Bab 35
Kecelakaan
Jayden menggelengkan kepalanya. Ia menatap Sabrina dengan tatapan kecewa.
Mendapatkan tatapan seperti itu, Sabrina yang sejak tadi mengelak pun akhirnya menundukkan kepalanya. “Aku minta maaf, Jay. Aku cuma terlalu emosional karena pacar kamu terus mencoba menghubungi kamu saat kita sedang bersama.”
Jayden menghela napasnya dengan berat. “Seharusnya sebelum merasa emosional, kamu sadari dulu posisi kamu, Sabrina. Sejak awal kamu yang meminta dengan rela bahwa kita hanya cukup sebagai teman.”
Sabrina diam. Ia masih menundukkan kepalanya. “Tapi teman nggak ada yang sampai tidur bersama,” kata Sabrina membuat Jayden tersenyum miring.
“Kalau begitu ... kita tidak perlu berteman,” Jayden hendak mengambil celana yang berada di atas karpet lantai, tapi Sabrina segera menahannya.
“Aku udah bilang maaf,” kata Sabrina. “Kamu mau ke mana?”
“Kamu bilang, teman nggak ada yang tidur bersama kan? Aku menganggap kamu teman, jadi kita bisa saling menjauh satu sama lain,” kata Jayden dengan jengkel.
Sabrina segera memeluk Jayden. Ia baru saja memiliki seseorang yang selalu bersamanya. Menemani di sisinya. “Please, Jay. Maafin aku! Aku nggak mau kamu bersikap asing lagi ke aku!”
Tubuh Jayden menegang mendapati pelukan dari Sabrina. Namun kala ia mengingat Divi yang kemungkinan mulai berpikir untuk membatalkan pernikahan mereka, laki—laki itu pun melepaskan pelukan yang Sabrina berikan.
“Aku harus kembali ke Bogor!” kata Jayden. Ia tetap memakai kemeja yang baru diambilnya.
***
Jayden menghentikan mobil yang dikendarainya di pinggir jalan. Ia merasa sangat frustrasi juga kebingungan. Ia khawatir jika sesampainya di Bogor tidak mendapat sambutan yang baik oleh Divi.
Mengacak rambutnya yang berantakan, Jayden kemudian mencengkram setir mobil yang dipegangnya. Ia membulatkan tekad, ia harus menjelaskan semuanya pada Divi dan meyakinkannya bahwa ia sudah menyesal karena berhubungan dengan wanita di kantornya saat ini.
Dalam amarah dan kekhawatiran yang bersamaan, Jayden kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia memasuki tol dan melaju dengan kecepatan tinggi. Tak ingin membuang waktu di perjalanan, Jayden ingin segera bertemu dengan kekasihnya. Memohon maaf atas kebodohannya.
Perjalanan tol pun berakhir, saat Jayden ke luar dari gerbang tol dan melalui jalan raya biasa. Tak sengaja, Jayden nyaris menabrak seseorang. Namun karena kelihaiannya dalam menyetir, Jayden pun berhasil menghindar.
“b******k! Kenapa di saat seperti ini ada orang mabuk berjalan di tengah jalan? Ckck,” decak Jayden lalu kembali menyetir dengan kecepatan normal.
Sayangnya, kala ia berada di kecepatan normal, sebuah mobil mini bus tiba—tiba menabrak mobilnya dari samping. Jantung Jayden mulai berdegup dengan kecang.
Tubuh Jayden terpentang sesuai dengan keberadaan mobilnya. Ia merasakan kepala, lengan, dan kakinya terasa sakit. Kaca mobil di samping kirinya pecah karena bekas benturan mini bus yang menabraknya.
Saat mobil Jayden tergolek ke samping, menabrak baju jalan, dan mulai berhenti bergerak, barulah laki—laki itu yang masih cukup sadar untuk mencoba menyelamatkan dirinya sendiri.
Tak peduli bagaimana tubuhnya yang begitu kesakitan karena serpihan kaca jendela yang mengenai tubuhnya.
Jayden ke luar dari mobil dengan langkah tertatih. Orang—orang di sekitarnya yang masih berada di jalanan kala malam hari pun segera membantu.
Setelahnya, Jayden pun masuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
***
“Pak!” suara perawat kembali memasuki ruang rawatnya. Ia membawa sebuah dokumen pasien. “Permisi ... apa ada keluarga yang bisa saya hubungi?” tanya perawat itu.
Jayden diam sejenak. Ia tidak ingin berhubungan dengan ayah dan keluarganya. Ia juga rasanya tak tahu diri jika harus meminta tolong Divi setelah gadis itu mengetahui perselingkuhannya dengan Sabrina.
“Biar dengan saya sendiri, Bu. Saya akan mengurus administrasinya.”
“Apa benar—benar tidak ada yang bisa dihubungi, Pak? Bagaimana dengan orang tua?”
“Enghh nggak ada, Sus,” kata Jayden lalu mengulum bibirnya.
Wanita berusia 40—an yang berdiri di depan Jayden pun menghela napasnya. “Atau apa ada seseorang yang bisa dimintai tolong untuk mengurus Anda selama di rumah sakit?” tanya perawat itu lagi.
Jayden tersenyum miris lalu menggelengkan kepalanya. “Saya bisa mengurus diri saya sendiri, Sus.”
“Hufft ... ya sudah! Saya tunggu ya besok,” kata perawat itu. “Besok pastiin ada orang yang sudah bisa dihubungi untuk mengurus kamu selama di rumah sakit! Kondisi kamu tidak baik—baik saja. Tangan kiri dan kaki kiri di perban. Bagaimana bisa mampu mengurus sendiri?” perawat itu menghela napasnya dengan berat. Ia memberikan waktu pada Jayden yang meminta tolong pada seseorang yang mungkin bisa dihubunginya.
“Kalau begitu saya permisi!” kata sang perawat senior itu lagi lalu meninggalkan ruang rawat Jayden.
Jayden menatap kepergian perawat berusia matang itu dengan lekat hingga kepergiannya tak terlihat lagi. Ia melihat ke arah tirai—tirai yang mengelilingi ranjang rumah sakit yang ditidurinya. Ia harus bersyukur karena saat dilarikan di rumah sakit, dompetnya masih terbawa. Ia pun bisa mendapat perawatan dan ruang rawat segera.
Melihat langit—langit kamar rawatnya, Jayden mulai memikirkan Divi. Rasanya sangat malu jika ia harus meminta tolong padanya saat ini. Namun, sangat menyebalkan jika ia justru meminta tolong pada keluarga ayahnya.
Dalam diam, tak lama kemudian Jayden pun memejamkan matanya. Ia sudah sangat mengantuk, apalagi sekarang sudah menunjukkan pukul 01.30 dini hari.
***
Divi menunggu. Ia tidak tahu mengapa, meskipun sudah mendengar langsung dari telepon dari Sabrina, tetap saja ia menunggu Jayden untuk menghampirinya. Melakukan apa yang pernah dilakukan laki—laki itu dulu, beberapa waktu lalu untuk menghampirinya ke rumah di waktu malam lalu menjelaskan semua yang baru saja di dengarnya. Menjelaskan bahwa semua itu hanyalah salah paham.
Menitikkan air matanya lagi, Divi merasa sangat frustrasi kala merasa bodoh. Mengapa ia harus menunggu Jayden untuk menjelaskan kesalah pahaman, jika nyatanya apa yang sudah dijelaskan oleh Sabrina nyatanya sebuah kebenaran?
Kebenaran bahwa antara Jayden –calon suami—dan Sabrina memang punya hubungan asmara.
Menyentuh perutnya yang datar, Divi merasa bersalah pada calon anaknya. Ia merasa bersalah karena saat berada di dalam kandungannya saja, anak ini harus mengetahui bahwa ayahnya berselingkuh dengan wanita lain.
Menangis tersedu, Divi kemudian menahan mulutnya dengan selimut. Ia menggigit selimutnya agar berharap suara tangisannya tidak membuat orang rumah merasa cemas bahkan hingga menghampiri kamarnya.
Setidaknya untuk sekarang, Divi tidak mau jika Papa dan Mamanya tahu bahwa Jayden sudah mengkhianatinya. Ia tidak mau Papa dan Mama membenci Jayden.
Setidaknya untuk sekarang ini, Divi hanya mau menenangkan dirinya. Ia bahkan belum memikirkan untuk membatalkan pernikahannya dengan Jayden atau justru melanjutkannya dengan rasa kecewa demi janin yang di kandungnya saat ini.
***
Dua hari kemudian….
“Div, kamu kok perasaan jarang banget teleponan sama Jayden sekarang?” tanya Papa saat berada di meja makan.
Divi mengedikkan bahunya. “Papa aja yang nggak tahu,” kata Divi akhirnya. “Lagian Papa tumben apa kepo gitu?”
Papa Dwika memakan nasi goreng yang ada di atas piringnya. “Bukannya kepo,” kata Papa. “Tapi Papa penasaran aja.”
Divi sama sekali tidak tersenyum sedikit pun. Ia menunduk dalam—dalam sambil memakan nasi gorengnya.
“Mama juga aneh,” kata Papa Dwika sambil menatap sang istri.
Mama Kayla yang sejak tadi diam pun menoleh dengan bingung ke arah suaminya. “Aneh kenapa sih, Pa?” tanya Mama Kayla lalu menghela napasnya.
“Perasaan Mama nggak ribut ke Divi lagi supaya Divi hubungi Jayden. Mama udah insyaf ya?”
“Hah ... Mama cuma nggak mau terlalu ikut campur. Mama juga yakin kalau Jayden dan Divi sudah sama—sama dewasa. Mereka pasti tahu dan hapal kegiatan penting seperti pernikahan. Jadi nggak perlu lagi Mama follow up!”
“Syukurlah,” kata Papa Dwika membuat sang istri berdecih. “Kalau gitu kan enak! Divi juga kan pasti nggak terlalu ngerasa berisik sekarang karena Mama nyuruh dia menghubungi Jayden lagi.”
“Iya kan, Div?” tanya Papa Dwika pada sang anak.
Divi menoleh sebentar lalu tersenyum tipis dan menganggukkan kepala.
Papa Dwika merasa aneh dengan sikap anaknya tapi kemudian ia hanya terdiam sambil menikmati sarapan paginya yang berupa nasi goreng dengan telur dadar.
Mama Kayla bangkit berdiri karena sudah selesai sarapan. “Mama hari ini berangkat duluan ya!” kata Mama Kayla pamit. Ia mengambil tas yang ada di belakang punggungnya lalu mencium tangan suaminya.
Divi melepaskan sendok yang sejak tadi dipegangnya lalu mencium punggung tangan ibunya.
Sepeninggalan Mama Kayla yang pergi lebih dulu, Papa Dwika pun menatap anaknya dengan lebih serius. Namun meskipun begitu, Papa Dwika tak mengatakan apapun.
***
Jayden akhirnya bisa ke luar dari rumah sakit. Kakinya sudah mendingan meskipun ia masih berjalan terpincang.
Sebelumnya Jayden juga sudah memberi kabar bahwa ia akan cuti dari kantor untuk sementara waktu karena kesehatannya. Memberikan surat pernyataan dari rumah sakit, Jayden memang tidak bisa ke kantor dan bekerja seperti biasa.
Jayden mendengar suara ponselnya dan segera memperhatikannya. Ia berharap Divi mencoba menghubunginya. Namun naas, lagi dan lagi yang mencoba menghubunginya adalah Sabrina.
Tak mempedulikannya, Jayden pun segera meriject telepon gadis itu. Ia akan menunggu pesannya, jika pesan Sabrina bilang bahwa ia akan membahas soal kantor, ia akan mengangkatnya. Jika gadis itu tidak bilang apapun, ia tentu akan mengabaikannya.
Kembali berjalan dengan terpincang, Jayden kemudian masuk ke dalam dapur. Ia membuka lemari es dan mengambil minuman dingin di sana.
Baru kemarin sore ia akhirnya bisa pulang ke rumah setelah 3 hari menginap di ranjang rumah sakit.
Jayden sebenarnya diminta untuk tetap dalam perawatan di rumah sakit, tapi ia meminta pada dokter untuk melakukan perawatan jalan di rumah. Toh lukanya tidak terlalu parah bagi Jayden.
Setelah minum air putih dingin, Jayden pun menggunakan aplikasi untuk memesan makanan melalui ojek online. Ia memesan makanan di lokasi terdekat langganannya lalu menunggu beberapa saat.
Mengembalikan minumannya ke dalam lemari es, Jayden pun berjalan dengan terpincang ke luar dari rumah. Ia duduk di kursi teras lalu menunggu pesanannya di sana.
Jayden menunggu di luar agar ia tidak terlalu jauh berjalan ke luar dengan kondisi kakinya yang memprihatinkan.
Sambil menunggu, Jayden terus memperhatikan pesan obrolannya bersama Divi. Ia merasa malu sekarang. Ia tidak bisa menghubungi Divi dengan kondisinya yang mengenaskan.
“Div, aku emang b******k! maafin aku, Div, sungguh!” kata Jayden dengan frustrasi.
Tak lama kemudian, pesanan makanannya datang. Sang ojek yang mengantarkan makanannya pun sampai turun dari motor lalu menghampiri Jayden kala melihat costumernya yang memiliki perban di keningnya.
“Pak ... Jayden?”
“Iya,” kata Jayden sambil menganggukkan kepalanya.
Ojek itu mengangsurkan makanannya pada Jayden lalu kembali pergi. Dari tatapannya saja, terlihat bagaimana ojek itu merasa miris dengan kondisi Jayden saat ini.
Kembali, Jayden pun masuk ke dalam rumahnya. Ia berjalan terpincang dan sesekali berhenti untuk meredakan nyeri di kakinya.[]
***
bersambung