Bab 21
Tergoda
Dug jedag jedug, jedag jedug….
Suara kebisingan terdengar dari musik disk jockey yang malam ini membuat musik dugem asyik di kelab malam yang didatangi oleh Jayden dan Sabrina.
Sabrina sudah meninggalkan Jayden yang kini duduk di kursi depan meja bartender sedangkan dirinya sudah ikut menggoyangkan tubuhnya dengan lihai di lantai dansa.
Tiga kancing kemeja yang dipakainya sengaja ia lepas sehingga tank top yang dipakainya terlihat oleh orang lain. Gadis itu merasa gerah sekaligus ingin mengoda orang—orang, atau lebih tepatnya laki—laki di sekitarnya.
Sesekali juga gadis itu melihat ke arah Jayden yang terus memunggunginya. Gadis itu tak habis pikir kenapa laki—laki yang sudah bekerja bersamanya itu nyaris tak tergoda padanya.
Sabrina tahu bahwa Jayden sudah punya kekasih hati, tapi selama ini ia mengabaikannya. Toh pacar Jayden saat ini berada di Bogor, sedangkan ia dan Jayden berada di Jakarta. Bukankah itu sama sekali tak masalah asal Jayden mau dengannya?
“Hai?” suara seorang laki—laki terdengar di dekat Sabrina.
Gadis itu menoleh sejenak lalu tersenyum tipis. “Hai!”
“Sendirian aja?”
“Partner—ku sedang bored. Dia lebih suka minum daripada menggoyangkan tubuhnya seperti ini,” Sabrina meliukkan tubuhnya dengan seksi di samping laki—laki yang menghampirinya.
Sang laki—laki hidung belang terkekeh pelan. “Bagaimana bisa ada seseorang yang merasa bosan ketika berada bersamamu?”
Sabrina terkekeh pelan. Ia mendekatkan wajahnya pada laki—laki yang belum dikenali namanya itu. “Ada, dan itu partner—ku. Hahaha....”
Sang laki—laki pun ikut tertawa. Mereka tertawa bersama dan berdansa bersama. Menikmati alunan lagu malam yang meriah. Membuat hati mereka melupakan masalah yang mereka alami saat ini. Membuang semuanya dengan gerakan tak beraturan di atas lantai dansa.
***
[ Jay, kamu lagi ngapain? Ada yang mau aku omongin. ] –Divi.
Setelah menyentuh layar ponselnya, pesan singkat itu Jayden baca. Ia terdiam sejenak, memikirkan hal apa yang akan dibicarakan oleh kekasihnya itu.
Namun setelahnya ia menutup pesan dari Divi dan menghela napasnya dengan berat. Ia merasa belum siap untuk mendengar apapun dari mulut Divi. Mengetahui informasi apa yang diucapkannya nanti rasanya seperti bom molotof untuknya. Jadi, lebih baik ia mengabaikan pesan singkat dari kekasihnya itu. Nanti jika perasaannya lebih baik, ia akan membalas pesannya.
Jayden bangkit berdiri. Ia melihat ke belakangnya. Ke arah lantai dansa yang ada kini berada di depan matanya.
Luapan manusia berada di sana sedang menggoyangkan tubuh mereka dengan ritme dansa yang tidak beraturan. Kebanyakan mereka terlihat begitu nyaman dan senang menikmati lagu dugem yang tergaung malam ini.
Dari tempatnya berdiri, Jayden melihat Sabrina mulai ke luar dari lantai dansa. Ia berjalan ke arahnya dengan gerakan tubuh yang sempoyongan.
Setelah sampai di depannya, Sabrina pun duduk di kursi. Ia mengabaikan Jayden sama sekali, seolah laki—laki yang berada di sampingnya itu makhluk tak kasat mata.
“Erwin, aku butuh alkohol,” kata Sabrina bar—bar. Setelah mendapat respon dari Edwin, Sabrina pun menoleh ke sampingnya.
Jayden kini sudah terduduk kembali ke kursi, duduk di samping Sabrina.
“Hai,” Sabrina menatap Jayden dengan mata memicing.
Jayden yang bingung ditatapan tajam pun berdehem. Ia hanya meyakini bahwa gadis di sampingnya sudah mabuk sekarang.
“Apa semua cowok itu sama? Pikiran kalian ketika melihat wanita seksi hanya menginginkan tubuhnya ya?” tanya Sabrina membuat Jayden membuang muka.
“Kenapa diam saja? Apa perkataan gue benar jadi lo malu dan sadar diri?” tanya Sabrina lagi. Jayden tetap tak menanggapi pertanyaan Sabrina.
Sabrina berdecak kesal. Tepat beberapa detik kemudian, ia menerima gelas berisi red wine di depannya, di atas meja.
Memutar red wine yang ada di dalam gelas yang dipegangnya beberapa saat, setelah itu Sabrina pun meminumnya secara perlahan. Ia minum lalu mendesah berat.
“Gue tadi ketemu cowok. Sayang banget, kebanyakan yang gue temuin itu cowok berengsek! Baru ketemu dia udah ngajakin gue booking hotel. What the fŭcking man!”
“Lo mungkin nggak sadar, tapi laki—laki bertingkah sesuai dengan kadar wanitanya. Kalau lo mau ketemu cowok baik—baik, lo coba datangin masjid!”
Sabrina terkekeh pelan setelah mendengar balasan dari mulut Jayden. “Are you serious?”
“Bisa jadi kan. Memang apa yang bisa lo harapin dari berada di kelab malam? Lo sendiri apa ngerasa cewek baik—baik sampai lo pengen dipertemukan oleh takdir dengan cowok baik—baik?”
Pertanyaan telak. Sabrina merasa perkataan Jayden ada benarnya. “Tapi gue pernah ketemu cowok bukan di kelab malam. Tetap aja akhirnya dia berengsek! Lo sendiri gimana, Jay?” tanya Sabrina balik. “Sejauh apa lo berhubungan sama cewek? Lo pernah seks dengan pacar—pacar lo?”
Jayden terkekeh pelan. “Kenapa lo jadi penasaran soal oriantasi gue saat berhubungan dengan cewek?”
“Gue ngerasa aneh aja! Nggak mungkin kan lo nggak tergoda sama pesona gue sekarang?”
Mata Jayden tanpa sadar memperhatikan bibir Sabrina lebih lekat. Bibir manis itu pernah dicumbunya begitu mesra.
Setelah tersadar dari lamunan gilanya, Jayden segera membuang muka sambil melihat ke arah bartender yang kini memperhatikannya dengan wajah menggoda.
Erwin tersenyum tipis dan Jayden tak mempedulikannya.
“Gue udah punya pacar. Gue nggak akan tergoda oleh cewek lain semudah itu.”
Sabrina mencengkram pegangan gelasnya dengan erat. Rasanya kesal bahwa Jayden sesetia itu pada pasangannya yang sama sekali tak berada di sisinya.
“Gue nggak tahu, apa itu sekedar mimpi gue atau memang kenyataan,” Sabrina bangkit dari kursi yang didudukinya. Ia mendekati Jayden hingga posisi mereka nyaris berpelukan. “Gue rasanya pernah merasakan bibir lo. Rasanya begitu nyata dan panas,” lanjut gadis itu dengan berbisik di telinga Jayden.
Laki—laki itu terdiam. Ia tercengang dengan apa yang baru saja di dengarnya. Jadi Sabrina mengingat semua itu? Ia mengingat bahwa mereka pernah berciuman dengan sangat panas.
Melihat wajah Jayden yang terdiam, Sabrina setelahnya menyentuh pipi laki—laki yang berada di dekatnya. Ia memperhatikan dengan baik bagaimana Tuhan memberikan wajah yang tampan untuk Jayden? Beruntungnya gue bisa melihat ciptaan Tuhan yang indah seperti ini! Pikir Sabrina.
Jayden menahan tangan Sabrina yang terus menyelusuri wajahnya. Ia membiarkannya beberapa saat hingga tangan gadis itu menyentuh bibirnya. Ia pun menahan Sabrina untuk berhenti.
“Kenapa?” tanya Sabrina sambil tersenyum menggoda. Tatapannya begitu percaya diri.
Jayden menarik tangan Sabrina hingga tubuh rekan sekantornya itu begitu bertubrukan dengannya. Jayden bisa merasakan suatu benda yang padat dan berisi mengenai dadanya. Tubuh mereka sudah sangat dekat bahkan lekat.
Sabrina tersenyum menggoda lagi. Ia suka dengan apa yang baru saja Jayden lakukan. Setelahnya tak menunggu lama, Jayden dan Sabrina pun berciuman dengan panas. Tak peduli bahwa mereka berada di depan umum, mereka hanya menikmati cumbuan yang terasa begitu panas dan mendebarkan.
Keduanya begitu terjerat oleh birahi masing—masing. Tak ada yang melepaskan diri dan keduanya saling menuntut untuk meminta lebih.
***
Divi terdiam di atas kasurnya. Ia sudah mengubah posisinya menjadi duduk sambil mencoba menghubungi nomer Jayden. Namun anehnya setelah membaca pesannya tanpa membalas, nomer sang kekasih justru tak bisa dihubungi.
“Jay, kamu ke mana sih? Kamu baik—baik aja kan?” Divi bicara sendiri dengan khawatir. Ia merasa hari ini ada yang tidak beres dari Jayden. Laki—laki itu tidak membalas pesannya bahkan mengangkat teleponnya.
Merasa khawatir, Divi kemudian memikirkan hal lain. Ah paling Jayden lagi kerja. Pasti deadline pekerjaannya sedang banyak jadi tidak sempat membalas pesannya.
Divi terus mengafirmasi pikiran positif di benaknya. Ia punya pikiran negatif itu, tapi ia terus memasukkan pikiran positif itu dan merasakan bahwa semuanya baik—baik saja.
Setelah beberapa saat, Divi pun akhirnya meyakini bahwa Jayden –kekasihnya—sekarang sedang berada di rumah kostnya di Jakarta. Pasti Jayden sedang kelelahan karena sekarang senin, dan tugas kerjaannya pun menumpuk.
Sama seperti Jayden, Divi juga punya pekerjaan yang banyak. Namun, ia bisa menghandlenya dan menyelesaikannya di kantor.
Divi menghela napasnya kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia mematikan lampu tidur kemudian berbaring di atas ranjang dengan nyaman.
Beberapa saat kemudian, Divi pun tertidur dengan lelap.
***
Divi baru saja bangun saat ia melihat seseorang berada di kamarnya. Membukakan gorden jendela di kamarnya hingga membuat kamarnya terasa agak terang meskipun tetap suram.
“Div, cepet bangun! Kamu udah telat ini!”
“Masih gelap juga, Ma!”
“Iya, gelap mendung. Makanya cepet mandi terus siap—siap berangkat kerja,” kata Mama Kayla lagi. Setelah membukakan tirai kamar anaknya, Mama Kayla pun kembali ke luar dari kamar.
Sepeninggalan ibunya, Divi terduduk dengan mata yang masih berat. Ia menguap. Sekali. Dua kali. Bahkan tiga kali. Setelahnya ia melihat ke sekelilingnya dan mendapati cuaca di luar yang mendung.
Bangkit berdiri, Divi pun mulai meregangkan tubuhnya sejenak. Kakinya ia naikkan ke atas ranjang lalu membuat gerakan membungkuk berulang kali. Setelah cukup menyadarkan dirinya, Divi mendekati jendela kamarnya.
Membuka jendela kamarnya sebentar, Divi pun bisa melihat suasana di luar yang temaram dengan hawa yang makin dingin.
Buru—buru Divi menutup kembali jendela kamarnya rapat—rapat. Setelahnya, ia bersiap membawa jubah mandi. Ia harus mandi dan bersiap ke kantor meskipun cuaca sedang tidak cerah hari ini.
***
Divi masuk ke dalam kantornya dengan aman, tanpa kebasahan berkat payung yang dipakainya. Benar saja, dalam perjalanan menuju kantor, Divi akhirnya mendapati jalanan mulai hujan. Awalnya cukup deras tapi saat sebentar lagi sampai di kantor, ia mendapati hujan mulai reda. Meskipun masih tetap hujan.
“Pagi!” Divi mendapati seseorang berada di belakang tubuhnya. Kala ia menoleh, Divi melihat seseorang yang cukup dikenalnya.
“Kak Bagas?” suara Divi terdengar kebingungan.
Bagas tersenyum tipis lalu menutup payung yang tadi dipegangnya. Ia menyimpannya di penyimpanan payung kemudian membalas. “Kenapa muka kamu kayak orang kebingungan gitu?”
“Kaget aja. Soalnya saya baru ngelihat Kak Bagas lagi. Kak Bagas lagi ngapain di sini? Apa nyari seseorang?”
Divi masih kebingungan. Karena setahunya, Bagas yang merupakan kakak kelasnya di perkuliahan dulu, setahunya bekerja di Jakarta. Kenapa jadi berapa di Bogor?
“Nggak. Saya nggak nyari seseorang,” balas Bagas. “Saya mulai hari ini kerja di sini.”
Deg!
Divi kaget bukan main. Pasalnya, kemarin saat ia rapat sebelum pulang dari kantor, bosnya mengatakan bahwa kemarin adalah hari terakhirnya sebagai bos mereka dan hari ini akan ada bos baru yang menggantikannya.
“Apa jangan—jangan Kak Bagas kepala redaksi yang baru ya?” tanya Divi ragu—ragu.
Bagas setelahnya tersenyum. “Aku senang karena ternyata di sini, aku sudah punya kenalan. Iya, Div, aku kepala redaksi yang baru. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ya?” Bagas mengulurkan tangannya dan Divi pun segera menerima jabatan tangan itu. Mereka bersalaman sejenak.
“Baik, Pak. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ya, Pak.” Divi mendadak canggung. Ia bahkan sudah siap memanggil Kak Bagas dengan panggilan Pak Bagas. Panggilan hormatnya pada sang bos baru.
Bagas setelahnya terkekeh pelan. “Nggak perlu terlalu formal. Aku merasa aneh karena kamu jadi memanggilku Pak.”
“Maaf, Pak. Saya akan mulai membiasakan diri untuk memanggil Pak Bagas,” kata Divi kaku.
Bagas mendesah pelan. Namun, karena khawatir jika akan membuat Divi tidak nyaman, ia pun membiarkan gadis itu melakukan apapun yang diinginkannya.
“Kamu bisa tolong aku, antar ke ruanganku?” tanya Bagas.
Divi segera menganggukkan kepalanya. “Tentu, Pak.” Divi sadar bahwa ia masih canggung memanggil Pak. Namun yang dilakukannya kala merasa canggung adalah dengan tersenyum. “Mari, saya antarkan ke ruangan Pak Bagas.”
Divi melangkahkan kakinya lebih dulu. Bagas yang berada di sampingnya pun mengikuti. Mereka berjalan masuk ke dalam kantor redaksi harian surat kabar itu bersama.
***
Setelah mengantarkan Pak Bagas ke ruangannya, Divi pun menuju ke meja kerjanya. Baru saja duduk, ia sudah mendapat banyak pertanyaan dari rekan kerja satu timnya.
“Mbak, tadi siapa? Bos baru kita ya?”
“Iya.”
“Kok ganteng banget ya,” komentar salah satu di antara mereka.
“Emang ganteng sih,” kata Divi tiba—tiba. “Pak Bagas dulu kakak angkatanku di kampus. Dia salah satu anggota Mapala yang cukup terkenal karena kegantengannya.”
“Lo sama bos baru udah saling kenal sebelumnya?” tanya Hana mewakili pertanyaan teman—teman yang lain.
Divi menganggukkan kepalanya. “Dulu gue pernah ikut mading dan dia jadi kepala madingnya. Dia kan lulusan jurusan sastra Indonesia.”
“Feeling gue kayaknya sih bos baru kita nggak akan beda dari bos kita yang dulu.”
“Jangan bicara kek gitu lah, Han! Kita doain aja semoga bos kita lebih ramah sama kita, anak buahnya.” Divi tidak setuju dengan perkataan Hana. “Lagian dulu Pak Bagas orangnya ramah kok.”
“Ramah?” semua orang mulai bertanya—tanya. Apakah benar calon bos mereka itu akan ramah?[]
***
bersambung >>>