Ketahuan Selingkuh

1743 Kata
Bab 34 Ketahuan Selingkuh Hari demi hari berlalu, tak disangka waktu menjelang pernikahan Jayden dan Divi makin dekat. Untuk pernikahan keduanya, Jayden dan Divi bahkan sudah memesan baju pernikahan yang akan mereka nanti saat ijab kabul. Keluarga Divi mengurus segala keperluan putrinya, begitu pun keluarga ayah Jayden mengurus segala keperluan putra semata wayangnya. Meskipun Jayden awalnya sangat menolak dan tidak terima jika keluarga ayahnya ikut campur, tapi akhirnya laki—laki itu mengalah karena memang tidak bisa mengurus segala sesuatunya sendirian kala ia sendiri bekerja di luar kota dan hanya bisa pulang setiap weekend. Untuk masalah mas kawin, mereka sudah membahasnya saat lamaran keluarga. Sesuai diskusi kedua belah pihak, Jayden menyiapkan uang dan perhiasan sebagai mas kawin yang akan diberikannya pada Divi. Divi dan keluarganya setuju dan menerima keputusan Jayden. Mereka juga ingin mempermudah proses pernikahan karena mengingat sang putri yang kini sedang berbadan dua. “Div, kamu udah bisa hubungi Jayden?” tanya Mama Kayla sambil membuka pintu kamar Divi. “Kamu udah kasih tahu kan, acara akadnya nanti jam 8 pagi. Jadi usahakan untuk datang lebih pagi.” “Iya, Ma. Kan waktu itu udah dikasih tahu juga ke Jayden. Ke Tante Nia pun udah. Mama tenang aja ya,” kata Divi lalu tersenyum. Ia duduk di atas kursi. Baru saja ia masuk ke dalam kamar, setelah seharian ini membantu ibu dan dua tetangga mereka membuat bingkisan yang nanti akan dibagikan di acara pengajian syukuran pernikahannya yang akan diadakan keesokan harinya setelah akad pernikahan antara dirinya dan Jayden. “Kamu terus follow up ya, Div. Mama khawatir aja kalau Jayden bakal lupa, apalagi dia masih sering di Jakarta kan.” “Nggak mungkin lah, Ma, Jayden lupa. Mama tenang aja,” gumam Divi lagi, membela sang kekasih. Mama Kayla menghela napasnya. Ia kemudian kembali ke luar dari kamar sang anak. Yang pasti, Mama Kayla sudah menyuruh Divi menghubungi dan mengingatkan Jayden. Ia tidak mau jika ada yang tidak beres di hari pernikahan putrinya nanti. Setelah pintu kamarnya kembali ditutup dari luar, Divi pun kembali melihat ke depan. Ke arah cermin rias berbentuk oval yang menampilkan wajahnya yang gundah. Perasaan Divi makin tidak menentu saat ini. Jayden dengan kehidupannya di Jakarta membuat gadis itu merasa penasaran sekaligus khawatir bahwa ada hal yang sudah disembunyikan kekasihnya selama ini. Apakah ia akan baik—baik saja jika tahu laki—laki yang akan menjadi suaminya justru berhubungan dengan wanita lain? Benar! Bayang—bayang wanita lain bernama Sabrina masih menghantuinya selama ini. Ia masih tidak bisa menghilangkan kecurigaannya meskipun hingga saat ini ia tidak mencoba mencari tahu mengenai hubungan keduanya di tempat kerja di Jakarta. Divi menyisir rambutnya dan terus melihat ke arah dirinya. Setelah selesai menyisir, ia menyentuh bagian perutnya yang masih tidak terlalu memperlihatkan kebuncitannya. Gimana kalau akhirnya aku tahu kalau Jayden berselingkuh saat ini? Apakah aku akan terus melanjutkan pernikahan ini? Melanjutkan pernikahan yang di dalamnya terdapat sebuah pengkhianatan? Divi tiba—tiba berhenti mengusap perutnya. Ia mengambil ponsel miliknya. Ia pun mengirim pesan singkat pada Jayden. [ Jay, kamu lagi ngapain? ] Namun seolah pesannya tak penting, Jayden hanya membaca lalu mengabaikan pesan singkatnya itu. Divi menghela napasnya setelah beberapa menit tapi tak kunjung mendapatkan balasan dari Jayden. Ia tersenyum tipis seolah ingin mentertawakan dirinya sendiri. Setelahnya, Divi kembali mencoba mengirimi pesan lagi pada Jayden. [ Aku mau ingetin untuk gak lupa sama waktu akad nanti jam 08.00 pagi. Emang sih acaranya masih beberapa hari lagi, tapi aku harap kamu nggak lupa. ] Divi kembali menunggu. Ia melihat pesannya sudah dibaca oleh Jayden. Tak lama kemudian ia melihat notifikasi bahwa kekasihnya itu sedang mengetik sesuatu di pesan obrolan mereka. Menunggu dan akhirnya, Divi merasa ada yang aneh dengan pesan balasan dari Jayden. [ Jayden lagi tidur. ] Deg! *** Divi memperhatikan dengan lekat pesan singkat itu. Ia sekarang yakin bahwa kekasihnya sedang bersama seseorang yang tak diketahuinya. Mencoba langsung untuk menghubungi Jayden, Divi kemudian mendapati nada suara wanita yang lemah lembut menyapanya. “Halo,” sapa gadis itu dari seberang telepon. Divi kembali yakin bahwa kekasihnya, Jayden, memang memiliki sebuah hubungan dengan wanita lain. Jam 22.30 malam dan ponsel Jayden berada di tangan seorang wanita. Sudah jelas semuanya! “Kenapa hape Jayden ada di kamu?” “Karena Jayden ada di kamarku sekarang,” balasan dari gadis di seberang telepon membuat Divi membelalakan matanya. “Kamu Sabrina kan?” “Kamu udah tahu kayaknya,” kata Sabrina dengan suara memelan. “Jangan keras—keras ya! Jayden lagi tidur!” “Dasar pelakor! Kamu selingkuhan Jayden?” tanya Divi dengan mata yang mulai berkaca—kaca. Bagaimana caranya ia bisa tetap tenang sekarang setelah mengetahui kenyataan bahwa kekasihnya, laki—laki yang akan menjadi suaminya sedang menghabiskan malamnya bersama pria lain? Divi sudah sangat emosi. Dadanya terasa sesak dan ia mencengkram sisir yang berada di atas meja. Ia memegang benda yang bisa dilampiaskannya untuk digenggam dengan keras. “Tenang aja, aku cuma teman sekantornya. Kamu nggak perlu khawatir!” “Nggak perlu khawtir kamu bilang!” Divi mulai menitikkan air matanya. Ia tak tahan lagi untuk menahan air mata yang sudah merebak di kelopak matanya. “Aku dan Jayden memang hanya teman sekantor. Kami dekat tapi kami tidak punya hubungan apapun. Aku dengar juga, kamu sebentar lagi akan menikah dengan Jayden kan? Selamat ya!” “Gimana bisa kamu bilang selamat dengan mudah seperti ini? Kamu tidur dengan Jayden kan?” tanya Divi lagi. Ia ingin memastikan semuanya. “Kita punya kenangan bersama yang cukup panas,” jawab Sabrina yang langsung membuat Divi merasa sangat emosional. Gadis itu segera membuang semua peralatan make up dan skincare miliknya yang berada di atas meja. “Aaarrghhhh!” “Jangan marah—marah, Divi! Ingat kalau kamu sekarang lagi hamil! Bukankah itu tidak baik untuk kandunganmu nanti?” Divi ingin membanting telepon yang sedang dipegangnya, tapi anehnya tubuhnya terpaku dan terus mendengarkan Sabrina yang terus bicara. “Kamu tahu kalau aku lagi hamil, tapi kamu tetap menggoda calon suami orang lain! Kamu sepertinya nggak punya hati ya, Sabrina....” “Kenapa hanya menyalahkanku karena sudah menggoda Jayden? Jayden juga punya andil di sini! Buktinya kamu masih nggak tahu kan kalau calon suami kamu itu sebenarnya punya hubungan dengan wanita lain?” “Eh, tapi kamu tenang aja. Aku janji sama kamu, kalau aku nggak akan pernah membuat Jayden membatalkan pernikahan kalian. Aku sangat sadar diri! Jayden akan menjadi milikku ketika kita berada di Jakarta, dan akan menjadi milikmu seutuhnya ketika berada di Bogor. Setuju kan?” “Kamu udah gila yaaa? Gimana bisa kamu bicara dengan entengnya seperti itu? Dasar perempuan murahan!” balas Divi dengan marah. “Ckckc,” Sabrina berdecak pelan. “Aku yang perempuan murahan atau kamu yang nggak bisa kasih perhatian dan servis kamu dengan baik ke Jayden. Dasar perempuan murahan! Kamu bahkan sudah hamil sebelum menikah dengan Jayden. Jadi siapa wanita murahannya di sini? Aku atau kamu? Ups ... sepertinya aku tahu siapa?” Sabrina terkekeh pelan. “Kita berdua sama—sama w************n!” “Sabrina....” suara Jayden terdengar. Telinga Divi menangkap di sambungan telepon itu bahwa Jayden memang berada di sana. Suaranya memanggil wanita lain. Tak lama kemudian, panggilan Sabrina dimatikan. Divi terdiam sambil terus menangis. Ia tidak menyangka jika akhirnya mengetahui kenyataan buruk itu tanpa harus bersusah payah mencari tahu. Mengusap matanya yang berair, Divi pun terisak. Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa? Apakah ia harus melanjutkan pernikahan yang sudah diketahuinya telah dipenuhi oleh kotoran ketidaksetiaan? Atau ia akan terus menutup matanya. Divi menangis dengan keras. Ia menutup wajahnya dengan dua tangan. Gadis itu sangat terpukul dengan apa yang baru saja didengarnya di sambungan telepon. Gadis itu Sabrina! Secara terang—terangan memberitahunya bahwa ia adalah selingkuhan Jayden. *** Di balik pintu kamar, seseorang berdiri dan mendengarkan kemarahan dan perkataan Divi. Setelah hanya mendengarkan tangisan sang putri semata wayang, ia pun terus terdiam. Berdiri dengan wajah kasihan. Bagaimana tidak kasihan jika ia harus mendengar percakapan Divi di telepon soal perselingkuhan laki—laki yang akan menjadi suaminya? Apakah ia akan tetap membiarkan Divi menikahi laki—laki yang sudah mengkhianati putrinya atau tetap membiarkan mereka menikah karena kehamilan Divi saat ini? Setelah beberapa saat dan tak lagi mendengar suara tangisan, ia pun mulai berjalan meninggalkan pintu kamar Divi. Ia akan membiarkan Divi memikirkan keadaannya sendiri. Biarlah ini menjadi tanggung jawab Divi. Divi yang sudah dewasa dan bisa bertanggung jawab pada kehidupannya sendiri. *** “Sabrina—“ Jayden memanggil gadis yang kini memunggunginya itu lalu mulai membuka matanya dengan perlahan. Melihat ponsel miliknya yang berada di dekat telinga Sabrina, Jayden pun buru—buru mengambilnya dengan kasar. Ia melihat nama penelepon yang sedang berteleponan dengan Sabrina lalu mematikan panggilan yang tersambung. “Apa yang kamu bicara kan dengan Divi?” tanya Jayden emosional. “Aku udah kasih tahu semuanya. Tentang hubungan kita!” “Kamu gila!?” kesal Jayden dengan berteriak. “Aku cuma ngerasa keganggu sama pesan dan telepon pacar kamu itu! Dia itu ganggu! Makanya aku kasih tahu ke dia kalau kamu sekarang lagi sama aku!” Jayden melihat sekitarnya. Ia sudah sangat marah dan mulai mengambil pakaian yang kini berada di ujung ranjang. Memakainya, Jayden hendak meninggalkan Sabrina. “Kamu mau ke mana, Jay?” tanya Sabrina. Ia khawatir karena Jayden tiba—tiba memakai pakaiannya kembali. “Aku mau balik ke Bogor!” kata Jayden. “Aku harap juga setelah ini kita nggak perlu bersikap saling akrab di luar pekerjaan.” “Jay ... kamu kok begitu sih?” “KARENA KAMU SUDAH MELEWATI BATAS!” Jayden membentak Sabrina saking merasa kesalnya. Tak habis pikir dengan gadis itu, bagaimana bisa ia harus berbicara dengan Divi? “Aku nggak melewati batas, Jay! Aku bahkan nggak meminta kamu menjadi pacarku sama sekali. Aku juga udah jelasin ke pacar kamu kalau kita cuma teman sekantor. Nggak ada yang harus kamu khawatirin!” “Dengan kamu bicara dengan Divi di telepon. Aku sudah cukup khawatir!” Jayden benar—benar marah. Ia menepis pelukan dan sentuhan Sabrina lalu bersiap untuk ke luar dari apartemen Sabrina setelah selesai memakai bajunya kembali. Jayden tertidur. Ia tak tahu bagaimana jelasnya obrolan antara Sabrina dan Divi. Namun, ia sangat khawatir! apalagi Sabrina sudah mengakui pada Divi tentang hubungan mereka. Jayden berjalan dengan langkah besarnya. Ia harus menjelaskannya pada Divi. Ia harus meyakinkan Divi untuk melanjutkan pernikahan mereka. Setidaknya mereka harus melakukan itu demi bayi yang berada dalam kandungan Divi saat ini. Jayden bimbang. Jayden merasa ketakutan.... Apakah anaknya kelak akan merasakan hal buruk sepertinya?[] *** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN