Bab 20
Makan Bersama
Wanita paruh baya itu berjalan memasuki restoran Midas di mana sudah melakukan reservasi sebelumnya. Ia mengatakan pada pelayan bahwa sudah membuat reservasi meja nomer 23 dan segera diantarkan ke sana.
Sesampainya di dekat meja nomer 23 itu, wanita paruh baya dengan rambut digelungnya ke belakang itu menatap dengan waspada wanita yang sedang membelakanginya sekarang.
Berjalan dengan sesantai mungkin, akhirnya Mama Kayla pun mencapai kursi makan di meja nomer 23. “Selamat sore!”
Wanita dengan senyuman manisnya itu mendongak kala mendengar seseorang menyapanya. “Selamat sore juga,” kata Mama Nia sambil tersenyum ramah. Ia bangkit berdiri dan segera bercipika—cipiki dengan calon besannya.
“Maaf ya, Bun, saya telat datangnya.”
Mama Nia tersenyum saat mendengar panggilan Bun yang disematkan oleh ibunda Divi. “Nggak papa kok, Bun. Saya juga baru datang.”
Mama Kayla tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Oh ya, perkenalkan ... saya Kayla, Mamanya Divi.” Tangan Mama Kayla terulur ke depan, ke arah Mama Nia.
Menjabat tangan Mama Kayla, Mama Nia pun tersenyum. “Salam kenal, Bu. Saya Nia, ibu sambungnya Jayden.”
Mama Kayla menganggukkan kepalanya. “Oh iya, Bun Nia. Salam kenal juga.” Setelahnya keduanya saling senyum untuk beberapa saat. Dalam suasana yang canggung, Mama Nia pun kembali bersuara.
“Oh ya, silakan duduk,” kata Mama Nia.
“Oh iya,” balas Mama Kayla yang tersadar bahwa ia masih berdiri. Setelahnya ia menarik kursi makan lalu duduk di atasnya. “Oh ya, Bun, Divi tadi berpesan, katanya bakal telat buat ke sini. Jadi nanti kita bisa ngobrolin berdua saja lebih dulu soal lamaran nanti.”
Mama Nia menganggukkan kepalanya. “Iya, Bu Kayla,” balas Mama Nia. “Tadi juga saya udah dapat pesan dari Divi. Divi bilang ada briefing dulu jadi nggak agak telat ke luar dari kantornya.”
“Jadi Divi udah ngasih tahu, Bun?”
“Iya, Bu.”
“Ya sudah kalau begitu kita langsung bahas saja,” kata Mama Kayla.
“Sebentar, Bu. Apa nggak lebih baik kalau Ibu Kayla pesan minuman atau makanan lebih dulu?” tanya Mama Nia mengingatkan.
Mama Kayla pun setuju. Ia dan Mama Nia pun mulai memesan minuman untuk mereka dengan camilan berupa cake kenari. Setelah selesai memesan dan menunggu pesannya di antar ke meja mereka, keduanya pun kembali mengobrol.
“Maaf, Bun. Bunda sama Jayden apa dekat hubungannya?” tanya Mama Kayla mendadak ingin tahu. “Soalnya saya agak penasaran karena yang menghubungi Divi dan minta bertemu dengan saya ya Bunda. Bunda kan ibu sambungnya ya?” lanjut Mama Kayla. “Sebelumnya saya mohon maaf sekali jikalau pertanyaan saya kurang sopan.”
Mama Nia pun segera menggelengkan kepalanya. “Nggak papa kok, Bu. Saya merasa wajar kok. Apalagi kan kita nantinya akan jadi keluarga. Jayden nantinya akan jadi menantu Ibu Kayla. Jadi pasti Ibu Kayla penasaran dengan silsilah di keluarga Jayden.”
Mama Kayla menganggukkan kepalanya. “Saya mohon maaf ya, Bun, kalau dirasa kurang sopan.”
“Nggak papa, Bu. Saya malah senang, karena itu tandanya Bu Kayla tidak abai sama sekali soal Jayden dan keluarganya.”
Mama Kayla kembali mengangguk lalu terdiam beberapa saat. Ia mulai membuka saluran pendengarannya dengan baik untuk mendengar cerita keluarga Jayden dari mulut ibu sambungnya.
“Sebenarnya setahu saya, Jayden tidak terlalu dekat dengan ibu kandungnya. Dulu saat masih kecil, Papa Jayden dan Mamanya Jayden bercerai. Setelah bercerai, yang saya dengar dari cerita Papanya, Mamanya Jayden ini kayak membuang Jayden untuk tinggal di rumah neneknya.”
Mama Kayla yang mendengar cerita dari Mama Nia mendadak mencelos. “Kok bisa begitu, Bun?” tanyanya penasaran. “Masa sih ada ibu yang bisa—bisa membuat anaknya. Mungkin itu cuma dititipin, Bun?”
“Ya saya juga pas pertama dengar nggak percaya. Tapi saya dengar langsung dari mulut ibu kandungnya Jayden saat kita bertemu. Mamanya Jayden kayak nggak peduli sekali dengan anaknya. Saya sampai heran, kok ada ibu kayak begitu.”
Mama Kayla menghela napasnya.
“Ya ampun. Kok saya malah kayak jelek—jelekin ibu kandungnya Jayden ya. Mohon maaf loh, Bu. Saya soalnya kalau keinget ibu kandungnya Jayden sering ikut kesel!”
“Iya, Bun. Nggak papa. Saya juga ngerasa harus tahu biar saya paham kenapa karakter Jayden seperti ini atau itu nantinya. Saya yakin sekali kalau perkembangan karakter seseorang terjadi karena hal—hal yang sudah dilaluinya.”
“Sepertinya Bu Kayla banyak paham soal psikologis seseorang.”
“Nggak juga, Bun. Saya hanya tahu sedikit.”
“Lebih baik tahu sedikit, Bu, daripada tidak sama sekali,” Mama Nia tersenyum tipis. “Jadi nantinya saya mohon maaf ya, semisal sikap Jayden tidak baik. Tolong sekali minta pengertiannya! Karena sejujurnya, saya sendiri kurang dekat dengan Jayden. Jayden selama ini selalu menjaga jarak dengan keluarga kami bahkan pada ayah kandungnya sendiri.”
“Bukannya Jayden kemarin pergi ke rumah ayahnya? Saya tahu dari Divi,” kata Mama Kayla mendadak bingung.
“Iya. Saya juga kemarin shock sekali melihat Jayden datang di rumah. Jayden juga mengatakan soal niatannya untuk menikah dengan Divi. Saya senang sekali karena Jayden akhirnya akan segera menikah. Padahal dulu, yang saya tahu dari papanya, Jayden ini cukup sering gonta ganti pacar.”
“Jayden playboy ya, Bun?” Mama Kayla mendadak khawatir setelah mendengar fakta tentang laki—laki yang sebentar lagi akan menjadi suami anaknya itu.
“Nggak kok, Bu Kayla,” Mama Nia merasa bersalah karena ia salah bicara. Lebih tepatnya bahwa ia keceplosan bicara mengenai sikap Jayden yang suka gonta ganti pacar. Ya ampun, Nia, awas kalau ketahuan Jayden, kamu pasti akan dapat masalah besar! Mama Nia pun mulai waspada. Ia tidak boleh menjelek—jelekan soal Jayden pada calon ibu mertuanya.
“Jayden itu orangnya sangat mandiri. Sejak neneknya meninggal, dia memutuskan untuk tinggal sendiri di rumah yang dulu ditinggalinya saat masih kecil. Bahkan untuk kuliah dan mencari pekerjaan, Jayden melakukannya sendiri. Papanya nggak tahu menahu. Dan misal Papanya mau bantu, dia pasti akan menolak.”
“Ya ampun, kenapa sampai sebegitunya, Bun?” tanya Mama Kayla. Tak habis pikir dengan kemandirian Jayden sampai bisa membiayai hidupnya sendiri.
“Karena memang Jayden tidak mau berurusan dengan keluarga kami. Jayden selalu merasa canggung dan tidak ingin berurusan dengan keluarga kami, Bu.”
“Maaf, Bu, apa saya boleh bertanya. Apa mungkin Ibu kurang menyukai Jayden jadi Jayden merasa tak ingin berurusan dengan keluarga baru ayahnya?”
“Kalau saya sendiri sejujurnya tidak masalah dengan Jayden, Bu. Saya menikah dengan papanya Jayden dan sejak awal tahu masa lalunya yang sudah pernah gagal membina rumah tangga. Saya tahu dengan jelas bahwa suami saya punya anak laki—laki saat itu. Saya sangat sadar bahkan setelah rumah saya dan suami bisa dibangun, saya ingin mengajaknya tinggal bersama. Namun hanya dua hari Jayden mau tinggal bersama saya dan ayahnya. Setelahnya dia pulang ke rumah neneknya. Katanya dia tidak betah.”
Mama Kayla merasa tak enak hati mendengar cerita keluarga Jayden yang cukup rumit. “Oh ya, Bu, soal pernikahan. Saya sama suami saya sudah sepakat agar lebih baik jika pernikahannya diadakan di KUA saja. Tidak perlu diadakan resepsi.”
“Loh kenapa, Bu?” tanya Mama Nia. “Biasanya dari pihak perempuan pengin acara resepsi yang meriah.”
Mama Kayla mendadak terdiam. Sepertinya lawan bicaranya ini belum tahu soal rahasia penting mengenai pernikahan Jayden dan Divi nanti. Soal kehamilan anaknya.
“Bu Kayla?” tanya Mama Nia. Tak lama kemudian pelayan mengantarkan minuman dan cake kenari di atas meja Mama Nia dan Mama Kayla. Keduanya menata meja makan lalu menikmati minuman mereka. Mereka pun melupakan sejenak mengenai obrolan mereka.
***
Jayden terdiam sambil melihat makanan di depannya. Tadi siang, ia makan bersama Sabrina. Malam ini, kembali ia menikmati waktu makan malamnya sepulang dari kantor bersama Sabrina.
Sejenak Jayden melupakan kekesalannya kala di Bogor. Masalahnya di sana seolah menyedot dirinya beberapa waktu lalu, tapi kala ia memasrahkan segalanya dan menikmati waktunya bersama Sabrina, ia pun mulai lebih relaks.
“Jay, habis ini kita ke kelab yuk?” ajak Sabrina sambil memegang sumpitnya. Kukunya yang baru di nail art terlihat indah tapi sekaligus mencolok mata Jayden yang tidak terlalu suka dengan nail art. Beberapa mantannya pun banyak yang mewarnai kukunya dengan berwarna warni, sayangnya ketika mereka memiliki kuku yang indah, tingkat ke-sensitifitas mereka bertambah besar. Membuatnya harus banyak sabar menghadapi sikap mereka.
Jayden menganggukkan kepalanya. “Boleh deh,” katanya lalu memakan kembali sushi yang ada di depannya. Mereka memang sedang menikmati makan malam di restoran khas Jepang yang ada di dekat kantor.
“Jay,” kata Sabrina lagi. “Lo ada masalah di Bogor?”
Jayden meminum green tea miliknya lalu menggeleng pelan. “Nggak ada,” jawabnya dengan lancar, berbohong.
“Ckck,” decak Sabrina. “Masih aja mengelak. Lo tuh udah kelihatan banget kalau ada masalah di Bogor.”
“Ya lagian ngapain sih lo kepo segala,” kata Jayden akhirnya. Ia menghela napasnya dan berhenti untuk makan.
“Bukan kepo, Jay, tapi gue perhatian. Gue cuma ngerasa aneh aja sama lo. Ya syukur—syukur kalau lo mau cerita ke gue,” kata Sabrina akhirnya. “Kita kan rekan kerja. Tiap hari saling ketemu. Kayak aneh aja kalau lo main rahasia—rahasiaan ke gue.”
“Emang letak anehnya di mana?” tanya Jayden balik. “Gue juga kan nggak pernah tahu rahasia lo. Jadi kita impas kan. Kita sebagai kolega di kantor, bukan teman atau sahabat.”
Sabrina mendadak melepaskan sumpit yang dipegangnya. Tangannya menyentuh dadanya yang seolah baru saja tertusuk pisau kecil tak kasat mata. “Perkataan lo benar—benar bikin sakit hati. Gue kira lama—lama kita bisa jadi temen, tapi ternyata lo masih nganggap gue sekedar kolega di kantor.”
Menggelengkan kepalanya, setelah itu Sabrina mengambil air putih yang ada di atas meja. Ia meminumnya dan diam beberapa saat.
Jayden sendiri tak mengatakan apapun.
“Lo mau tahu nggak rahasia gue?” tanya Sabrina.
Jayden menggelengkan kepalanya. Ia bahkan segera bangkit berdiri. “Gue mau ke toilet dulu,” katanya, bermaksud melarikan diri dari Sabrina.
Sabrina mendesah pelan dan menunggu Jayden kembali ke meja makan mereka.
Sekembalinya Jayden, Sabrina pun bergantian pergi ke toilet.
Sementara Sabrina pergi ke toilet, Jayden pun memanggil pelayan. Ia hendak membayar bil pesanan mereka.
“Iya, Pak.”
“Saya minta bill,” kata Jayden.
Pelayan restoran itu terdiam sejenak lalu tersenyum ramah. “Maaf, Pak, tapi pesanan sudah dibayar oleh teman Bapak.”
Jayden merasa sungkan. Ia melihat ke arah meja yang tadi diduduki oleh Sabrina lalu terdiam sejenak. “Hmm ... ya udah, Mbak. Makasih ya.”
Setelahnya pelayan restoran itu pun kembali meninggalkan Jayden. Sedangkan Jayden merasa tak enak hati pada Sabrina. Tadi siang ia makan bersama Sabrina dan gadis itu yang membayar bill tagihan mereka. Malam ini mereka makan malam bermaksud Jayden hendak membayar bill tagihan, tapi lagi—lagi Sabrina mendahuluinya dengan membayar bill tagihan makanan mereka saat ia berada di toilet.
“Kenapa?” tanya Sabrina saat ia kembali ke meja makan. Ia menemukan wajah Jayden berubah begitu datar. Seolah sedang kesal sekali.
“Kenapa udah dibayarin lagi bill—nya? Kan udah gue bilang sekarang giliran gue buat mentraktir lo!” ketus Jayden.
Sabrina seketika tertawa mendengar pertanyaan dari Jayden. “Ya ampun, gue bayarin malah muka lo nyebelin gini? Nggak habis pikir gue, Jay! Lo tuh seharusnya seneng karena nggak perlu buka dompet.”
“Gue bukan cowok kayak gitu ya!” ketus Jayden lagi.
Mendengar nada kesalnya membuat Sabrina berhenti terawa. “Sorry deh kalau lo nggak suka,” balas Sabrina. “Gue kan emang banyak duit jadi gue bayar duluan. Kalau lo tetap nggak suka, besok aja lo gantian traktir gue makan siang dan makan malam. Gimana?”
Jayden mendadak terdiam. Jika ia menyetujuinya, itu berarti bahwa ia dan Sabrina akan menghabiskan waktu bersama lagi untuk besok. Rasanya tidak benar mengingat bahwa ia sebentar lagi akan menikah dengan Divi.
“Gimana?” tanya Sabrina lagi, memastikan.
Jayden yang sejenak mengingat akan Divi pun segera mengganggukkan kepalanya. Ah persetan dengan Divi, ia kesal padanya karena harus hamil dan membuatnya berada dalam kondisi yang tak disukainya –yakni bertemu dan mengobrol dengan ayah kandungnya lagi-.
“Nah gitu dong!” Sabrina tersenyum lebar. Ia mengambil tas kerja sekaligus blazer yang sejak tadi tidak dipakainya dan tersampir di kursi kosong di sampingnya. “Habis ini kita jadi ke kelab malam kan?” tanya Sabrina dengan mata bercahaya. Gadis itu benar—benar senang jika bisa pergi ke kelab malam.
Jayden pun bangkit berdiri. “Apa nggak jum’at malam saja kita ke kelab malam ya?” tanya Jayden. Ia mulai meragukan dirinya yang hendak pergi ke kelab malam di senin malam. “Besok juga kan kita masih harus kerja.”
“Nggak lama kok. Cuma minum segelas bir saja kayaknya udah cukup. Ayolah, Jayden!” gumam Sabrina dengan suaranya yang memanja minta pergi ke tempat hiburan malam itu.
Jayden tidak langsung menjawab. Ia berpikir beberapa saat hingga akal sehatnya mulai memudar kala Sabrina menyentuh lengannya. Memeluknya dengan manja dan bersuara selayaknya anak anjing yang meminta sesuatu dari majikannya.
“Ayolah, Jayden! Kita pergi ke kelab malam sebentar. Ya? please....”
Mendesah berat akhirnya Jayden pun berdeham. Ia menuruti permintaan dari gadis di sampingnya. Mereka pun berjalan menuju tempat parkiran mobil Jayden.[]
***
bersambung >>>