BAB 4
Perjalanan Pulang
Jayden baru saja pulang ke kamar kostnya saat ia mendapat pesan dari kekasihnya, Divi. Ia melihat sekilas lalu mengabaikan pesan yang masuk, meskipun itu berasal dari kekasihnya.
Entah mengapa akhir—akhir ini, Jayden bosen dengan kondisi percintaan mereka yang LDR. Hanya saling tegur dalam chat, sesekali saling video call juga, tapi rasanya agak memuakan.
Jayden membanting ponselnya di atas ranjang lalu pergi ke kamar mandi. Ia bahkan tidak tahu bahwa ponselnya kini kembali berdering. Panggilan video dibuat oleh Divi dan menunggu di angkat.
Sementara itu, di dalam kamar mandi, Jayden membersihkan dirinya. Sambil sesekali ia melamunkan cewek cantik yang bekerja bersamanya, Sabrina, yang terasa menggodanya akhir—akhir ini di kantor.
Sabrina dan Jayden sama—sama karyawan yang baru dimutasi di kantor pusat yang ada di Jakarta. Jika Jayden berasal dari Bogor, berbeda dengan Sabrina yang berasal dari Bandung.
Selayaknya gadis Bandung pada umumnya, Sabrina punya tutur kata yang selembut sutra. Wajahnya ayu dan manis dalam waktu yang bersamaan. Jika saja ada Divi di sebelahnya, pasti Sabrina dan kekasihnya itu punya kecantikan yang nyaris sama. Bedanya Sabrina lebih seksi, dibanding Divi yang polos.
Jayden mengusap rambutnya yang basah karena pancuran shower ke atas dan melepaskan bayangan Divi dan Sabrina yang ia sandingkan.
“Bodoh, kenapa gue masih aja mikirin cewek lain padahal udah punya pacar secantik Divi,” kata Jayden lebih pada dirinya sendiri. Ia memutar keran shower hingga air pancuran itu berhenti menurunkan air ke tubuhnya.
Mengambil jubah mandinya, Jayden pun memakai dan mengikat simpul kedua tali yang ada di jubah mandinya yang berwarna putih bersih.
Berjalan di kamar yang bersih dan rapi, Jayden pun mengecek ponselnya terlebih dahulu. Ia mengambilnya dan menemukan banyak panggilan suara dan panggilan video di ponselnya dari Divi. Tak lama kemudian, pesan chat masuk dan Jayden pun membukanya.
[ Kamu lagi ngapain sih? Kamu masih di kantor ya? Sampai nggak bisa angkat teleponku. Padahal aku kangen sama kamu, Jay. ]
Jayden menghela napasnya pelan. Ia jadi merasa bersalah pada Divi karena tidak merindukannya. Lebih merasa bersalah lagi, bahwa selama di Jakarta, ia serasa melupakannya.
“Halo, Jay!” suara Divi terdengar lembut.
“Halo, Div. Sorry ya, aku nggak tahu kamu nelepon aku. Aku baru aja dari kamar mandi, habis mandi.”
“Oh kamu habis mandi toh. Aku kirain kamu sengaja nggak akan telepon aku.”
“Nggak mungkin—lah aku kayak gitu. Hmm, hari ini lumayan capek banget aku di kantor. Ini aja aku baru balik, terus mandi,” kata Jayden menceritakan kesehariannya secara singkat.
“Kamu pasti capek banget ya? Ya udah deh kalau gitu, aku nggak mau lama—lama telepon kamu. Aku cuma mau mastiin aja, sabtu nanti kamu kira—kira sampai rumah jam berapa?”
“Sampai Bogor paling agak sore,” kata Jayden. Entah mengapa kediaman Divi terasa seperti pedang di hatinya. “Div, kamu nggak papa kan?”
“Oh iya, Jay. Nggak papa kok. Nanti habis ngantor aku ke rumah kamu ya?”
“Oke,” balas Jayden dengan santai. “Nanti jangan bawa apa—apa ya. Bawa kamu aja, aku kangen soalnya sama kamu.”
Divi berdehem. “Aku juga kangen banget sama kamu, Jay.”
“Udah malam. Aku mau istirahat dulu ya, Div,” pamit Jayden. Ia merasa kelelahan hari ini membuat project arisitekturnya. “Nanti kalau ada apa—apa, kamu hubungi aku aja. Oke?”
“Hmm ... oke, Sayang.” Setelahnya panggilan Jayden matikan. Ia membuang ponselnya di atas ranjangnya lagi lalu mengambil pakaian santai di dalam lemari pakaiannya.
Memakai kaos pendek dengan dipadukan dengan celana boksernya, Jayden yang belum merasa mengantuk pun menikmati waktu malamnya dengan segelas bir yang ada di tangannya.
Jayden meminum birnya di balkon kamarnya. Ia menyesap minumannya sambil melihat lalu lintas yang masih cukup padat di sekitarnya rumah kostnya.
***
Jayden sudah berada dalam mobilnya saat ia akhirnya bisa pulang ke rumahnya yang berada di Bogor. Sambil menikmati pemandangan kemacetan yang harus dilaluinya karena pulang sore hari di tol, Jayden pun menghela napasnya.
Andai saja ia tidak perlu berpacaran dengan Divi, pasti ia tidak perlu memaksakan dirinya untuk pulang ke Bogor setiap akhir pekan.
Jayden berdecak kesal lalu mengambil botol air mineral yang ada di mobil. Ia membuka tutup botolnya lalu meminumnya dengan berapa kali tegukan.
Setelah kemacetan agak longgar, beberapa kali ia harus menginjak gas mobilnya. Namun tak sampai lima meter, ia harus menginjak juga rem mobilnya. Sungguh kemacetan adalah hal yang melelahkan baginya.
Jayden mendapat panggilan dari Sabrina dan tanpa pikir panjang mengangkatnya. “Halo, Sabrina!”
“Halo, Jay! Lo lagi ada di mana? Lo jadi udah balik ke Bogor?” tanya Sabrina terdengar lemah.
“Gue kan udah bilang kalau gue harus balik,” balas Jayden dengan santainya.
“Heh! Lo kira cuma lo doang yang pengen balik? Gue juga pengen balik. Ini gimana kerjaan kita? Kalau ini bukan project bersama, gue nggak akan ganggu hidup dan urusan lo! Tapi ini project kita bersama dan deadline—nya makin dekat. Lo kok bisa—bisanya sih masih santai aja. b******k!”
Baru kali ini Jayden mendengar Sabrina memaki padanya. “Bi, lo kenapa?” tanya Jayden seolah mendengar kultus yang baru saja didengar. “Apa terjadi sesuatu?”
“Sejak awal bos nyuruh kita jadi partner itulah sesuatu terjadi! Lo tuh benar—benar berengsek pemalas! Gue pengen balik juga! Kenapa cuma lo doang yang pulang?”
“Kalau lo mau pulang, pulang aja!” kata Jayden dengan santainya. “Jangan terburu—buru! Belum tentu lo lembur kerjaan lo jauh lebih cepat, bisa jadi itu menghambat kerjaan lo. Kerjaan kita butuh otak dingin! Mending lo balik....”
Setelahnya tak terdengar suara Sabrina. Jayden merasa aneh, saat ia menjauhkan ponselnya, ia masih mendapati panggilannya dengan Sabrina masih terhubung.
“Halo, Sabrina!”
Tak ada balasan.
“Sabrina Nasution?”
“Eh iya....”
“Udah ya. Mending lo balik aja kalau udah penat. Kita ketemu senin dan kerjain project kita bareng—bareng.”
“Tapi—“
“Gue bantuin tugas lo! Kalau lo nggak bisa, lo bisa minta bantuan gue,” kata Jayden menyakinkan.
Sabrina menghela napasnya. “Oke deh. Bye!”
Setelahnya Jayden menjauhkan ponselnya dari telinga. Ia menggelengkan kepalanya lalu menaruh ponselnya di dashboard mobil. Sekarang, mari menikmati kemacetan yang mengular meskipun berada di jalan tol ini! Pikir Jayden dalam hatinya.
***
Divi ke luar dari kamar mandi setelah mual yang cukup menyiksanya sepanjang hari ini. Ia berjalan menuju meja kerjanya lalu duduk di kursi kesayangannya.
Di sampingnya tidak ada siapapun. Semua orang sudah pulang kecuali Divi yang harus mengerjakan tugas revisi dari bos.
Melihat layar komputernya sebentar, mata Divi terasa berair karena perih. Ia mengucaknya lalu mencari cemilan dari dalam laci kerjanya. Ia mengambil satu bungkus coklat yang disembunyikannya di dalam laci lalu memakannya.
Berharap dengan makan manis membuat mood dan perutnya yang rewel hari ini lebih baik.
Jam berlalu, tiap detik dan menit terus diperbarui, hingga akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 18.05 saat ia sudah selesai mengirim revisi pekerjaannya melalui email. Di kirim langsung ke email bosnya yang sudah sejak pagi meninggalkan kantor.
Setelah tugasnya selesai, Divi mengirim pesan chat pada bosnya. Memberitahunya bahwa revisinya sudah dikirim. Tepat di akhir hari.
[ Oke, saya sudah terima. Saya akan pelajari. ] balas sang bos.
Divi menghela napas lega lalu membiarkan pesan dari bosnya. Ia pun membereskan meja kerjanya yang dipenuhi banyak peralatan yang tercecer. Membereskannya dengan cepat, setelahnya Divi pun mencoba menghubungi Jayden.
Jayden udah pulang belum ya? pikir Divi. Bergumam dalam hati.
Sambil memakai tasnya, Divi memainkan ponselnya. Ia mencoba menghubungi Jayden, tapi ponselnya tidak aktif.
“Loh kok nggak aktif ya?” tanya Divi bergumam. Ia mencoba menelepon lagi tapi kembali suara operator yang menjawab.
Divi menghela napasnya. Ia berjalan ke luar dari kantor dan ponselnya berbunyi. Saat Divi mengira yang menghubunginya adalah Jayden, ia harus menelan kekecewaaan karena yang menghubunginya tak lain adalah sang bos.
[ Sudah bagus. Besok kita cetak! ] tulis sang bos dalam chatnya.
Divi tersenyum sumringah. Ia memasukan ponselnya ke dalam saku tas depan setelah memberi jawaban pada sang bos, lalu berjalan menuju halte bis.
Divi berniat naik ojek online saja. Ia akan langsung pergi ke rumah Jayden.
***
Sesampainya di depan rumah Jayden, Divi menemukan mobil laki—laki itu sudah terparkir di depan rumahnya.
Divi berjalan menuju teras, melewati celah mobilnya, lalu mengetuk pintu depan setelah sampai di depan pintu utama.
Tok tok tok! Suara ketukan pintu yang dihasilkan tangan Divi terdengar.
Tak ada balasan.
Divi mencoba menelepon nomer Jayden, tapi tetap tak mendapat respon. “Jayden mana sih? Mobilnya ada tapi orangnya nggak ada?” tanya Divi bersungut kesal.
Tak mudah menyerah, Divi mengetuk pintu rumah Jayden terus menerus hingga akhirnya sebuah motor berhenti di depan rumah kekasihnya itu. Saat Divi menengok ke luar, ia melihat Jayden baru saja turun dari motor. Kemungkinan ojek online. laki—laki itu membawa plastik putih berukuran cukup besar.
“Udah sampai?” tanya Jayden dengan senyum lebarnya.
Divi menunggu Jayden yang mulai membuka kunci pintu depan rumahnya. “Aku telepon kamu kok nggak aktif—aktif sih?”
“Sorry, hape aku di cas. Lagi mati juga. Jadi kutinggal!”
“Oh pantesan,” gumam Divi. Jadi ini alasan nomer kekasihnya itu tidak aktif sejak tadi. “Kamu habis dari mana, Jay?”
“Aku belanja buat stok bulan ini,” kata Jayden sambil membawa masuk plastik belanjaannya. “Masuk yuk!” ajak Jayden. Ia berjalan lebih dulu.
Divi mengikuti Jayden dan mereka masuk ke dalam rumah yang ditinggali Jayden seorang diri. Jayden memang sudah punya rumah sendiri, rumah peninggalan ayahnya. Ayah dan ibunya bercerai dan kini punya kehidupan masing—masing. Jayden yang sudah dewasa tentu saja hidup sendiri di rumah yang dulu ditinggali ayah dan ibunya sebelum bercerai.
“Jay....” Divi menahan tubuh Jayden. Ia memeluknya dari belakang membuat Jayden berhenti bergerak. Kini mereka berada di dapur, plastik belanjaan yang dipegang Jayden ada di atas meja makan.
“Hmm ... kenapa?”
“Kamu kangen nggak sih ke aku?”
“Kangen—lah,” kata Jayden dengan asal. Ia hanya ingin menyenangkan hati Divi, kekasihnya. Andai Divi tahu jika pekerjaannya membuatnya nyaris melupakan Divi, pasti Divi akan mengamuk dan berubah menjadi siluman harimau. Membayangkan Divi berubah tak terkendali tentu bukanlah hal yang ingin Jayden lihat setelah mereka tak bertemu beberapa hari.
“Aku juga kangen banget sama kamu, Jay,” kata Divi sambil membiarkan kekasihnya itu mengubah posisinya menjadi memeluknya dari depan. “Kita jarang ketemu, kamu kok kayaknya makin kurus sih, Jay?”
Jayden menyentuh pipinya yang tirus. “Masa sih? Perasaan biasa aja.”
“Iya,” kata Divi sambil menganggukkan kepalanya. Ia memeluk kekasihnya tapi merasa tubuhnya kini begitu keras. Divi menyentuh perut Jayden dan merabanya dengan sengaja. Namun ia sama sekali tak menemukan lemak sedikit pun.
Jayden tertawa karena merawa kegelian, kemudian membuka kaos yang dipakainya. “Kamu cari apa di perutku?”
Wajah Divi memerah melihat pemandangan atletis di depan matanya. Ia buru—buru menurunkan baju yang disingkap oleh Jayden lalu membantu kekasihnya membereskan belanjaannya yang masih berada di dalam plastik.
Mendapat hiburan dari Divi, Jayden pun terkekeh pelan. Ia mendekati Divi lalu menaikkan tubuhnya di atas meja makan. Setelahnya, Jayden pun mengecupi seluruh tubuh Divi tanpa kecuali.[]
***
bersambung >>>