Bab 70
Sabrina dari New York
Jayden mendengarkan perkataan Divi yang kini berada di hadapannya dengan seksama. Sambil mendengarkan, tatapannya tak putus untuk memperhatikan Divi yang tengah memberi penjelasan padanya tentang konsep pemotretan yang akan dilakukannya. Sebenarnya yang dilakukan oleh Divi hanyalah pengulangan dari apa yang sudah dan pernah diobrolkannya bersama Juliana Devi. Namun karena ingin melihat Divi yang sudah lama tak dilihatnya, ia mau untuk mendengarkan ulang apapun yang berasal dari mulut Divi. Selama itu tidak membuatnya dirugikan.
“Apa kamu mau menambahkan soal sesi pemotretan besok?” tanya Divi pada Jayden yang berada di hadapannya. Mereka mengobrol tak hanya berdua, melainkan berlima. Jayden bersama Bruce Agung selaku manajernya, dan Divi bersama David dan juga satu orang fotografer senior bernama Dalton.
Jayden mengubah posisi tangannya yang sejak tadi terlipat di depan d**a lalu menaruhnya di atas meja panjang di depannya. “Aku sama sekali tak masalah.”
“Baik, kalau tidak ada masalah sama sekali. Kita bisa mengakhiri meeting kali ini,” kata Divi ingin sesegera mungkin kabur dari tempatnya duduk. Saat ia hendak mengambil dokumen—dokumen yang tadi ditunjukkannya pada semua orang, David terdengar berbicara.
“Ehm, Div, bagaimana kalau di beberapa sesi pemotretan kita membuat pemotretan couple? Jayden, bagaimana menurut kamu? apalagi ini akan menjadi projek pertama InSight Love! Indonesia, saya rasa menambah sesi couple akan menyempurnakan pemotretan kamu nanti.”
“Tapi pemotretan sesi couple sama sekali tak ada dalam pembahasan kita, Pak David,” kata Divi mengingatkan.
“Jayden bisa mempertimbangkannya. Bagaimana menurut kamu, Jay?” tanya David seolah tak mempedulikan Divi sama sekali. Laki-laki itu hanya menginginkan keberhasilan produk yang akan diluncurkannya secara publik.
“Ehm—“ Jayden diam sejenak. Wajahnya nampak serius. Tak lama kemudian ia menatap ke arah Bruce yang sejak tadi menyenggol kakinya di bawah meja.
“Kita bisa melakukan itu,” kata Bruce menyetujui.
Jayden menyipitkan matanya. Ia menggelengkan kepalanya dengan pelan sambil menatap Bruce dengan tajam. Namun tatapannya sama sekali tak digubris oleh Bruce. Laki-laki itu di sampingnya memang terlalu memikirkan uang. Ia akan melakukan apapun demi popularitas yang sedang dibangunnya.
“Bagaimana menurut kamu, Jayden? Manajermu saja sepertinya sangat setuju dengan ide ini.”
Jayden kembali menatap David yang bertanya padanya. “Oke, akan melakukan yang terbaik.” Jayden menatap Divi dengan ragu. Rasanya pasti akan canggung jika ia terlihat bermesraan di sesi pemotretan nanti dengan wanita lain.
“Oh ya, soal wanita yang akan menjadi pasangan Jayden nanti di sesi pemotretannya, aku ingin mengusulkan seseorang.”
Jayden dan semua orang kembali memperhatikan Bruce dengan serius. Kaki Jayden kini hinggap dengan keras ke betis laki—laki di sampingnya.
Apa yang sedang kamu lakukan? Jayden rasanya ingin sekali jika Bruce mengetahui apa yang ada di hatinya.
“Aku ingin merokemendasikan Sabrina, Jayden,” kata Bruce membuat Divi sekaligus Jayden tak nyaman. Bahkan tatapan Divi langsung berubah begitu dingin karena ia mengingat kembali soal wanita yang sudah menghancurkan rumah tangganya.
“Sabrina tidak ada di Jakarta. Apa kamu lupa kalau dia tinggal di New York sekarang?” tanya Jayden dengan ketus. Ia khawatir apa yang dilakukan oleh Bruce akan menyakiti hati Divi. Meskipun mereka tak lagi memiliki hubungan apapun saat ini, yang tak lebih dari sekedar mantan pasangan. Namun rasanya tak benar jika Divi melihat kembali dirinya dan Sabrina di waktu yang sama.
“Kemarin, aku baru saja menjemputnya di bandara. Kamu belum dihubungi sama sekali oleh Sabrina ya?”
“Ya lagian untuk apa dia menghubungiku. Aku bahkan tidak memiliki nomernya.”
“Kamu masih ngeblok nomer Sabrina?” tanya Bruce sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
Jayden tidak membalas. Ia justru menatap Divi yang kini tengah menundukkan kepalanya. Div, maaf, karena kamu harus mendengar kembali nama Sabrina saat bersamaku.
“Untuk perihal Sabrina, nanti profilnya kirim ke Divi saja kalau begitu. Divi akan menilainya, apakah dia cukup untuk menjadi partner pemotretan Jayden nantinya? Bagaimana Divi, kamu siap kan?”
Divi diam sejenak. Namun tak lama kemudian, ia mendongakkan kepalanya dan tersenyum simpul sambil menganggukkan kepala. “Saya tunggu profil dari Sabrina kalau begitu.”
“Aku bisa mengirimkannya sekarang,” kata Bruce seolah sudah menyiapkan semuanya, soal Sabrina. Ia mengambil tablet kerja miliknya yang ada di atas meja kemudian menggunakannya beberapa saat. Tak sampai semenit, Bruce sudah mengirimkan berkas pada email Divi. “Saya sudah kirim ke Bu Divi.”
Divi pun segera mengeceknya. Ia membuka email dari laptop yang ada di depannya dan membukanya. Ia mengecek sebentar lalu menunjukkannya pada David. Saat David menganggukkan kepala, Divi pun mau tak mau menyetujui partner yang akan melakukan sesi pemotretan bersama Jayden nanti.
“Dia sedang menjalani karir modelingnya di New York?” tanya David pada Bruce. David bisa melihat bahwa Bruce mengenal Sabrina dengan baik hingga merekomendasikan wanita itu untuk bersama dengan Jayden.
“Ya, kurang lebih selama 2 tahun terakhir dia membangun karirnya di New York. Bukankah bagus kalau kita menggunakannya?”
“Aku suka wajahnya, postur tubuhnya pun nampak ideal untuk melakukan pemotretan dengan Jayden. Bagaimana menurut kamu, Divi?” tanya David. Ia ingin mendengar pendapat dari Divi soal Sabrina.
“Iya, dia memang cocok dengan Jayden. Mereka pasti akan terlihat serasi di pemotretan nanti.”
Bruce tertawa dengan girang. “Aku juga yakin soal itu. Sudah cukup lama sejak Jayden dan Sabrina berada dalam satu frame. Ini akan jadi reuni kalian, Jayden.”
“Sebelumnya Jayden dan Sabrina sudah pernah dalam pemotretan bersama?” tanya David penasaran.
Bruce menganggukkan kepala. “Di awal—awal karir Jayden, Sabrina jadi sosok yang selalu ada di sampingnya. Mereka berkawan cukup dekat. Aku malah pernah mendengar bahwa Jayden dan Sabrina pasangan kekasih sebelumnya,” kata Bruce membuat David tak enak hati. Ia langsung melirik pada Jayden yang tampak tak nyaman, dan wajah Divi yang begitu dingin.
“Tapi bagaimana bisa dari awalnya sepasang kekasih menjadi teman. Aneh, bukan? Hahaha....”
“Bruce, cukup!” kata Jayden tak ingin jika Bruce banyak bicara lagi.
“Kenapa sih, Jay? Aku kan cuma lagi bicara fakta.”
“Cukup, Bruc!” ulang Jayden lagi dengan tatapannya yang tajam. Bruce yang tahu bahwa ia harus diam pun segera menganggukkan kepalanya.
“Untuk persoalan Sabrina nanti biar Bruce yang menghubunginya.”
“Saya akan menghubunginya sendiri! Karena bagaimana pun yang akan menjalin kerja samanya nanti dengan pihak InSight Love!” Divi menolak permintaa Jayden.
Jayden diam kembali. Ia menatap Divi yang terlihat terluka dan menahan amarahnya.
“Bruce, kamu hubungi Sabrina dan obrolkan ini dengan Divi! Aku akan pergi duluan.” Jayden tak ingin melihat Divi yang sedang merasa tak nyaman lebih lama. Ia bangkit dari kursi yang didudukinya lalu meninggalkan ruangan meeting di kantor InSight Love! Indonesia.
Bruce yang sudah membawa masuk Sabrina. Biar dia yang menyelesaikan masalahnya. Pikir Jayden dalam hati.
Dalam perjalanan menggunakan taksi, Jayden merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Divi. Namun bagaimana pun juga ia sendiri tak tahu bahwa Bruce akan membicarakan soal Sabrina di depan mereka?
Bruce, rasanya aku ingin sekali menggantimu dengan orang lain! pikir Jayden lagi karena kekesalannya.
“Maaf, Mas, kita mau ke mana ya?” tanya supir taksi yang sejak tadi melajukan taksinya tak tentu arah. Ia sama sekali tak masalah karena argometer taksinya terus berjalan.
“Oh iya, Pak.” Jayden masih belum bisa memutuskan untuk pulang ke rumah ibunya sesuai dengan yang sudah dijanjikannya pada sang ibu pagi ini.
“Iya, Mas. Ke mana?”
Jayden menghela napasnya. Akhirnya ia menyebut kompleks tempat ibunya tinggal.
***
Jayden baru saja sampai di depan pintu gerbang luar rumah ibunya dan menemukan sosok yang baru saja ke luar dari rumah. Sosok wanita itu belum menyadari keberadaannya. Hingga akhirnya, saat ia hendak membuka pintu mobilnya, ia pun menemukan sosok Jayden yang berada di belakangnya. Masih berdiri di dekat pagar rumah.
“Jayden!” katanya. Sabrina terlihat senang saat melihat Jayden yang kini berada di depannya. Ia menutup kembali pintu mobil yang hendak digunakannya lalu menghampiri Jayden.
Jayden sendiri berjalan masuk ke dalam rumah, tanpa berekspresi pada Sabrina.
“Jayden, ini aku Sabrina,” kata Sabrina sambil berdiri di hadapan Jayden yang menatapnya dengan dingin.
“Aku tahu kamu Sabrina. Udah sana, tadi bukannya mau pergi!” kata Jayden tak mempedulikan Sabrina sama sekali. Hubungan mereka kini memang sangat dingin. Sabrina sendiri masih bersikap baik karena sudah mengganggap Jayden sebagai teman. Berbeda dengan Jayden yang kini sangat tidak suka berdekatan dengan Sabrina. Jayden bahkan sangat senang saat Sabrina tak ada lagi di sekitarnya sejak dua tahun yang lalu. Membuat kehidupannya lebih baik.
“Jayden!” Sabrina menahan lengah lelaki di depannya. Saat Jayden berbalik, ia pun dengan cepat masuk ke dalam pelukan laki-laki itu. “Aku kangen sama kamu!”
Jayden menghela napasnya. “Aku nggak! Jadi, bisa kan lepasin?”
Sabrina nampak cemberut. “Kamu masih aja bersikap dingin ke aku.”
“Lagian kamu ngapain sih ke sini?”
“Aku kan kangen sama Mama kamu. Aku juga mau lihat kondisi Mama kamu. Tadi aku juga bawain oleh—oleh buat Mama dan adik kamu loh!”
Jayden diam sejenak. Ia menghela napasnya lagi lalu berbalik badan. Jayden meninggalkan Sabrina seolah tak ingin mengobrol lagi dengannya. Seolah urusannya sudah usai.
Sabrina berhenti tersenyum. Apalagi saat Jayden masuk ke dalam rumah berpintu ganda di depannya. Laki-laki itu meninggalkannya dengan tetap mengabaikan keberadaannya.
Sabrina tak habis pikir dengan Jayden. Kenapa sejak bercerai dari Divi sikapnya jauh lebih dingin pada semua orang? Sekarang, sikapnya benar-benar tak ada lagi rasa tak enakan. Tak ingin membantu dengan tangannya sendiri dan tak ingin peduli.
Sabrina kembali berbalik badan. Ia hendak memasuki kembali mobil miliknya yang berada di parkiran depan rumah Mama Denis. Di dalam mobil, Sabrina sesekali memikirkan Jayden.
Apakah sudah tidak ada lagi kesempatan baginya untuk mendapatkan hati Jayden? Apakah ia sudah tak memiliki kesempatan untuk menggantikan Divi yang sudah membuat hati Jayden begitu beku?
Menghela napasnya dengan berat. Sabrina rasanya tak ingin menyerah. Setidaknya ia ingin menjadi teman bagi Jayden. Tak peduli dengan masa lalu mereka yang pernah bersama dalam hubungan gelap dan hitam, yaitu hubungan perselingkuhan.
Sabrina tak ingin melepaskan Jayden karena Jayden orang pertama yang peduli padanya. Orang yang sudah membuatnya kembali hidup dengan perhatian orang lain. Orang yang memberikannya ibu, Mama Denis. Orang yang berarti segalanya bagi Sabrina. Apakah ada kesempatan kedua itu?
Aku benar-benar berharap sekembalinya aku, kita bisa menjadi pasangan. Atau jika itu sulit, izinkan aku menjadi orang terdekatmu, Jayden. Apakah dua tahun masih tak cukup bagimu untuk berpisah darimu? Apakah lima tahun tidak cukup bahwa kita hanyalah teman?
Sabrina tersadar dari lamunannya saat ia mendengar teleponnya berbunyi. Ia melihat identitas peneleponnya dan menemukan nama Bruce Agung di sana.
“Halo, Bruce!”
“Kamu udah dalam perjalanan?” tanya Bruce.
“Iya. Aku udah dalam perjalanan ke kantor yang kamu kirim.”
“Oh ya udah kalau begitu,” katanya. “Aku tunggu kamu nanti di lobi kantor.”
“Hmm....” Sabrina berdehem. “Oh ya, tadi aku ketemu sama Jay.”
“Kamu udah ketemu sama Jayden?” tanya Bruce, terdengar tidak percaya sama sekali.
“Aku serius. Aku kan tadi habis ke rumah Mama Denis. Ngasih oleh—oleh.”
“Oh kamu dari rumah Mama Denis,” katanya. “Oleh—oleh untukku ada kan?”
Sabrina terkekeh pelan. “Ada. Kamu tenang aja.”
“Ah yes!” Bruce terdengar senang. “Ya udah kalau begitu. Cepat ke mari!”
“Iya, iya! Jangan berisik!” kata Sabrina sambil tertawa. Setelahnya panggilan diputus oleh Sabrina. Ia pun kembali fokus menyetir. Hingga sekitar 10 menit kemudian, ia berhasil memarkirkan mobilnya di basmen gedung kantor.[]
***
bersambung