan dia udah tidur bareng. Malam itu dia tidur bareng....” Divi menjelaskan dan di akhiri dengan tangisan sedu.
Hana yang mendengarnya rasanya kesal sekali. “Kok ada sih cewek pelakor kayak gitu! Dasar kurang ajar! Jadi dia sendiri yang ngasih tahu elo kalau dia sama Jayden ada hubungan di belakang lo, Div?”
Divi menganggukkan kepala. “Gue rasanya nggak mau percaya, tapi terus gue dengar suara Jayden di dekat Sabrina. Dia manggil Sabrina ... lo tahu gimana perasaan gue saat itu? Gue sangat marah! Tapi bahkan gue nggak bisa nampar salah satu orang itu!”
Hana bisa merasakan kefrustrasian yang dirasakan oleh Divi. Ia menepuk pundak Divi dengan pelan dan berulang lalu menghela napasnya dengan berat.
“Kalau gue ada di posisi lo pun, gue pasti akan ngerasa berat, Div,” kata Hana dengan tulus. “Nggak kebayang gue kalau tahu orang yang akan jadi suami gue, calon jadi bapak anak gue ternyata selingkuh! Gue pasti marah besar. Gue pasti kecewa dan nggak bisa memaafkan mereka dengan mudah.”
Divi menghapus air matanya setelah mendengar pendapat Hana. “Kalau lo jadi gue, apa lo tetap melanjutkan pernikahan ini, Han?” tanya Divi. Ia kebingungan, tak tahu harus melakukan apa.
“Kalau gue sih nggak, Div,” kata Hana dengan entengnya. “Cowok kalau udah selingkuh itu, ada kemungkinan besar kalau dia akan tetap berselingkuh lagi di kemudian hari. Gue nggak yakin sama cowok kayak gitu! Dan lagi, gue nggak mau terus menerus merasa curiga dan khawatir dengan cowok gue yang udah pernah ketahuan selingkuh. Soalnya kalau kita udah tahu tentang perselingkuhan pasangan, kita pasti akan over curiga ke dia. Kita akan terus negatif thinking ke pasangan.”
“Gue nggak mau kayak gitu, Div. Mental gue jauh lebih berharga daripada orang lain!”
Penjelasan Hana tak membuat Divi merasa tenang. “Tapi gue hamil, Han. Gue sekarang mikirin calon anak gue, kayaknya terlalu egois misal gue membatalkan pernikahan gue karena hal ini.”
Hana tiba—tiba terdiam. “Bener juga ya,” kata Hana. “Ya udah, Div, mending lo lakuin apa yang hati lo pengen! Misalkan lo tetap mau melangsungkan pernikahan lo sama Jayden demi anak lo, lo bisa lakuin itu! Lo yang bertanggung jawab atas kehidupan lo! Dan kalau gue jadi elo, gue jadi pasti kebingungan sih. Secara, lo sama Jayden kan udah hitungan hari kan mau melangsungkan akad pernikahan?”
Divi menganggukkan kepala. “Iya, bentar lagi, Han.”
“Ya udah, Div. Lo lakuin aja yang sesuai dengan hati lo.”
Divi terdiam. Apa boleh seperti itu? tanya Divi dalam hati. “Apa keputusan gue tepat ya, Han?”
“Segala keputusan pasti selalu ada plus minusnya, Div. Yang penting elo yakin aja sama apa yang keputusan lo sekarang. Semoga ini jadi keputusan yang terbaik!”
Divi menganggukkan kepala. “Makasih ya, Han. Udah mau dengarin curhatan gue selama ini!”
Hana balas mengangguk. “Lo juga yang sabar ya, Div....”
“Iya, Han.”
“Terus si Jayden gimana, Div?” tanya Hana penasaran dengan respon Jayden saat ini setelah ketahuan sudah berselingkuh oleh Divi. “Apa Jayden udah minta maaf ke elo? Atau dia coba bikin pembelaan kayak pernah dilakuinnya sebelum ini?”
Divi menundukkan kepala. Ia menikmati hot chocolate milinya sejenak. Mereka menjeda obrolan mereka karena pramusaji datang dan mengantarkan pesanan milik Hana.
Setelah pelayan coffee shop itu kembali meninggalkan meja makan mereka, Divi pun kembali melanjutkan obrolannya.
“Sampai sekarang, Jayden bahkan nggak coba buat menghubungi gue, Han. Gue kecewa banget. Makanya otak gue sekarang kayak nggak bisa lagi berpikir. Apa hubungan gue sama Jayden udah berakhir sekarang? Atau gimana gue nggak ngerti?”
“Lo udah coba hubungi Jayden, Div?”
Divi menggelengkan kepala. “Gue masih trauma. Gue takut kalau ternyata yang terima telepon Jayden nanti si cewek itu.”
“Kenapa lo harus takut sih, Div? Kan elo yang calon istrinya, bukan si pelakor itu!”
Divi terdiam. Andai bicara semudah yang harus dilakukan?
“Seharusnya elo minta penjelasan dari Jayden,” kata Hana. “Seenggaknya kalian harus bicara dan membahas masalah kalian, Div. Kalau mau terus ya Jayden seenggaknya harus minta maaf ke elo, tapi semisal lo mau udahan ya seharusnya kalian bicarain.”
“Apa harus kayak gitu, Han? Jujur aja, gue masih nggak sanggup misal harus ketemu sama Jayden.”
“Kayaknya elo harus siapin hati lo sesegera mungkin, Div. Apalagi waktu pernikahan udah makin dekat.”
Divi mengangguk setuju. Jadi yang harus dilakukannya sekarang adalah mempersiapkan hati dan pikirannya untuk menerima semua penjelasan Jayden? Apapun itu!
“Setelah itu, lo sama Jayden berdiskusi. Mau kalian bagaimana selanjutnya. Kalau lo mau melanjutkan pernikahan kalian dan memutuskan untuk memaafkan kesalahan Jayden demi calon anak kalian ... atau ... lo mau udahan, ya bahas di situ! Sama dia....”
Divi kembali mengangguk samar.
“Lo harus kuat, lo harus kuat, Div. Gue yakin kalau lo kuat! Apapun yang terjadi ini mungkin memang sudah jadi takdir buat elo! Lo harus terima semua masalah ini, setelah lo pasrah dan ikhlas dengan masalah lo yang hadapi, gue yakin lo akan baik—baik aja.”
Divi kemudian tersenyum tipis. Setelah tangisan sendunya yang cukup menyesakkan hati, kini ia hendak memulai semuanya.
Menghadapi masalah bukan hanya dengan tangisan tapi juga keikhlasan. Divi menatap Hana dengan serius. Di matanya kini, sosok Hana adalah gadis yang bukan hanya periang tapi juga begitu dewasa.
Divi baru menyadari hal itu saat ini. Kala ia mendengar setiap nasihatnya yang tak sedikit pun menyalahkan bahkan mencoba memahami posisinya.
“Han, makasih banyak ya. Makasih sudah mendengar setiap cerita gue! Gue sebenarnya malu, Han, gue malu sama elo! Misal gue dengerin kata elo, kalau gue nggak harus melakukan seks bebas dengan Jayden dulu, gue pasti nggak akan berada di posisi seperti ini. Mungkin gue bisa dengan mudah putus sama cowok yang udah mengkhianati gue!”
Hana tersenyum miris. Seperti itulah penyesalan. Selalu datang di saat terakhir. Datang kala kesedihan dan nestapa datang secara beriringan.
“Sekarang yang harus lo lakukan adalah menghadapinya, Div!” kata Hana. “Nggak perlu lagi ada penyesalan! Ini semua sudah jadi takdir dari Tuhan. Kita hanya harus menyelesaikan masalahnya dan berjalan terus sesuai alur hidup kita.”
Hati Divi rasanya terkena pesan yang dalam. Pesan Hana yang sangat mengena di hatinya saat ini kembali bertambah. Ia benar—benar harus berterima kasih pada gadis di depannya.
Nada dering panggilan di telepon Divi tiba—tiba terdengar. Divi pun segera merogoh saku tas yang dibawanya. Ia mengambil ponselnya dan merasa penasaran saat melihat nomer Tante Nia yang mencoba menghubunginya.
Sementara Divi mulai mengangkat telepon, Hana pun menikmati minumannya yang sudah mulai dingin.
“Halo, Tante Nia!”
“Apa, Tante? Jayden kecelekaan!”
“Iya, Tante. Aku nggak tahu, Tante. Maaf.”
“Jayden sekarang di mana, Tante?” tanya Divi lagi. Hana yang mendengar obrolan singkat antara Divi dan peneleponnya pun terlihat penasaran. Ia penasaran kala mendengar kata bahwa Jayden kecelakaan.
“Ya udah, Tante. Nanti aku ke sana.”
Setelahnya panggilan di matikan. Divi menghela napasnya dengan berat.
“Jayden kecelakaan, Div?” tanya Hana penasaran.
Divi memasukkan kembali ponsel ke dalam tasnya lalu bangkit berdiri. “Iya, Han. Gue balik dulu ya,” katanya buru—buru. “Gue mau jenguk Jayden!”
Hana ikut bangkit berdiri. “Kondisinya gimana, Div?” tanyanya lagi sebelum Divi meninggalkannya.
“Dia ada di rumahnya. Kecelakaannya udah beberapa hari yang lalu,” kata Divi menjelaskan dengan singkat. “Gue pergi dulu ya!”
Hana menganggukkan kepalanya. Sepeninggalan Divi, gadis itu memperhatikan Divi dari jendela kafe. Bahkan setelah tahu Jayden kecelakaan, raut wajah Divi langsung begitu khawatir dan ketakutan.
Pasti Divi sangat mencintai Jayden. Kasihan sekali Divi, baru saja tahu bahwa ia dikhianati, tapi sekarang ia sudah berlari. Tak peduli hujan mengenai tubuhnya, gadis itu berlari untuk menghampiri sang kekasih yang sudah bermain api.[]
***
bersambung