Bab 26
Pulang
“Halo,” sapa Divi kala ia baru saja mengangkat panggilan dari kekasihnya, Jayden. Ia sudah tersenyum karena besok bisa kembali bertemu dengan Jayden.
“Halo, Div,” sapa Jayden balik. “Div, aku mau kasih kabar nih.”
“Hmm ... kabar emangnya?” tanya Divi dengan wajah penasarannya.
“Besok hari sabtu, aku pulang ke Bogor kayaknya malam. Pagi, aku masih ada kerjaan. Kamu nggak papa kan kalau kita ketemu pas hari minggu nanti di rumah kamu?”
“Orang tua kamu gimana, Jay? Kamu udah bahas soal lamaran nanti?”
“Gampang deh,” kata Jayden menyepelekan lamaran mereka. Divi mendesah pelan. “Kamu nggak papa kan, Div?”
“Ehm ... Jay, sebenarnya, Tante Nia menghubungiku senin kemarin. Tante Nia dan Mamaku udah bahas soal lamaran hari minggu nanti. Kalau besok kamu nggak bisa ketemuan sama aku, apa kamu bisa langsung aja ke rumah Papa kamu dan Tante Nia?”
“Kamu sama Tante Nia ketemuan?”
“Bukan cuma sama aku, tapi sama Mamaku juga, Jay.”
“Kenapa kamu nggak ngasih tahu aku sebelumnya?” tanya Jayden terdengar ketus.
“Kamu enggak dikasih tahu ya, Jay, sama Mama kamu?”
“Dia bukan Mamaku, Div. Jadi jangan pernah menyebutnya sebagai mamaku. Kamu ngerti?”
Divi menghela napasnya sejenak. Sepertinya apa yang diucapkan oleh ibu sambungnya itu benar, bahwa Jayden memang tidak menyukai keluarga baru ayahnya, termasuk dengan ibu sambungnya. “Hmm ... maaf, Jay, kalau kamu nggak suka,” balas Divi menyesal.
“Maaf juga, Div, kalau aku malah jadi bentak kamu!” kata Jayden ikut menyesal di balik panggilan. “Jadi pertemuan Tante Nia sama kamu dan Mama kamu itu membahas soal apa senin kemarin?”
“Kami membahas persoalan lamaran keluarga nanti. Tante Nia bilang nanti urusan parsel untuk lamaran sudah diurus oleh Tante Nia dan ayah kamu.”
Jayden menghela napasnya. Divi tak tahu pasti apa yang ada dalam benak kekasihnya itu sekarang. Namun, ia berharap bahwa hubungan dingin antara Jayden dan keluarganya bisa lebih baik.
Mendadak Divi mengingat perkataan ibunya, agar membantu Jayden dan keluarga ayah kandungnya itu lebih baik. Namun rasa—rasanya hal itu tidak akan mudah.
“Oke. Terus apa ada hal lain lagi yang harus keketahui soal hari lamaran nanti, Div?” tanya Jayden lagi.
“Ehm ... sebenarnya ayah kamu dan Tante Nia yang niatnya mau ngasih tahu langsung ke kamu. Apa kamu nggak sebaiknya ke rumah mereka sebelum hari minggu nanti?” tanya Divi balik. Ia bingung bagaimana caranya memberi tahu kekasihnya persoalan lamaran yang harusnya diketahui oleh pihak laki—laki. “Untuk mendiskusikannya.”
“Aku sudah mendiskusikannya minggu lalu. Aku hanya ingin mereka datang sebagai waliku, tidak lebih. Sebenarnya aku keberatan sekali saat kamu bilang Tante Nia yang mengurus persiapan lamaranku nanti.”
“Tapi bukannya kamu nggak akan sempat kalau besok aja kamu pulang malam ke Bogor, Jay?” tanya Divi khawatir. “Tante Nia hanya ingin menolong, Jay. Apa kamu nggak bisa membiarkannya saja?”
“Hmm....” Jayden hanya berdehem pelan. Divi benar—benar tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh kekaishnya saat ini. “Ya udah, nanti aku coba hubungi ayahku mengenai persiapan mereka.”
Divi mendesah lega. Sepertinya Jayden sudah pasrah dengan persiapan yang dilakukan oleh ayah dan ibu sambungnya. “Oke.”
“Udah ya, Div. Besok pagi—pagi banget soalnya aku ada meeting untuk ketemu klien,” kata Jayden hendak mengakhiri panggilan.
Divi menganggukkan kepalanya. “Oke, Jay. Tapi jangan lupa ya, kamu harus menghubungi Papa kamu. Biar nanti nggak ada miss komukasi.”
“Hmm....” Setelahnya Jayden mematikan panggilan begitu saja.
Divi melihat ponselnya lalu kembali menaruhnya di atas nakas. Ia berjalan menuju jendela kamarnya lalu melihat ke luar. Dalam hati, ia berharap bahwa Jayden bisa seperti kemarin. Tiba—tiba datang menemuinya. Melihatnya dari samping mobil miliknya kemudian menunggu untuk mendapatkan pelukan hangat.
“Huft....” Divi menghela napasnya. Hal itu tidak akan terjadi saat ini. Apalagi Jayden bilang besok ia harus meeting untuk bertemu klien. Pasti sangat tidak mungkin untuknya menemukan keajaiban itu.
Berhenti melihat ke arah jendela kamar, Divi pun menuju ranjangnya. Ia hendak tertidur. Apalagi mengingat bahwa sebentar lagi ia akan merasakan momen lamaran bersama keluarga masing—masing, membuatnya gugup dan harus menyiapkan dirinya dengan baik. Salah satunya dengan beristirahat yang cukup.
***
Selesai menghubungi Divi, Jayden pun kembali menoleh ke arah Sabrina. Gadis itu sedang melihat ke arah maket yang sedang mereka kerjakan. Malam ini mereka akan lembur untuk menyelesaikan maket. Memastikan bahwa maket itu sudah siap untuk dipresentasikan pada klien besok pagi.
“Udah teleponan sama cewek lo?” tanya Sabrina kala Jayden kembali menghampirinya.
“Hmm....”
Sabrina melihat dari sudut yang berbeda lalu kembali berdiri tegak. “Kayaknya udah pas kan? Udah cakep?”
Jayden melihat ke arah maket yang malam ini mereka kerjakan bersama—sama lalu menganggukkan kepalanya. “Udah kok.”
“Jay,” Sabrina tiba—tiba menatap Jayden dengan penasaran. “pacar lo tahu kalau lo udah selingkuh di belakang dia?”
“Kapan gue selingkuh?” tanya Jayden balik.
Sabrina langsung tertawa mengejek ke arah Jayden setelah mendengar jawaban enteng dari laki—laki itu. “Nggak ngerasa ya?”
Jayden tak mengatakan apapun. Ia menuju meja kerjanya. Mengambil tas kerja yang berada di sana lalu memakainya hingga tali tas menyelempang di bahunya yang kokoh.
Melihat Jayden tidak mempedulikannya, Sabrina pun ikut melakukan hal yang sama. Ia mengambil tas kerja yang ada di kursi kerjanya lalu mendekati Jayden yang berjalan meninggalkannya lebih dulu.
“Jay, tungguin dong!” kata Sabrina cukup keras. Setelahnya ia berdiri di samping laki—laki itu dan berjalan bersamanya. “Anterin gue balik dulu ya?”
Alis Jayden berjengit merasakan dekapan di lengannya. Ia menatap Sabrina yang menatapnya dengan tatapan manja.
“Maukan?” tanyanya membuat Jayden menggeleng.
“Nggak!”
“Mau dong! Please!” kata Sabrina lagi dengan suaranya yang dibuat begitu manis dan kekanak—kanakkan.
“Nggak mau. Gue capek.” Jayden mencoba melepaskan rangkulan Sabrina, tapi baru sejenak rangkulan lengannya dilepas, tak lama kemudian gadis itu merangkulnya lagi. Memeluk lengannya seolah lengannya memiliki medan magnet yang besar.
“Ah kan sekalian,” gumam Sabrina lagi, merajuk.
“Itu bukan sekalian namanya kalau kita beda arah.”
“Tapi kan beda arahnya cuma dekat,” elak Sabrina lagi. Sangat berharap bahwa ia akan diantar oleh laki—laki yang sedang menarik perhatiannya. “Please yaaa?”
Jayden melirik Sabrina sejenak lalu menggelengkan kepalanya. “Pokoknya nggak!”
“Jayden....” Sabrina tiba—tiba melepaskan pelukannya di lengan Jayden lalu menghentakkan kakinya berkali—kali dengan kesal. “Dasar nggak punya perasaan!”
Tak mempedulikan Sabrina, Jayden pun terus melaju. Ia mengabaikan gadis itu.
***
“Halo, Pa?” Jayden memutuskan menghubungi ayahnya saat ia sudah berada di dalam mobilnya.
“Halo, Jay. Ada apa, Nak, malam—malam telepon?” tanya Papa Julian. “Hhhaa....” suara uapan terdengar di kuping Jayden.
“Papa udah tidur ya?” tanya Jayden.
“Oh iya, Papa udah tidur tadi. Emang ada apa ya, Jay? Apa ada sesuatu yang penting yang kamu kasih tahu ke Papa?”
Jayden mendesah pelan. Ia merasa tak enak hati karena sdah mengganggu tidur ayahnya. “Sebenarnya aku mau kasih tahu ke Papa soal hari lamaranku nanti.”
“Iya? Ada apa?”
“Nanti aku yang akan urus soal seserahan dan lain—lainnya. Jadi Papa atau Tante Nia nggak perlu ikut campur? Apa bisa?”
“Jayden, sebenarnya ... Mama kamu udah nyiapin semua seserahan yang harus dibawa ke acara lamaran lusa. Mama kamu membeli segala sesuatunya bersama ibu Divi. Semuanya sudah siap, tinggal kita berangkat saja ke rumah calon istri kamu itu.”
Menghela napasnya yang berat, Jayden akhirnya bersuara setelah beberapa saat menahan kekesalan dalam hatinya. “Seharusnya Papa dan Tante Nia sebelum melakukan itu tanya dulu ke aku.”
“Mama kamu pengen melakukan itu semua untuk kamu, Jay. Seenggaknya kamu berucap terima kasih.”
“Aku ke sana minggu lalu karena hanya ingin meminta tolong untuk mendapatkan restu dari orang tua Divi. Aku nggak meminta tolong untuk kalian menguruskan seserahan dan lain—lain,” sewot Jayden sambil melihat ke depan mobilnya dengan kesal.
“Papa ngerti!”
“Kalau Papa ngerti, Papa nggak akan ngebiarin Tante Nia melakukan hal seperti itu. Tolong jangan melewati batas, Pa! Aku lebih suka kalau kita berhubungan seperti biasa. Berhubungan dengan tidak saling peduli seperti biasanya.”
“Jayden!” suara Tante Nia terdengar.
Jayden mendadak tidak nyaman. Kenapa suara ibu sambungnya itu terdengar di panggilan sang ayah? Apakah sebenarnya sang ayah sejak awal meloudspeaker panggilannya? Apakah sejak awal ibu sambungnya itu mendengar perkataannya?
“Iya, Tante.”
“Tante tahu kalau kamu nggak suka sama Tante karena menikah dengan ayah kamu! Tante juga tahu, Jayden. Tapi ini udah hampir 18 tahun, Tante bersama dengan ayah kamu. Apakah kamu akan terus bersikap seperti ini? Tante mengurusi lamaran kamu, karena Tante orang tua kamu juga sekarang, Jayden. Tante juga mau bersikap abai. Tapi sampai kapan hubungan kekeluargaan kita seperti ini?”
Mendengar pertanyaan bernada emosional dari ibu sambungnya. Mendadak Jayden diam.
“Jayden. Kamu punya adik. Tante nggak mau, kalau Tante abai ke masalah lamaran ini. Nanti kamu juga melakukan itu ke Lilina. Lilina sayang sama kamu. Kamu tahu itu, tapi kamu selalu mencoba menjaga jarak dari keluarga ini. Kita ini keluarga, Jayden. Nggak ada salahnya keluarga saling membantu masalah anggota keluarganya yang lain.”
“Bagi, Tante, mungkin mudah. Tapi bagiku nggak, Tante. Jadi tolong! Jangan melewati batas setelah ini. Makasih juga udah mengurus persoalan lamaranku nanti hari mingggu. Aku harap, hal ini akan menjadi hal terakhir untuk Tante ikut campur masalahku. Aku harap Tante Nia paham. Begitu pun dengan Papa.”
“Dan juga ... besok aku nggak bisa ke rumah Tante, aku akan ke rumah Tante hari minggu.”
Setelah mengatakan percakapan terakhirnya, Jayden pun mematikan panggilannya bersama sang ayah. Dalam hati, Jayden sangat kesal dengan sang ayah karena sudah me—loudspeaker panggilannya hingga terdengar oleh sang ibu sambung.
Dan lagi apa katanya tadi? Keluarga? Cih! Aku nggak sudah sangat trauma dengan yang namanya keluarga! Keluarga ... aku bahkan dibuang oleh keluargaku. Oleh kedua orang tua yang seharusnya menyayangi dan menemaniku dulu. Semua itu tidak ada!
Jayden memukul setir di depannya dengan kesal. Ia menjambak rambut lalu memukulkan kepalanya ke setir mobilnya dengan cukup keras. Ia sangat kesal!
Jayden rasanya ingin menangis saking kesalnya. Setelah emosinya lebih baik, Jayden pun mulai melajukan mobilnya ke luar dari parkiran indoor.
Baru saja ke luar, Jayden mengerem mendadak mobilnya hingga tubuhnya terpental ke depan. Perlahan Jayden menegapkan lagi tubuhnya lalu menatap ke arah seseorang yang kini berdiri di depan mobilnya dengan tangan berlipat ke depan d**a.
Sabrina!
Jayden berdecak kesal. Tak habis pikir bagaimana bisa perempuan itu—itu bisa berdiri di depan mobilnya yang melaju kencang.
“Woy, lo hampir bikin gue jadi pembunuh! b******k lo, Sabrina!” teriak Jayden sambil membuka jendela mobilnya.
Sabrina tersenyum lebar padahal yang ke luar dari mulut Jayden adalah kata—kata makian. Gadis itu berjalan mendekati mobil Jayden lalu mengetuk jendela mobilnya.
Dibukakan, Sabrina pun segera membuka pintu mobil depan Jayden dari dalam.
“Hee!!”
“Makasih, Jayden, udah mau nganterin gue pulang!”
“s**t!” Jayden kembali memaki Sabrina. “Turun lo dari mobil gue!” katanya dengan keras.
Sabrina menggelengkan kepalanya. “Wah nyaman banget tahu duduk di mobil ini!” Sabrina sama sekali tak mempedulikan perkataan Jayden. Gadis itu menebalkan telinganya meskipun di maki oleh rekan kerjanya itu. “Yuk! Let’s go! Lo tahu dan hapal kan jalan ke arah apartemen gue?”
“Ke luar, Sabrina!”
Sabrina yang masih mendapati Jayden tak melajukan mobilnya akhirnya mengubah strategi. Ia berhenti bersikap manis dan mulai menunjukkan wajahnya yang memelas.
“Please, Jayden! Anterin gue ke apartemen. Lo nggak kasihan apa, gue balik sendirian ke apartemen gue?”
Jayden mendesah pelan. “Lo tuh punya harga diri nggak sih? Gue udah nyuruh lo pulang duluan, tapi lo tetep duduk di dalam mobil gue kek gini!”
“Iya! Gue tahu, iya! Gue emang nggak punya harga diri. Makanya anterin gue pulang ya? please!” pinta Sabrina lagi. Matanya penuh permohonan. Membuat Jayden yang tadinya bebal tidak ingin mengantarkan gadis itu pulang menjadi luluh.
“Ah ... kalau gini terus kapan gue pulang?” tanya Jayden pada dirinya sendiri. Ia mulai melajukan mobilnya.
Sabrina yang mengerti maksud perkataan Jayden pun tersenyum puas. Ia mendekati Jayden dengan kilat lalu memberikan kecupan di pipinya. “Thank you, Jayden Raffael Anthony.”
Merasakan pipinya dikecup oleh sesuatu yang lembab dan kenyal. Jayden pun terdiam. Ia melirik Sabrina sejenak dan gadis itu tak menatapnya. Gadis itu sibuk melihat ke arah luar jendela mobil.
Diam—diam Jayden pun tersenyum tipis. Ia kembali fokus melihat ke arah depannya, dan menyetir dengan baik menuju ke apartemen Sabrina.[]
***
bersambung >>>