BAB 25
Calon Pasangan di Kantor
“Sabrina,” panggil Pak Rian sambil berdiri di depan meja kerja gadis itu.
“Iya, Pak. Ada apa?” tanya Sabrina sambil memberikan senyuman ramahnya pada Pak Rian.
“Besok kamu ke kantornya Pak Ronald ya, sama Jayden sekalian.”
“Loh bukannya hari ini ya, Pak, kita janji temu dengan Pak Ronald dari PT. Buana Marga?”
“Tadi sekertaris Pak Ronald baru saja telepon saya langsung kalau jadwalnya hari penuh. Jadi kemungkinan Pak Ronald nggak bisa ke sini. Nah sekertarisnya bilang, Pak Ronald ada waktu besok pagi di kantornya.”
“Besok kan weekend tapi, Pak?”
Pak Rian menatap Sabrina dengan tatapan memicing yang tajam. Meskipun ia tahu siapa sebenarnya Sabrina, tapi ada beberapa hal yang memang harus dilakukan gadis itu dengan profesional. “Kamu bisa kan?”
“Ehm ... dengan Jayden, Pak?” tanya Sabrina. Ia mengingat perkataan Pak Rian di awal.
Laki—laki berusia 39 tahun itu menganggukkan kepalanya. “Tentu saja!” jawabnya penuh kepastian. Pak Rian menolehkan kepalanya ke arah meja kerja Jayden tapi tak menemukan laki—laki itu berada di kursi kerjanya. “Jayden ke mana?” tanya Pak Rian akhirnya.
“Jayden?” Sabrina ikut menatap ke arah kursi kerja Jayden yang masih kosong. “Setahu saya sih, sejak tadi belum datang, Pak,” jawabnya jujur.
Pak Rian menatap Sabrina setelahnya. Matanya berubah menggoda. “Dia nggak ketinggalan di tempat kamu kan?”
Sabrina langsung terkekeh pelan. “Nggak, Pak. Sejak pulang kerja kita udah berpisah kok.”
Pak Rian menganggukkan kepalanya. “Kalau Jayden sudah datang, suruh dia ke ruangan saya kalau begitu!” kata Pak Rian. Setelahnya ia meninggalkan Sabrina. Kembali ke meja kerjanya.
Sepeninggalan Pak Rian selaku sang atasan di kantornya, Sabrina pun kembali memperhatikan meja dan kursi kerja milik Jayden. Laki—laki itu sejak kemarin lebih murung daripada biasanya.
Sabrina mendesah pelan. Apa Jayden baik—baik saja?
Mendadak Sabrina rasanya menyesal karena sudah mengangkat telepon dari pacar Jayden. Jika ia berada di posisi pacar Jayden, tentu ia pun akan merasa cemburu dan marah pada sosok gadis yang mengangkat panggilan di ponsel kekasihnya.
Huft ... pasti semua baik—baik aja. Nggak perlu terlalu dipikirin, Sabrina. Kalau Jayden putus dari pacarnya bukannya itu hal baik juga untukku. Aku jadi punya teman tapi mesra di kantor, pikir Sabrina. Ia segera memperhatikan meja kerjanya. Melihat ke arah laptopnya yang terbuka lalu melanjutkan pekerjaannya.
***
Jayden baru saja sampai ke kantor saat Sabrina tiba—tiba langsung menghampirinya. Perasaan Jayden jadi campur aduk dengan sikap Sabrina yang mencoba mendekatinya terus menerus.
“Dari mana aja baru datang jam segini?” tanya Sabrina sambil berdiri di dekat meja laki—laki berwajah tampan itu.
“Kepo,” kata Jayden. Ia tidak menanggapi kehadiran rekan kerjanya dan mulai mengeluarkan dokumen yang berada di dalam tas kerjanya.
“Dipanggil Pak Rian tuh,” kata Sabrina lagi.
Jayden segera menatap Sabrina dengan serius. “Bercanda?” tanyanya tidak percaya. Nggak mungkin kan karena telat masuk kantor, ia langsung dapat surat peringatan dari sang bos?
“Gue serius lagi,” kata Sabrina. “Tapi kayaknya mau ngebahas soal projek sama Pak Ronald dari PT Buana Marga.”
“Emang kenapa sama Pak Ronald? Bukannya emang jadwalnya nanti siang ya kita meeting dan bahas projeknya?” tanya Jayden tidak paham.
“Tadi kata Pak Rian, sekertarisnya telepon buat reschedule ulang karena bisa datang hari ini.”
“Terus?”
“Minta kita kantornya besok,” kata Sabrina.
“Besok?” Jayden terdengar tidak yakin. “Weekend ini gue lagi ada urusan keluarga di Bogor. Apa benar—benar harus besok?”
“Urusan keluarga?” tanya Sabrina balik. “Urusan apa?”
Jayden menatap Sabrina beberapa saat dalam diam. Setelahnya ia bangkit berdiri. Hendak menemui sang bos, Pak Rian, di ruangan kerjanya. “Pokoknya urusan keluarga.”
Sabrina diam saja. Jayden sepertinya tidak berniat memberitahu masalahnya. Bahkan laki—laki itu justru meninggalkannya begitu saja, menuju ke ruangan Pak Rian.
***
“Jay—“ panggil Sabrina kala mendengar pintu ruangan Pak Rian yang berada di dekat meja kerjanya itu terbuka. Jayden lah orang yang baru saja membukanya dan ke luar dari ruangan Pak Rian.
Jayden berhenti melangkah. Ia berdiri di dekat meja kerja Sabrina.
“Tadi ada apa dipanggil ke ruangan Pak Rian?” tanya Jayden.
“Nggak ada apa—apa. Tadi bahas prosuder pertemuan nanti saat ketemu Pak Ronald di kantornya.”
“Oh gitu—“ Sabrina menggoyangkan kursi kerja yang didudukinya. “Jadi gimana? Lo besok ikut ke kantor buat ketemuan sama Pak Ronald?”
“Ya pasti ikut lah,” balas Jayden akhirnya. Ia menghela napas. “Tapi habis dari meeting nanti, gue bakal langsung cabut ke Bogor. Gue udah bilang kok ke Pak Rian.”
“Oke.”
Jayden baru saja hendak kembali melangkah saat ia mendengar namanya dipanggil.
“Jayden?”
Jayden menoleh.
“Nanti makan siang bareng yuk?” ajaknya membuat Jayden menggelengkan kepala berulang kali.
“Kerja dulu. Belum apa—apa udah mikirin makan siang,” Jayden kemudian meninggalkan Sabrina. Kembali ke meja kerjanya dan mulai bekerja.
Sambil melakukan pekerjaannya, ia mendapat pesan singkat dari sang kekasih, Divi.
[ Jay, I Love you. ]
Jayden tersenyum tipis lalu segera mengetik jawaban untuk pesan kekasihnya yang singkat dan berkesan itu.
[ Love you, too, Diviana Anindya Ayleen. ]
Setelah membalas pesan Divi, Jayden melanjutkan pekerjaannya. Ia memperhatikan dokumen dan komputernya secara bergantian untuk mengevaluasi pekerjaannya. Ia hanya ingin memastikan bahwa projeknya dengan PT Buana Marga nanti baik—baik saja.
***
Divi tersenyum setelah mendapat balasan dari kekasihnya, Jayden. Lama kelamaan, ia mulai melupakan kesalahpahamannya tentang Sabrina. Ia juga mulai merasa, bahwa terus menerus memikirkan hal buruk tentang Sabrina tidak baik untuknya.
Sekarang yang ada di benak Divi adalah bagaimana ia harus mempercayai laki—laki yang akan menjadi ayah dari calon anaknya itu. Apalagi mereka sedang LDR, mereka harus saling mempercayai satu sama lain. Jadi, Divi memutuskan untuk mempercayai alasan Jayden kemarin malam.
Meskipun hingga pagi tadi, ia tidak yakin dengan alasan Jayden, tapi sejak dalam perjalanan menuju kantor, ia terus memikirkannya dan memutuskan untuk mempercayainya. Divi bahkan memaksa dirinya, akal sehatnya, untuk mempercayai apa yang kekasihnya –yakni Jayden—katakan padanya.
“Hana,” panggil Pak Bagas setelah membuka pintu kaca di ruangannya.
Lima orang yang berada di ruangan itu pun menoleh. Perlahan semua orang menatap Hana dengan penasaran.
“Iya, Pak. Ada apa ya, Pak?” tanya Hana sambil tersenyum kamu ke arah pak bos—nya yang baru.
“Ke sini sebentar!” kata Pak Bagas. Setelahnya ia kembali masuk ke dalam ruangannya.
Hana menghela napasnya dengan berat lalu bangkit berdiri. Berjalan dengan langkah yang berat menuju ruangan Pak Bagas. Akhirnya Hana pun mengetuk pintu berbahan kaca itu lalu masuk ke dalamnya.
Dari luar, Divi kelihatan penasaran dengan apa yang terjadi pada Hana dan bosnya. Sama sekali tak terdengar suara keras yang tinggi.
“Div, kira—kira Hana lagi diapain ya sama Pak Bos kita yang baru?” tanya Edo pada Divi yang duduk tepat di belakangnya.
Divi memutar kursinya ke belakang lalu mengedikkan pundaknya. “Nggak tahu.”
“Kata Hana, lo pernah jadi anggota mading kampus lo bareng Pak Bagas?”
“Terus?”
“Galak nggak orangnya?” tanya Edo lebih jelas.
Divi diam sejanak. “Standar kok.”
“Perasaan gue jadi nggak enak kalau gini,” kata Edo. Ia berdecak pelan lalu kembali membalikkan kursi kerjanya. Kembali menghadap ke arah meja kerjanya.
Melihat Edo kembali membelakanginya. Ia pun melakukan hal yang serupa. Divi melihat komputer yang ada di depannya lalu membuat laporan berita yang akan dimasukkannya nanti ke headlines berita besok.
Sekembalinya Hana, gadis itu menghela napasnya dengan berat. Kepalanya terkulai dengan lemas ke belakang kursi.
Namun saat pintu ruang kerja Pak Bagas kembali terbuka, Hana kembali menegapkan posisi duduknya. Ia dan Pak Bagas saling melirik sebentar kemudian Pak Bagas menatap nyaris semua orang yang berada di ruangan dengan tatapannya yang penuh berwibawa.
“Saya hari ini mendapat dua surat pengunduran diri dari rekan kerja kalian. Tepatnya pagi ini. Dari Risma dan Diana.”
“Loh ... mereka resign?” tanya semua orang sambil saling tatap. Semua orang nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Mereka sama sekali tak tahu menahu bahwa Risma dan Diana akan resign sebagai redaktur di harian surat kabar.
“Saya sudah coba menanyakan langsung mengenai alasan mereka untuk resign, apalagi secara bersamaan. Dan saya mendapat kabar bahwa Surat Kabar baru dari Harian Ciboda yang baru yang baru saja merekrut mereka.”
“Waaah ... mereka bisa barengan gitu ya? ckckck ... pengkhianat.”
“Saya sangat menghargai keputusan rekan sesama redaktur di sini. Jadi saya ingin membebaskan kalian untuk melanjutkan pekerjaan kalian dan setia di tempat ini, atau untuk yang sudah mendapatkan rekomendasi harian Ciboda untuk segera angkat kaki dari kantor kita saat ini.”
Kembali semua orang bersahutan bahwa mereka tetap akan bekerja. Setelah mendengar jawaban kebanyakan orang, Pak Bagas pun menganggukkan kepalanya.
“Saya sangat menghargai keputusan kalian. Saya harap, di bawah kepemimpinan saya. Kalian akan makin mencintai pekerjaan kalian di sini.”
“Baik, Pak!” sahutan karyawan kembali terdengar. Divi ikut menjawab.
Sepeninggalan Pak Bagas, Divi pun mendekati meja kerja Hana. Ia menatap Hana dengan penasaran. “Tadi ada apa, Han?” tanya Divi to the point. “Apa jangan—jangan elo ditawarin pindak ke Harian Ciboda juga, Han?”
Hana langsung menatap Divi dengan tajam. Ia bangkit berdiri lalu menarik tangan Divi. Mereka berjalan menuju toilet lalu memastikan toilet kosong hingga akhirnya mulai berbicara dengan serius.
“Gue mau jujur sama lo, Div!”
“Sebenarnya gue, Risma, sama Diana direkrut ke Harian Ciboda.”
“Apa? Lo kok nggak pernah ngasih tahu gue sih? Terus gimana tadi? Apa jangan—jangan Pak Bagas tahu ya lo juga salah satu yang direkrut ke sana?”
“Hmm ... kayaknya sih Pak Bagas tahu.”
“Kok bisa?”
Hana diam beberapa saat. Wajahnya nampak misterius. Gadis itu kemudian berbisik di telingan Divi. “Gue sama Pak Bagas sebenarnya dijodohin.”
Deg!
Apa—apan ini? “Bercanda kan lo?” tanya Divi langsung tak percaya.
“Sumpah,” kata Hana. Wajahnya nampak kebingungan. Antara kesal dan pasrah. “Gue juga baru tadi kemaren sore.”
“Kemaren sore kenapa? Bukannya lo ke toko buku ya?”
Hana menyandarkan punggungnya di tembok sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. “Sebenarnya gue kemarin minta tolong lo buat ke toko buku itu sekalian minta temenin gue ketemu cowok yang dijodohin orang tua gue.”
Divi tiba—tiba terkekeh pelan. “Kayaknya gue pernah ngerasa ada di posisi kayak gini. Ah iya, bener, gue pernah baca novelnya.”
Hana menghela napasnya. “Gue lagi serius,” kata Hana. “Emang sih nggak masuk akal banget. Secara perjodohannya juga tiba—tiba banget. Gue juga masih ngerasa kek de javu gitu. Yang lebih bikin gue kaget lagi adalah ... ternyata yang ketemuan sama gue di mall kemarin itu ... Pak Bagas.”
Divi menutup mulutnya yang menganga saking tak percayanya. Ia tak percaya bahwa kisah cinta cewek sebebas Hana akan berakhir dengan perjodohan. Ini sangat luar biasa!
“Terus gimana?” tanya Divi sambil melepaskan bekapan tangannya sendiri.
“Ya, gue kemarin kaget. Saking nggak percaya gue sampai keceplosan masalah rekrutmen masal dari Harian Ciboda dari kantor kita.”
“Ckckck ... jadi itu alasan Pak Bagas panggil elo ke ruangannya?”
Hana menganggukkan kepalanya.
Setelahnya keduanya saling terdiam. Hingga akhirnya Divi bertanya. “Si Risma sama Diana kenapa mau pindah ya?”
“Gajinya lebih tinggi di sana.”
“Oh ya?”
“Hmm. Dua kali lipat!”
“Eh buset! Ya ampun kenapa lo tolak, Han,” Divi mulai sewot setelah tahu gaji yang diberikan harian Ciboda itu hingga dua kali lipat dari gaji di kantornya. “Kenapa nggak rekrut gue aja sih? Ckck....”
“Elo emangnya beneran nggak direktut sama mereka diam—diam?”
Divi langsung menggelengkan kepalanya. “Nggak tahu sama sekali!” katanya lalu mendesah kecewa.
“Ya udah sih!” Hana mendekati Divi lalu mengusap pundaknya. “Pasti banyak kok yang lain juga yang direkrut sama harian sana. Lagian lo masa udah lupa sama perkataan Pak Bagas tadi supaya kita setia di sini.”
Divi mengulum senyumnya sambil menganggukkan kepala. Setelahnya ia memeluk lengan Hana dan bertanya. “Jadi gimana pertemuan lo sama Pak Bagas kemarin?”
Hana terkekeh pelan. “Ya ampun, itu canggung banget.”
Divi ikut tertawa. “Jadi lo mau sama Pak Bagas?”
“Bukan masalah mau atau nggak sih! Gue sama Pak Bagas memutuskan buat—“
Cklek! Suara pintu toilet terdengar. Hana menghentikan percakapannya dan Divi segera paham.
“Balik lagi yuk!” ajak Hana.
Divi menganggukkan kepalanya. Mereka berdua berpapasan dengan office girl yang baru masuk ke dalam toilet lalu mendesah lega setelah ke luar dari sana.
“Gue tunggu loh cerita lengkapnya, Han!” Divi memasang wajah memaksa.
Hana yang melihatnya pun segera menganggukkan kepala. “Next time deh gue ceritain!”
Setelahnya mereka pun kembali ke kursi kerja mereka masing—masing.[]
***
bersambung >>>