Bab 28
Double Parcel Lamaran
Hari minggu akhirnya tiba. Jayden tetap menyiapkan semua parsel lamaran yang ingin diberikannya pada Divi dan keluarga. Tak peduli bahwa keluarga ayahnya pun sudah menyiapkan sesuai dengan diskusi Tante Nia dan ibunda Divi.
Mereka naik mobil masing—masing. Papa Julian bersama istrinya, Mama Nia. Dan Jayden harus naik menggunakan mobilnya sendiri bersama dengan sang adik, Lilina.
Sepanjang perjalanan wajah Lilina ditekuk. Gadis itu merasa tak rela jika kakaknya sudah dimiliki wanita lain. Bahkan ia belum pernah merasakan perhatian dan kasih sayang penuh sang kakak. Namun, wanita lain justru akan memiliki hal itu semua. Rasanya tidak adil sama sekali!
“Li?” panggil Jayden dalam perjalanan mereka yang canggung.
“Hmm?” Lilina tetap melihat ponselnya. Tak peduli sang kakak melihat ke arahnya. Lilina kadung kesal. Ia kesal karena tidak merasa memiliki kakak padahal sebenarnya memiliki kakak.
“Kamu udah punya pacar?” tanya Jayden, ingin membuat suasana menjadi tidak terlalu canggung.
“Nggak!” jawab Lilina padat dan singkat.
“Kalau punya, kenalin ke Kakak ya?”
Lilina mendadak menoleh. Ia menatap Jayden tak percaya. “Ngapain juga aku kenalin ke Kak Ayden?”
Jayden segera mengusap rambut Lilina dengan lembut. “Nanti kasih tahu ya!” katanya lagi. Jayden tak mempedulikan raut wajah adiknya yang satu darah dari sang ayah, tapi berbeda darah dari sang ibu.
“Nggak janji!” balas Lilina lalu membuang mukanya. Ia melihat ke arah luar jendela mobilnya. Sesekali melihat ke arah wajah kakaknya yang nampak tampan hari ini. Pakaian Jayden juga kelihatan rapi dan penuh wibawa dengan balutan kemeja batik berwarna cokelat. Baju itu membuat kakaknya tampil selayaknya guru—guru di sekolahnya kala ada acara formal.
Akhirnya sesampainya di rumah Divi, keluarga Divi yang terdiri dari kedua orang tuanya pun menyambut dengan suka cita. Meskipun tak banyak orang berada di rumah Divi. Namun, acara lamaran dari dua keluarga itu berlangsung khidmat dan lancar. Hingga akhirnya waktunya mereka membahas soal acara pernikahan yang nanti akan diadakan. Mereka mulai berrumbuk.
Memutuskan tempat pernikahan yang sudah disetujui kedua belah pihak, yakni di kantor urusan agama kecamatan setempat. Waktu pun diambil akhir bulan ini atau bisa dibilang 3 minggu lagi.
“Kalau untuk resepsi apa tidak sebaiknya diadakan dengan mengundang tetangga dan kerabat setempat sini?” tanya Papa Julian. “Saya khawatir nanti kalau nggak diadakan resepsi, para kerabat tidak tahu berita bahagia anak—anak kita ini.”
“Kami sudah memikirkannya, Pak. Tapi kayaknya udah melakukan resepsi, lebih baik tidak! Mungkin setelah acara akad nikah, kita akan melakukan pengajian sekaligus memberitahu mengenai berita bahagia anak—anak kita ini,” balas Papa Dwika, selaku kepala keluarga ia sudah menyiapkan dengan matang kegiatan yang akan keluarganya lakukan setelah selesai akad nikah. Berhubung Divi sudah hamil dan sang istri melarang keras untuk mereka mengadakan acara resepsi di rumah atau di gedung, akhirnya sang istri melonggarkan keras kepalanya dan mau jika mengadakan acara pengajian dan syukuran setelah akad nikah nanti di rumah mereka.
“Kalau itu bagus juga!” kata Papa Julian sambil tersenyum lebar. Semua orang saling tatapan dengan senang, berbeda dengan Jayden yang langsung menatap Divi dengan bingung. Pasalnya Jayden belum mendengar berita acara tersebut.
Setelah acara selesai, Papa Julian, Mama Nia, dan Lilina pun pamit untuk pulang. Acara lamaran mereka sangat sederhana. Tidak ada yang istimewa kecuali restu dari dua keluarga yang sebentar lagi akan menjadi satu.
Divi mengantarkan Jayden ke mobilnya dan mereka pun mulai mengobrol satu sama lain. “Kamu kok nggak bilang sih kalau kita bakal ngadain pengajian gitu habis akad nikah?”
“Aku juga baru tahu tadi malam, Jay. Sorry ya kalau aku nggak ngasih tahu kamu langsung, aku nggak sempet soalnya.”
Jayden menghela napasnya. “Iya udah lah, nggak papa. Aku nggak terlalu pikirin juga.”
Deg! Divi merasakan jantungnya berhenti berdegup beberapa mili second. Ia merasa kaget mendengar respon dari kekasih yang akan menjadi suaminya saat ini.
Jayden nggak terlalu pikirin juga? tanya Divi dalam hati. Kenapa kamu malah gini, Jay? Seharusnya kamu pikirin hal ini besamaku. Kenapa kamu malah bilang, kamu nggak terlalu pikirin juga!
“Div, kamu kenapa?” tanya Jayden. Tangannya menyentuh pundak Divi dengan lembut. Mereka saling menatap sejenak.
“Jay, pernikahan ini kita berdua yang akan melakukannya! Kenapa kamu nggak terlalu pikirin? Apa cuma aku yang harus mikirin pernikahan kita ini?”
“Kamu apa—apaan sih, Div? Maksudku bukan begitu,” kata Jayden. “Maksudku—“
“Maksud kamu, kamu nggak peduli, mau kita melakukan resepsi atau nggak? Ngelakuin pengajian dan perayaan pernikahan atau nggak kan? Aku udah jelas dengarnya!”
“Astaga, Div! Kamu kok sensi banget sih! Oke, oke, aku ngaku salah ke kamu,” kata Jayden. Ia menyesal karena salah bicara. “Please, jangan marah ya! Kita baru aja selesai lamaran, masa kamu udah mau marah—marah ke aku?”
“Ck—“ Divi berdecak kesal. Namun setelahnya ia menganggukkan kepalanya. Ia sama sekali tak ada keinginan melanjutkan kemarahannya. “Kalau kamu ngerasa salah seharusnya kamu minta maaf ke aku! Bukannya bilang kalau aku sensi, Jay!” ketus Divi emosional.
Jayden menghela napasnya dengan berat. Ia memegang kedua lengan atas Divi lalu memaksakan senyum di wajahnya. “Maaf ya, Sayang. Aku salah ngomong!”
Setelah mendengar permohonan maaf dari Jayden, Divi pun menghela napas dengan lega. “Oke, aku maafin kok.”
Jayden tersenyum menggoda ke arah Divi. Menunggu kekasihnya balas tersenyum padanya sejenak hingga balasan senyum itu ditemukannya di wajah sang kekasih yang ayu.
“Ya udah, kalau gitu aku balik ya sekarang?” pamit Jayden.
Divi menganggukkan kepalanya. Ia melihat ke arah kanan dan kirinya lalu menggenggam tangan Jayden sejenak.
Merasakan genggaman tangan Divi, Jayden pun bertanya, “Kenapa?”
“Aku kangen sama kamu! Besok senin, kamu pasti udah ke Jakarta lagi kan?”
“Iya,” balas Jayden. “Mau nggak mau, Div! Aku kan kerja di sana.”
Divi menganggukkan kepalanya. “Kamu udah kasih tahu bos kamu kalau kamu akan menikah sebentar lagi?”
Jayden berpura—pura tersenyum. “Tentu aja. Aku udah kasih tahu bosku. Tapi memang ada beberapa pekerjaan yang tetap harus diselesaikan meskipun aku punya urusan pribadi kayak gini. Sorry ya, Div! Kamu kan tahu sendiri, aku di Jakarta cuma sebagai pegawai kontrak.”
Mendesah pelan, setelahnya Divi pun menganggukkan kepalanya. “Ya, apa boleh buat kalau gitu!”
Jayden menganggukkan kepalanya. “Aku pulang ya?”
Divi akhirnya menganggukkan kepalanya. Ia membiarkan kekasihnya itu pulang menggunakan mobilnya sendiri, lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, kedua orang tuanya sudah sibuk membuka parcel lamaran yang beraneka ragam. Beberapa makanan kering pun tersedia.
“Div, ganti baju sana!” kata Mama Kayla.
“Kenapa, Ma?” tanya Divi sambil duduk dengan dress berwarna putih tulang berbahan sifonnya itu.
“Anter—anterin makanan ini buat tetangga!”
“Kenapa harus aku sih, Ma? Kenapa nggak Mama aja?” Divi balas bertanya karena ia malas gerak.
“Kamu aja! Sekalian biar kamu banyak gerak! Ibu hamil tuh harus rajin. Jangan malas! Tidur—tiduran terus!” kata Mama Kayla terdengar sewot.
Divi menghela napasnya.
“Div, dengar nggak kata Mama kamu!” Papa Dwika tumben sekali membela istrinya.
Akhirnya Divi pun bangkit berdiri. Ia menuju kamarnya dan segera mengganti pakaian dengan yang lebih nyaman. Setelahnya ia pun melaksanakan tugasnya mengantar makanan pada tetangga di dekat rumahnya sesuai arahan sang ibu.
Setelah selesai mengantarkan makanan pada salah satu tetangga, Divi pun mulai tahu alasan sang ibu memintanya mengantarkan makanan pada tetangga.
Sang ibu ingin sekalian memberitahu para tetangga soal lamaran yang didapatkan oleh Divi. Para tetangganya pasti bertanya, mengenai acar apa barusan? Kecurigaan mereka bahwa Divi sudah dilamar oleh laki—laki yang sudah menjadi pacarnya itu.
Kembali ke rumah setelah berputar mengunjungi rumah—rumah tetangga, Divi pun mengambil air putih untuk minum.
“Minumnya sambil duduk, Divi!” kata Mama Kayla saat melihat sang anak berdiri dan menikmati beberapa tegak air putih.
Divi selesai minum lalu menaruh botol minumnya kembali ke atas meja. Ia mengabaikan perkataan sang ibu. “Ma, ini udah selesai kan? Anter makanan ke tetangga?”
“Iya udah kok.”
“Ya udah, kalau gitu aku ke kamar dulu ya, Ma?”
Mama Kayla menghela napasnya sejenak. “Kamu tuh, Div, dikit—dikit ke kamar. Itu barang—barang kamu, sekalian kamu simpanin gih!”
Divi melihat ke arah beberapa parcel yang ada di ruang tengah. Mau tak mau, ia pun menyimpan beberapa barang yang memang dikhususkan untuknya.
“Div, Jayden kayaknya beli sendiri hantarannya ya?” tanya Mama Kayla. “Kamu emangnya belum kasih tahu Jayden kalau Bu Nia udah nyiapin masalah parcel lamaran? Ini sampai double loh, Div.”
“Aku udah kasih tahu ke Jayden kok, Ma,” kata Divi sambil membawa barang—barang yang harus dibawanya ke kamar. Mama Kayla pun ikut membantu dan membawakan barang ke kamar putrinya.
“Tapi kenapa bisa samaan gini?”
“Aku juga nggak tahu.”
Mama Kayla mendesah pelan. “Nanti Mama coba tanya aja langsung ya ke Bu Nia kali ya?”
“Mending nggak usah, Ma.”
“Kenapa?” tanya Mama Kayla ingin tahu.
“Ma, biarin aja lah itu kan urusan keluarga Jayden sama ayah dan ibunya. Pas kemarin, aku ngasih tahu kalau soal parcel lamaran yang udah disiapin Mama dan Tante Nia tuh, Jayden langsung sewot ke aku.”
“Sewot? Kok gitu sih?”
“Ma! Udah ya, jangan ikut campur lagi masalah Jayden sama keluarganya. Kita fokus ke pernikahanku dan Jayden aja!” pinta Divi memelas.
Mama Kayla menghela napasnya. Ia sudah menaruh barang—barang di kasur anaknya. “Ya udah! Mungkin emang lebih baik begitu ya?” Mama Kayla tidak yakin, tapi apa yang dikatakan putrinya ada benarnya.
“Iya, Ma.” Divi menganggukkan kepala sambil duduk di pinggir ranjang.[]
***
bersambung >>>