After Morning

1896 Kata
Bab 22 After Morning Laki—laki itu mengerjapkan matanya yang berat beberapa saat. Hingga akhirnya ia menyadari bahwa ia berada di sebuah kamar yang asing, barulah Jayden bangkit dari tempatnya berbaring dengan refleks dan tergesa—gesa. Seseorang di sampingnya yang mengalami keterkejutan karena ranjang yang bergoyang dengan tiba—tiba pun segera mengerjapkan matanya. Sang pemilik kamar nampak belum siap untuk membuka matanya. “Jay ... kenapa sih?” suara parau seorang gadis yang dikenalinya membuat Jayden secara refleks untuk mundur. Sabrina mendesah pelan. Mau tak mau, ia harus menghadapi sikap Jayden yang menjauhinya seolah ia adalah virus mematikan. “Lo apa—apaan sih? Jangan bilang kalau lo lupa sama apa yang kita lakuin semalam?” Jayden membelalakan matanya. Ia shock. Tangannya pun refleks membuka selimut yang menutup seluruh tubuhnya. Bayangan malam panas bersama Sabrina membuatnya terdiam sekaligus takut. Jayden memang laki—laki playboy dan suka gonta ganti pasangan, tapi ia tidak bersama wanita lain saat menjalin hubungan dengan seorang wanita. Menggelengkan kepalanya, Jayden merasa apa yang sudah terjadi padanya dan Sabrina adalah hal yang tidak benar sama sekali. “Jadi lo beneran lupa sama apa yang kita lakuin semalam?” tanya Sabrina kecewa. Padahal kegiatan panas semalam terasa begitu panas dan panjang. Penuh gairah dan begitu memuaskan. Namun kenapa Jayden bisa—bisanya melupakan hal penting yang seharusnya mereka ingat bersama? Jayden tak menanggapi ucapan Sabrina dan segera memutar kepalanya untuk mencari keberadaan pakaian miliknya. Ia mengambil kemeja miliknya yang berada di ujung sudut ranjang lalu ke luar dari selimut yang menutup nyaris seluruh tubuhnya. Dalam hati, Jayden merasa agak beruntung karena kebiasaannya yang hanya menyisakan celana dalamnya setelah selesai berhubungan intim masih dilakukannya. “Di mana kamar mandinya?” tanya Jayden pada Sabrina. Ia sama sekali tak menatap gadis yang sudah tidur bersamanya itu dan lebih memilih berpura—pura melipat kemeja yang dipakainya di pinggang. Menutup area sensitifnya. “Di samping kiri lo. Masuk aja,” kata Sabrina dengan santai. Menoleh ke arah kiri dan benar saja Jayden menemukan sebuah pintu. Ia meninggalkan Sabrina di atas ranjangnya tanpa banyak bicara lalu masuk ke dalam kamar mandi. Setelah berada di dalam kamar mandi, Jayden melepaskan kemeja yang dipakainya. Ia menggantungnya di belakang catokan baju di belakang pintu lalu duduk di atas kloset. Pagi ini, Jayden merasa sangat menyesal dengan apa yang sudah terjadi padanya. Pada hal yang sudah dilakukannya dengan wanita lain. Mendadak Jayden mengingat kondisi Divi. Bagaimana di awal hubungannya dengan Divi semua begitu indah, tapi kini hal yang sudah dilakukannya sudah tidak bisa dimaafkan? Apa jadinya jika Divi tahu bahwa ia sudah tidur dengan rekan kerjanya sendiri? Jayden memukul kepalanya dengan keras bermaksud untuk menghukum dirinya sendiri. Rasanya sakit. Mengusap wajahnya dengan kasar, setelahnya Jayden berniat untuk membasuh wajahnya di wastafel. Setelah merasa lebih segar dengan bantuan air, Jayden pun melihat sekelilingnya. Ia memastikan keberadaan handuk bersih di dalam laci kamar mandi, kemudian memutuskan untuk membersihkan tubuhnya sebelum ke luar dari kamar mandi. *** Sementara itu, di luar kamar mandi, Sabrina memakai kembali pakaian dalamnya. Ia baru saja menggunakan ponselnya untuk mengirim pesan pada atasannya di kantor. Membuat alasan seolah ia dan Jayden sedang bekerja di luar sebelum akhirnya sampai ke kantor. Sabrina membuat alasan bahwa ia dan Jayden sedang melakukan peninjauan lokasi secara real time. Meskipun tak mendapatkan balasan dari bosnya, Sabrina tak lupa memfoto dirinya pagi ini dengan muka bantal penuh senyum kemenangan. Dalam captionnya, Sabrina menulis. Friend don’t know the way you tasted. OMG. Setelah mengirim status di media sosialnya, Sabrina menoleh ke arah pintu kamar mandi yang tiba—tiba saja terbuka. Seseorang yang sejak tadi berada di dalamnya pun berjalan ke luar. Jayden sudah memakai kemejanya sedangkan bagian bawahnya tertutup oleh handuk putih. Sabrina tersenyum tipis, menggoda, tapi Jayden sama sekali tak menghiraukannya. Ia hanya berjalan menyelusuri kamar untuk menemukan celana panjangnya. “Nyari celana ya?” tanya Sabrina membuat Jayden berdehem. “Seharusnya tanya dong!” Mendengar perkataan Sabrina, Jayden menoleh. Tak lama kemudian ia melihat celana panjangnya yang berwarna hitam sudah berada di tangan gadis itu. Jayden berjalan mendekat, tapi Sabrina justru menyembunyikan celana yang dipegangnya ke belakang tubuhnya. Membuat Jayden gugup, apalagi gadis di depannya saat ini hanya memakai celana dalam dan bra—nya saja. Terlihat menggoda birahi laki—lakinya. “Mau lo apa sih?” tanya Jayden saat Sabrina terus menghalanginya mengambil celana. Sabrina terkekeh pelan. Ia duduk di pinggir ranjang sambil memeluk celana panjang milik Jayden lalu memulai bicaranya. “Jawab gue dengan jujur bisa?” “Gue nggak ada waktu buat main tanya jawab, Sabrina. Kita bahkan harus ke kantor!” “s**t! Ke kantor? ngapain? Gue bahkan udah bilang ke Pak Rian kalau kita ada urusan di luar.” “Lo bohongin Pak Rian?” “Why not?” tanya Sabrina balik. “Nggak masalah lah. Sekali—kali. Lagipula kita nggak mungkin datang tepat waktu ke kantor kalau kita nggak bohongin Pak Rian. Santai aja lah, Jay!” Jayden segera menarik celana yang sejak tadi ditahan oleh Sabrina. Ia sudah tak peduli lagi untuk bersikap lembut dengan wanita yang baru dicumbunya semalam. Merasa sikap kasar Jayden, Sabrina pun bangkit berdiri. Ia melihat bagaimana Jayden meninggalkannya kembali dan masuk ke dalam kamar mandi. Saat laki—laki itu ke luar, Jayden sudah memakai sempurna pakaiannya. Sabrina merasa kecewa pada Jayden. “Padahal semalam lo kayak seneeeng banget bersama gue. Tapi pagi ini, lo kayak benci banget!” Sabrina menghela napasnya. “Apa menurut lo gue menggoda lo, sampai lo ngerasa kalau gue udah memperkosa lo?” Jayden diam beberapa saat setelah Sabrina menyelesaikan kalimatnya. “Gue harap ini kali pertama dan terakhir kita kayak gini,” balas Jayden. Sabrina menghela napasnya dengan berat. Bahkan sebelum mengatakan apapun, Jayden sudah berjalan menuju pintu ke luar dari kamarnya. Saat pintu kamarnya perlahan kembali tertutup dari luar, Sabrina pun terduduk di atas ranjang. Ia kesal pada Jayden. Lebih kesal lagi bahwa semalam ia rela berada di bawah kuasanya, tapi laki—laki itu justru mendesahkan wanita lain dalam puncak kenikmatannya. “Sialan!” Sabrina berdecak pelan lalu bangkit dari ranjang. Ia harus menjalani kehidupan normalnya seperti biasa dan bersiap—siap untuk bekerja. *** Jayden sudah berada di kantornya saat ia baru saja menyadari bahwa ponselnya tertinggal di suatu tempat. Terakhir yang bisa diingatnya, ia masih melihat ponsel itu di kamar Sabrina. Namun karena buru—buru pergi, ia melupakan keberadaan ponselnya dan berlalu begitu saja. “Sial!” maki Jayden lebih pada dirinya sendiri. Ia benar—benar merasa sial. Seharusnya ia tidak meninggalkan benda sepenting ponselnya di rumah Sabrina. Apalagi jika mengingat perlakuannya sebelum meninggalkan apartemen gadis itu. Jayden benar—benar merasa sial! Ulangnya lagi dalam hati. “Jayden, di mana Sabrina?” tanya Pak Rian yang baru saja tiba di dekat mejanya. “Pak Rian,” Jayden mendongakkan kepalanya. “Sabrina masih di luar, Pak. Tadi dia bilang, mau ke toilet dulu. Mungkin sebentar lagi akan sampai—“ “Pak Rian,” suara gadis yang lemah lembut terdengar. Jayden melirik sebentar ke arah Sabrina dan bersyukur karena gadis itu sudah sampai ke kantor. “Pak Rian, nyari saya?” Pak Rian, laki—laki berusia akhir 40—an itu tersenyum. “Bagaimana pekerjaan di luar?” “Aman terkendali, Pak,” balas Sabrina dengan ceria. Pak Rian tiba—tiba mendekati telinga Sabrina lalu membisikkan sesuatu. “Saya tahu kamu bohong.” “Jangan kasih tahu, Papa ya, Pak!” balas Sabrina sambil ikut berbisik di telinga Pak Rian. Setelahnya ia menegapkan tubuhnya lalu tersenyum lebar ke arah sang atasan. “Oke. Kalau begitu, kalian bisa melanjutkan kerja kalian lagi!” Pak Rian pamit pada dua bawahannya lalu kembali berjalan menuju ruangan kerjanya yang berada di balik bilik ruangan. “Oh ya, Jay—“ Sabrina meletakkan ponsel yang ditemukannya di kamar apartemennya. “Hape lo kan?” Jayden menerima ponselnya dan menganggukkan kepalanya. Ia buru—buru memegangnya dan mengecek ponselnya yang masih dalam kondisi terkunci layar. Berarti tak mungkin jika Sabrina melakukan apapun pada ponselnya. “Thanks, Sabrina,” balas Jayden setelah beberapa saat terdiam. “Oke,” Sabrina kembali berjalan. Ia meninggalkan meja kerja Jayden. Namun beberapa langkah, ia kembali membalikkan badannya. “Gue hampir lupa,” katanya. Jayden menatap ke arah Sabrina yang berada di kejauhan. “Gue tadi angkat telepon dari Divi. Gue dengar dari suaranya, kayaknya dia khawatir banget sama lo.” “Kalau tahu itu bukan hape lo, seharusnya lo nggak usah angkat.” “Ckck,” decak Sabrina sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. “Kalo hape lo nggak berisik, gue nggak akan ngangkat panggilannya. Tapi si Divi ini nelepon lo nyaris tiga kali, jadi gue angkat lah! Jadi jangan sok nyalahin gue! b******k!” Sabrina yang kesal akhirnya memaki di akhir percakapannya. Ia menghela napas sambil memutar bola matanya dengan jengah. Setelahnya, ia pun kembali membalikkan badannya untuk berjalan menuju meja kerjanya sendiri. Sementara itu, Jayden mulai melihati ponselnya. Ia melihat bagaimana panggilan Divi benar—benar masuk, dengan tanda ikon berwarna hijau di riwayat panggilan. Menghela napasnya, Jayden kemudian melihat pesan—pesan yang belum sempat dibalasnya pada Divi, tapi sudah dibacanya. “Sial!” *** Sudah menjadi kebiasaan, jika seseorang menyesal karena telah melakukan kesalahan, maka yang dilakukan orang tersebut adalah bersikap baik pada orang yang sudah disakitinya. Kembali hal itu terjadi pada Jayden. Beberapa waktu lalu, ia merasakan hal itu kala berciuman dengan Sabrina beberapa waktu yang lalu, membuat perasaannya dipenuhi rasa bersalah pada Divi, sang kekasih. Namun setelah merasa kesal pada Divi, justru ia kembali tergoda bersama Sabrina lagi. Dan semalam adalah hal yang sangat fatal telah dilakukannya. Ia sudah b******u bahkan berhubungan badan dengan Sabrina dengan kondisi sadar. Meskipun sudah meminum beberapa minum keras sebelumnya di kelab malam. Jayden menghela napasnya kemudian menatap pesan Divi. Ia sudah hendak mengetik sesuatu tapi kembali dihapusnya. Ia mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan pada gadis yang kini berstatus sebagai pacarnya. “Jayden?” Suara laki—laki terdengar memanggilnya. Ia menoleh dan melihat bosnya, Pak Rian, sudah berdiri di depan meja kerjanya. “Iya, Pak?” “Kamu kelihatan berantakan sekali pagi ini?” tanya Pak Rian out of the topic. Maksudnya apaan nih? Pikir Jayden karena Pak Rian justru menanyakan penampilannya. Pak Rian tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya. “Lanjutkan kerjaan kamu!” katanya lagi lalu meninggalkan mejanya. Pak Rian menuju ke luar ruangan dan tak lama kemudian menghilang dibalik dinding. Jayden menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi lalu menghela napasnya dengan berat. Secara refleks, ia tak sengaja menoleh ke arah Sabrina yang berada di samping kirinya. Mejanya dekat dengan ruang kantor Pak Rian. Saat Sabrina justru melihat ke arahnya, Jayden pun buru—buru membuang muka. Ia tidak mau bertatapan lama—lama dengan wanita yang sudah menggodanya semalam dan memberikannya pengalaman panas yang masih tertanam dengan rapi di kepalanya. Bagaimana tubuh putih dan mulus itu bisa disentuhnya dengan leluasa. Bagaimana ia akhirnya bisa mendengar desahannya. Rasanya sungguh luar biasa jika diingat. Plak! Tangan Jayden menampar wajahnya sendiri. Ia merasa bodoh karena membayangkan hal yang seharusnya tak boleh terjadi. Sial! Kenapa malah gue inget—inget? Wajah Jayden terlihat begitu frustrasi. Dan tanpa sadar, ia merasa bersalah juga pada Sabrina. Ia berhubungan dengan Sabrina bukan karena gadis itu yang menggodanya. Ia sendiri, sama menginginkannya. Ya Tuhan, betapa brengseknya aku! Jayden ingin sekali berteriak. Namun yang dilakukannya hanyalah mendesah dengan berat. Malam sialan! Maki Jayden dalam hatinya.[] *** bersambung >>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN