Bab 3
LDR
Divi terbangun dari tidurnya. Ia langsung mengingat kejadian semalam. Kejadian yang sudah mengubahnya dan Jayden. Untuk pertama kalinya Divi menyerahkan keperawanannya pada sang kekasih, Jayden.
Setelah hidup 27 tahun, akhirnya Divi berani berhubungan asmara lebih nekad dari biasanya. Divi memang sadar dengan keputusan yang ia buat.
Lagipula sudah cukup lama ia menjaga dirinya. Ia kini menyerahkannya pada laki-laki yang mungkin nantinya akan menjadi suaminya. Ya, Divi mau memberikan keperawanannya karena Jayden berani menjanjikan pernikahan padanya. Di usianya yang sebentar lagi akan memasuki kepala tiga, akhirnya Divi berpikir untuk siap menempuh hidup baru.
“Selamat pagi,” sapa Jayden saat membuka mata dan mendapati Divi yang sudah membuka mata dan menatapnya dengan pancaran mata bahagia.
“Pagi juga, Jayden.” Divi mendekatkan wajahnya lalu mengecup pipi Jayden.
Jayden tersenyum mendapat kecupan selamat pagi. Setelahnya matanya kembali terpejam untuk beberapa saat.
Divi menatap Jayden beberapa saat lalu kembali terdiam. Sementara itu, Jayden memejamkan matanya seolah tak peduli dengan kekasih yang baru menyerahkan dirinya semalam.
“Bangun yuk?” ajak Divi pada laki-laki di sampingnya.
Jayden membuka matanya lagi lalu memeluk tubuh Divi dengan erat. “Jangan ke mana-mana! Kita begini aja.”
“Kamu nggak laper?”
“Sedikit, tapi aku bisa tahan.”
Divi mengusap rambut Jayden dan memainkannya untuk beberapa saat. Tubuhnya dan Jayden masih sama-sama polos dan hanya terbalut selimut putih. Untuk sementara, mereka hanya terdiam. Menikmati waktu beristirahat yang nyaman dengan saling memeluk.
“Aku sayang banget sama kamu,” kata Jayden. “Aku nggak kebayang bagaimana kangennya aku nanti saat kita mulai LDR nanti.”
“Bogor Jakarta nggak sejauh itu, Jay. Kamu sendiri kan yang bilang?”
Jayden menganggukkan kepalanya. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Divi yang cantik padahal baru bangun tidur. “Aku nggak mau kehilangan kamu. Gimana kalau habis mutasiku berakhir di kantor pusat, kita merencanakan pernikahan kita?”
“Kamu mau menikah denganku memangnya?” tanya Divi menggoda kekasihnya.
“Tentu aja aku akan menikahi kamu, Div. Aku berjanji akan menikah dengan kamu.”
Divi tersenyum simpul mendengar janji yang diucapkan kekasihnya. “Aku pegang janji kamu,” kata Divi lalu membenamkan kepala Jayden di depan dadanya yang tidak berpakaian.
Sebagai laki-laki normal, Jayden malah tergoda dengan tindakan Divi, kekasihnya. Ia memainkan d**a Divi dan memasukkan puncak dadanya pada mulutnya.
Divi merasakan getaran yang berbeda. Tak seperti semalam di mana ia sangat bergairan dan meminta duluan, kini Divi jauh lebih merasakan getaran secara halus. Ia merasakan dirinya tergoda hanya karena sang kekasih menyusu padanya.
“Sayang,” panggil Jayden sambil mendongakkan kepalanya. “I want morning s*x with you,” lanjutnya.
Divi yang tergoda pun mengangguk. Ia pun melakukan hubungan seks dengan kekasih yang belum menjadi suaminya tanpa rasa bersalah. Ia melakukannya karena sangat mencintai Jayden.
***
Tujuh minggu kemudian....
[ Aku nggak bisa ketemuan sabtu ini. Aku ada di rumah kalau kamu mau sekedar mampir. Aku benar-benar sibuk, Div. Sorry. ] ~Jayden R. Anthony
Divi menatap layar ponselnya dengan kesal saat mendapati pesan Jayden yang kembali membatalkan janji temunya karena tidak bisa pulang ke Bogor. Laki-laki itu tetap pulang ke Bogor tapi tidak bisa bertemu atau menghabiskan waktu dengan Divi karena harus mengurusi pekerjaannya.
Divi pun segera mengetik balasan untuk kekasihnya setelah menetralisir kekesalannya. Mungkin, ia harus lebih bersabar.
[ Oke, nggak papa kok, Jay. Aku ngerti kalau kamu sibuk karena berada di lingkungan kerja yang baru.
Ps. Aku mampir ke rumah kamu nanti. Bye, Love ] ~Diviana A. Ayleen
Setelahnya Divi membanting ponselnya di atas meja.
Mendengar suara bantingan, Hana yang berada di meja kerjanya pun menoleh. Ia menatap Divi dan bertanya, “Kenapa, Div?”
Divi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Ternyata LDR nggak semudah itu, Han.”
Hana tersenyum sedih. “Emang ada masalah apa?”
“Jay makin sibuk, susah buat dihubungi, susah diajak ketemu.”
“Dia nggak balik ke Bogor lagi?”
“Balik sih, tapi kayaknya tugasnya numpuk ... jadi mau nggak mau dia kerjain di rumah. Gila kan? Nggak di Jakarta atau pulang ke Bogor dia tetap kerja?”
Hana tertawa pelan. “Sabar, Div. Lu juga kan tahu sendiri gimana kerjaan aristektur, apalagi kalau kliennya bawel minta ampun.”
Divi yang pernah meliput Jayden dan pekerjaannya pun akhirnya mengangguk. Ia tidak bisa marah pada Jayden. Memang pekerjaan lah yang membuat mereka tak bisa bertemu dengan leluasa.
“Udah daripada galau, mending kerjain deadline kerjaan sendiri.” Hana berpesan lalu kembali bekerja di bilik kerjanya.
Divi mendengarkan nasihat Hana dan kembali bekerja. Benar kata Hana, lebih baik ia fokus dengan pekerjaannya sendiri. Jangan sampai karena memikirkan Jayden, ia mendapat suarat cinta dari atasannya. Toh pulang dari kantor besok, ia bisa bertemu Jayden di rumahnya.
Hari sabtu ... cepatlah datang! Aku merindukan kekasihku, pikir Divi dengan raut wajah memelas.[]
***
bersambung >>>