Bab 32
Mencari Tahu
Divi dan Hana baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka hari ini. Keduanya kini tengah bersiap membereskan meja kerja untuk kemudian pulang.
“Div, lo kok aneh sih?” tanya Hana membuat Divi mengerutkan keningnya dengan bingung.
“Aneh gimana? Gue biasa aja kok.”
“Lo nggak biasa aja! Gue tuh ngerasa hari makin hari sejak gue tahu lo mau nikah sama Jayden, lo tuh kayak punya masalah gede. Lo tuh kayak tertekan gitu!”
Mendengar perkataan Hana, Divi pun segera tertawa. Ia membohongi dirinya sendiri. “Nggak kok,” katanya sambil menggeleng—gelengkan kepalanya sendiri. “Gue nggak ada masalah apa—apa.”
“Tapi emang sih kata—katanya tuh, kalau orang mau menikah pasti ada aja masalahnya. Bisa dari pihak ketiga, bisa dari orang tua pasangan masing—masing. Atau bisa dari sikap kita yang menjengkel.”
Divi terdiam kala mendengarkan perkataan Hana. Ia kembali mengingat soal Sabrina. Telepon waktu itu. Ia kembali mengungkitnya karena merasa sangat curiga.
Menghela napasnya, Divi akhirnya menenteng totebag berwarna cream yang di bahunya. “Udah yuk, jalan! Pulang!”
Hana menganggukkan kepala. Sebelum pergi, ia memperhatikan ruangan sang bos. Dari luar, ia bisa melihat jika Pak Bagas masih sibuk dengan pekerjaannya.
“Han?” Suara Divi membangunkan Hana dari tatapannya pada sang bos dari kejauhan.
Hana tersenyum lalu berjalan menghampiri Divi. Mereka dalam perjalanan ke luar dari kantor redaksi bersama.
“Han....” suara Divi terdengar ragu. “Sebenarnya gue ragu buat cerita ini ke elo. Tapi gue mau minta saran ke elo.”
“Hmm ... masalah apa emangnya?” tanya Hana penasaran.
“Lo ada waktu nggak habis ini? Gue mau curhat nih, tapi gue butuh tempat tenang.”
Hana merasa bahwa ada masalah serius. “Ini soal Jayden?”
Divi terdiam sejenak, lalu akhirnya menganggukkan kepala.
“Ya udah. Kita bahas di kafe sebelah aja.”
Divi mengangguk setuju. Dalam perjalanan menuju kafe, wajahnya terus bimbang. Ia belum mengataka ini pada siapapun. Ia ragu, ia khawatir dengan tanggapan orang lain mengenai gadis bernama Sabrina nanti.
Hana dan Divi duduk di kursi berbahan kayu yang ada di dekat jendela. Pesanan mereka sudah ada di atas meja. Hana dengan capuccino—nya sedangkan Divi dengan latte—nya. Keduanya memesan keik pisang yang masih hangat karena baru ke luar dari oven.
“Jadi gimana?” tanya Hana. Tak sabar untuk mendengar cerita dari teman kerjanya yang cukup dekat.
Divi memakan keiknya lalu menatap Hana. “Gue sebenarnya ngerasa ada yang aneh dari rekan kerja Jayden. Awalnya feeling gue aja yang nggak enak soal cewek ini. Tapi pas kemaren—kemaren gue kayak ngerasa yakin kalau cewek ini selingkuhannya Jayden.”
“Apa? Lo yakin, Div? Terus lo diam aja? Atau kalian lagi bertengkar sekarang?”
“Gue ... nggak mau kehilangan Jayden, Han. Gue nggak bisa!”
“Tunggu sebentar! Lo yakin kalau dia selingkuhan Jayden dari apa? Lo pernah lihat dia bareng sama Jayden atau gimana?”
Divi menggeleng pelan. “Gue cuma pernah dengar omongan Sabrina di hape Jayden. Pagi—pagi banget gue telepon Jayden, tapi anehnya yang angkat cewek. Nah ternyata yang angkat ini si Sabrina! Sabrina juga bilang kalau hape Jayden ada di dia karena hape Jayden ketinggalan di tempat dia. Otak gue otomatis langsung traveling, Han. Gue udah mikir kalau Jayden semalaman tinggal sama Sabrina di tempat tinggalnya itu terus kelupaan bawa hapenya lagi.”
Hana mengangguk—anggukkan kepalanya. Mendengar cerita dari Divi membuat tenggorokannya kering. Ia mengambil cangkir di depannya lalu meminumnya sedikit.
“Menurut gue ini udah keterlaluan sih, Div. Terus Jayden gimana? Apa dia tahu masalah ini?”
“Iya, dia tahu!” Divi menganggukkan kepala. “Jayden tahu dan langsung nyusul gue ke Bogor, ke rumah gue, buat jelasin masalah itu. Dia sih bilangnya pagi itu dia nganterin dokumen gitu ke Sabrina, terus nggak sengaja hapenya ketinggalan.”
“Jadi Jayden nggak ngaku kalau dia habis nginep di rumah cewek bernama Sabrina ini?”
Divi menganggukkan kepala. “Gue makanya bingung, Han. Satu sisi, gue pengen banget mempercayai Jayden seutuhnya. Apalagi gue nggak mau kehilangan dia, karena kita bentar lagi menikah,” kata Divi. “Tapi di sisi lain, gue ngerasa bodoh. Apa gue mau dibohongi sama Jayden terus menerus. Apalagi kita LDR—an. Gue benar—benar nggak bisa asal pergi ke tempat kerjanya. Kita juga jarang ketemuannya lebih dari saat kita masih tinggal di satu kota yang sama.”
Hana menghela napasnya dengan berat setelah mendengar cerita dari Divi. “Tapi sih, Div,” kata Hana memulai pendapatnya. “Kalau gue sih jujur aja, gue bakal cari tahu yang sebenarnya. Gue nggak mau dihantui pemikiran buruk yang nggak ada habisnya ini. Apalagi misal dia ini calon suami gue! Gue nggak mau lah nikah sama cowok tukang selingkuh! Gila aja kalau gue terima dia setelah tahu diselingkuhin! Karena nanti nggak menutup kemungkinan setelah menikah nanti, dia bakal balik dengan tabiatnya yang berselingkuh dengan perempuan lain.”
“Gue benar—benar nggak ridho untuk jadi orang yang tersakiti terus menerus!” kata Hana mengakhiri pendapatnya.
Divi mendengarkan kemudian bertanya, “Tapi misal lo cinta banget sama cowok lo, dan dia selingkuh gimana? Lo tetep bakalan mutusin dia?”
“Ya teteplah!” kata Hana kesal. “Gue tuh kayaknya bakal langsung patah hati. Udah kayaknya cinta gue langsung pecah dan retak. Perselingkuhan bagi gue tuh kayak badai dan cinta itu bagai rumah. Ketika badai merobohkan rumah, kita bisa aja bangun lagi rumahnya, tapi apakah rumah itu akan tetap sama? Jawabannya nggak, Div! Kecuali misal lo punya hati yang luar biasa sabar dan mau diselingkuhi terus menerus. Orang kan berbeda beda ya.”
Divi menganggukkan kepalanya.
“Terus sekarang gimana, Div?” tanya Hana. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan sahabatnya.
Mengedikkan bahunya, Divi merasa tidak yakin untuk mencari tahu lebih lanjut soal hubungan Jayden dan Sabrina. Rasanya seolah mengorek luka yang masih basah. Pasti akan sangat menyakitkan jika kenyataan buruk itu benar adanya. Jika pikiran negatifnya itu menjadi kenyataan.
“Div, pernikahan itu sangat sakral. Bukankah lebih baik jika mengetahui keburukannya sekarang daripada nanti setelah kalian menikah? Mending batal nikah, Div, daripada gagal menikah.”
“Han ... gue bingung! Masalahnya lagi gue sekarang—“
Divi berhenti bicara saat ia mendengar ponsel Hana berbunyi di atas meja. Hana dan Divi melihat nama peneleponnya dan menemukan nama Mr. B di sana.
Hana menatap Divi sejenak lalu meriject panggilan yang mengganggu dari laki—laki yang sedang dijodohkan oleh kedua orang tuanya saat ini.
“Masalah apa lagi, Div?” tanya Hana ingin tahu, melanjutkan cerita Divi.
Divi baru saja hendak membuka mulutnya lagi untuk mengatakan kisahnya, tapi ponsel Hana kembali berdering. “Udah, Han! Mending angkat aja! Mungkin penting....”
Hana menghela napasnya sejenak lalu mengambil ponsel miliknya yang ada di atas meja. Setelahnya menaruh ponsel itu di depan telinga miliknya. “Halo, Mas....”
“Iya. Aku udah pulang!”
“Eh....” Hana terlihat kebingungan. Ia melihat sekitarnya. Ke arah jendela ke luar dan menemukan mobil seseorang menepi. Divi ikut melihat ke arah pandang Hana dan menemukan mobil Pak Bagas yang mereka kenali.
Oh Mr. B itu Pak Bagas? Divi tersenyum simpul. Pasangan Hana dan Pak Bagas memang keren.
“Aku lagi sama Divi, Mas.”
“Huft ... iya, iya,” Hana kemudian menyelesaikan panggilan teleponnya. Ia merasa kesal dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Div, sorry!” kata Hana akhirnya. “Pak Bagas minta pulang bareng soalnya ada yang mau dibahas.”
“Oh ya? Ya udah deh nggak papa,” balas Divi tak bisa memaksa Hana untuk tinggal dan menemaninya.
“Maaf ya, Div, sekali lagi.”
Divi menganggukkan kepalanya. “Iya, Han. Tenang aja sih, nggak papa.”
“Atau lo sekalian gue minta Pak Bagas anterin dulu aja gimana?” tanya Hana menawarkan agar sekalian ia juga tak perlu berduaan dengan Pak Bagas.
Menggelengkan kepala, Divi pun menolak dengan tegas. “Nggak deh! Gue mau di sini dulu aja. Ngabisin latte sama keik gue.”
Hana melihat ke arah keiknya yang sudah habis. “Ya udah deh kalau gitu! Sorry ya. Waktu kita malah kepotong. Gara—gara bos nyebelin! Cih!” Hana kelihatan kesal.
“Udah udah. Nggak usah marah—marah! Gih sana pulang! Tuh Pak Bagas udah nungguin!”
Hana menganggukkan kepalanya. Setelah berpamitan dan cipika cipiki dengan Divi, ia pun pergi ke luar dari kafe.
Hana berjalan menuju mobil yang terparkir di tepi jalan raya itu. Saat kembali menoleh ke arah kafe, Hana melambaikan tangannya ke arah Divi.
Divi balas melambaikan tangannya sejenak kemudian menikmati latte yang ada di cangkir yang kini dipegangnya. Menikmati latte itu dalam diam kemudian tersadar bahwa ia seharusnya tidak meminum latte karena kehamilannya karena tentunya mengandung kafein.
Menghela napasnya, Divi kemudian bengkit berdiri. Ia membeli air mineral botol melalui mesin minuman yang ada di kafe, lalu kembali duduk dengan tenang.
Meminum air putihnya dengan banyak, Divi berharap bahwa latte yang diminumnya terurai. Hal yang tidak mungkin sekali.
***
Beberapa hari kemudian....
Divi menatap Jayden yang kini sedang menikmati makan malamnya dengan serius. “Jay....”
Jayden menoleh dengan senyum tipisnya. “Hmm?” Setelahnya ia mengambil gelas minum miliknya yang berisi air putih dingin lalu meminumnya. “Kenapa?”
“Jay, kamu udah bikin kartu nama baru? Untuk alamat pekerjaan kamu di kantor pusat di Jakarta?” tanya Divi dengan hati—hati.
“Udah. Kenapa?” tanya Jayden balik.
Divi menggelengkan kepalanya. Ia meminum air putih dinginnya sejenak lalu memikirkan sebuah kebohongan. “Aku minta ya?”
“Hmm?”
“Jadi ada temanku, aku kasih tahu dia kalau kamu kerja sebagai arsitektur. Dia tinggal di Jakarta sekarang dan mau bangun rumah bersama suaminya. Aku mau coba rekomendasiin kamu, Jay. Jadi aku minta kartu namaku untuk temanku ini?”
“Oh gitu....” Jayden yang tadinya sedang makan pun segera mengambil dompet. Ia mengambil salah satu kartu namanya yang terbaru lalu menyerahkannya pada Divi.
“Dia dan suaminya usia berapa? Hebat ya sudah mau bikin rumah?”
Divi mengambil kartu nama dari tangan Jayden lalu menyimpannya ke dalam tas. “Eng dia punya usaha produksi madu gitu,” Divi mulai mengarang bebas. Ia memikirkan seseorang yang memiliki usaha madu yang baru mendapat liputan oleh tim wartawan tempatnya bekerja. Mereka sepasang suami istri yang merintis usaha madu dengan brand mereka sendiri, yang kini sedang naik daun dengan omset ratusan juta hinga miliyaran.
“Oh ya?” kata Jayden sambil menganggukkan kepalanya. “Udah lama menikah?”
“Udah,” kata Divi sambil menganggukkan kepalanya.
“Seumuran sama kamu, Div? Berarti dia nikah muda dong?”
“Eng iya ... anaknya masih kecil, usia TK. Usahanya lagi maju dan mau bikin rumah gitu.”
Jayden terdiam. Ia melanjutkan makannya dan berhenti menanyakan sesuatu pada kekasihnya. Divi bukan pembohong yang baik. Jadi ia bisa menganalisa bahwa teman yang sedang mereka bicarakan sebenarnya tidak ada. Entah apa alasannya, tapi Jayden memutuskan untuk diam karena tidak ingin Divi terlalu lama kebingungan karena menjawab pertanyaannya.
Mereka makan beberapa saat kemudian hingga akhirnya menyelesaikannya.
“Oh ya, Jay, kamu jadi kapan ngurus dokumen pernikahan kamu?” tanya Divi sambil mengusap bibirnya menggunakan tisu makan yang diambilnya di atas meja makan.
“Senin langsung aku urus kok. Kamu tenang aja deh,” kata Jayden. Ia tidak suka sikap Divi yang seolah terus menuntutnya untuk segera mengurus pernikahan mereka. “Aku pasti luangin waktu aku buat ngurusin pernikahan kita.”
“Iya, aku ngerti.”
“Kalau kamu ngerti. Kamu jangan menuntut terus menerus, Div. Kamu tahu sendiri kan kerjaanku banyak. Apalagi sekarang aku ada di kantor pusat.”
Divi merasakan sinyal perdebatan sebentar lagi tergaung. “Aku cuma—“
“Udahlah. Aku nggak pengin bahas hal ini lagi,” kata Jayden lalu bangkit berdiri. Ia meninggalkan meja makan dan berjalan menuju toilet.
Ditinggalkan begitu saja membuat emosi Divi ikut tersulut. Tapi yang dilakukannya hanya menghela napas dengan berat. Dilihatnya Jayden kembali dan Divi bergilir untuk masuk juga ke dalam toilet wanita.
Di dalam toilet, Divi mencuci tangannya. Dalam hati ia merasa kesal, tapi ia tidak bisa melakukan apapun. Rasanya tak bijak juga jika ia kembali bersama Jayden dan melanjutkan emosinya.
Akhirnya Divi hanya bisa menghela napasnya lagi. Mengatur napas agar emosinya sedikit berkurang. Hingga beberapa saat kemudian, Divi kembali mencoba tersenyum dan menganggap tak terjadi apapun pada Jayden dan dirinya. Mereka tidak habis berdebat karena hal sepele.
“Udah pulang yuk?” ajak Jayden.
Divi diam sejenak. Ia belum mau berpisah dari kekasihnya. “Jay, aku belum mau pulang.”
“Kamu mau nonton?” tanya Jayden lagi.
Divi menggelengkan kepalanya. “Aku mau ke rumah kamu aja ya. Boleh kan? Aku kan udah lama nggak ke rumah kamu.”
Jayden terdiam sejenak lalu menganggukkan kepalanya. “Ya udah, yuk!” ajaknya sambil mengulurkan tangan. Divi menerimanya dan mereka berjalan bersama menuju pintu depan.
Kembali mereka bersikap seolah tak ada hal serius yang terjadi dalam hubungan mereka.[]
***
bersambung