Bab 29
Jatuh dan Patah
Flashback on….
Jayden menatap Divi yang kini duduk di antara ibunya dan sang ibu sambung. Acara inti lamaran sudah selesai, di mana mereka sudah saling tukar cincin. Hal yang Jayden sesali lagi di hari lamarannya adalah bahwa ayah dan istri barunya itu terlalu ikut campur mengenai acaranya hari ini.
Membuang mukanya dengan kesal, Jayden kemudian melihat ke arah cincin yang melingkar di tangan kanannya. Cincin berbahan perak yang ingin segera ia buang dari jemari tangannya.
“Jay—“ kata Papa Julian, mengajak anak laki—laki itu mengobrol.
Jayden menegakkan kepalanya. Melihat ke arah ayah dan calon ayah mertuanya yang sangat supel ketika diajak mengobrol. “Iya, Pa?”
“Setelah menikah nanti kamu akan bawa Divi tinggal di rumah kamu sekarang?” tanya Papa Julian serius. Matanya berulang kali menatap calon besannya juga.
Jayden pun menganggukkan kepalanya. “Kemungkinan besar seperti itu, Pa, Om. Menurut Om Dwika gimana? Apa Om dan Tante mengizinkan jika setelah menikah nanti Divi ikut tinggal bersamaku?”
Papa Dwika terkekeh pelan. “Tentu saja, Jayden. Om malah senang kalau kamu nanti membawa Divi tinggal bersama kamu. Tapi sebelumnya, Om mohon maaf ya—“
“Mohon maaf kenapa ya, Om?” tanya Jayden bingung.
Papa Dwika menatap ke arah putrinya sejenak. “Divi belum pernah tinggal sendiri, jadi mungkin akan merepotkan kamu. Belum lagi, Divi orangnya nggak terlalu rapi, jadi kalau ada yang nggak cocok, kamu bisa jangan terbawa emosi dan langsung memarahinya?”
Papa Julian yang mendengar perkataan sang calon besan pun terkekeh pelan. “Saya kira apa, Pak.”
“Hal sepele seperti ini di rumah tangga juga sangat penting, Pak Julian. Divi itu orangnya suka masukin ke hati. Makanya saya agak khawatir!”
“Ih Papa apaan sih, siapa juga yang baperan? Aku nggak baperan kok,” Divi yang tak setuju dengan perkataan ayahnya pun protes.
“Hehehe ... iya, iya, Divi,” kata Mama Nia sambil terkekeh. “Gitulah kalau laki—laki!”
“Loh Mama kok nyerang gender gini sih,” gumam Papa Julian tak suka dengan perkataan istrinya. Mendengar perseteruan antara Pak Julian dan Bu Nia, orang yang berada di rumah pun sontak tertawa riang, kecuali Jayden.
Laki—laki itu memperhatikan dengan baik di sekitarnya. Semua orang saling mengobrol dengan santai, Lilina pun ikut bergabung bersama. Namun mengapa rasa—rasanya Jayden menjadi satu—satunya orang yang merasa tertekan di tempat ini. Seolah ia belum siap untuk melanjutkan lamaran atau pernikahannya bersama Divi. Belum lagi keberadaan ibu sambungnya, sang ayah, membuatnya kesal bukan main.
Tapi sekali lagi, ia harus menahan semua kekesalan di dalam hatinya demi kekasih yang ia cintai. Jika tidak, ia pasti sudah lari dari sini dan lebih memilih pergi bersama Sabrina.
Setidaknya bersama Sabrina, ia bisa mengobrol soal apapun. Dan lagi, ia merasa nyaman bersamanya.
Flashback off.
***
Tok, tok, tok....
Jayden tersadar. Ia membuka matanya setelah beberapa saat memejamkan matanya sambil menyandarkan kepala di kursi kerjanya.
Melihat sosok gadis yang kini berdiri di depannya dengan sangat dekat, Jayden pun buru—buru memundurkan kursi kerjanya. Sabrina terkekeh mendapati Jayden mundur.
“Kenapa sih? Takut gue cium?” tanya Sabrina dengan senyum lebar di wajahnya. Ia menggoda Jayden.
“Iya lah!” balas Jayden to the point.
“Lo ya?”
“Apa?” balas Jayden sengit.
“Gue kan udah minta jemput, kenapa malah ditinggal?” tanya Sabrina kesal.
“Suka—suka gue lah! Mobil siapa?” tanya balik Jayden dengan wajah menyebalkannya. Sabrina mendengkus lalu melipat kedua tangannya di depannya. “Jay?”
“Hm?”
“Gimana acara kemarin? Sukses?”
Jayden diam sejenak. Ia melihat tangannya yang tanpa hiasan cincin pemberian ayah dan ibu sambungnya.
Sabrina ikut memperhatikan jemari Jayden yang kosong. “Kenapa?”
“Nggak papa,” balas Jayden sambil menggelengkan kepalanya. “Udah gih sana! Ngapain sih di sini terus? Gue mau kerja! Minggir!”
Sabrina meminggirkan tubuhnya dari meja kerja Jayden. Saat pria di depannya terlihat mulai menyalakan komputernya, Sabrina pun berdecih pelan sambil menggeleng—gelengkan kepalanya.
Gadis itu pun kembali ke meja kerjanya kembali. Sebelum mulai menyalakan laptop miliknya, Sabrina menatap Jayden dengan senyum tulusnya.
Hatinya sudah jelas tidak baik—baik saja. Sabrina merasa jatuh cinta pada laki—laki yang begitu senang menolaknya. Tapi pantas saja sih, jika Jayden banyak menolaknya. Apalagi kan kekasihnya itu sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Mendadak Sabrina patah hati. Hatinya sungguh tidak baik—baik saja. Ia jatuh cinta dan patah hati dalam waktu yang bersamaan.
***
“Div?” panggil Pak Bagas sambil berdiri di depan meja kerjanya.
“Iya, Pak. Ada apa ya?” tanya Divi sambil tersenyum. Ia mengangkat kepalanya dari laptop yang sedang dilihatnya.
“Kamu lihat Hana nggak? Kok kayaknya dia nggak ada dari tadi?” tanya Pak Bagas.
Divi menahan senyum di wajahnya. apalagi kala ia mengingat soal perjodohan antara bos dan temannya itu. “Ehm ... tadi sih dia bilangnya ke toilet, Pak. Ada apa ya, Pak?”
Pak Bagas pun segera menggelengkan kepalanya. Ia memberikan dokumen yang ada di tangannya. “Ini minta Hana revisi ya?”
Divi menganggukkan kepalanya. Saat ia hendak menarik dokumen yang baru diberikan Pak Bagas padanya. Ia merasa cengkraman sang bos begitu kuat.
Alis Divi mengerut. Ia menatap bosnya beberapa saat.
Tersadar karena harus memberikan dokumen yang harusnya diberikannya langsung pada Hana masih dipegangnya dengan kuat, Pak Bagas pun tersenyum canggung pada adik angkatannya saat kuliah dulu. Ia melepaskan pegangannya lalu meninggalkan meja kerja Hana dengan langkah yang pendek.
Divi memperhatikan tingkah sang bos dan menahan senyum lebar yang ada di wajahnya. “Hana!!” panggil Divi pada tembok yang kosong.
Pak Bagas segera menolehkan kepalanya. Namun, ia mengerutkan keningnya karena bingung, pasalnya tidak melihat keberadaan Hana di mana pun.
“Oh tadi kirain ada Hana,” gumam Divi pada dirinya sendiri.
Pak Bagas menatap jengkel ke arah Divi, lalu berbalik. Ia menuju ruangannya dengan langkah yang lebih lebar dan pasti.
Divi terkekeh pelan melihat tingkat bosnya. Bos yang di awal pertemuan mereka tampak cool kini berubah bucin pada seseorang yang merupakan bawahannya.
“Hanaaa!” Divi melihat keberadaan Hana yang benar—benar ada dan sedang berjalan menuju meja kerjanya. Namun, seolah tak ingin ditipu lagi, Pak Bagas justru berjalan dan memasuki ruang kerjanya.
Divi melihat ke arah pintu ruang kerja Pak Bagas dengan menyesal. Ia menghela napasnya dengan berat.
“Kenapa sih?” tanya Hana bingung.
Divi menggeleng samar sambil menyerahkan dokumen yang tadi didapatkannya dari sang bos. “Ini dari Pak Bagas, katanya suruh revisi.”
“Oh!” kata Hana sambil menerimanya. Ia kembali duduk di kursi kerjanya dan mulai memperhatikan revisian yang dimaksud oleh Pak Bagas.
Tanpa disadari oleh Hana, Divi pun menghampirinya. “Jadi gimana?” tanya Divi membuat Hana kebingungan.
“Apanya?” balas Hana sambil terus membaca dokumen yang penuh coretan pena itu.
“Elo sama Pak Bagas gimana?” tanya Divi.
Mendengar pertanyaan keramat itu, Hana pun segera menutup mulut teman di sampingnya itu dengan kesal. “Huusstt ... jangan omongin keras—keras! Gue nggak mau ya kalau sampai digosipin yang macam—macam sama yang lain!”
Divi segera menganggukkan kepalanya. Tangan Hana melepaskan bekapan di mulut dan hidungnya hingga ia bisa kembali bernapas dengan lega. “Hehe ... sorry ya.”
Hana mengangguk samar.
“Jadi kenapa?” tanya Divi sambil mendekati Hana. Suaranya jauh lebih rendah dari biasanya. Ia berbisik agar orang—orang tidak bisa mendengar pembicaraannya bersama Hana soal sang bos.
“Nggak ada yang spesial sih,” katanya santai. Hana kemudian melipat kedua tangannya di depan d**a. Ia balas menatap Divi dengan kesal. “Lo ... sendiri! Kemarin ada acara lamaran kan?”
Divi mengangguk singkat. “Lo tahu dari mana?”
“Kan Tante Kayla bikin status di whatsappnya. Gue nggak sengaja ngelihat storynya dan gue tahu dari situ!” Hana memicing tajam. “Lo kok curang sih! Gue ngasih tahu lo persoalan gue dijodohin tapi elo—“
“Bukannya gue udah kasih tahu lo?” Divi bertanya balik.
“Jangan bilang kalau lo pura—pura lupa, kalau sebenarnya belum ngomong apa—apa ke gue!” kesal Hana.
Divi terkekeh pelan. “Sorry deh. Lagian emang acaranya nggak terlalu ramai. Untuk privat dua keluarga aja.”
“Oh ya?”
“Hmm....”
“Terus kapan lo mau menikah sama Jayden? Apa dalam waktu dekat?” tanya Hana lagi, penasaran.
“Dalam waktu dekat. Lo harus hadir,” kata Divi setengah memaksa. “Tapi, kemungkinan gue nggak ngadain resepsi pernikahan.”
“Loh kenapa?” tanya Hana tak setuju. “Tapi kalau bisa, gue juga ogah sih bikin resepsi pernikahan. Malas! Pegel kayaknya!”
Divi tersenyum tipis mendengar ucapan rekan kerjanya itu. “Lo udah ngebayangin kalau nikah sama Pak Bagas ya?” goda Divi hingga membuat wajah Hana memerah.
“Nggak ada!” balasnya ketus. “Terus lo kapan ngadain akad nikah? Akadnya di mana?”
“Akad juga nanti di KUA,” balas Divi. “Nanti nyokap gue yang bantu ngurus.”
Hana menganggukkan kepalanya. “Kira—kira tanggal berapa nih?”
Divi mendekatkan bibirnya di telinga Hana. “Tiga minggu lagi!”
“Bujubuset! Lo mau kawin atau mau bertamasya ke taman ria?” tanya Hana dengan mata membelalak kaget.
“Apaan sih lo, Han!” kesal Divi karena suara Hana yang cukup keras membuat rekan—rekan kerjanya mendengar perkataan gadis di sampingnya itu.
“Div, lo mau kawin?” tanya Edo penasaran.
“Tukang kepo dilarang tanya!” Hana membalas Edo. Ia menatap Divi lagi dengan sorot menyesal. “Sorry ya! Mulut gue emang ember!” Hana memukul mulutnya beberapa kali bermaksud menghukum bibirnya yang nakal.
Divi menghela napasnya. “Ya udahlah!” Kadung sudah didengar oleh yang lain, Divi mulai menyiapkan diri untuk mendengar pertanyaan yang serupa ditanyakan oleh Edo dan nanti ditanyakan lagi oleh rekan kerja lain yang mengenalnya. Lihat saja nanti!
“Gue ke toilet dulu ya!” kata Divi sambil bangkit dari kursi kerjanya.
Hana baru saja berdiri. Hendak mengikuti Divi, tapi sang bos justru memanggilnya dari depan pintu ruang kerjanya yang terbuka.
“HANA!!!”
Hana menghela napasnya. “Iya, Pak?”
“Ke ruangan saya sebentar!” katanya lalu berbalik badan. Tak lama kemudian pintu ruangan Pak Bagas pun tertutup kembali.
Hana pun berlawan arah. Ia tidak mendekati Divi, melainkan menghampiri ruang kerja Pak Bagas. Laki—laki yang dijodohkan dengannya itu.[]
***
***
bersambung >>>