Bab 5
Perbedaan Dua Insan
Setelah b******u beberapa saat, Jayden pun memutuskan berhenti. “Kamu dari kantor langsung ke sini?” tanya Jayden.
Divi pun menganggukkan kepalanya. “Habis aku kangen sama kamu.”
“Ya udah, mending kamu mandi dulu aja! Sementara kamu mandi, aku masakin sesuatu buat kamu.”
“Aku kan nggak bawa baju ganti, Jay,” kata Divi menolak untuk mandi.
“Baju kamu masih ada di kamarku,” kata Jayden. Ia ingat dengan jelas bahwa Divi pernah menginap di rumahnya dan meninggalkan pakaiannya begitu saja. Tertinggal.
“Sebentar biar kuambilkan!” kata Jayden lagi sambil berjalan menuju kamarnya.
Divi menunggu sambil mengeluarkan belanjaan milik Jayden dari kantong belanjaannya.
Tak lama kemudian, Jayden kembali sambil membawa kaos pendek dan celana panjang milik kekasihnya itu. Sudah ia cuci bersih dan setrika hingga pakaiannya terlihat begitu rapi.
Divi terkejut saat melihat pakaiannya. Lebih terkejut lagi karena pakaiannya begitu rapi dan bersih. “Kamu simpen baju aku, Jay? Ya ampun, aku aja nggak ingat.”
“Hmm ... ya udah gih sana mandi! Terus ganti baju.”
Divi menganggukkan kepalanya. Menuruti perkataan Jayden.
“Kamu mandi di kamar mandi yang ada di kamarku aja ya?”
“Eh?” Divi padahal sudah berniat mandi di luar.
“Kamar mandi itu kerannya rusak. Aku lupa perbaiki,” kata Jayden sambil melihat ke arah kamar mandi yang berada di samping dapur. Kamar mandi itu memang kerannya rusak, pipanya bermasalah hingga membuat air tidak menyala.
“Oh ya udah,” kata Divi. Ia membawa serta baju gantinya lalu berjalan masuk ke dalam kamar Jayden. Jayden mengantarkannya hingga ambang pintu kamar mandinya. Setelah Divi masuk, Jayden segera membereskan kamarnya yang masih agak berantakan. Baginya.
Jayden adalah laki—laki metroseksual yang cukup sistematis. Ia rapi, bukan hanya dari segi pakaian dan penampilan, tapi juga dari segi barang—barang di sekitarnya. Pemikirannya panjang dan sering kali ia tidak mampu merasakan jatuh cinta secara kontinue. Ia mudah kali bosan, apalagi jika wanita yang menjadi pacarnya begitu menempel padanya. Seperti mantan—mantannya yang lain.
Setelah merasa kamarnya rapi, Jayden pun ke luar dari kamarnya. Ia menyelesaikan berbenah belanjaannya. Memasukkannya ke dalam lemari es dan beberapa lagi menyimpannya di laci penyimpanan.
Tak lupa, Jayden menyiapkan bahan masakan yang akan diolahnya. Ia mulai memotong dan menyiapkan air mendidih untuk membuat sup telur puyuh dengan tambahan bakso sapi.
***
Divi ke luar dari kamar mandi dengan hanya memakai kimono handuk berwarna putih milik Jayden. Ia mencari pakaian gantinya dan menemukannya berada di atas ranjang berukuran 120x200 centimeter milik kekasihnya.
Setelah mengambilnya, Divi terdiam sejenak saat melihat kamar Jayden yang selalu rapi dan bersih. Berbeda sekali dengan kamarnya yang kadang sangat berantakan. Divi memang sosok yang tidak terlalu rapi, perasaannya mudah berubah. Ia kadang bisa sangat rapi, tapi hanya bertahan beberapa saat. Selanjutnya ia cukup rai untuk dirinya sendiri.
Sikapnya itu sangat berbeda dengan Jayden. Lelaki yang bekerja sebagai arsitektur itu sangat rapi dan detail. Mungkin itu karena pekerjaannya jadi terbawa dalam segala aspek yang ada.
Baru saja hendak masuk ke dalam kamar mandi lagi untuk berganti pakaian, Divi justru mendengar suara ponsel Jayden berbunyi. Ponsel itu masih dalam mode charger di atas meja kerja Jayden.
Divi melihat ponsel Jayden tanpa memegangnya. Ia melihat seseorang sedang mencoba menelepon Jayden.
Sabrina? Divi berpikir beberapa saat kala membaca nama penelepon yang mencoba menghubungi kekasihnya. Siapa Sabrina? Tanya Divi dalam hatinya. Ia jadi penasaran karena nama perempuan yang menghubungi kekasihnya.
Baru saja hendak meraih ponsel milik Jayden, Divi merasakan pintu kamar kekasihnya terbuka. Ia beralih posisi dan menemukan Jayden memasuki kamar.
“Jay—“
Jayden melihat ke arah ponselnya yang berbunyi tapi kemudian mati. “Kamu udah selesai mandi?” tanya Jayden sambil mengambil ponselnya. Ia melepaskannya dari kabel chargernya dan kembali ponselnya berbunyi, tanda ada panggilan masuk.
“Udah.”
“Kamu ganti baju dulu aja. Aku terima telepon dulu di luar,” kata Jayden lalu mengangkat panggilan. “Hmm....” katanya dengan santai pada orang di seberang telepon.
Divi merasa aneh tapi yang dilakukannya hanyalah terpatung di tempatnya berdiri. Ia penasaran dengan wanita yang menghubungi Jayden. Merasa frustrasi, Divi pun menghela napasnya dengan berat. Apalagi Jayden sudah meninggalkannya dan ke luar dari kamar untuk mengangkat panggilan dari seseorang bernama Sabrina.
Menghela napasnya lagi, setelahnya Divi pun berjalan menuju kamar mandi. Ia akan mengganti pakaiannya.
***
“Halo. Kenapa sih nelepon aku lagi?” tanya Jayden kesal pada rekan kerjanya yang sering kali tidak tahu waktu ketika meneleponnya.
“Kenapa kamu tiba—tiba marah?” tanya Sabrina lalu menghela napasnya dengan kesal. “Aku nelepon karena aku mau tanya sesuatu?”
“Tanya sesuatu?” Jayden menghela napasnya agar lebih tenang saat berteleponan dengan Sabrina. Sebentar saja dia sudah menyesal karena membentak Sabrina begitu saja. Sabrina yang kadang lemot tapi punya suara lemah lembut. “Tanya apa?”
“Aku video call ya,” kata Sabrina.
Jayden menjauhkan ponselnya dan mode panggilan pun berubah menjadi video call.
Sabrina menunjukan maket yang sedang dikerjakannya bersama Jayden lalu bertanya, “Bagian ini udah kamu buat belum?”
“Aku kan udah bilang kalau bagian itu baru kubuat senin nanti.”
Sabrina langsung mematikan panggilan videonya.
Jayden mengerutkan keningnya lalu menghela napasnya dengan kesal. Kadang ia tidak paham dengan Sabrina, sikapnya terkadang sangat campur aduk. Ada masa di mana ia sangat kelihatan seksi, lemah lembut, tapi kadang ia sangat menyebalkan. Perpaduan yang sangat ekstrem.
Setelah panggilan Sabrina berakhir, Jayden menaruh ponselnya di atas meja, di depan televisi. Ia kembali ke dapur dan melanjutkan masaknya. Untung saja, saat kembali sup yang dimasaknya dengan api kecil sudah nyaris matang sempurna.
Jayden mematikan kompor lalu menyiapkan nasi yang sudah dimasaknya sebelum pergi berbelanja ke luar. Ia mengambil nasi dari rice cooker lalu menaruhnya di atas piring keramik untuknya dan Divi.
Saat Divi kembali menghampirinya, Jayden mencium bau wangi sabun mandi miliknya di tubuh kekasihnya yang sudah lebih segar dari sebelumnya.
“Wah udah matang semua,” kata Divi sambil menatap takjub dengan apa yang ada di meja makan. “Kamu masak ini sendiri, Jay?”
“Hmm ... ayo duduk! Kita makan malam dulu!” kata Jayden.
Divi pun duduk. Sambil mencicipi masakan Jayden, Divi rasanya ingin sekali bertanya soal perempuan yang tadi menghubungi kekasihnya. Namun, mulutnya rasanya kaku untuk bertanya. Divi merasa khawatir jika yang menghubungi kekasihnya adalah perempuan di Jakarta yang dekat dengan Jayden. Benar, saat ini Divi sebenarnya cemburu, tapi ia tahan untuk tidak memperlihatkannya begitu jelas.
“Div, aku dapat tawaran....”
“Tawaran apa?” tanya Divi penasaran.
“Beberapa hari lalu, saat aku selesai meeting di luar dengan tim arsitek di Jakarta, aku ketemu sama laki—laki. Dia sepupu rekan kerjaku di sana yang kerja di bagian permodelan. Dia mau rekrut aku jadi salah satu model di agensinya.”
“Oh ya?”
“Aku rasanya de javu, apalagi kan kamu sering bilang kalau aku lebih pantas jadi model atau pemain film daripada jadi arsitektur. Dan voila ada orang yang menawarkanku di pekerjaan seperti itu.”
Divi tersenyum tipis. “Terus kamu gimana, Jay? Kamu terima atau nggak tawaran itu?”
Jayden pun terkekeh pelan. “Aku mikir 1000 kali dan aku lebih milik nggak nerima tawaran itu, Div,” balas Jayden membuat Divi bingung sekaligus penasaran.
“Kenapa?” tanya Divi.
“Kerjaanku di kantor aja cukup memakan waktu, Div. Dan kalau pun aku terima, aku harus mengorbankan weekend—ku. Kamu mau emangnya kalau kita bahkan nggak bisa ketemu pas weekend?” tanya Jayden balik membuat Divi merasa resah.
Divi tidak menjawab dan memakan makan malamnya. Ia tidak mau jawabannya membuat Jayden merasa lebih buruk.
Tak mendapat jawaban dari Divi, Jayden pun melanjutkan makan malamnya. Ia merasa kediaman Divi seolah memberitahunya bahwa keputusannya untuk tidak menerima tawaran menjadi model itu adalah keputusan yang tepat.
Setelah selesai makan malam, Divi mencuci piring karena Jayden sudah memasakkan makan malam untuknya. Jayden yang hendak membuka pekerjaannya lagi di laptopnya pun merasa terbantu dengan tawaran Divi. Ia pun meninggalkan Divi dan duduk di sofa ruang tengah.
***
Divi mengecek ponselnya setelah selesai mencuci semua piring dan perkakas masak yang tadi digunakan di bak cuci piring.
Di notifikasi, Divi mendapat pesan chat dari ayahnya.
[ Div, kamu lagi di mana? Ada keluarga Tante Rindi lagi main ke rumah. Kamu cepat pulang ya? ] ~Papa.
Divi mendesah pelan. Ia malas untuk pulang, tapi jika ayahnya sudah bertanya seperti ini, akan lebih baik jika ia segera pulang dan setor muka di hadapan keluarga Tante Rindi.
Setidaknya ia harus bersikap menghargai keluarga Tante Rindi yang merupakan kakak tertua di keluarga ayahnya. Tante Rindi juga tinggal di Malang, jadi sangat jarang bagi mereka untuk bertemu.
Akhirnya Divi pun membalas pesan dari ayahnya.
[ Iya, Pa. Bentar lagi aku pulang. ]
Setelah membalas pesan dari ayahnya, Divi menyimpan kembali ponselnya di dalam tas yang ditaruhnya di kursi makan sejak tadi.
Divi membawa tas kerjanya lalu menghampiri kekasihnya. “Jay,” sapa Divi.
“Hmm—“
“Aku udah selesai nyuci piring, tapi belum kusimpan ke laci.”
“Oke. Makasih ya,” kata Jayden sambil tersenyum lebar. Ia menatap Divi sejenak lalu kembali menatap laptop yang berada di hadapannya.
“Jay, aku pulang ya,” kata Divi membuat Jayden kembali menoleh.
“Loh nggak nginep?” tanya Jayden merasa bingung. Ia mengira Divi akan menginap di rumahnya.
“Tadi Papa chat aku. Katanya Tante Rindi, kakaknya Papa, datang dan berkunjung ke rumah.”
“Oh ada sodara datang ya?”
Divi menganggukkan kepalanya.
“Ya udah kalau gitu, aku antarin kamu ya,” kata Jayden. Ia bersiap menyimpan pekerjaannya di laptop.
“Nggak usah, Jay. Kalau kamu sibuk, aku pulang sendiri aja.”
“Jangan begitu—“ Jayden laki—laki dewasa tentu saja tidak bisa membiarkan kekasihnya pulang sendirian. Ia mematikan laptopnya setelah menyimpan pekerjaannya lalu bangkit berdiri. tak lupa ia juga membawa serta laptopnya masuk ke dalam kamar. “Sebentar, aku ambil jaket dulu ya di kamar.”
Divi menyerah dan menunggu Jayden di ruang tengah. Saat kekasihnya kembali, Jayden sudah memakai jaket berbahan jeans dengan dua kantong di kedua dadanya.
“Yuk!” ajak Jayden sambil berjalan lebih dulu. Divi pun mengekori Jayden.[]
***
bersambung >>>