Tidak Ingin Berpisah

1727 Kata
Bab 33 Tidak Ingin Berpisah Berada di rumah Jayden sekarang terasa agak canggung. Meskipun yang mereka lakukan hanyalah duduk bersama sambil menonton televisi. Divi melirik Jayden dari sudut matanya. Ia merindukan laki—laki itu dan ingin memeluknya, menghabiskan waktunya bersama Jayden adalah hal yang didambakannya. Jayden bangkit berdiri dan kemudian masuk ke dalam kamarnya. Divi tak berpikir panjang dan hanya menunggu sambil menonton film marvel yang diulang mereka. Saat kembali, Jayden membawakan selimut untuk keduanya. Ia menyelimuti Divi dan memastikan kekasihnya tetap hangat di hawa dingin yang menyergap wilayah mereka. “Makasih ya, Jay,” kata Divi. Ia bersyukur karena Jayden begitu perhatian. Jayden menganggukkan kepalanya sambil ikut duduk di samping Divi. Setelahnya, ia hanya melihat menonton televisi beberapa saat. Menggenggam tangan Divi hingga gadis itu menoleh dengan gugup. Divi tak meluncurkan pertanyaan apapun. Apalagi ia melihat wajah Jayden tersenyum dengan tulus. Ia kembali melihat ke arah televisi yang menyala lalu mengulum senyum di bibirnya. Keduanya kembali terdiam dan hanya fokus pada saluran channel smart televisi yang ada di depan mereka. “Div?” “Hmm?” Divi yang malas untuk menoleh bertanya. Ia hanya berdehem. “Kandungan kamu sekarang gimana?” tanya Jayden, gugup. Ia biasanya tidak pernah menanyakan soal kehamilan Divi. Bahkan sejujurnya, ia merasa belum sanggup untuk memiliki anak dari kekasihnya ini. Ia takut dan khawatir jika anaknya akan mengalami nasib sepertinya. “Kandunganku?” Divi terdiam sejenak. Ia menoleh untuk menatap Jayden lalu menjawab, “Kandunganku baik—baik aja.” Setelahnya Jayden menganggukkan kepalanya. “Makasih ya, Jay?” kata Divi membuat Jayden menoleh dengan bingung. “Makasih kenapa?” “Udah nanyain kondisi kandunganku,” kata Divi. Ia tersenyum untuk kekasihnya, Jayden yang diperlakukan seperti itu hanya bisa membuang mukanya. “Div, aku boleh jujur ke kamu?” Divi menatap Jayden yang lebih memilih menatap ke arah televisi di depan mereka. “Ada apa, Jay?” Jayden memegang tangan Divi. Menggenggamnya dengan kuat beberapa saat kemudian. “Aku sebenarnya takut ... aku takut kalau aku nggak bisa jadi ayah yang baik untuk anak kita nanti,” kata Jayden akhirnya bercerita mengenai kekhawatirannya. “Aku sama sekali nggak punya figur ayah yang baik di hidupku. Aku memang punya dua ayah, tapi bahkan ayah kandungku ... aku tidak bisa mengenalinya sama sekali.” Divi menganggukkan kepalanya. “Kamu tenang aja ya, Jay,” kata Divi menguatkan. “Kita bisa belajar dari buku—buru parenting. Kita pasti bisa jadi orang tua yang baik untuk anak—anak kita. Aku sangat yakin!” “Kamu seyakin itu?” Nada suara Jayden terdengar sarkas. “Tapi nggak aneh sih, kamu kan selama ini selalu mendapat dukungan dari kedua orang tua kamu.” “Kadang aku juga tetap berselisih kok, Jay, dengan Papa Mama.” Jayden membuang mukanya. Ia memang tidak akan pernah cocok membahas permasalahan orangtua bersama Divi. Sangat jauh berbeda ketika ia bersama Sabrina. Gadis itu bisa menghargainya. Gadis itu sangat paham dengan perasaannya sebagai anak yang berasal dari keluarga broken home. “Jay....” Divi menggenggam tangan Jayden dengan erat. “kita nanti sama—sama belajar ya jadi orang tua yang baik untuk anak kita nanti?” Jayden menoleh untuk melihat tangan Divi yang menggenggam tangannya. Tangan kecil itu berusaha untuk menguatkannya. Memaksakan diri untuk tersenyum, Jayden akhirnya mengangguk. Ia membiarkan Divi mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Dalam hatinya, ia merasa apa yang dikatakan Divi sangat menyebalkan. Entah mengapa, ia merasa kesal karena Divi ingin mereka sama—sama belajar jadi orang tua yang baik. Masalahnya, ia sendiri tak pernah mendapatkan contoh nyata itu. Lalu bagaimana caranya ia bisa belajar? Bagaimana caranya ia menjadi orang tua yang baik? Apakah buku—buku itu bisa membantunya nanti? Jayden melepaskan genggaman tangan Divi lalu kembali menonton televisi. Merasakan tangannya dilepas begitu saja, Divi mendadak berhenti tersenyum. Tangannya merasa dihempaskan oleh Jayden. Apa laki—laki itu kesal padanya hingga melakukan itu? “Kenapa?” tanya Jayden saat melihat kekasihnya sejak tadi menunduk ke arah bawah. Divi menahan matanya yang berkaca—kaca agar tidak turun ke pipi. Mengerjapkan mata beberapa saat dan menenangkan diri, setelahnya Divi pun mendongak. Ia menatap Jayden yang tengah menatapnya dengan bingung. Divi mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Jayden dengan cepat. Merasakan bibir yang sudah lama dirindukannya, Jayden pun balas menarik pinggang Divi lalu membalas ciuman mereka dengan sangat panjang. Mereka menyadari gejolak masing—masing dan menikmati setiap gerakan s*****l di bibirnya mereka yang saling menyatu. Setelah beberapa saat, Jayden akhirnya melepaskan ciuman panas mereka. Keduanya terdiam sejenak hingga akhirnya Divi memulai lebih dulu menggoda kekasihnya. Mereka saling melepaskan rindu akan kebersamaan mereka dan menikmati setiap pelepasan rindu satu sama lain. *** Jayden menatap Divi yang kini berbaring dengan nyaman di atas ranjangnya. Gadis itu kelihatan lelah karena sudah melayaninya di atas ranjang. Mereka sama—sama menggebu—gebu untuk menikmati permainan ranjang yang panas dan menggelora. “Kamu mau nginep di sini?” tanya Jayden sambil menatap kekasihnya dengan posisi berbaring ke samping. Divi yang sejak tadi mencoba untuk tidak tertidur pun membuka matanya yang mengantuk parah. “Aku harus pulang.” “Kamu kelihatan ngantuk banget,” kata Jayden lagi. “Apa nggak nginep aja?” Divi menghela napasnya dengan berat lalu membuka matanya lebih keras hingga membuat Jayden tertawa geli. “Aku harus pulang!” “Oke ... oke. Aku nggak akan paksa kamu buat nginep!” Jayden mendekat lalu mengecup kening kekasih yang akan dinikahinya. “Kamu mau mandi dulu?” tanya Jayden lagi, bermaksud agar kekasihnya itu tidak mencoba untuk tertidur di atas kasurnya. Pasalnya Divi kembali memejamkan mata. “Nggak mau! Dingin....” kata Divi sambil terus memejamkan matanya. Tangan Jayden tiba—tiba menyentuh sesuatu yang kenyal di balik selimut yang dipakai oleh Divi. Merasakan dadanya disentuh membuat tubuh Divi bergeser. “Jangan nakal deh!” gumam Divi tidak suka. Jayden terkekeh pelan. “Biar kamu nggak ngantuk!” “Aku nggak ngantuk kok. Cuma lagi memejamkan mata aja sebentar,” kata Divi lalu kembali menguap dengan lebar. Jayden punya pikiran nakalnya sendiri. Wajahnya mendekati d**a Divi yang masih diremasnya. Ia mendekat kemudian menggantikan tangannya dengan mulut. Laki—laki itu pun mulai menyusu pada d**a kekasihnya. Divi menikmati sedotan Jayden di dadanya sambil terus memejamkan mata. Ia mulai mengeluarkan bunyi erangan membuat Jayden makin agresif untuk menggoda kekasihnya itu. Salah satu tangan Jayden meremas d**a Jayden, sedangkan satu tangan lagi mengusap daerah intimnya yang makin lama, makin mencoba masuk ke dalam pusat dirinya yang masih sangat basah karena cairan cintanya di dalam sana di awal ronde yang baru beberapa menit lalu mereka selesaikan. Divi menarik rambut Jayden. Menjambaknya untuk menyalurkan rasa frustrasi yang ada dalam dirinya. Jayden tak peduli dengan rambutnya dan terus menggoda kekasihnya. Saat ia merasakan tubuhnya mulai kembali bereaksi. Dengan cepat, ia pun menggantikan jemari tangannya yang berada di dalam daerah intim sang kekasih. Mereka melakukan penyatuan dengan cepat dan segera menikmati ritme untuk memuaskan nafsu mereka masing—masing. *** Divi akhirnya pulang dari rumah Jayden. Ia sampai ke rumahnya pukul 22.30 malam. Ia berada di rumah kekasihnya selama 2 jam. Jayden menahan tangan Divi saat kekasihnya hendak turun dari mobilnya. Ia memeluk Divi sejenak, lalu berkata, “Makasih ya, Sayang.” Divi menganggukkan kepalanya setelah melepaskan pelukan mereka masing—masing. “Aku masuk rumah dulu ya, kalau gitu!” kata Divi. “Kamu kalau udah sampai rumah, jangan lupa untuk hubungi aku.” Jayden balas menganggukkan kepalanya. Mereka saling tersenyum simpul lalu berpisah. Divi turun dari mobil lalu berjalan masuk ke teras depan rumahnya. Tak menunggu Divi masuk, Jayden sudah melajukan kembali mobil yang ia tumpangi. Membuat Divi yang kembali menoleh merasa sedih karena sudah harus berpisah dengan laki—laki yang dicintainya itu. *** Tangan Divi memegang kartu nama Jayden yang berisikan alamat kantornya yang baru di Jakarta. Ia terdiam cukup lama, memainkan kartu nama di tangannya di atas meja. Memutarnya dengan pandangan kosong. “Heh! Ngelamunin apa?” tanya Hana sambil mengambil dengan cepat kartu nama yang dimainkan oleh Divi sejak tadi. Ia sudah memperhatikan cukup lama dan rekan kerjanya itu nampak berpikir terus hingga membuat pandangannya kosong. “Balikin, Han!” Bukannya menjawab, Divi justru meminta langsung kartu nama yang diserobot oleh Hana. Hana segera melihat kartu nama yang sedang dipegang Divi. Ia membaca dan menemukan bahwa yang dipegang sejak tadi oleh Divi adalah kartu nama kekasihnya sendiri. “Ini kartu namanya Jayden?” “Hmm,” balas Divi sambil menganggukkan kepala. Hana mulai duduk di kursinya, lalu mendekat pada Divi. Ia pun mengecilkan suaranya agar tidak didengar orang di sekitar. “Jadi gimana? Ini masalah cewek rekan kerjanya Jayden itu?” Divi menghela napasnya dengan berat. “Gue penasaran, Han.” “Tapi, Div....” Hana terdengar ragu. Membuat Divi menatapnya dengan bingung. “Bukannya kemarin lu dukung gue buat nyari tahu yang sebenarnya. Mumpung gue belum menikah dengan Jayden?” “Iya sih,” Hana menganggukkan kepala. “Tapi lo kan cinta banget sama Jayden. Apa lo siap misal tahu kenyataan terpahitnya nanti?” Deg! Perkataan Hana benar sekali. Ini juga yang selalu membuatnya ragu untuk mencari tahu lebih detail mengenai hubungan Jayden dan Sabrina di kantor mereka di Jakarta. “Jadi menurut lo, lebih baik gue nggak nyari tahu langsung?” Hana menghela napasnya. “Gue sama lo kan jelas beda, Div. Kalau gue jadi elo, ya gue kejer kenyataannya. Gue nggak mau sakit hati belakangan. Tapi kan masalahnya, elo ya elo, gue ya gue! Mau lo sekarang gimana? Gue benar—benar nggak bisa kasih saran apapun lagi. Soalnya elo yang punya hubungan ini, Div.” Divi menganggukkan kepalanya. Perkataan Hana benar sekali. Bahkan saat Hana menyerahkan kembali kartu nama Jayden di meja kerjanya, Divi pun masih terdiam. “Mending lo coba pikir—pikir lagi. Mau lo sebenarnya gimana? Atau kalau lo takut sama kenyataan dan Jayden ternyata selingkuh, mending lo tahan diri lo dari mencari tahu semuanya.” “Kok gitu sih, Han....” “Semua terserah kata hati lo, Div. Jangan karena pendapat gue, lo jadi tersiksa! Itu sih saran gue.” Divi kemudian menganggukkan kepalanya lagi. Ia melihat ke arah kartu nama Jayden sejenak, lalu membuka laci yang ada di meja kerjanya. Tak lama kemudian, ia pun menyimpan kartu nama itu. Divi masih bimbang, untuk mengetahui semua kenyataan yang ada. Entah itu kenyataan pahit atau hanyalah firasat bohong saja. Yang pasti ia tak sanggup jika nantinya harus berpisah dari Jayden.[] *** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN