Jadi Pacar Kedua

2296 Kata
Bab 27 Jadi Pacar Kedua [ Jay, jemput gue di apartemen gue ya? Kita ke kantor Pak Ronald bareng. ] –Sabrina. Jayden melihat isi pesan Sabrina dan mulai berdecak pelan. Sampai sekarang ia tak mengerti, mengapa Sabrina masih saja suka seenaknya. Kenapa sikapnya di awal mereka masuk dan menjadi karyawan di kantor pusat sangat berbeda dengan sikapnya akhir—akhir ini? Ini sikapnya yang sebenarnya? Menggenggam ponselnya dengan erat, Jayden sungguh merasa tertipu dengan Sabrina di awal perkenalan mereka. Cih! Dasar perempuan serigala berbulu domba! Di awal seolah wanita ningram, makin lama kelihatan bahwa tidak lebih dari wanita kebanyakan. Jayden kembali merasakan ponselnya bergetar kala mendapatkan pesan lain pag ini. Ia membukanya dan menemukan pesan dari kekasih yang akan dinikahinya, Diviana Anindya Ayleen. [ Jay, selamat pagi! Kamu lagi ngapain? Aku mau jalan—jalan pagi nih sama Papa. ] –Divi. Setelahnya ada foto yang terlampir. Menunjukkan sepatu yang dipakai Divi dan ayahnya. Melihat foto keduanya, Jayden terdiam sejenak. Ayah dan anak yang begitu dekat. Pagi ini olahraga bersama. Jayden tersenyum tipis karena ikut merasa senang dengan kegiatan bersama ayah yang sedang dilakukan kekasihnya. Tak lupa, ia juga membalas pesan Divi. [ Pagi juga, Divi! Aku mau siap—siap nih. Mau ketemu sama klien. ] –Jayden. Setelah membalas pesan Divi, Jayden pun menaruh ponselnya di atas nakas kembali. Ia berjalan menuju meja belajar dan mengambil hairdryer yang ada di laci bawah. Jayden mengeringkan rambutnya sejenak kemudian kembali menyimpan hairdryer yang sudah digunakannya. Setelah mengecek semua keperluan yang harus dibawanya dalam presentasinya nanti bersama Sabrina. Jayden merasa lega saat semua keperluannya sudah ada. Tinggal perjalanan ke kantor untuk mengambil maket. Baru saja Jayden menyelempangkan tas kerja yang dibawanya, ia mendapati panggilan di ponselnya. Sabrina lagi! Jayden menghela napasnya dan segera mengangkat panggilan dari gadis cantik yang sudah membuatnya berpaling sedikit demi sedikit dari pujaan hatinya, Divi. “Halo!” “Halo, Jay! Kamu jadikan mau jemput aku ke apartemen.” “Kamu?” Jayden tanpa sadar mengerutkan keningnya. Kenapa ini? Kenapa Sabrina memanggil aku—kamu? Hey! “Iya, kamu,” kata Sabrina lagi. Shit! Maki Jayden dalam hatinya. “Gue nggak bisa. Gue nggak mungkin kan putar arah. Lo jalan sendiri aja! Jangan manja!” “Aaah Jayden! Please dong ... masa sih kamu tega sama aku. Kan sekalian juga.” “Sekalian kalau kita benar—benar satu arah!” jawab Jayden sewot. “Arah apartemen lo, cukup jauh!” “Jayden, please!” Mendengar suara Sabrina yang mengiba, Jayden pun buru—buru mematikan panggilan mereka yang tersambung. Setelah beberapa saat, Jayden memperhatikan ponselnya yang bergetar. Ada pesan dari Sabrina. “Sialan!” Jayden tanpa sadar sudah memaki pagi ini. Ia melihat foto Sabrina yang sedang manyun. Sepertinya foto ini baru diambil. [ Jemput ya, Sayang? ] –Sabrina. Sayang? Jayden sungguh tak habis pikir dengan godaan dari Sabrina. Ia berdecak pelan lalu berjalan ke luar dari kamar kostnya. Jayden membawa serta sepatu hitam yang akan digunakannya lalu memakainya di luar. *** Sabrina memukul pundak Jayden saat ia sudah masuk ke dalam mobil laki—laki itu. “Ih kesel! Kenapa sih nunggu aku manyun dulu baru datang buat jemput aku?” “Ckck—“ Jayden berdecak kesal. “Kenapa sih lo pakai aku kamu? Aneh tahu!” “Nggak aneh lah!” gumam Sabrina. Ia tiba—tiba memeluk lengan Jayden membuat laki—laki itu kaget bukan main. Namun karena sedang menyetir, Jayden hanya bisa mencoba melepaskan pelukan di lengannya itu menggunakan satu tangan. Sabrina tak terkalahkan. Tangannya tetap berada di lengan Jayden, melingkar ke sana, seolah memiliki medan magnet. “Aneh!” “Nggak, Jayden!” kata Sabrina dengan santainya. “Soalnya semalam, aku udah mutusin. Aku nggak peduli meskipun kamu udah punya pacar di luar kota. Yang pasti di sini, kamu milik aku!” Ckiiiitt! Jayden menginjak pedal rem secara mendadak. Untungnya ia tidak menabrak sesuatu. Sabrina yang berada di samping Jayden pun nyaris terpental. “Ya ampun, Jay! Kamu kalau nyetir hati—hati dong!” Jayden segera melihat kondisi mobilnya. Syukurlah, karena mobilnya dan ia yang menumpangi mobil masih dalam kondisi aman. Setelah tak menemukan luka—luka atau bekas kecelakaan, Jayden pun kembali melanjutkan perjalanannya dengan menginjak kembali pedal gas. Laki—laki berdecak kesal. “Kalau lo punya otak sedikit buat nggak ngomong sembarangan! Gue nggak akan sekaget tadi dan bikin kita berdua mati konyol!” sewot Jayden. “Emangnya salah aku di mana? Aku suka sama kamu. Kamu juga kelihatan tertarik sama aku. Cuma kamu sekarang pura—pura aja terus nggak tertarik dan suka sama aku balik. Iya kan? Kamu melakukan itu karena kamu punya pacar kan?” “Lagian ini jelas salah!” gumam Jayden sambil terus menyetir menuju kantor mereka. “Lo sama aja nyuruh kita selingkuh!” “Selingkuh atau bukan. Aku sama sekali nggak peduli. Asal kita bersama, aku mau!” kata Sabrina. “Lo kayaknya udah kehilangan otak sekarang!” kesal Jayden. Sabrina menggelengkan kepalanya. “Emang apa salahnya sih kalau gue jatuh cinta ke cowok orang lain? Lagian kan pacar lo juga nggak ada di sini. Pacar lo ada di tempat yang jauh di sana, dan nggak akan pernah tahu kalau lo juga punya pacar di kantornya.” Jayden menghela napasnya dengan berat. “Gue nggak mau! Lagian gue mau menikah!” Mendadak ada jeda obrolan di antara keduanya. Sabrina mengerjapkan matanya beberapa saat. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya saat ini. “Lo bohongin gue kan?” “Gue serius! Pacar gue hamil sekarang!” Sabrina menutup mulut menganganya dengan kedua tangan. Ia tak percaya bahwa Jayden menghamili pacarnya dan mereka akan menikah. “Kita bahkan tidur bareng. Apa menurut lo pacar lo masih akan mau sama lo kalau dia tahu pacar sekaligus calon suaminya udah selingkuh dengan rekan kerjanya?” Jayden langsung melirik tajam ke arah Sabrina. “Jangan berbuat macam—macam, Sabrina! Jangan coba—coba mengancam gue!” “Gue bukan lagi mengancam, Jay! Gue cuma lagi bayangin aja, gimana cewek lo nanti kalau tahu kita pernah tidur bareng?” Jayden membuang mukanya. Ia melihat ke samping kanannya lalu menghela napasnya dengan berat. “Semua akan baik—baik saja kalau sampai kapan pun hal itu nggak pernah pacar gue tahu!” Sabrina mengangguk—anggukkan kepalanya. Mendadak keinginannya untuk menjadi pacar kedua Jayden kandas. Tak mendengar apapun dari mulut Sabrina, Jayden merasa bingung sekaligus penasaran. “Kenapa lo mau jadi pacar gue, padahal lo tahu kalau gue udah punya pacar di luar kota?” Sabrina menghela napasnya. “Gue baru sadar kalau gue udah jatuh cinta ke elo,” kata Sabrina membuat Jayden menoleh. “Lo bercanda kan? Lo jatuh cinta ke gue?” “Iya,” kata Sabrina akhirnya. “Gue juga ngerasa kalau lo itu orang yang tulus. Lo sama sekali nggak pake koneksi apapun ke sampai bisa di posisi lo sekarang?” Jayden tiba—tiba terdiam. “Gue nggak punya koneksi apa—apa. Lagian keluarga gue bukan keluarga yang harmonis. Mereka tahu gimana kehidupan yang gue jalani aja, mungkin tepatnya mereka nggak tahu.” “Lo nggak dekat sama keluarga lo ya?” tanya Sabrina. Baru kali ini ia mendengar Jayden membicarakan soal keluarganya. “Hmm ... gue anak broken home. Keluarga gue udah lama hancur! Sekarang kedua orang tua gue udah hidup bahagia dengan keluarga masing—masing. Mereka nggak ada waktu buat gue! Apalagi mungkin bagi mereka, gue udah dewasa. Gue juga udah nggak pengen apa—apapun dari mereka.” Sabrina menyentuh lengan Jayden. “Gue makin yakin kalau lo cowok yang kuat! Lo bisa melalui ini semua.” “Udah gue bilang kan kalau gue udah dewasa! Dulu rasanya menyakitkan sekali, tapi karena rasa sakit yang dulu gue rasakan, akhirnya gue ngerasa ... nggak mudah untuk ngerasa sakit lagi! Kecuali ... kalau gue—“ Jayden menghentikan perkataannya. “Kenapa, Jay?” tanya Sabrina yang sedang mendengar kisah hidup Jayden. “Gue nggak bisa berhubungan dengan keluarga yang harmonis. Gue benci dan iri. Gue muak ngelihatnya.” Sabrina mengusap lengan yang dipegangnya sejak tadi. “Gue juga tahu gimana rasanya jadi anak broken home,” gumam Sabrina. “Kedua orang tua lo bercerai juga?” tanya Jayden mulai tertarik, karena mereka memiliki kesamaan. “Hmm,” kata Sabrina sambil menganggukkan kepalanya. “Nyokap gue ngajuin gugutan pas gue SMP. Terus gue ikut nyokap sampai akhirnya bokap gue bawa gue ke rumah keluarganya setelah nyokap gue meninggal karena kecelakaan saat gue kelas 1 SMA.” Jayden mendengarkan kisah Sabrina yang sama tragisnya dengan keluarganya. “Tapi pertama kali gue ngelihat lo, lo kayak anak priayi!” “Gue belajar. Tapi tetap aja, gue emang kayak gini. Makanya elo sering bilang kalau gue berubah kan? Gue nggak berubah sih, emang gue sebenarnya kayak gini.” “Pantesan,” Jayden terkekeh pelan. Sabrina melihat wajah Jayden yang penuh tawa dan merasa senang. “Gue kira, kepindahan gue di sini bakal lebih baik kalau gue banyak berubah. Tapi ternyata nggak. Gue tetap saja mempelihatkan warna gue yang sebenarnya lama kelamaan.” “Bukannya lebih baik jadi diri lo sendiri?” “Bener banget! Gue juga mikir gitu akhir—akhir ini. Diawal gue masih banyak berpura—pura, rasanya capek dan lelah. Setelah gue kayak biasanya, gue ngerasa ... ini memang hidup gue,” kata Sabrina dengan senyum kecutnya. “Padahal gue pengen banget jadi perempuan—perempuan lemah lembut kayak dari keluarga ningrat. Tapi sayang banget, jati diri gue bukan kayak gitu. Gue mencoba sekeras apapun. Pasti kembali kayak semula, gue si cewek dugem.” Makin menceritakan tentang dirinya, Jayden makin mencoba menyelam dan mengenali sosok perempuan cantik yang kini duduk di jok depan mobilnya. Menemaninya. Tanpa sadar dengan obrolan mereka yang terus menerus, keduanya pun akhirnya sampai ke kantor. *** Setelah meeting projek dengan Pak Ronald di kantornya mendapatkan persetujuan, Sabrina dan Jayden pun bisa pulang dengan lega. Senyum lebar terlihat di wajah keduanya sepanjang jalan karena projek mereka berhasil. “Habis ini mau ke mana?” tanya Sabrina saat berada di dalam mobil. “Masih jam 11. Ke pantai yuk?” Jayden tiba—tiba saja terkekeh pelan. “Padahal gue udah bilang kalau sebentar lagi mau menikah, tapi lo tetap mau jalan sama gue?” “Nggak ada salahnya kan?” “Jelas salah!” Sabrina langsung manyun mendengar jawaban Jayden. “Biarin! Lagian kan ini hidup gue. Gue kan lagi seneng jalan sama elo! Nggak ada salahnya buat gue mencoba buat tetep bisa jalan sama lo. Ya kalau gue nggak bisa jadi orang ketiga dalam hubungan lo, ya kita bisa temanan kan?” “Nggak ada pertemanan yang sebenarnya antara laki—laki dan perempuan tuh.” “Cih! Capek gue ditolak terus menerus! Lagian ini kan cuma jalan biasa. Gue ngajak ke pantai sekalian kita makan siang. Gimana?” Sabrina memang sosok yang kuat dalam bertekad. Ia terus mencoba meskipun ditolak. Bukannya tidak punya malu, tapi Sabrina ingin bersama Jayden sekarang. Jayden melihat jam tangan di pergelangan tangan kanannya lalu mendesah pelan. “Kalau ke pantai gue nggak bisa. Kejauhan. Gue ada perlu habis ini.” Sabrina menghela napasnya. Frustrasi. “Ya udah deh nggak papa.” Jayden terkekeh pelan. Setelah negosiasi akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang di restoran terdekat dengan posisi mereka. Sambil menikmati makan siang, Sabrina pun bertanya karena penasaran. “Habis ini mau ke mana sih emangnya, Jay?” “Gue mau ambil barang. Gue pesen beberapa parsel untuk hantaran lamaran,” kata Jayden jujur sambil memakan nasi liwet yang dipesannya. Ia makan dengan lahap apalagi karena tadi pagi, ia tidak sempat sarapan, karena harus buru—buru menjemput Sabrina dan ke kantor Pak Ronald. “Gue ikut ya?” pinta Sabrina. Masih ingin bersama Jayden. Jayden segera menggelengkan kepalanya. “Nggak bisa. Gue habis ambil keperluan gue buat besok, gue langsung balik ke Bogor.” “Buat besok?” tanya Sabrina shock. Ia segera melepaskan pegangannya pada sendok dan garpu yang ia pegang. Stick yang dimakannya mendadak tak enak. Apa Jayden benar—benar akan menikah dalam waktu dekat? “Iya. Besok gue lamaran ke rumah keluarga pacar gue. Kita harus segera menikah karena seperti yang lo tahu, pacar gue sekarang lagi hamil.” “Pacar lo kenapa bisa hamil? Dia kebobolan ya?” tanya Sabrina yang langsung membuat Jayden terbatuk karena kaget. Buru—buru mengambil air minum dan menegaknya, Jayden pun setelahnya menatap Sabrina dengan tatapan protesnya. “Jangan buat pertanyaan yang aneh bisa nggak sih?” balas Jayden ketus. “Tapi emang benar kan kalau dia kebobolan sampai hamil kayak gitu.” “Ya lagian gue juga pernah menjanjikan pernikahan ke dia.” “Tapi menurut gue, orang kayak lo, kayak nggak terlalu tertarik sama kehidupan pernikahan?” “Kadang gue nggak tertarik, tapi kadang gue ngerasa kesepian.” Sabrina bisa merasakan dengan jelas bahwa Jayden sangat jujur dengan kondisinya. Ia pun kadang merasakan hal yang sama jika terlalu lama berada di apartemennya, sendirian. “Lo selama ini tinggal sama siapa di Bogor, Jay?” Jayden menoleh ke arah Sabrina. “Gue tinggal sendirian,” katanya jujur. “Gue tinggal di rumah gue kecil.” “Orang tua lo udah tinggal masing—masing bersama keluarga mereka yang baru?” “Hmm....” Mendadak Sabrina terdiam. Ia merasa sedih. Dulu saat ia tinggal hanya bersama sang ibu, ia merasa hidupnya menyedihkan. Namun, ia jauh lebih merasa sedih kala tinggal bersama sang ayah yang kaya raya. Apalagi ia hanya anak bawaan dari sang ayah. Sang ayah yang kini sukses karena bantuan dari keluarga istri barunya yang lebih sering menghamburkan uangnya untuk berbelanja tas dan pakaian, dibanding berada di rumah. “Haaah....” desahan Sabrina membuat Jayden menoleh sejenak. Namun laki—laki itu tak mengatakan apapun. Ia hanya terdiam dan masih terus menyetir.[] *** bersambung >>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN