Bab 69
Tak Bisa Mengelak
“Aku tahu kalau kamu akan ke mari,” gumam David sesaat Divi masuk ke dalam ruangan kerjanya. Laki-laki yang bekerja sebagai penanggung jawab InSight Love! Indonesia itu berdiri sambil menyandar pada meja kerja miliknya. Tatapannya mengarah pada Divi yang tengah menatapnya dengan sebal. Hal yang tak biasa dilakukan wanita itu ketika berhadapan dengannya.
“Maksud kamu?” balas Divi sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
“Ini masalah Jayden kan?” tanya David sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Wajahnya menunjukkan hal yang berbeda. “Well, sebenarnya aku udah tahu masalah pribadi kamu dan Jayden—“
“Apa?” selang Divi sambil melepaskan lipatan tangannya. “Ehm maksud kamu apa?” ulangnya bertanya. Ia khawatir jika salah mengira bahwa David tahu soal hubungannya dengan Jayden di masa lalu.
“Divi, kamu tidak perlu berpura-pura bodoh,” balas David to the point. “Sebenarnya aku mengenal Jayden sejak lima tahun lalu. Kami pertama kali bertemu di Sydney. Sebelumnya dia masih belum menjalani profesi sebagai model dan public figure. Berbeda dengan apa yang dijalaninya sekarang.”
David mengenal Jayden sejak lima tahun lalu. Apakah selama ini David tahu soal masalah pribadinya dengan Jayden selama ini? Namun ia tidak memperlihatkannya karena merasa tak perlu dilakukan di tempat kerja? Pikir Divi mulai gelisah.
“Kamu pasti sudah berpikir kalau sejak awal aku tahu soal hubungan kamu dengan Jayden kan?” tanya David membuat Divi menatapnya dengan serius.
“Aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang sedang kamu katakan?” Meskipun sudah terlihat dengan jelas bagaimana Divi merasa gelisah, tapi wanita itu tetap berlagak mengelak.
“Kamu pasti paham! Aku tahu dengan jelas kamu tidak sebodoh itu, Divi Ayleen.” David mengenainya dengan tepat sasaran.
Tatapan mata Divi berubah jadi kesal. “Kamu memang David, kamu akan selalu melakukan yang terbaik meskipun harus menghancurkan orang lain kan?”
David langsung terkekeh pelan. “Aku hanya tidak mau kalau masalah pribadi kamu dan Jayden hanya menjadi penghambat urusan pekerjaan.”
Divi diam seribu bahasa. Ia hanya bisa menatap David dengan ketus.
“Jayden sendiri tak masalah jika harus bekerja sama dengan kamu. Maka dari itu, kamu juga harus bisa melakukan hal yang sama. Aku harap kamu tidak mempermalukan InSight Love! Indonesia. Apalagi ini untuk projek pertama kita. Kita juga seharusnya bersyukur karena Jayden mau diliput dan melakukan pemotretan dengan majalah kita yang baru saja dibuka di Indonesia. Jayden bukan orang sembarangan sekarang, Div. Dia salah satu influenser, model, sekaligus publik figur yang sekarang sedang naik daun sekali di tahun ini.”
“Kamu pernah melihat Jayden di televisi? Dia bahkan sudah bisa menjadi seorang juri dalam acara modeling di televisi nasional. Itu sebuah kebanggaan tersendiri untuknya.”
Rasanya kuping Divi sangat panas mendengar cerita bagaimana suksesnya sang mantan suami.
“Jadi tidak perlu bersusah payah untuk menolak karena masalah pribadi kamu dengan Jayden. Kamu harus bisa melakukan yang terbaik?” kata David sambil berjalan mendekat pada Divi. Ia menepuk pundak Divi beberapa saat kemudian tersenyum dengan hangat. “Kamu pasti bisa kan melakukan itu? Lakukan dengan profesional seperti biasanya! oke?”
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Divi merasakan David meninggalkannya sendirian di ruang kerja miliknya.
Beberapa saat setelah pintu ruangan itu tertutup, Divi hanya menghela napasnya. Wajahnya nampak gelisah. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan lalu bergumam dengan keras. “Hiiiiiihh! Kenapa sih harus dia?” kesalnya bukan main.
***
“Kenapa, Jay?” tanya Bruce Agung. Laki-laki yang menjadi manajernya, yang sudah menjadikannya seorang model ternama itu melihat ke arah Jayden dari spion mobil di atas kepalanya.
Jayden diam. Ia hanya menatap Bruce sejenak lalu membuang mukanya ke arah jendela mobil di sampingnya. “Habis ini kita ke mana, Bruce?” tanyanya balik. Mengabaikan pertanyaan Bruce padanya.
“Oh habis ini kita ke PH Visimedia untuk pembahasan soal film yang mau kamu bintangi itu.”
“Bukannya aku udah bilang untuk mengurangi agendaku, Bruce?” tanya Jayden menggerutu.
“Ehm tapi dari pihak Visimedia mau menambah tiga kali lipat dari honor yang dijanjikan. Aku rasa nggak bijak misal kita tetap menolak permintaannya. Lagian ini kan, penampilan kamu nanti hanya sebagai kameo. Ini tidak akan memakan banyak waktu, Jay.”
Jayden mendengus kesal. “Kamu tahu sendiri kalau aku tidak punya bakat di akting.”
“Kamu hanya harus menjadi diri kamu sendiri, Jay,” kata Bruce lagi. Ia ingin mengubah pikiran Jayden. “Kita juga bisa jadikan ini sebagai batu pijakan awal. Bukannya bagus kalau setelah film ini dan kamu bisa bekerja juga sebagai pemain film. Ya syukur—syukur kamu bisa jadi pemain pertama dalam sebuah film box office! Kita tak pernah tahu kan apa yang mungkin jadi di masa depan?”
Jayden hanya mendengarkan. Ia sedang tidak mood sekali saat ini, apalagi Bruce tak hentinya mengoceh. “Kamu sudah ke rumah tadi pagi?” tanya Jayden. Pagi ini, ia memang pergi sendiri ke kantor majalah InSight Love! dan baru setelah pulang ia dijemput oleh Bruce.
“Sudah. Tapi sepertinya Bu Denis sama sekali tidak senang dengan kedatanganku. Dia merindukanmu, Jay.”
“Kamu sudah bilang kan kalau aku sedang sangat sibuk akhir—akhir ini?”
Bruce menghela napasnya sambil mengangguk. “Sudah. Aku sudah berusaha mungkin untuk memahami kesibukan kamu sekarang.”
“Baguslah! Kalau begitu tidak ada masalah apapun kan?” Jayden ingin mengakhiri obrolannya dengan Bruce.
“Ng ... nggak ada sih,” katanya lalu mengakhiri percakapan beberapa saat. bruce terus melihat ke arah depannya, menyetir dengan fokus agar nyawanya dengan Jayden sampai dengan selamat sampai tujuan di Production House Visimedia.
***
Divi dan Rangga berjalan masuk ke dalam mobil bersama. Mereka baru menyelesaikan pekerjaan mereka hari ini. Meskipun pekerjaan mereka sama dengan yang dilakukannya di Sydney, tapi entah mereka keduanya nampak begitu penat.
Rangga tidak banyak bicara. Setelah masuk ke dalam mobilnya dan memakai sabuk pengaman, ia menyalakan mesin mobil lalu melajukannya. “Habis ini langsung balik aja ya?” tanya Rangga tanpa menoleh ke arah Divi yang berada di sampingnya.
Divi berdehem pelan. Kepalanya bersandar ke jendela di sampingnya. Wanita itu sedang resah dan gelisah karena bertemu kembali dengan laki-laki yang masih bisa menjungkir balikan perasannya.
“Capek juga ya? Bersama tim baru. Berasa jadi leader.”
Divi berdehem kembali. “Hmm....”
“Kamu kayaknya capek banget hari ini? Apa ada masalah serius?” tanya Rangga setelah beberapa saat menyadari bahwa Divi tak begitu menanggapi perkataannya. Seolah ia sedang memikirkan sesuatu hal yang lain, yang kini tengah mengganggu pikirannya.
“Nggak ada! Nggak ada masalah apapun,” kata Divi dengan cepat. Ia tidak ingin Rangga curiga padanya bahwa ia punya sebuah masalah pribadi yang cukup membuatnya pening.
“By the way, kamu udah ketemu langsung sama Jayden?” tanya Rangga ingin membahas soal model yang akan menjadi projek pertama kantor mereka.
“Udah.”
“Gimana orangnya? Cakep nggak pas lihat langsung?” tanya Rangga lagi ingin tahu soal pendapat Divi mengenai calon klien mereka.
“Biasa aja. Kita juga kan udah sering kerja sama dengan actor atau actress. Dia sama aja kayak yang lain,” bohong Divi. Ia sama sekali tak berani menatap Rangga.
“Hmm begitu ya,” gumam Rangga. Setelahnya ia diam dan fokus menyetir. Saat mobilnya berhenti karena lampu merah, Rangga menoleh. Menatap ke arah Divi karena ada beberapa hal yang mengganggu pikirannya.
Divi sendiri tak menyadarinya karena wanita itu tengah menunduk sambil memainkan ponsel miliknya sejak tadi.
“Div, kamu jadi akan menatap di apartemenku?” tanya Rangga setelah beberapa saat menimbang antara harus mengatakannya sekarang atau nanti ketika mereka di rumah. Namun karena ada kesempatan sekarang, mungkin lebih baik untuknya membahas hal ini sekarang juga.
Mendapat pertanyaan itu lagi membuat Divi mendongakkan kepala. Ia sudah tidak punya pilihan dan akhirnya menganggukkan kepala. “Aku bisa kan melakukan masa percobaan selama sebulan?”
Rangga setelahnya terkekeh pelan. “Terserah kamu saja.”
“Aku akan membayar di muka kalau kamu mengkhawatirkan uang sewa yang harus kubayar,” gumam Divi to the point.
Rangga terdiam. Ia menatap Divi dengan serius dan masih tak menyangka bahwa Divi mau tinggal bersamanya. Mereka akan satu atap bersama. Membuat kebersamaan mereka makin banyak. “Bagus deh kalau begitu,” kata Rangga setelah mengingat apa yang dikatakan oleh Divi sebelumnya. “Tapi kalau kamu mau membayarnya di akhir bulan, aku sama sekali tak masalah. Barang kali saja kan kalau kamu akan mendapat tempat kos yang kamu inginkan di luar sana.”
Divi menghela napasnya. “Sudahlah. Malas juga jika harus pindah.”
Rangga menganggukkan kepala. “Oke kalau begitu. Aku terserah padamu saja.”
Divi berdehem. Setelahnya mobil kembali melaju dengan pelan karena lampu berubah menjadi hijau. Kurang dari lima menit, mobil pun sampai ke gedung apartemen tempat mereka tinggal bersama.
***
“Rangga?” panggil Divi saat keduanya berada di meja makan. Duduk di kursi makan dan tengah menikmati sarapan bersama. Sejak obrolan terakhir mereka di mobil semalam, setelahnya Divi dan Rangga tak bertemu lagi di dalam apartemen mereka. Divi mengunci dirinya di dalam kamar bahkan melupakan makan malamnya.
“Hn?” Rangga mendongak sementara tangannya terus bekerja mengolesi selai cokelat ke atas permukaan roti tawar yang akan dimakannya. Rangga melihat bagaimana Divi begitu gelisah, tapi ia menunggu wanita di depannya itu untuk berbicara dengan dirinya sendiri.
“Wajar nggak sih masalah pribadi mengganggu pekerjaan utama?” tanya Divi dengan lemas.
Rangga mendadak berhenti bergerak. Ia menatap Divi dengan bingung. “Emangnya ada apa?” tanyanya penasaran. “Apa kamu ada masalah pribadi di kantor?”
Divi yang langsung tersadar karena nyaris membeberkan masalah pribaidnya dengan Jayden pun langsung menggeleng dengan cepat. “Ngg ... aku mendadak kangen sama keluargaku. Kayaknya di kantor jadi agak lesu gitu. Kangen anak juga.”
Berdehem pelan, Rangga pun kembali melanjutkan pekerjaannya. “Udah ... jangan terlalu dipikirin!” kata Rangga sambil menaruh roti yang sudah diolesinya dengan selai pada Divi. “Nih makan yang banyak! Jangan sampai kamu berubah jadi tengkorak hidup karena nggak bisa LDR sama keluarga!”
“LDR ya....” Divi mendadak mengingat hal lain ketika mendengar kata LDR. Dulu ia pernah merasakan bagaimana sulitnya menjadi pasangan LDR, dan akhir yang pahit bahwa keputusannya untuk LDR dengan panasangan berujung pengkhianatan. Berujung perpisahan antara dirinya dan Jayden yang tak mampu lagi untuk setia hanya kepada satu wanita.
“Hey, kenapa?” tanya Rangga sambil melambaikan tangannya di depan mata Divi. “Malah jadi ngelamun lagi ini!”
Divi yang kembali tersadar dari lamunannya pun segera mengerjapkan matanya berulang kali. Ia terkekeh pelan dna mulai mengambil roti lapis yang ada di atas piringnya. Memakannya satu kali gigitan pertama dan kemudian menghabiskannya dengan cepat. Divi baru sadar bagaimana perutnya sekarang begitu sangat lapar.
“Pelan-pelan lagi makannya!” nasihat Rangga pada Divi yang makan dengan cepat. Sayangnya setelah mengatakan itu, makanan yang ada di tangan Divi habis begitu saja. “Cepet banget habisnya!” komentarnya lagi.
“Laper banget sih ini soalnya,” kata Divi baru sadar dengan kondisi perutnya. “Itu buat aku lagi ya? masih kurang!”
Rangga terkekeh dan segera menyerahkan roti lapis yang kedua pada Divi. “Kayaknya hari ini masih banyak pekerjaan ya? Siapin amunisi kalau begitu.”
Divi mengangguk sambil tetap makan. Namun sambil makan, ia kembali membayangkan kebersamaannya dengan Jayden karena keputusan mereka untuk bekerja sama karena pekerjaan.
Membayangkannya saja membuat Divi tidak yakin. Bagaimana jika nanti ia bertemu kembali dengan Sabrina? Wanita yang pernah dilabraknya dalam kondisi hamil besar dan tampak menyedihkan.
Mengingat masa itu membuat Divi kesal. Bagaimana dulu ia begitu menyedihkan dengan kondisi hamil tua dan diselingkuhi oleh suami yang dalihnya bekerja jauh tapi ternyata main serong?
Tanpa sadar Divi menghela napasnya dengan berat, membuat Rangga yang berada di hadapannya dan tengah memakan roti lapisnya pun menatap dengan bingung dan penasaran. Rangga seolah makin menyadari bahwa ada hal yang membuat Divi khawatirkan saat ini. Wanita itu sepertinya kelelahan bukan karena hari pertama bekerja, tapi ada hal lain yang membuatnya tidak nyaman.
Tapi sekiranya apa? Rangga berulang kali bertanya pun, Divi tak juga mau membuka dirinya untuk bicara jujur.
Rangga menghela napasnya. Membuat Divi yang berada di hadapannya menoleh. Wanita itu mendadak bertanya—tanya pada Rangga dalam hati. Apa yang sedang dipikirkan Rangga saat ini? Wajahnya serius sekali.
Akhirnya setelah menyelesaikan sarapan mereka bersama dengan roti, keduanya pun pergi bersama menuju kantor. Mereka naik mobil bersama karena ingin menghemat energi mereka di hari—hari awal bekerja.[]
***
bersambung