Bab 24
Kesayangan Papa Dwika
Setelah urusannya dengan Divi selesai. Meskipun akhirnya Jayden harus berbohong, setidaknya ia bisa lega karena tidak harus memutuskan Divi sekarang. Meskipun ia memang tidak terlalu berminat untuk menikahinya dan menikahinya hanya karena demi bayi yang ada di kandungan sang kekasih, tapi tetap saja, Jayden memang sangat mencintai Divi.
Jayden melihat jalanan di depannya yang lenggang lalu menghela napasnya dengan ringan. Masalah sudah selesai, pikirnya. Habis ini aku harus lebih aware masalahku dan Sabrina. Hal kayak gini nggak bisa terulang lagi. Tapi aku tetap nggak bisa menjauh dari Sabrina hanya karena hubungan pribadiku. Kita berada di satu tempat kerja yang sama.
Dalam perjalanan pulangnya kembali ke Jakarta, di lajut tol, Jayden terus berpikir.
Aku harus profesional. Aku nggak boleh membawa masalah pribadiku dengan Sabrina ke dunia kerja. Aku hanya harus tidak bersamanya dengan urusan pribadi.
Jayden langsung meringis, kala bayangannya bersama Sabrina terlintas di benaknya begitu saja. Malam panas yang luar biasa. Dibanding Divi, Jayden sadar bahwa Sabrina punya tubuh yang lebih menarik. Selain tubuhnya yang seksi dan berisi, Sabrina juga punya suara yang khas saat mendesah.
Bayangan Jayden tentang hubungan badan di atas ranjang bersama Sabrina buru—buru dibuangnya dengan menggelengkan kepala. “Ya Tuhan, aarrrggh ... apa yang gue pikirin barusan?”
“Gue nggak boleh mikirin hal beginian lagi! Ini jelas salah!” Jayden berbicara pada dirinya sendiri.
Setelah melakukan itu, ia memikirkan kembali hal apa yang harus dilakukannya dengan Divi setelah kebohongannya yang besar.
Apa ia memutuskan untuk berkata jujur nantinya? Ataukah ia hanya akan memendam kejujuran itu untuk selamanya?
Jayden menimbang. Namun jika dipikirkan baik—baik. Misalkan ia memutuskan untuk jujur suatu saat nanti, bisa dipastikan hubungannya dengan Divi akan berakhir dengan instan.
Sementara jika terus menyimpannya hanya untuk dirinya sendiri, hal itu tidak akan terjadi. Divi hanya akan mengenalnya sebagai sosok laki—laki yang tidak akan berselingkuh di belakangnya. Meskipun nyatanya, ia sudah melakukan itu pada akhirnya.
Tapi apakah Divi tetap akan memutuskannya jika tahu ia dan Sabrina pernah melakukan suatu hal terlarang ya? Jayden kembali berpikir. Tak lama kemudian, ia memikirkan sebuah kemungkinan jika ia berkata jujur pada Divi nanti, tapi Divi tetap bersamanya. Apakah hal itu mungkin terjadi?
Memikirkan masalahnya dengan dua wanita jelas saja membuat Divi merasa pening. Ia sangat kesal dengan dirinya sendiri. Lagian kenapa sih Sabrina mau berhubungan dengannya? Kenapa Sabrina seolah mau ketika diajak menghabiskan waktu bersamanya?
Jayden mendadak tersadar. Apa jangan—jangan selama ini Sabrina suka padanya ya? Maka dari itu, meskipun ia bersikap cuek dan lebih sering menolak ajakannya, gadis itu tetap mencoba.
Senyum tipis terbit di wajah Jayden tanpa sadar. Ia buru—buru menggelengkan kepalanya, dan membuang pemikiran itu.
Namun, bagaimana jika benar? Pikir Jayden lagi. Itu berarti bukan aku kan yang salah? Perempuan ini kan yang memang menggodaku. Ah ya!
***
Mata Divi memerah karena ia hanya tidur sebentar malam ini. Sejak Jayden datang dan menjelaskan mengenai Sabrina, ia bukannya tenang justru merasa ketakutan.
Divi memikirkan kandungannya kala ia memikirkan kemungkinan untuk berpisah dengan Jayden. Ia merasa tidak sanggup mengurus anaknya sendiri jika Jayden meninggalkannya.
Namun, bagaimana jika Jayden sebenarnya memiliki hubungan dengan wanita lain bernama Sabrina itu? apakah sanggup untuknya menelan kenyataan pahit bahwa sang pujaan hati berselingkuh di belakangnya dengan wanita lain? Sanggupkah ia menerima kenyataan bahwa hubungannya dengan Jayden memiliki sesuatu yang sudah retak dan hanya terus berpura—pura bahwa semuanya baik—baik saja? Apakah ia bisa menahannya jika tahu mengenai kenyataan Jayden berselingkuh dengan Sabrina demi anak yang berada dalam kandungannya?
Sepanjang malm itu, Divi terjaga. Namun sedikit pun itu tidak menangis. Ia hanya terus memikirkan kemungkinan terburuk dari hubungannya dan Jayden.
“Div, besok jangan ke mana—mana ya? Masak di rumah bareng Mama.”
“Iya, Ma,” balas Divi sambil memakan roti dengan selai cokelatnya. Ia memakan dalam diam. Wajahnya begitu datang sambil menikmati sarapan paginya.
“Div, kamu kenapa?” tanya Papa Dwika yang sejak tadi duduk di kursi makannya sambil memegang tablet miliknya. Papa Dwika seperti biasanya membaca berita online dari harian surat kabar online. Meskipun sibuk dengan bacaannya, Papa Dwika tentu menyadari keanehan sang anak. Wajahnya nampak kosong.
“Nggak papa kok, Pa,” balas Divi lalu menguap. Ia merasa mengantuk.
“Mata kamu merah, kamu semalam nggak tidur nyenyak?” tanya Papa Dwika lagi.
“Nggak ada apa—apa kok, Pa,” balas Divi. Ia ingin sekali mengakhiri obrolannya dengan kedua orang tuanya.
“Semalam kamu ketemu sama Jayden kan di luar?” tanya Mama Kayla membuat sang suaminya menoleh.
“Oh iya, benar,” sang ayah membenarkan ucapan ibu dari anaknya itu. “Kamu ada masalah sama Jayden, Div?”
Divi segera memaksakan dirinya untuk tertawa. “Nggak ada apa—apa kok, Pa,” jawabnya lagi.
Papa Dwika mendesah pelan karena anaknya terus menjawab bahwa ia tidak apa—apa. Ia jadi merasa khawatir. “Kamu kalau ada masalah apa—apa cerita ke Papa dan Mama. Atau kalau kamu merasa nggak nyaman, ke salah satu dari kami. Iya kan, Ma?”
“Iya, Div. Apalagi kamu sama Jayden bentar lagi mau menikah. Kalian juga sebentar akan jadi orang tua. Mama harap, hubungan kamu dan Jayden bahagia. Kalian bisa mempertanggung jawabkan calon anak kalian dengan baik.”
Divi dan Papa Dwika mendengarkan.
“Apalagi kalau tahu sendiri kan, Jayden itu anak broken home. Dia dari kecil nggak dekat dengan kedua orang tuanya, karena kedua orang tuanya bercerai. Mama sangat berharap bahwa anak kalian nanti tidak merasakan apa yang dirasakan oleh Jayden.”
Papa Dwika yang sudah tahu cerita itu dari sang istri pun hanya memperhatikan wajah sang anak yang kelihatan serius dan tertekan. “Nggak ada yang salah sebenarnya, Div, dari sebuah perpisahan,” kata Papa Dwika. “Namun, memang kerap kali sang anak lah yang kelak akan menjadi korban dari perpisahan itu.”
“Tapi, Pa, kalau dari ceritanya Nia –ibu sambungnya Jayden—memang ibu kandung Jayden ini agak bermasalah. Dia ketahuan selingkuh oleh ayah Jayden, hingga akhirnya memutuskan untuk berpisah. Namun anehnya setelah berpisah, ibu kandung Jayden ini malah memperalat Jayden untuk mendapatkan uang dari mantan suaminya. Padahal Jayden sama sekali nggak diurus sama dia.”
“Mama tahu banyak dari Tante Nia?” tanya Divi memotong cerita Mama Kayla.
“Iya. Awalnya sih Nia nggak mau cerita lebih jauh, tapi lama kelamaan dia ngasih tahu gimana keluarga Jayden yang sebenarnya. Nia selama kasihan ke Jayden karena udah kehilangan sosok ibu yang baik untuknya. Ia sudah mencobanya, tapi Jayden justru menolaknya sama sekali.”
“Jayden kayak gitu, Ma?”
Mama Kayla menganggukkan kepalanya. “Makanya, Div, kamu coba deketin Jayden sama Nia. Ibu sambungnya Jayden itu nggak kayak ibu tiri pada umumnya, dia baik orangnya. Pantas saja Tuhan akhirnya takdirkan ayah Jayden yang sudah menderita karena mantan istrinya, lalu mendapatkan Nia yang baik dan pengertian.”
“Div, kalau Mama udah menyanjung orang itu tandanya emang baik,” kata Papa Dwika.
Mama Kayla yang mendengar nada godaan dari sang suami segera menatapnya tajam. Papa Dwika yang melihatnya hanya bisa tersenyum lebar.
“Iya, Ma,” kata Divi tiba—tiba. “Aku akan coba mendekatkan Tante Nia dan Jayden.”
“Jangan terlalu kentara, Div! Nanti justru Jayden marah ke kamu!” Mama Kayla mengingatkan sang anak.
Divi segera menganggukkan kepalanya. “Iya, Ma. Aku usahain semampuku.” Meskipun masih agak mengantuk karena kurang tidur semalam, Divi tetap pergi ke kantor. Ia meninggalkan meja makannya lebih dulu daripada kedua orang tuanya lalu brpamitan sambil mencium punggung tangan ayah dan ibunya secara bergantian.
***
Sepeninggalan Divi dari meja makan untuk berangkat bekerja, Papa Dwika dan Mama Kayla saling pandang sejenak. Setelahnya mereka kembali menikmati sarapan mereka dalam keheningan.
“Ma,” kata Papa Dwika. “Ibu kandungnya Jayden itu beneran selingkuh katanya?”
“Iya gitu, Pa.”
“Ibunya selingkuh, apa ada kemungkinan anaknya juga akan berselingkuh, Ma?” tanya Papa Dwika. Ia khawatir jika sang anak dikhianati. Ia takut jika dalam pernikahannya sang anak tak bahagia.
Mama Kayla menatap sang suami sejenak dengan senyum di wajahnya. Wanita 52 tahun itu jelas tahu bahwa sang suami adalah sosok paling tidak ingin jika Divi terluka. “Nggak melulu begitu, Pa. Papa tenang aja. Mama yakin kalau Jayden laki—laki yang baik dan tepat untuk anak kita. Mereka juga sebentar lagi akan menjadi orang tua.”
Papa Dwika menghela napasnya dengan berat. “Papa cuma khawatir. Papa takut kalau akhirnya Jayden juga akan menyakiti Divi, seperti ibunya menyakiti Jayden.”
“Semoga saja nggak, Pa!”
Papa Dwika menganggukkan kepalanya. Ia berharap harapan istrinya menjadi nyata, bahwa calon menantunya nanti tidak akan mengkhianati putri semata wayangnya yang sangat berharga.
“Mama apa tahu gimana kabar kondisi ibu kandung Jayden saat ini?” tanya Papa Dwika lagi. Penasaran dengan kehidupan pribadi calon menantunya. Seseorang yang nantinya akan menjadi keluarganya juga.
“Ibu kandung Jayden?” Mama Kayla berpikir sejenak. “Mama pernah dengar dari Nia, katanya ibu kandungnya ini punya kehidupan baru dengan suami barunya. Dia sekarang tinggal di Jakarta, keluarganya cukup terpandang, katanya. Makanya ibu kandung Jayden ini nggak mau ketemu sama Jayden karena dia sama sekali nggak mau mengingat masa lalunya.”
“Ckckck ... benar—benar bukan ibu yang baik ya, Ma.”
“Iya, hal itu juga yang membuat Jayden nggak begitu suka dengan sosok ibu.”
“Tapi kayaknya Jayden ramah aja sama Mama.”
“Pa,” Mama Kayla mendesah pelan. “Jayden bersikap sopan karena Mama ibu dari pacarnya. Tapi Mama nggak tahu nanti gimana sikap Jayden kalau sudah menjadi ibu mertuanya. Kita lihat aja nanti bagaimana.”
Papa Dwika mendadak terdiam. “Emang masalah banget ya, Ma, soal keluarga di benak anak—anak. Rasa traumanya bisa hingga dewasa ia rasakan.”
Mama Kayla menganggukkan kepalanya. “Kita harus bisa jadi orang tua yang baik ya, Pa, untuk Jayden.”
Papa Dwika menghela napasnya. “Papa akan mencoba. Setelah tahu masalah keluarganya, Papa jadi pengen coba lebih dekat ke Jayden. Papa harus baikin dia, biar Jayden juga baikin anak kesayangan Papa.”
Mama Kayla terkekeh pelan. “Oh ternyata ada udang di balik batu....”
“Ya nggak papa dong, Ma. Papa kan cuma mau yang terbaik untuk anak Papa. Apalagi Divi anak kita satu—satunya. Tentu aja Divi harus bahagia. Papa akan mencoba berbagai cara agar anak kesayangan Papa ini bahagia.”
“Iya, iya. Terserah Papa aja lah,” Mama Kayla yang sudah muak dengan perkataan suaminya pun segera bangkit berdiri. Membereskan meja makan. Ia hendak pergi bekerja.[]
***
bersambung >>>