Kebohongan Besar

2244 Kata
Bab 23 Kebohongan Besar “Halo,” suara yang cukup asing terdengar. Divi tiba—tiba menjauhkan ponsel yang tadi berada di dekat telinganya. Ia melihat nama orang yang diteleponnya. Mendengar suara wanita membuatnya tidak yakin bahwa yang diteleponnya sekarang adalah nomer ponsel kekasihnya, Jayden. Jayden Divi mulai berdebar saat ia menemukan nama Jayden di layar ponselnya. “Halo ... Halo?” suara gadis di seberang telepon kembali terdengar. Membuat Divi yang penasaran sekaligus menahan emosi di dalam dirinya pun bersigap menaruh kembali ponselnya di dekat telinga. “Iya, halo,” balas Divi. “Ini ponsel Jayden kan?” “Oh iya, ini emang hape Jayden. Hapenya ketinggalan di tempat gue, tadi dia buru—buru ke kantor duluan,” kata gadis itu memberi informasi dengan jelas. “Sorry, tapi ini dengan siapa ya? Kok bisa ponsel Jayden ketinggalan di tempat lo?” tanya Divi mulai meradang karena cemburu. “Ini Sabrina. Gue teman sekantornya Jayden. Lo siapa ya? Sorry nih gue angkat teleponnya, soalnya dari tadi lo nelepon terus. Gue jadi mikir kalau telepon penting.” “Gue Divi,” balas Divi. Nada suaranya mendadak datar. “Lo bisa tanya langsung ke Jayden, siapa gue, kalau lo mau tahu.” “Ehm gitu ya,” Sabrina terdengar malas. “Sorry nih, tapi gue masih harus mandi. Lo ada pesan buat disampein ke Jayden?” Mandi? Apa maksudnya Jayden dan Sabrina tadinya berada di tempat tinggal gadis itu? “Halo—“ Divi masih terkejut dengan dipenuhi prasangka buruk. Hingga tak sadar bahwa Sabrina masih menunggunya di seberang telepon. “Halo! Ada pesan nggak buat Jayden? Kalau nggak ada. Gue tutup ya teleponnya?” Setelah mengatakan hal itu, Divi lah orang yang menutup duluan panggilan mereka. Divi terdiam. Ia melihat ke arah cermin di depannya. Cermin yang menampilkan dirinya yang paginya memakai kemeja berwarna putih dengan tali pita di kerah. Jayden ... apa mungkin kamu sudah berselingkuh di belakangku? Tanya Divi dalam hatinya. Ia ingin menangis jika saja pintu toilet wanita tempatnya berada tidak terbuka. ***  “Div, lagi ngapain?” tanya Hana saat melihat Divi yang terlihat bengong di depan cermin yang ada di toilet kantor. “Kok kayak ngelamun gitu?” Divi yang tersadar dari lamunan dan keterkujatannya setelah menerima panggilan dari seorang yang disangkanya pun mulai mengerjapkan matanya. Ia memaksakan sudut bibirnya untuk tertarik hingga membentuk senyum simpul pada Hana. “Eh nggak kok.” Hana yang baru masuk ke toilet wanita pun tak banyak pikir. Ia melewati Divi dan masuk ke dalam bilik kloset kamar mandi. Setelah pintu itu tertutup, Divi menghela napas dengan berat. Matanya sudah berembun tapi ia mengerjap hingga air mata tidak sampai jatuh ke pipinya. Menyimpan ponselnya ke dalam saku celana, setelahnya Divi mencuci tangannya. Ia menundukkan kepalanya sejenak lalu mengeringkan tangannya menggunakan tisu setelah mematikan keran air. Ke luar dari kamar mandi, Divi pun kembali menuju ke meja kerjanya. Duduk sambil menghadap layar komputernya, Divi pun kembali berkaca—kaca. Ia mempertanyakan gadis yang baru saja mengangkat panggilannya di ponsel Jayden. Apa yang sebenarnya telah mereka lakukan hingga ponsel Jayden tertinggal di tempat Sabrina? Apalagi sekarang masih cukup pagi, bagaimana bisa kekasihnya meninggalkan ponsel yang berharga baginya itu? Akhirnya karena merasa khawatir sekaligus marah karena buruk sangkanya sepanjang hari, Divi pun tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Hana yang memperhatikan rekan sesama redakturnya itu terlalu banyak melamun pun merasa bingung. Saat jam pulang kerja, Hana menghampiri meja kerja Divi. “Div, jalan yuk habis ini? Anterin gue cari novel di toko buku di BTM yuk?” “Ngg ... kayaknya nggak dulu deh,” kata Divi sambil menoleh dan menatap Hana. Ia menolak dengan halus. “Gue capek banget hari ini. Mau istirahat.” Hana menghela napasnya lalu berpikir sejenak. Ia belum menyerah untuk membawa Divi refreshing. “Ayo lah! Gue bingung nih mau pergi sama siapa? Gue pengen banget beli novel terbarunya Hardin Scott.” “Hardin Scott siapa?” tanya Divi bingung. Ia merasa tidak pernah mendengar nama penulis yang disebutkan oleh Hana. “Pokoknya ada deh. Penulis baru. Genre fantasi gitu. Gue penasaran sama bukunya,” kata Hana lagi. Divi mendesah pelan. Ia melihat ke arah komputernya yang sudah mulai padam lalu bangkit berdiri sambil memakai tas selempang milinya. “Gue capek banget nih, Han. Sorry ya, next time aja,” tolaknya lagi. Divi benar—benar tidak memiliki selera untuk pergi ke toko buku. Ia lebih ingin menyelidiki soal Jayden. Sepanjang hari ia sudah mencoba menahan emosinya. Setelah ini, ia akan mencoba menghubungi Jayden lagi dan mencari tahu kebenaran yang sebenarnya. “Ya udah deh, gue pergi sendiri aja.” Hana akhirnya menyerah. Ia tidak memaksa Divi dan lebih memilih berjalan bersama gadis itu. Mereka berjalan ke luar bersama dari kantor redaksi harian surat kabar itu, lalu berjalan menuju halte terdekat. “Lo nggak bawa motor, Div?” tanya Hana sambil berjalan bersama menuju halte. “Nggak. Motornya lagi sering dipake sama nyokap.” “Oh gitu,” kata Hana sambil menganggukkan kepalanya. “Lo sendiri?” “Gue lagi malas aja pake kendaraan pribadi. Lagi pengen naik ojol.” Divi terkekeh mendengar jawaban santai Hana. Hana memang selalu otentik. Ia punya sesuatu yang spesial di dalam dirinya. “Terus motor lo gimana?” “Motor gue di rumah,” kata Hana. “Dipake bibi sementara.” Divi menganggukkan kepalanya. Setelah sampai ke halte, Divi dan Hana pun duduk di kursi yang tersedia. Mereka sudah memesan ojek online masing—masing dalam perjalanan ke luar dari kantor melalui aplikasi. Baru saja duduk, Divi dan Hana melihat sebuah motor dengan driver berjaket hijau menghampiri mereka. Laki—laki itu mematikan mesin motornya kemudian mengambil helm untuk penumpang. “Mbak Hana?” “Oh iya, saya,” kata Hana sambil bangkit berdiri. “Div, gue duluan ya?” “Iya, hati—hati ya,” kata Divi sambil menganggukkan kepalanya. Ia bercipika cipiki dengan Hana kemudian gadis itu pun menghampiri motor ojek yang dipesannya. Divi memperhatikan Hana sambil diam di atas kursi besi yang didudukinya. Ia pun tersenyum saat Divi melambaikan tangan ke arahnya setelah selesai memakai helm. Balas melambaikan tangan, Divi pun setelahnya melihat Hana naik ke atas motor. Dibonceng di belakang. Setelah itu, Hana pun pergi meninggalkannya bersama sang ojek online yang mengendarai motor matic—nya. Sambil menunggu ojek yang dipesannya datang, Divi pun memperhatikan aplikasi. Ia melihat bagaimana sang driver ojek masih dalam perjalanan ke tempatnya berada. Setelah memastikan bahwa ojeknya sedang meluncur ke arahnya, Divi pun memperhatikan pesannya pada Jayden. Pesan yang kemarin masih tak juga dibalasnya. Bahkan setelah mengetahui bahwa ada wanita lain di dekat Jayden, laki—laki itu tak juga menghubunginya. Rasanya sedih sekaligus marah. Divi mulai merasakan air matanya jatuh. Ia mengusapnya dan terisak pelan. Bagaimana jika benar bahwa Jayden tidak setia padanya dan justru berselingkuh dengan rekan kerjanya di Jakarta? Bukankah banyak kasus terjadi di dunia pekerjaan, bagaimana para pegawai kantoran itu mengalami cinlok alias cinta lokasi? Apalagi sekarang, Jayden sedang LDR dengannya. Ada kemungkinan besar bahwa Jayden tak tahan godaan dari perempuan bernama Sabrina itu. Divi menghapus air matanya saat ia melihat sebuah motor yang lama kelamaan berhenti di depan halte tempatnya duduk dan menunggu. Setelah mengusap air matanya, Divi pun bangkit berdiri. “Teteh Diviana ya?” tanya sang ojek online. Divi menganggukkan kepalanya. “Iya, A’,” setelah menjawab Divi menghampiri motor yang berhenti itu. Menerima helm yang diangsurkan padanya. Setelah itu, Divi pun menaiki motor di belakang sang ojek. Siap untuk berangkat, Divi pun meluncur untuk pulang. Dalam perjalanan pulang menggunakan ojek, Divi kembali terisak. Ia mengingat kembali kekhawatirannya. Bagaimana jika Jayden benar—benar berselingkuh dengan wanita lain? Lalu bagaimana hidupnya nanti? Bagaimana ia harus hidup sedangkan ia dikhianati oleh laki—laki yang dicintainya? Bagaimana pula dengan kehamilannya saat ini? Divi menyentuh perutnya sambil menangis. Ia merasa frustrasi dengan apa yang telah menimpanya. Meskipun belum pasti bahwa kekasihnya mungkin berselingkuh dengan wanita lain, tapi rasanya menyakitkan. Divi tak bodoh ketika memikirkan bagaimana ponsel Jayden berada di tempat wanita itu di pagi hari. Ada kemungkinan bahwa Jayden menginap di tempat gadis itu. “Teteh, maaf. Teteh nangis?” tanya sang driver ojek online ragu. Divi tak menjawab. Ia justru segera mengusap kedua matanya dengan kasar menggunakan tangan. “Nggak kok, A.” Pengemudi ojek online pun tak mengatakan apapun setelahnya. Ia melanjutkan perjalanan tanpa banyak bicara. Namun yang pasti, pengemudi ojek online itu tahu bahwa penumpangnya saat ini tengah berbohong. Pasalnya si penumpang menjawab dengan suara yang serak basah khas orang yang baru menangis. Tahu bahwa penumpangnya berada dalam kondisi sedih, sang pengemudi pun memutuskan untuk diam dan membiarkan penumpangnya. Karena yang harus dilakukannya saat ini adalah mengantarkan penumpangnya hingga selamat ke alamat yang dituju. *** Jayden melihat ponselnya dan akhirnya mencoba untuk menghubungi Divi. Tak berapa lama, seolah memang panggilannya sudah sangat ditunggunya, Divi pun mengangkat panggilan Jayden. “Halo,” sapa Divi memulai percakapan. “Halo, Div!” “Kenapa, Jay?” Divi terdengar begitu datar. Jayden merasa bersalah lalu menundukkan kepalanya sambil melihat aspal yang sedang diinjaknya. “Div, aku ada di luar rumah kamu.” Tak lama kemudian, Jayden tak kunjung mendengar suara Divi. Namun saat ia mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah jendela kamar kekasihnya, Jayden melihat sang gadis tengah menyibakkan gorden jendela kamarnya. Divi terlihat diam hingga akhirnya Jayden memberikan senyumannya. Seolah memaksakan senyum, Divi pun menarik sudut bibirnya hingga membingkai sebuah senyum yang cukup dipaksakan. Jayden melihat gorden jendela kamar Divi kembali tertutup. Namun tak lama kemudian, ia mendengar suara di telinganya. Benar, mereka masih terhubung dalam sambungan telepon. “Jay, aku ke luar sekarang!” “Hmm ... oke. Aku tunggu ya,” kata Jayden lalu terdiam lagi. Ia sama sekali tak ingin memutus panggilan telepon. Divi pun melakukan hal yang sama hingga akhirnya gadis itu ke luar dari pintu depan rumahnya. Sambil berjalan mendekat, Divi pun memutuskan panggilanya dengan Jayden. Saat sudah berada di depan Jayden dan hanya berjarak satu meter satu sama lain, Divi pun terdiam sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. “Ada apa, Jay? Kok malam—malam ke sini? Bukannya ini belum weekend ya? Kamu kok udah pulang?” Divi berpura—pura bahwa tak ada hal serius yang terjadi di antara mereka. Jayden mendekat kemudian memeluk Divi dalam dekapannya yang hangat. Laki—laki itu tak mengatakan apapun dan justru hanya memeluk Divi makin erat. Setelah beberapa saat, Jayden pun melepaskan pelukannya dari Divi. “Div—“ Divi sudah mencoba tidak peduli, tapi akhirnya ia menangis kala memeluk laki—laki yang dicintainya. Divi merasa tak sanggup jika ia harus kehilangan Jayden. Ia tidak mau kehilangan laki—laki itu. Ia menginginkan Jayden apalagi kini ia sedang mengandung buah hatinya dengan laki—laki yang kini berada di hadapannya. Mendengar dan melihat tangisan Divi yang pilu, Jayden pun memeluknya lagi. “Div, jangan menangis! Aku bisa jelasin semuanya!” Divi mendesah berat lalu menghentikan tangisannya setelah beberapa saat. Ia pun melepaskan pelukan Jayden padanya lalu menatap laki—laki yang dicintainya itu dengan tatapan terluka. “Aku udah coba berpikir secara positif sepanjang hari ini, Jay. Tapi aku nggak tahu kenapa ... setelah aku dengar Sabrina angkat panggilan aku di hape kamu, aku ngerasa kalau kamu punya hubungan dengan dia. Aku ngerasa, aku ngerasa kalau kamu udah mengkhianati aku, Jay.” Jayden menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Aku bisa jelasin semua, Div. Kamu harus percaya sama aku. Aku sampai bela—belain ke sini karena aku mau jelasin ke kamu semuanya secara langsung!” “Terus kenapa bisa hape kamu di cewek lain, pagi—pagi. Cewek bernama Sabrina itu bahkan bilang kalau hape kamu ketinggalan di tempatnya. Apa kamu nginep di rumahnya, Jay?” Mata Jayden terlihat gelisah. Ia seolah sudah tertangkap basah meskipun Divi hanya mengatakan sesuatu sesuai dengan tebakannya saja. “Nggak, Div. Aku nggak nginep di rumahnya,” kata Jayden memutuskan untuk berbohong. “Pagi—pagi banget aku ke apartemen Sabrina buat ngasih dokumen ke dia. Dokumennya nggak sengaja keselip ke dokumenku kemarin. Nah dokumen itu harus kita pelajari pagi ini karena jam 10.00 pagi, kita harus meeting sama klien Pak Agus Rahman.” Divi menatap mata Jayden. Matanya terlihat gelisah dan tidak mau menatapnya selama beberapa saat. Namun ceritanya, Divi sangat ingin mempercayai cerita Jayden. Ia ingin sekali mempercayai bahwa memang benar sang kekasih hanya mampir sebentar ke apartemen wanita lain kemudian ponselnya tertinggal. “Kamu nggak bohong kan?” Divi ingin mempercayai Jayden. Ia tidak ingin kehilangan laki—laki yang sangat dicintainya itu. “Iya,” balas Jayden sambil menganggukkan kepalanya. “Kamu mau kan percaya sama aku? Ini cuma kesalahpahaman aja, Div. Aku bahkan sampai rela langsung balik ke Bogor buat ngasih tahu dan ngejelasin langsung ke kamu.” Dalam hati terdalam Divi, ia merasa tidak yakin. Namun egonya mengatakan hal lain. Egonya seolah mengatakan bahwa ia sudah negatif thinking pada Jayden. Bahwa ia sudah salah sangka. Tidak mungkin Jayden mengkhianatinya. Apalagi sebentar lagi mereka akan segera menikah. “Kamu mau kan percaya sama aku, Div?” tanya Jayden lagi karena masih belum mendapatkan jawaban apapun dari kekasihnya. Divi menghela napasnya. Ia mulai tersenyum cerah dan mengganggukkan kepalanya. “Oke. Aku percaya kok sama kamu, Jay.” Jayden menghela napasnya dengan lega. Ia merasa bersyukur bahwa kepulangannya yang mendadak membuahkan hal baik. Meskipun nyatanya dengan ini, itu tandanya bahwa ia memiliki besar yang sedang ditutupinya dari Divi. Tentang hubungan mereka. Tentang perselingkuhan yang sudah dilakukannya. Memeluk Divi, Jayden kemudian mengusap rambutnya dengan lembut. Maafin aku, Div. Kata Jayden dalam hati.[] *** bersambung >>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN