Kesal Tak Beralasan

1928 Kata
Bab 19 Kesal Tak Beralasan Hati Jayden merasa tak nyaman sejak ia pulang dari rumah ayahnya. Ia benar—benar tidak suka dengan apapun yang berhubungan dengan sang ayah. Rasa kesalnya pun kini disangkut pautkan pada Divi. Ia merasa kesal pada Divi yang memintanya datang kembali untuk melamarnya sambil membawa serta orang tua. Jayden ingat dengan benar jika ia pernah menceritakan tentang hubungannya dengan kedua orang tuanya yang tak terlalu dekat. Namun sepertinya Divi tak bisa memahaminya karena ia berasal dari keluarga yang harmonis. Mencengkram setir mobilnya dengan kuat, Jayden pun kemudian menginjam gas mobilnya lebih kuat. Emosinya membuat Jayden tanpa sadar mengendarakan mobilnya dengan laju cepat di lajur tol yang dilaluinya. Ia sudah berada di lajur tol karena setelah pulang dari rumah ayahnya, ia langsung pergi ke Jakarta. Ia bahkan sudah menyiapkan tas backpack yang berisi keperluannya kala di Jakarta. Sesampainya di rumah kostnya, Jayden pun segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Waktu masih menunjukkan pukul 01.00 dini hari dan tak lama kemudian ia pun terlelap begitu saja. *** Divi melihat notifikasi pesan di ponselnya. Sama sekali tak ada balasan dari Jayden, padahal semalam ia bertanya pada kekasihnya itu soal pertemuannya dengan keluarga ayahnya kemarin. Namun sama sekali tak ada balasan. “Apa semuanya baik—baik aja ya?” tanya Divi pada dirinya sendiri. Ia menaruh ponselnya lagi lalu mulai memoleskan make up sederhana yang biasa digunakannya ke luar rumah. Hari ini senin dan ia harus pergi ke kantor seperti biasanya. Sedang asyik mengoleskan bedak di wajahnya, Divi terhenti sejenak saat mendengar ponselnya berbunyi. Ia langsung mengecek dan berharap bahwa yang meneleponnya adalah Jayden. Namun setelah menemukan nomer baru yang tak dikenalnya, wajah Divi langsung frustrasi. Ia bahkan tak tahu siapa yang menghubunginya pagi ini. Malas untuk mengangkat telepon, Divi pun mengabaikannya hingga nada dering teleponnya berakhir. Ia tidak mengangkat panggilan juga karena tidak terlalu senang menerima panggilan telepon begitu saja. Divi lebih suka melakukan kegiatan komunikasi menggunakan pesan chat dibanding telepon. Bahkan sampai selesai menata wajah dan rambutnya, Divi kembali mendapat panggilan dari nomer yang tak dikenalnya. Ia menghela napas kemudian mengangkat panggilan mau tak mau. Setidaknya ia harus tahu siapa orang yang mengganggu paginya ini dengan telepon spam. “Halo....” “Halo. Ini dengan Divi ya?” tanya seseorang di seberang telepon. Divi terdiam sejenak sambil mengerutkan keningnya. Siapa kiranya orang yang mengetahui namanya tapi tak dikenalnya ini? “Hm iya. Maaf sebelumnya ini dengan siapa ya? Saya soalnya nggak nge—save nomer kamu.” “Oh jadi benar. Ini nomer Mamanya Jayden, Neng.” “Mamanya Jayden?” Divi mulai bertanya—tanya. Apakah benar yang meneleponnya saat ini tak lain ibu kekasihnya atau sebuah penipuan yang mengatasnamakan ibu Jayden? “Semalam Mama minta minta nomer kamu dari Jayden,” kata Mama Nia menjelaskan asal nomer yang Divi di ponselnya. “Jayden semalam ke rumah buat ngasih tahu kalau dia mau melamar kamu, Divi.” Sekarang Divi percaya bahwa yang menghubunginya adalah ibu Jayden. Namun sekarang ia masih bertanya—tanya. Ibu yang mana kah yang menghubunginya? Ibu kandung Jayden atau istri baru ayahnya. “Oh iya, Tante. Salam kenal, nama saya Divi. Maaf ya, Tante, teleponnya tadi nggak langsung dijawab, saya kira telepon spam.” “Nggak papa, Neng,” balas Mama Nia. “Neng lagi sibuk apa sekarang?” “Saya lagi siap—siap mau berangkat kerja, Tante.” “Duh maaf ya, Tante pasti gangguin kamu.” “Nggak kok, Tante. Nggak papa.” Divi menganggukkan kepalanya. “Maaf, Tante, tapi sekiranya ada keperluan apa ya?” “Oh nggak ada apa—apa, Neng. Tante Cuma mau menyapa aja. Kan kamu mau jadi istri anak Tante, jadi Tante mau kenalan dulu sama Neng Divi.” Divi jadi tidak enak hati karena yang mengajak berkenalan duluan ibu kekasihnya, bukan dirinya. “Maaf ya, Tante, seharusnya aku ikut sama Jayden buat ketemu langsung sama Tante. Sekarang malah Tante yang ngehubungi aku dulu.” “Nggak papa kok, Neng.” Divi mendesah lega karena sepertinya calon ibu mertuanya itu orang yang baik dan ramah. “Neng,” panggil Mama Nia lagi. “Iya, Tante?” “Neng apa ada waktu lowong? Kalau ada, Tante mau ketemu dan mengobrol sama Neng barang sebentar. Mau membahas soal lamaran nanti, Neng.” “Boleh, Tante.” “Tapi kalau bisa sama Mama Neng juga ya. Biar Tante bisa silaturahmi dulu sama Mama Neng. Lagipula kan kita masih satu wilayah kota jadi bisa ketemuan dulu ya, Neng?” “Oh iya, Tante, boleh. Nanti aku sampaikan ke Mama dulu ya, Tante,” balas Divi. “Tante mau ketemuan kapan memangnya ya?” “Kalau bisa hari ini juga, Neng. Nggak papa misal bisanya sore.” “Oke, Tante, nanti aku coba tanya ke Mama dulu ya, Tante?” “Iya, Neng.” “Maaf, Tante, aku lupa nanya nama Tante siapa?” “Jayden memangnya nggak pernah ceritain soal Tante ke Neng?” Divi terdiam. Mendadak merasa bersalah pada wanita yang diteleponnya sekaligus pada Jayden. Ia khawatir juga jika wanita yang dihubunginya ini berpikiran buruk pada Jayden karena tak pernah membahasnya. “Nama Tante ... Nia, Neng. Tante istrinya ayah Julian, tapi meskipun Tante cuma ibu sambungnya Ayden, Tante tetap ibunya Ayden ya, Neng.” “Iya, Tante.” “Ya sudah gimana kalau nanti kita ngobrol—ngobrol di restoran Midas saja? Neng tahu restoran Midas kan?” “Tahu, Tante,” balas Divi. Tentu saja ia tahu, sebagai penulis sekaligus editor di redaksi harian Bogor ia harus tahu berita dan tempat—tempat yang ada di Bogor secara real time. Dan Restoran Midas salah satu tempat hits di semua kalangan. Restoran Midas ini terkenal karena sang pemilik sekaligus chefnya yang pernah menjadi juara pertama turnamen memasak Nasional dua tahun yang lalu. “Oke kalau gitu janjian di sana jam 4 sore saja ya, Divi. Tapi kalau Mama kamu nggak bisa dan punya waktu lain, nanti kamu chat Tante aja ya untuk kepastian waktunya.” “Baik, Tante. Nanti Divi sampaikan.” “Ya sudah kalau begitu. Maaf ya, Divi, karena sudah mengganggu kamu yang mau berangkat bekerja.” “Nggak papa, Tante.” “Tante tunggu kepastiannya ya, Div.” Setelahnya Tante Nia memutus panggilan telepon. Divi terdiam sambil berdiri. Ia melihat cermin di depannya, yang menampilkan potret dirinya secara nyata. “Aaahhh ... gimana nih! Aku mau ketemuan sama ibu sambungnya Jayden,” kata Divi khawatir. Ia mendadak gugup, bagaimana jika ibu sambung Jayden bukan orang yang ramah? Bagaimana jika ia dan ibunya berselisih saat bertemu nanti? Tangan Divi menyentuh dadanya yang berdetak begitu keras. Ia menghela napasnya prlahan dari mulut untuk menenangkan hatinya. Setelah agak tenang, Divi membawa tas kerjanya lalu berjalan ke luar dari kamar. Di ruang makan, sang ayah sudah nyaris menyelesaikan sarapannya. Bahkan saat ia terduduk di kursi kamak, sang ayah segera berdiri. “Papa berangkat ya, ada briefing pagi ini,” kata Papa Dwika terburu—buru. Papa mengecup kening istrinya lalu memberikan tangannya pada Divi untuk dicium sebagai tanda penghormatan sebelum meninggalkan rumah. Divi melihat ayahnya yang nampak terburu—buru lalu menatap sang ibu yang duduk dengan santai di kursi makannya. “Ma....” “Hmm?” “Aku tadi dapat telepon dari ibu sambungnya Jayden,” kata Divi yang langsung membuat sang ibu penasaran. “Ibu sambungnya?” “Iya, Ma. Istri ayah kandungnya Jayden. Aku udah bilang kan kalau orang tua kandung Jayden itu udah lama bercerai dan sekarang udah punya keluarga masing—masing.” Mama Kayla segera menganggukkan kepalanya. “Terus ada apa?” “Tante Nia mau ngajak kita ketemuan, Ma.” “Kita?” “Iya. Aku sama Mama,” kata Divi menjelaskan. “Katanya mau membahas soal lamaran nanti.” Mama Kayla mendadak terdiam. Ia merasa aneh karena yang menghubungi Divi dan ingin membahas soal pernikahan adalah ibu sambungnya. Mengapa bukan ibu kandungnya? “Terus kapan, Div?” tanya Mama Kayla setelah beberapa saat terdiam dan bertanya—tanya dalam hatinya. “Kalau bisa sore ini, Ma. Jam 4 katanya di restoran Midas. Mama tahu kan restorannya, yang waktu itu Mama sama Papa antri itu?” “Oh di restoran itu?” “Iya, Ma. Bisa nggak, Ma, nanti sore ketemuan?” Mama diam sejenak lalu menganggukkan kepalanya. “Boleh deh, bisa.” “Bener ya, Ma.” “Iya.” “Tapi, Ma. Nanti aku kayaknya datang telat, Ma.” “Hmm ... kamu ini. Masa ada calon mama mertua begitu. Harus tepat waktu, Divi. Ingat bahwa pertemuan pertama itu sangat penting!” “Iya, Ma. Nanti aku usahain deh.” Divi menjawab malas—malasan. Ia mengambil telur mata sapi yang ada di atas meja lalu memakannya tanpa nasi goreng. “Makan nasinya juga, Div? Ini kan hari senin,” kata Mama Kayla protes karena sang anak tak makan nasi goreng yang sudah susah payah dibuat olehnya. Mendengar protesan ibunya, Divi pun segera mengambil nasi menggunakan centong. Ia mengambil satu centong nasi goreng yang langsung disambut decak sebal sang ibu. “Kamu tuh nggak niat banget sih disuruh makan yang benar. Ingat sekarang kamu harus banyak makan. Yang butuh makan itu bukan cuma kamu, tapi calon anak kamu pun butuh makan.” “Tapi ini kebanyakan, Ma,” protes Divi sambil menghela napasnya yang berat. Mama Kayla hanya menggelengkan kepala lalu menyelesaikan sarapannya. Ia membereskan meja makan lalu membiarkan Divi makan sendiri. Divi memakan sarapannya perlahan hingga akhirnya berhasil menghabiskan semua nasi goreng dan telur dadar di atas piringnya. Setelah meminum air putih, Divi pun menaruh bekas makannya di atas bak cuci piring. Ia membiarkannya di sana dan segera bergegas untuk pergi ke kantor. “Ma, aku berangkat ya,” kata Divi dengan suara tinggi. Ia bersuara keras agar ibunya itu tahu bahwa ia hendak berangkat. Apalagi sang ibu kini berada di kamarnya. “Iya, Div. Hati—hati,” kata Mama Kayla dari dalam kamarnya. Setelah mendapat balasan, Divi pun segera pergi ke kantornya. Ia menggunakan motor miliknya. *** Jayden menatap pesan dari Divi yang sudah dibacanya sejak semalam. [ Jay, gimana pertemuan kamu sama ayah kamu? ] –Divi. Ia menaruh ponselnya dengan kasar di atas meja kerja lalu kembali mengabaikan pesan Divi. Jayden masih merasa kesal pada Divi karena sudah membuatnya mendatangi ayah kandungnya sendiri. Pembicaraan emosional yang terjadi antara dirinya dan Papa Julian membuat Jayden merasa amat kesal. Ia lebih suka tak mengenali ayahnya dibanding harus melihat dan berinteraksi dengannya lagi. Apalagi kala melihat sang ayah yang begitu hangat dengan keluarga barunya. Ia merasa sangat marah dan kesal. Seolah ia ingin menyalahkan keadaan. Mengapa dulu ia tidak mendapatkan kasih sayang yang serupa dari ayah ibunya? Kenapa ia harus diabaikan dan dibuang oleh orang tua kandungnya sendiri? “Jay—“ Jayden merasakan tangan seseorang di pundaknya. Ia melihatnya dan segera mengenali orang yang kini menyentuhnya dengan menggoda itu. “Makan siang bareng yuk?” ajaknya. Jayden tak mengatakan apapun. Ia menggeser posisi mouse nya lalu menatap Sabrina setelah mendongakkan kepalanya. Ia menyunggingkan senyumnya dan menjawab. “Hmm boleh.” “Tumben lo mau?” Sabrina langsung tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Jayden. Bagaimana tak bahagia, jika orang yang biasnaya menolak berdekatan dengannya akhir—akhir ini tiba—tiba mau bersama dengannya. “Jadi lo pengennya gue nolak ajakan makan siang bareng lo ini?” tanya Jayden balik. Sabrina segera terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. “Jangan! Gue kan senang soalnya lo mau makan siang bareng gue. Jarang juga kan?” Jayden tak menjawab. Ia menutup tabel kerjanya lalu bersiap untuk berdiri. Sabrina yang sudah siap pun menunggu laki—laki itu dengan wajah penuh senyum.[] *** bersambung >>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN