Pacar Sabrina?

1563 Kata
Bab 30 Pacar Sabrina? Laki—laki itu terdiam sambil melihat ke samping. Ia melihat wajah wanita yang begitu sering dilihatnya, begitu indah untuk ditatapnya setiap waktu. Gadis yang pernah bermalam bersamanya memadu cinta yang panas itu tampak bersinar di bawah cahaya sorot lampu jalan di mana mereka kini sedang berdiri. Menunggu taksi datang. “Wah taksinya datang, Jay!” kata Sabrina dengan senang. Ia melihat dari kejauhan jalan terdapat taksi dengan melaju ke arahnya. Jayden melihat ke arah taksi yang melaju ke arah mereka lalu menimbang. Apakah ia akan membiarkan gadis itu pulang sendiri menggunakan taksi, atau ia akan mengantarnya pulang? Hingga beberapa meter lagi taksi itu hendak berhenti, Jayden menarik pergelengan tangan Sabrina. Laki—laki itu membawa Sabrina menuju mobilnya yang terparkir agak jauh dari tempat mereka berdiri. “Yaah taksinya, Jay!” kata Sabrina kesal. Setelah melihat taksi yang hendak ditumpanginya lewat begitu saja, Sabrina pun menghentakkan tangannya dengan kesal. Tangan Jayden pun terhempas untuk memegang tangannya. “Apa—apaan sih lo, Jay? Giliran taksi lewat malah narik—narik gue!” Jayden tersenyum canggung. “Udah malam! Gue anter aja lah!” kata Jayden berubah pikiran. Padahal sejak tadi ia menolak untuk mengantarkan Sabrina, hingga gadis itu kesal dan meminta Jayden untuk menunggu taksi bersamanya di pinggir jalan. Siapa sangka bahwa kini Jayden berubah pikiran? “Lo beneran mau nganterin gue pulang?” tanya Sabrina dengan senyum yang ditahannya. “Iya, gue aja yang anter!” “Yes!” kata Sabrina senang. Ia mulai menampakkan senyuman terbaiknya. Memeluk lengan Jayden yang berjalan bersamanya seolah mereka adalah sepasang kekasih. “Jay, kenapa berubah pikiran?” tanya Sabrina lagi. Mereka kini berjalan menyelusuri trotoar jalan. Harus berjalan hingga masuk ke dalam area kantor karena mobil Jayden masih terparkir di parkiran indoor mall, setelah selesai makan malam bersama dengan para rekan kerjanya. “Nggak papa,” kata Jayden pendek. “Lo tunggu di sini aja ya!” Gue ambil mobil gue dulu di dalam.” Sabrina menurut. Ia berdiri di pinggir jalan yang merupakan akses keluar mobil dari mall yang mereka datangi. Setelahnya, Jayden berjalan masuk ke dalam mall. Ia berjalan menuju parkiran mobilnya. Hingga akhirnya sampai dan segera menyusul Sabrina yang masih dengan setia menunggunya di bahu jalan. Sabrina masuk ke dalam mobil Jayden lalu duduk di sebelahnya dengan senang. Jayden segera melajukan mobilnya menuju apartemen Sabrina. Di awal perjalanan, mereka berdua lebih banyak terdiam. Sabrina sendiri sedang mengobrol dengan dirinya sendiri. Entah mengapa sejak tahu bahwa Jayden sudah melamar kekasihnya kedekatan mereka terasa hambar? Sabrina merasa bersalah karena Jayden sebentar lagi akan menikah dan ia masih saja centik menghampiri. “Tumben lo banyak diam?” tanya Jayden membuat Sabrina terkekeh pelan. “Gue lagi mikir aja!” Jayden giliran yang tertawa setelah mendengar perkataan Sabrina. “Mikir apa?” “Lo udah ngelamar pacar lo,” kata Sabrina. “Bentar lagi, lo bakal married kan?” “Iya. Kurang lebih begitu,” jawab Jayden. Matanya masih fokus untuk melihat ke depannya. Memastikan perjalanan mereka aman. “Pacar lo pasti bucin ke elo ya, Jay?” Jayden mengerutkan keningnya. “Maksudnya gimana?” tanyanya balik. Sabrina tiba—tiba mengingat apa yang sudah dikatakannya pada Divi saat berteleponan dengannya tanpa sengaja menggunakan ponsel laki—laki yang kini bersamanya. Dari percakapan mereka, seharusnya gadis itu sudah terbakar cemburu, tapi kelihatannya itu tidak terjadi. “Sabrina?” tanya Jayden lagi. Gadis yang terdiam itu pun menoleh. Ia menggelengkan kepala. “Nggak papa kok.” Jayden menghela napasnya lalu mengangguk—anggukkan kepalanya. “Lo—“ Sabrina menoleh. “Lo bisa deket sama semua orang, tapi kenapa lo nggak jadian sama salah satu cowok yang ada di sekitar lo?” tanya Jayden tiba—tiba. Terkekeh, Sabrina pun nyaris menangis dibuatnya karena merasa bahwa pertanyaan Jayden begitu konyol. “Kenapa harus pacaran? Gue ngerasa pacaran itu rumit. Kebanyakan mantan gue, habis pacaran kayak jadi bos.” “Bos?” Jayden terkekeh pelan. “Iya. Gue juga ngerasain itu semua sih sama mantan—mantan gue.” “Sama pacar lo sekarang gimana?” tanya Sabrina penasaran dengan kekasih yang sebentar lagi akan menjadi istri dari Jayden Raffael Anthony. “Sikapnya?” “Dia nggak kayak cewek kebanyakan. Tapi kadang kayak gitu sih,” ralat Jayden. “Tapi nggak terlalu over dan yang paling penting, gue nyaman banget sama dia.” “Ada nggak masa—masa lo nggak nyaman sama dia?” tanya Sabrina lagi, seolah sedang menginterview Jayden. Jayden berpikir sejenak. “Ada....” “Ada?” “Ya! Tiap kali membahas soal orang tua gue, jujur aja gue nggak ngerasa nyaman! Gue ngerasa kesal, apalagi Divi nggak akan pernah bisa mengerasakan apa yang gue rasakan sebagai anak berlatar belakang broken home. Divi anak dari keluarga yang harmonis. Kedua orang tuanya selalu men—suport—nya dalam segala hal.” “Pasti bahagia banget ya, Divi, punya keluarga yang utuh! Gue pernah merasakannya dan itu benar—benar kenangan indah yang sangat gue rindukan.” Jayden terdiam. Ia bahkan tidak memiliki kenangan indah itu. Yang dimilikinya hanyalah kemarahan karena kedua orang tuanya bercerai. Saling menjauh satu sama lain hingga akhirnya ia dibuang di rumah sang nenek. “Tapi sekarang ... gue harus sadar sih, kalau emang kehidupan sudah berputar! Gue nggak punya orang tua yang utuh dan gue harus survive sendirian.” “Bokap lo gimana? Bukannya lo bilang, lo tinggal sama bokap lo?” tanya Jayden lagi. “Bokap gue terlalu sibuk di karirnya. Meskipun kadang kita bertemu, tapi gue sama bokap udah kayak orang asing. Kadang sekedar memberi nasihat terus pergi begitu aja! Gue sendiri udah nggak mengharap apa—apa dari bokap gue.” “Ibu tiri lo?” “Ibu tiri gue itu ... ah udahlah, malas gue bahas ibu tiri! Nanti gue emosi lagi!” Sabrina memaksa senyum di bibirnya sambil menggelengkan kepala. Dari setiap cerita yang terdengar di telinganya, kini Jayden bisa merangkumkan bahwa sebenarnya gadis di sampingnya itu sering kali kesepian. Mungkin itu juga alasan kenapa Sabrina begitu suka kelabing. Sesampainya di depan apartemen Sabrina, Jayden menghentikkan laju mobilnya. Gadis itu tersenyum karena sudah diantar pulang lagi. “Thank you udah nganterin gue pulang!” Jayden menganggukkan kepalanya. “Lo mau mampir nggak?” Sabrina menawarkan. Jayden segera menggelengkan kepalanya. Setelah mendapat penolakan langsung, Sabrina pun menganggukkan kepalanya. Ia tidak berlama—lama di dalam mobil Jayden dan buru—buru ke luar. Sebelum pergi, Sabrina mengetuk jendela mobil di sampingnya. Jayden membukanya. Memperhatikan Sabrina dengan lekat. “Hati—hati ya di jalan!” “Oke.” Jayden mengangguk. Sabrina melambaikan tangannya kemudian menunggu di tempatnya berdiri. Ia melihat mobil Jayden pergi lalu mulai berjalan masuk menuju pintu depan lobi gedung apartemennya. *** Jayden baru saja melajukan mobilnya hingga perempatan lampu merah saat ia menyadari bahwa Sabrina meninggalkan ponselnya di dalam mobil. Menyadari bagaimana pentingnya ponsel seseorang, Jayden pun segera putar balik. Ia kembali ke apartemen Sabrina. Masuk ke dalamnya dan memarkirkan kendaraan berroda empatnya itu ke basemen gedung. Berjalan menuju lift, Jayden pun segera memasukinya dan menuju ke lantai apartemen Sabrina. Tak menunggu lama, Jayden sampai. Namun ia terdiam saat melihat sosok Sabrina yang kini berdiri di depan apartemennya. Seorang wanita dengan tatapan tajamnya itu menatap Sabrina dari atas sampai bawah. “Berhenti membuat malu keluarga saya! Kamu itu seharusnya sadar diri! Berhenti membuat ulah yang hanya akan mencoreng martabat dan wajah ayah kamu!” Sabrina menundukkan kepalanya. “Tapi itu benar—benar bukan saya, Tante!” “Bukan kamu?” ulang tante berbaju merah yang melekat pas di tubuhnya. Baru saja Jayden hendak menghampiri saat ia matanya membola karena menemukan tangan wanita paruh baya itu yang kemudian memberikan tamparan yang cukup keras di pipi Sabrina. Jayden terdiam. Ia bingung antara ingin ikut campur atau ingin melindungi Sabrina. “Tapi itu benar—benar bukan saya, Tante. Saya udah nggak pake mobil itu lagi. Sumpah, Tante!” “Kamu ini! Selain maling juga suka berbohong ya!” kata Tante—tante itu dan kembali mengangkat tangannya. Nyaris saja Sabrina kembali mendapatkan tamparan keduanya, jika saja tangan Jayden tidak menahan pergelangan tangan tante di depannya itu. “Maaf, Bu! Akan lebih baik jika Ibu membicarakan permasalahan ibu dengan baik—baik! Bukan asal menampar orang!” Sabrina kaget karena melihat Jayden yang bak pahlawan kini bersama dengannya. Menahan pergelangan tangan ibu tirinya yang nyaris menamparnya kembali untuk kali kedua. Matanya sembab tapi ia terus tahan air mata itu agar tidak turun begitu saja. “Siapa kamu? Kamu pacar sundel ini yang baru?” Deg! Sabrina merasa sangat sakit hati kala mendengar sang ibu sambung menyebutnya sundel! “Iya, saya pacarnya! Jadi saya minta ibu berhenti berlaku kasar pada Sabrina!” “Kamu nggak tahu ya siapa saya?” tanya wanita paruh baya itu dengan tatapan jengkelnya. Ia menarik tangannya dari cengkraman Jayden. “Saya nggak peduli siapa ibu. Saya cuma nggak mau, kalau melihat pacar saya disakiti oleh orang seperti ibu!” “Waaah, Sabrina! Sepertinya sekarang mau mendapat tangkapan emas! Kalau begitu cepatlah menikah, dan hiduplah dengan baik! Jangan bergantung pada ayahmu terus menerus!” ketus ibu sambung Sabrina dengan mata memicing tajam. Setelah mengatakan itu, Ibu Cecilia yang notabene adalah ibu sambung dari Sabrina itu pun meninggalkan anak tiri dan laki—laki yang mengaku sebagai kekasihnya itu. Jelas di matanya, ia sangat kesal dengan sikap laki—laki yang membela Sabrina saat ini.[] *** bersambung >>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN