Setelah reuni dengan teman sekantornya dulu, Hana, seharian itu di restoran. Divi sudah merasa cukup senang. Ia juga bersyukur karena Hana yang memang dikenalnya sebagai sosok mandiri itu bahkan mau mengantarkannya hingga sampai ke stasiun kereta terdekat, yang berlokasi di Bogor.
“Kapan-kapan datang lagi ya ke Bogor,” kata Hana lalu memeluk Divi. Wanita hamil itu bahkan rela mengantarkannya hingga masuk ke dalam stasiun.
“Nggak mau ah,” kata Divi dengan senyum lebarnya. “Nanti aku nyusahin lagi kayak sekarang!”
“Hei! Aku tidak merasa disusahin Mbak Divi Sayang,” kata Hana dengan senyum lebarnya.
Divi terkekeh kala Hana memanggilnya Mbak. Memang meskipun usianya lebih tua, Hana lebih suka memanggil Divi, Divi sendiri tak masalah karena sudah terbiasa dengan panggilan nama yang Hana berikan padanya.
“Ya udah gih, sana masuk! Nanti kalau udah sampai ke Jakarta jangan lupa kasih kabar ya,” kata Hana dengan senyum lebarnya.
Divi mengangguk singkat. “Kalau sempat aku kabarin!”
“Minta disleding ini orang!” kata Hana dengan sengitnya.
Divi pun tertawa. “Haha ... iya iya, nanti aku kabarin kalau udah sampai. Oh ya salam buat Pak Bagas ya.”
“Siap!” Hana mengangguk. “Nanti kalau ketemu sama Jayden lagi bilang juga salam buat dia ya, salam jari tengah!” Hana menunjukkan jari tengahnya dengan wajah puas membuat Divi menggelengkan kepalanya.
“Kalau kayak gitu nggak mau lah! Malas juga aku ngobrol sama Jayden,” kata Divi jujur. “Ya udah, aku pamit ya....” Divi memeluk ibu hamil di depannya itu lagi lalu berjalan menjauhinya.
Hana sendiri terus memperhatikan Divi hingga wanita dengan totebag yang dibawanya itu tak terlihat lagi. Bersama dengan kawanan manusia yang berada di dalam stasiun hendak pergi menggunakan kereta api.
***
Divi masuk ke dalam gerbong kereta dan duduk dengan nyaman. Ia melihat sekitarnya yang kebanyakan menggunakan ponselnya untuk membuang waktu di kereta sambil menunggu kereta yang akan berangkat.
Mendadak Divi teringat sesuatu. Ia harusnya membeli oleh-oleh khas Bogor untuk Rangga. Divi menghela napasnya. Ia buru-buru ke luar kembali dari gerbong kereta kemudian pergi ke pusat perbelanjaan oleh-oleh yang ada di sana. Ia membeli beberapa produk asinan dan bolu khas Bogor lalu kembali ke dalam kereta.
Untung saja Divi masih sempat. Ia menghela napasnya kemudian duduk di bangku kereta. Hingga tak lama kemudian, kereta yang ditumpanginya itu melaju. Melewati rutenya.
Sekitar 2,5 jam, Divi akhirnya sampai ke Jakarta. Ia membawa barang bawaannya memasuki gedung apartemennya. Namun baru juga melewati pintu depan otomatis gedung apartemen, Divi mendapati Rangga yang sudah datang dengan siaga.
“Sini biar kubantu bawa!” kata Rangga sambil mengambil alih bawaan yang ada di tangan Divi.
Divi mendesah lega sambil menyerahkannya pada Rangga. Wanita itu sudah cukup lelah membawa barang berat di kedua tangannya.
Rangga mengintip isi di dalam plastik bawaan Divi sejenak kemudian tersenyum simpul. “Wah oleh—oleh.”
“Iya dong!” kata Divi dengan senyuman bangganya.
Rangga mengusap kepala Divi dengan gemas lalu terkekeh pelan. Ia kembali membawa dua plastik di tangannya dan berjalan bersama Divi menuju lift.
Baru saja mendekati lift, Divi dan Rangga melihat lift yang terbuka. Tak lama kemudian, dua orang berlainan jenis ke luar dari dalam lift. Divi dan Rangga terdiam sejenak. Mereka mengenali dua orang yang kini berada di hadapannya.
“Divi,” suara Sabrina terdengar dengan lemah lembut. Wanita itu menyapa Divi yang dikenalnya.
“Sabrina, Jayden!” Divi tersenyum canggung.
“Kalian dari mana?” Sabrina kemudian melihat dua plastik besar yang dipegang oleh Rangga. Membaca nama mereknya dan kembali bertanya. “Dari Bogor?”
Divi kemudian menganggukkan kepala. “Iya.”
Jayden menatap Divi dan Rangga. Apakah keduanya pergi bersama ke Bogor? Kenapa keduanya begitu dekat?
“Oh ya udah kalau begitu,” kata Sabrina sambil tersenyum tipis. Ia memegang lengan Jayden kemudian mengajaknya kembali berjalan. “Yuk, Jayden! Kita permisi ya kalau begitu,” kata Sabrina pamit.
“Mau ngasih oleh-oleh nggak?” tanya Rangga setelah beberapa saat memperhatikan Sabrina dan Jayden yang kembali berjalan meninggalkan mereka.
“Gimana ya?” Divi menghela napasnya. “Udahlah nggak usah!” Ngapain juga aku ngasih ke Sabrina. Cih! Nggak mau, pikir Divi kekanak-kanakan. “Ya udah yuk!” ajak Divi sambil berjalan lebih dulu.
Divi berjalan bersama Rangga. Mereka masuk ke dalam lift lalu pergi ke lantai 9.
***
Divi ke luar dari kamar mandi setelah usai membersihkan tubuhnya di bawah pancuran shower dengan air dingin. Ia merasa segar sekali.
Duduk di pinggir ranjang, Divi kemudian mengecek ponsel miliknya. Ia mendapati seseorang yang mengiriminya pesan.
Membacanya Divi merasa berdebar, karena yang mengiriminya pesan tak lain adalah Jayden. Entah apa yang membuat Jayden mengiriminya pesan sekarang.
[ Aku mau bicara. Ke luar dari apartemen kamu! Aku tunggu kamu sampai kamu ke luar! ] –Jayden.
Divi menatap pesannya dalam diam. Ngapain sih nih orang? Mau ngomong apa coba? Divi menghela napasnya. Ia rasanya tak ingin meninggalkan kamar. Ia cukup lelah berada di jalanan.
Mengabaikan pesan Jayden, Divi bahkan mulai membaringkan tubuhnya. Ia mencoba memejamkan matanya. Namun karena kantuknya yang begitu kuat karena lelah seharian bepergian, Divi pun tertidur.
***
Jayden melihat ponselnya. Pesannya pada Divi sudah dibaca, tapi wanita itu tidak membalas pesannya sama sekali. Sedang apa Divi sekarang, kenapa setelah membaca pesanku tidak sekalian dibalas? Pikir Jayden. Ia berdecak pelan sambil menyandarkan punggungnya di tembok.
Sesekali Jayden berjalan bolak balik, ia terus menunggu Divi untuk ke luar. Waktu pun berlalu. Detik berganti menit. Menit berganti jam.
Jayden merasa kelelahan menunggu, tapi Divi tak kunjung ke luar. Apakah perjalanan dari dalam apartemen ke luar memakan waktu hingga satu jam lebih? Kenapa Divi tak juga ke luar dan menyapanya? Atau jangan-jangan, Divi tak menanggapi dengan benar pesannya?
Jayden menghela napasnya. Ia menatap pesannya untuk Divi beberapa kali. Dibacanya ulang dan kembali Jayden menunggu.
Wanita kembali berjalan. Detik demi detik. Menit demi menit. Jayden mulai berpikir untuk menekan tombol bel agar Divi menyadari keberadaannya yang masih menunggu.
Apa menurut kamu ini hanya gurauan saja, Div? Aku serius ingin mengatakan sesuatu. Aku ingin membahas soal kamu, Div. Ayo ke luar!
Ah! Jayden akhirnya mendengkus. Ia memencet bel apartemen nomer 92 di mana Divi tinggal bersama Rangga. Menunggu beberapa saat, Jayden akhirnya mendapati pintu apartemennya terbuka. Seseorang ke luar dengan wajahnya yang mengantuk.
***
Divi terbangun dari tidurnya yang singkat. Ia mengerjapkan matanya dan melihat seisi kamarnya. Tak ada yang aneh. Terus kenapa aku terbangun? Tanya Divi dalam hati.
Alisnya berkerut. Saat ia hendak memejamkan matanya lagi, Divi mendadak teringat pesan Jayden padanya. Ia menguap dengan lebar sambil meregangkan tubuhnya di atas ranjang yang ia tiduri.
Setelah beberapa saat, Divi mengambil ponselnya. Ia mengecek pesan dari Jayden sekali lagi lalu bangkit berdiri.
Divi ke luar dari kamarnya hanya dengan memakai kaos berwarna abu-abu kebesaran dengan celana hotpants berwarna hitam. Melihat ke samping kanan dan kirinya, Divi tak mendapati Rangga berada di mana pun. Ia melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 23.00 malam.
Mengambil air mineral dari dalam lemari es, setelahnya Divi meminumnya hingga beberapa kali tegukan. Ia tak membawa masuk kembali botol minumnya ke lemari es dan justru membawa bolu yang dibelinya di Bogor.
Membawanya ke meja makan, Divi pun mulai memakan bolu yang sudah dipotong. Memakan dalam diam, acara makan Divi berakhir saat ia mendengar bel apartemen berbunyi mengganggu.
Melihat jam di dinding, Divi tak habis pikir, kenapa ada orang yang datang ke apartemennya dan bertamu? Tapi tunggu ... siapa yang bertamu di waktu yang sudah nyaris tengah malam?
Divi mendadak teringat pada pesan yang Jayden kirimkan. Please, jangan bilang kalau ini Jayden! Divi khawatir.
Tak lama kemudian, Divi berjalan menuju pintu depan apartemen. Ia menahan napasnya sejenak kemudian mendapati seseorang yang sepertinya sudah menunggunya sejak tadi.
“Divi!” Jayden menarik tangan Divi hingga ke luar dari apartemennya. Jayden menutup pintu di belakang tubuh Divi kemudian berbicara dengan ketus. “Kamu anggap aku bercanda?”
“Maksud kamu apa?”
“Kamu udah baca pesanku kan?”
Divi tak menjawab. Ia justru membuang mukanya dengan kesal. “Lagian siapa juga yang nyuruh kamu menunggu,” ketus Divi.
“Kamu ... dari Bogor bersama Rangga?” tanya Jayden ingin tahu.
“Ngapain sih! Kepo banget,” kata Divi sambil menghela napasnya.
“Div!” Jayden memegang kedua lengan Divi. “Div, aku nggak bisa lihat kamu bersama laki-laki lain!”
“Heh? Apa?” Divi mendadak loading. Ia tak bisa mencerna perkataan Jayden.
“Aku nggak mau lihat kamu terlalu dekat dengan Rangga itu!”
“Terus apa masalahnya dengan kamu?” Divi mulai tersadar dengan maksud Jayden bicara seperti itu. “Kamu bukan siapa-siapaku, Jayden! Kamu nggak berhak membatasi pergaulanku dengan laki-laki manapun.”
“Aku tahu, aku memang egois. Tapi aku nggak bohongin diriku sendiri lagi, aku masih suka sama kamu, Div. Aku masih mencintai kamu.”
Divi melepaskan pegangan tangan Jayden di lengannya. “Kamu udah gila ya!”
“Aku memang sudah lama gila! Aku gila karena penuh dengan rasa bersalah. Karena aku harus begitu mirip dengan ibu yang kubenci selama ini.”
Divi tak paham kenapa Jayden kini membalas soal ibunya. “Aku nggak mau dengar apapun! Mending kamu pulang! Kamu mabuk pasti kan?”
“Aku bahkan tidak minum alkohol sama sekali,” Jayden menjawab. “Please, Div, apa belum cukup waktu untuk kamu membenciku selama ini? Apa kita nggak bisa membuka lembaran baru?” tanya Jayden dengan mata memelas.
“Aku nggak ngerti lagi harus bicara apa.” Divi merasa lidahnya kelu. Wanita itu merasa aneh dan menatap Jayden dengan mata tak percaya.
“Div, aku masih nggak bisa melupakan kamu!” Jayden mencoba menyentuh Divi, tapi wanita itu segera mendorong tubuh laki-laki itu. “Aku mohon, Div! Aku mohon bantu aku ke luar dari kebencianku terhadap diriku sendiri. Aku masih mencintai kamu, Div. Hal yang sudah berlalu, perselingkuhanku dulu adalah kesalahan terbesarku. Aku janji sama kamu, kalau aku nggak akan melakukan kesalahan fatal itu lagi. Tolong berhenti menghukumku!”
“Jay—“ Divi baru saja ingin berbicara. Namun perkataannya terhenti karena bibir Jayden yang tiba—tiba menginvasinya. Laki-laki itu menciumnya dengan lembut kemudian bertambah dengan menyesapnya.
Divi yang awalnya terkaget dan terdiam akhirnya mendorong tubuh Jayden dengan keras hingga laki-laki itu melepaskan ciumannya. Divi menatap Jayden dengan amarah yang sudah mendidih. “Dasar b******k!” kata Divi ketus.
Setelahnya, Divi masuk ke dalam apartemennya lagi. Ia meninggalkan Jayden yang justru terdiam. Laki-laki itu ditinggalkan. Laki-laki itu sedih karena ditolak oleh wanita yang ia cintai.[]