Jengkel

1472 Kata
Bab 31 Jengkel Jayden terdiam di atas sofa yang berada di dalam apartemen Sabrina. Ia memutuskan masuk ke dalam, karena merasa khawatir dengan gadis itu. Apalagi ia baru saja melihat kedzoliman ibu tirinya yang bahkan sampai main tangan pada anak sambungnya sendiri. Mendadak Jayden memikirkan Tante Nia, wanita yang notabene sebagai ibu tirinya itu bahkan lebih baik daripada ibu kandungnya. Namun tetap saja, ia tidak bisa menyukainya. Bukankah seharusnya sekarang ini Jayden merasa bersyukur? Bayangkan jika ibu sambungnya adalah sosok seperti ibu sambung Sabrina yang bahkan menyebutnya sundel? Sangat kasar! “Oh ya, aku sampai lupa buat nawarin kamu minum,” kata Sabrina setelah terdiam beberapa saat bersama Jayden yang ikut masuk ke dalam apartemennya. Jayden menahan tangan Sabrina dengan cepat. “Nggak perlu! Aku cuma mau mastiin kalau ibu tiri kamu itu nggak balik lagi ke sini” Sabrina kembali duduk di tempatnya sambil tertawa pelan. “Tenang aja! Dia nggak bakal balik ke sini lagi kok! Gue yakin banget!” Jayden tak membalas apapun. Sabrina kembali terdiam lagi, dan keduanya duduk di sofa ruang tamu dalam diam. Tak menjalin sebuah obrolan. Hanya masing—masing saling berpikir panjang. “Ya udah deh, kalau gitu gue balik ya!” kata Jayden sambil bangkit dari tempatnya duduk. Ia merasa sudah cukup lama berada di apartemen Sabrina. Saat ia memegang saku celananya, ia pun menemukan ponsel seseorang yang baru diingatnya. “Hampir aja gue lupa!” kata Jayden sambil menyerahkan ponsel milik Sabrina. “Gue ke sini, mau ngembaliin hape lo yang ketinggalan di mobil tadi.” Sabrina menerima ponselnya dengan senyum tipis. “Oh iya, gue bahkan baru ingat kalau hape gue ketinggalan. Makasih ya, Jay, udah susah payah nganterin ke gue langsung!” “Santai aja lah!” kata Jayden sambil tersenyum tipis. Ia pun mulai berjalan menuju pintu depan apartemen Sabrina, dan gadis itu pun menemani. “Gue balik ya?” pamit Jayden lagi. Sabrina menganggukkan kepalanya. Saat Jayden mulai berbalik badan hendak meninggalkannya, Sabrina buru—buru menahan tangan laki—laki itu. Kaget, Jayden pun menoleh ke arah lengannya, lalu menatap ke arah Sabrina yang tengah menundukkan kepala. “Sabrina?” “Jay?” Nada suara Sabrina begitu bergetar. “Lo bisa temenin gue nggak? Malam ini ... gue ngerasa kesepian kalau lo pergi!” Deg! Jayden mulai memahami Sabrina. Maksud kesepian yang dikatakannya. Hobinya yang kelabing karena merasa kesepian. Menghela napasnya dengan pelan, Jayden pun kemudian menarik tubuh Sabrina dalam pelukannya. Ia merasa kasihan dengan apa yang sudah dialami oleh Sabrina. Perlakuan tidak menyenangkan ibu sambungnya pasti membuatnya kesal. Namun, dari caranya bersikap, ia yakin jika Sabrina sudah berjuang untuk menahan diri agar tetap menerima perlakuan buruk itu. Setelah mendapatkan pelukan yang hangat dari laki—laki yang membersamainya, Sabrina pun menangis sesenggukkan. Hidupnya palsu selama ini. Hidupnya menyedihkan tapi hanya ia sendiri yang mengetahuinya. Setelah Jayden melihat perlakuan ibu sambungnya tadi padanya, Sabrina pun tak kuat lagi untuk berpura—pura kuat. Ia sangat malu sekaligus sedih. “Jay, please janji sama gue! Apa yang lo lihat hari ini nggak akan pernah ke luar dari mulut lo?” Jayden menatap mata Sabrina yang berderai air mata. Ia ingin bertanya alasannya. Namun merasa jika bertanya sekarang, bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Akhirnya, Jayden pun menganggukkan kepalanya. “Iya, Rin. Gue janji, lo tenang aja!” Sabrina menghela napasnya. Saat ia hendak menyeka air mata yang merembes di kedua pipinya, Jayden lebih dulu melakukan itu. Membuat perasaan Sabrina bahagia bukan main. Mendadak ia melupakan fakta bahwa Jayden adalah calon suami orang. “Udah ya, jangan nangis! Lo jelek banget kalau make up nya luntur!” kata Jayden bohong. Mendengar kalimat terakhir Jayden, Sabrina pun buru—buru memukul kedua tangan Jayden yang tadinya membantu mengusap pipinya. Ia membuang muka lalu menyeka air matanya sendiri. Jayden terkekeh pelan mendapati sikap Sabrina. Ia memegang kedua bahu Sabrina lalu membawanya masuk ke dalam apartemen gadis itu kembali. *** Alarm bawah sadar Jayden membuatnya terbangun di pagi hari. Saat ia melihat ke sekitarnya, laki—laki itu langsung bangkit dari posisi berbaringnya. Setelah duduk, Jayden mulai mengingat kembali keadaannya yang kini berada di apartemen seorang gadis. Ia memang memutuskan untuk menginap di apartemen Sabrina karena sudah terlalu lelah untuk perjalanan pulang. Belum lagi, Sabrina juga memintanya untuk tinggal di apartemennya malam tadi. Menurunkan kedua kakinya ke bawah, Jayden setelahnya memegang kepalanya. Mengusap wajahnya menggunaka kedua telapak tangannya. Setelah menguap beberapa kali, Jayden pun akhirnya membuka mata dengan lebar. Malam tadi terasa seperti mimpi. Ia tinggal di tempat tinggal seorang gadis dan tidak melakukan apapun yang membangkitkan birahinya sebagai seorang pria. “Jay....” Jayden menolehkan kepalanya. Ia melihat Sabrina sudah terbangun. Gadis itu dengan santainya berjalan melewatinya dengan hanya memakai tanktop berwarna putih dengan bawahan celana training berwarna hitam. “Hmm ... gue habis ini langsung balik ke kos—an gue ya?” kata Jayden sambil melipat kembali dengan rapi selimut yang dipakainya semalam untuk tidur di atas sofa depan televisi. “Oh ... oke,” balas Sabrina sambil membuka lemari es. Ia mengambil beberapa selai, roti tanpa kulit, dan juga air putih. “Makan dulu nih!” Jayden melihat roti di atas meja makan lalu menggelengkan kepalanya. Ia merasa tidak berselera sama sekali. “Nggak perlu deh. Gue bisa makan di kos—an gue.” “Yakin?” Sabrina dengan santainya membuka tutup selai rasa stroberi lalu mengoleskannya ke atas roti tawar menggunakan pisau makan. “Hmm....” Jayden meletakkan selimut yang sudah dilipatnya dengan rapi ke atas sofa. “Gue pergi ya?” Sabrina buru—buru menghampiri Jayden yang berjalan lebih dulu menuju pintu depan apartemennya. Mereka kembali mengobrol sejenak di depan pintu apartemen lalu berpisah beberapa saat kemudian. Sepeninggalan Jayden, Sabrina kembali menikmati sarapannya. Roti selai stroberi pagi ini terasa enak, apalagi setelah hal buruk yang dilaluinya semalam, membuat perutnya yang kosong melompong. *** Jayden mendapat panggilan dari Divi dan segera mengangkatnya. Ia sedang dalam perjalanan menuju rumah kosnya. “Halo, Div?” “Jay, kamu sibuk ya?” tanya Divi. Suaranya terdengar kaku membuat Jayden khawatir seketika jika sang kekasih tahu bahwa semalam ia bermalam di apartemen seorang gadis, meskipun mereka nyatanya tidak melakukan apapun. “Ng ... kayak biasanya aja kok, Div. Kenapa?” tanya Jayden gugup. “Apa ada hal yang harus kulakukan untuk mengurus pernikahan kita nanti?” “Kamu belum baca chat aku ya dari semalam? Aku kan udah ngechat kamu buat kirimin data—data untuk pengajuan pernikahan.” “Oh ya?” Jayden menghela napasnya. Ia merasa bersalah. “Sorry ya, nanti aku cek deh.” “Jay, kamu kalau nggak bisa ngurus sendiri, kamu coba minta tolong ke Papa kamu aja!” “Nggak perlu, aku bisa urus sendiri kok!” balas Jayden terdengar ketus. “Jadi berhenti nyuruh aku ngehubungi Papaku itu ya, Div?” Divi terdiam beberapa saat. Namun helaan napasnya yang berat terdengar hingga ke telinga Jayden. “Ya udah deh, terserah kamu. Aku kan cuma mau nyaranin aja. Kalau kamu ngerasa keberatan dan ngerasa bisa melakukan segala sesuatunya sendiri, ya syukur.” Jayden mengerutkan keningnya sambil mendengar nada bicara Divi yang menjengkelkan. Ia tertawa kecil lalu berdehem. “Ya udah kalau gitu! Nanti aku baca pesan kamu dulu. Udah nggak ada lagi kan yang harus dibahas?” tanya Jayden balas terdengar sewot. Divi berdehem dengan malas lalu mematikan sambungan telepon. Jayden menghela napasnya setelah panggilan mereka berakhir. “Kenapa sih si Divi, pagi—pagi udah sensi?” kesal Jayden sambil terus menyetir. *** “Div, kenapa?” tanya Mama Kayla saat melihat wajah putrinya itu cemberut bukan main. “Nggak papa, Ma,” balas Divi lalu duduk di kursi makan. Ia kembali melihat kursi makan yang kosong. Kursi makan yang biasanya diduduki oleh ayahnya itu seolah kehilangan sang pemilik. “Papa ke mana, Ma? Masih di kamar?” “Udah di jalan! Lagi sibuk banget!” kata Mama Kayla lalu menghela napasnya. “Jayden gimana, Div?” “Jayden? Jayden nggak gimana—gimana, Ma! emangnya Jayden harus gimana?” “Itu untuk berkas pernikahannya udah kamu kasih tahu ke Jayden untuk segera diurus ke bagian administratif wilayahnya?” tanya Mama Kayla, lebih detail. “Oh soal itu ... udah aku chat kok, Ma. Tadi juga udah kutelepon buat ngasih tahu, kalau harus segera diurus!” Mama Kayla menganggukkan kepalanya. “Ya syukurlah kalau udah di kasih tahu. Sekalian kamu bilang nggak, kalau harus diurusnya agak cepat? Soalnya habis urus dari administrasi di sana, baru ngurus yang di sini untuk pendaftaran pernikahannya?” Divi mengangguk samar. Berpura—pura bahwa ia sudah melakukan apa yang diinginkan oleh ibunya. “Iya, Ma. Udah kok.” Mama Kayla mengangguk lagi. Mereka terdiam sejenak dan hanya menikmati sarapan mereka bersama. Keduanya punya pikirannya masing—masing. Mama Kayla memikirkan pernikahan anaknya nanti, sedangkan Divi memikirkan sikap Jayden yang terasa menjengkelkan pagi ini.[] *** bersambung >>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN