Truly dan Reality

2148 Kata
Bab 71 Truly and Reality Sabrina berjalan menuju lobi kantor karena ia berjanjian dengan Bruce Agung yang sudah merekomendasikannya pekerjaan. Saat keduanya bertemu, Bruce dan Sabrina nampak saling berpelukan dengan erat. Keduanya nampak sangat senang. “Sabrina, yes akhirnya kamu pulang juga!” “Aku memang seharusnya segera pulang,” kata Sabrina dengan senyum lebarnya. Ia menutup mulutnya karena menganga sambil memperhatikan tubuh Bruce. “Oh my God, Bruce, kayaknya kamu sekarang lebih langsing dari terakhir kali kita bertemu.” Bruce melihat dirinya sejenak kemudian tersenyum dengan genit. “Aku banyak nge—gym. Jadi ada bedanya kan?” “Hmm, iya iya,” kata Sabrina sambil menganggukkan kepala. “By the way, kenapa bisa sangat pas sekali. Aku baru saja pulang dari New York dan kamu menawarkanku pekerjaan baru sebagai model.” “Aku masih cocok kan menjadi menjadi manajermu?” balas Bruce dengan senyum misteriusnya. “Hust, kamu kan sekarang jadi manajer Jayden. Kamu mau menambah keruwetan hidup memangnya?” tanya Sabrina sambil memukul lengan Bruce dengan kencang. Bruce mengelus lengannya yang baru saja dipukul dengan keras oleh Sabrina. “Oh my God, Sabrina, pukulan kamu sangat menyakitkan. Kamu tidak menyadarinya ha?” Sabrina tertawa kecil. “I’m sorry.” Setelah beberapa saat berdiri, Sabrina pun mulai bertanya, “Jadi gimana masalah pekerjaanku?” “Habis ini kita tinggal ke kantornya. Yuk?” ajaknya. Sabrina pun mengikuti Bruce dan mereka berjalan bersama menuju lift. Sabrina yang merasa bosan pun kembali memberikan sebuah pertanyaan. “Aku tadi ketemu sama Mama Denis.” “Hmm, terus gimana?” tanya Bruce tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sabrina. “Perasaan Mama Denis sedih gitu kalau ngomong. Tapi kalau udah ngomongin Jayden, wajahnya berubah jadi bersemangat.” “Mam Denis emang begitu,” kata Bruce. “Sayang banget Jayden nggak bisa perhatian ke Mamanya. Aku sendiri sih udah sering ngomongin, tapi Jayden kayaknya nggak terlalu mengganggap Mamanya ada.” “Jayden masih kesal sama Mamanya?” “Mungkin,” kata Bruce sambil mengedikkan bahunya. “Padahal waktu Mamanya berulang kali mencoba bunuh diri, Jayden kelihatan sangat menderita, tapi untuk datang ke tempat ibunya saja dia sangat sulit untuk mau.” “Tapi saat aku baru mau ke sini, aku melihat Jayden di rumah Mama Denis.” “Hmm ... kita nggak pernah tahu seberapa cepat kunjungan itu, Sabrina.” Sabrina tanpa sadar membuka mulutnya. Saat tersadar, ia mengatupkan mulutnya sambil menganggukkan kepala. Setelahnya pintu lift di depan mereka pun terbuka, Sabrina ke luar disusul oleh Bruce. Mereka berjalan bersama hingga Sabrina seolah melihat seseorang yang selalu bisa diingatnya. Wanita itu sedang berdiri dan mengobrol dengan seorang pria. Kadang wanita itu tertawa kecil dan menampilkan wajahnya yang senang, berbeda dengan apa yang dilihatnya terakhir kali. Di mana wajah cantik itu begitu murung karena kesedihan. “Bruce, kita nggak salah lantai?” tanya Sabrina sambil membalikkan badannya. Divi baru saja menolehkan kepalanya ke arah Sabrina dan Bruce. “Why?” tanya Bruce dengan bingung. “Ehm lagipula kita nggak salah lantai. Ini kantor InSight Love! Indonesia,” katanya melanjutkan. Sabrina baru saja ingin melangkahkan kakinya menuju lift saat ia mendengar suara seseorang yang memanggilnya. “Selamat siang, Sabrina!” sapa Divi di belakangnya. Sabrina pun berhenti melangkah. Ia sudah tertangkap basah oleh wanita yang laki—lakinya sudah ia rebut. Meskipun nyatanya kini laki—laki itu justru tidak menginginkannya sama sekali. Berbalik badan, Sabrina pun segera menyibakkan rambutnya. Ia memperlihatkan wajah cantiknya yang sudah dipoles make up sempurnanya hari itu. “Ehm selamat siang!” “Sabrina perkenalkan, ini perwakilan dari InSight Love! Kamu dan Jayden akan bekerja bersamanya. Divi yang mengurus bagian redaksi.” Mata Sabrina membola. Namun tak lama kemudian, ia mengerjapkan matanya dengan perlahan. Ia menganggukkan kepalanya kemudian mengulurkan tangan pada Divi. “Senang bisa bertemu denganmu lagi, Divi!” Melihat kepercayaan diri milik Sabrina, Divi pun tersenyum dengan percaya diri. Ia merasa tertantang ketika melihat wanita di sampingnya. “Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik,” kata Divi sambil menerima uluran tangan Sabrina. Keduanya berjabat tangan sejenak. Sementara itu, Bruce yang menyadari kata—kata dari Divi pun bertanya, “Bu Divi sudah pernah mengenal Sabrina sebelumnya?” “Iya tentu saja. Meskipun kami hanya sekali bertemu, tapi saya sangat mengingat Sabrina,” kata Divi dengan senyum misterius di wajahnya. Sabrina menelan ludahnya susah payah. Ia merasa kesulitan bernapas dengan sikap Divi. Apalagi kala mengingat bahwa Jayden sudah bertemu dengan wanita di depannya saat ini, apakah mereka harus saling berebut lagi? “Kalau begitu, kita bisa ke ruangan meeting sekarang. Kita bisa mengobrol mengenai kontrak kerja sama yang akan InSight Love! Indonesia tawarkan.” Divi melihat jalan ke depannya kemudian melihat ke arah Sabrina dengan sopan. “Hm....” Bruce berdehem. Tak lama kemudian, Divi pun berjalan lebih dulu. Mereka berjalan dengan santai menuju ruangan meeting dengan wajah Divi yang begitu dingin. Sesampainya di ruangan meeting, Divi pun menyiapkan kontrak kerja samanya. Ia memberikannya pada Sabrina dan satunya ia pegang sendiri. Kontrak milik Sabrina tidak seeklusif milik Jayden. Divi pun mulai menjelaskan kontrak yang sedang dipegangnya. “Jadi untuk kontrak ini, dari atasan saya sendiri sudah bicara kalau masalah kontrak akan sedikit dari milik Jayden. Jayden membuat kontrak kerja sama ekslusif sebelumnya. Sedangkan untuk Sabrina, kami hanya akan meminta beberapa pemotretan pasangan dengan Jayden nantinya.” “Nggak ada kesempatan untuk Sabrina photoshoot sendirian dengan konsep yang berbeda dengan Jayden?” tanya Bruce. Ia sudah seperti manajer Sabrina. “Maaf sekali, Bruce. Namun untuk hal itu kami tidak bisa melakukannya.” Bruce menghela napasnya. Ia merasa tidak bisa memberikan Sabrina yang terbaik. “Seharusnya kalian pikirkan, bagaimana pun juga ini akan jadi pemotretan pertama Sabrina di majalah Indonesia, sebelumnya Sabrina sudah masuk majalah yang berada di New York.” “I know!” Divi tersenyum tipis. “Namun memang rencana untuk majalah kami sendiri sudah dikonsepkan jauh—jauh hari. Sudah ada beberapa model yang akan melakukan pometratan indivual yang sudah dalam proses kontrak. Sabrina mungkin bisa mendapatkan ekslusif kontrak dengan kami jika pekerjaannya nanti bersama Jayden telah dilihat hasilnya.” Bruce mengangguk—anggukkan kepalanya. Ia menendang kaki Sabrina yang ada di bawah meja. Membuat Sabrina menoleh ke arahnya, wajah Sabrina yang menoleh membuat Bruce kebingungan. “Heh, gimana?” tanya Bruce dengan suara ketusnya. Sabrina kembali menatap Divi yang sangat berbeda dari apa yang dilihatnya terakhir kali. Satu hal yang masih Sabrina sadari ada pada Divi adalah, bahwa wanita di depannya itu masih terlihat kuat seperti dulu. Bahkan mungkin lebih kuat. Buktinya Divi bisa berada di hadapannya. Berbicara tanpa ragu dan gemetar membahas pekerjaan mereka. Padahal ini adalah pertemuan pertama mereka setelah sekian lama. “Saya terima,” kata Sabrina setelah beberapa saat terdiam. Divi yang memperhatikan surat kontraknya pun kemudian tersenyum. Ia menyiapkan pena yang sudah ada di atas meja kemudian membubuhkan tanda tangan di atas materai yang sudah tersedia. Tak lama kemudian, Divi dan Sabrina bertukar surat dan mereka menandatangani kolom yang sudah disediakan sesuai nama mereka. Sabrina tersenyum tipis begitupun dengan Divi. keduanya saling berjabat tangan kemudian berpisah. Namun setelah Sabrina meninggalkan ruangan meeting yang masih ada Divi di dalamnya, gadis itu memeluk lengan Bruce dengan kuat. Bruce yang merasakan tangannya dicengkram oleh Sabrina pun menoleh. Tapi ia tak bisa melihat wajah Sabrina yang tertunduk lesu. “Kenapa, Sabrina?” tanya Bruce dengan bingung. “Aku nggak tahu apa ini harus kulakukan?” “Apanya?” tanya Bruce mendadak khawatir. “Jangan bilang kalau baru saja kamu tanda tangan kontrak, dan sekarang kamu sudah menyesal karena tidak suka dengan rencana mereka yang hanya menjadikanmu sampingan?” Sabrina menghela napasnya dengan berat. Mereka berdiri di depan lift yang masih tertutup. Hingga akhirnya pintu lift terbuka, Sabrina pun mengatakan rahasiannya dan rahasia Jayden. “Bruce, apa kamu tidak tahu sama sekali?” “Soal apa?” tanya Bruce dengan bingung. “Jangan berbelit—belit! Katakan saja, apa yang sebenarnya kamu sedang pikirkan?” “Hah,” Sabrina menghela napasnya. “Wanita tadi itu mantan istri Jayden! Apa kamu tidak menyadarinya sama sekali?” tanya Sabrine dengan kesal. Bruce buru—buru melepaskan pegangan tangan Sabrina. “What? Apa? Nggak mungkin!” kata Bruce saking kagetnya. Sabrina menghela napasnya lagi. “Aku serius! Untuk apa aku berbohong? It’s truly and reality.” Bruce diam sejenak. Mendadak ia memikirkan bagaimana sikap Divi dan Jayden pagi ini. “Nggak mungkin ... tapi mereka kelihatannya baik—baik saja bersama.” Sabrina menghela napasnya. “Kamu lihat tadi? Bahkan Divi terlihat baik—baik saja di depanku?” Bruce diam beberapa saat. Fakta bahwa Sabrina menjadi orang ketiga dalam hubungan Jayden dan mantan istrinya membuat laki—laki itu merasa bersalah pada Divi. “Seharusnya aku tidak merekomendasikanmu sama sekali! Aku sudah membuat ring tinju untuk kalian bertiga.” Sabrina terkekeh pelan. “Tidak segitunya!” kata Sabrina membalas perkataan Bruce. “Tapi aku lihat Divi sekarang sudah jauh berbeda dari apa yang kulihat dulu.” “Apanya?” tanya Bruce. “Dia lebih cantik dan percaya diri.” Bruce mengdengkus kesal. “Seharusnya kamu tidak langsung tanda tangan saat berada di ruangan tadi.” “Sudahlah!” kata Sabrina. “Aku juga kan butuh pekerjaan. Lagian sepertinya Divi juga sosok yang profesional. Dia pasti takkan memasukkan perasaannya pada pekerjaannya ini.” “Oke, tapi bagaimana dengan Jayden? Jayden terlihat masih memendam perasaannya pada mantan istrinya itu!” kata Bruce yang langsung membuat Sabrina menatapnya dengan tajam. “Itu tidak mungkin! Mereka bahkan tak pernah bertemu lagi kan sekian lama! Kamu sendiri sering mengatakannya padaku kalau Jayden punya banyak kegiatan yang menyita waktunya kala aku sedang berada di New York kan?” Bruce terdiam untuk beberapa saat. “Aku mulai tidak yakin. Jayden sangat sibuk, tapi begitu dia tidak sibuk dia sering melamun. Aku tak tahu pasti apa yang sedang dilamunkannya, tapi aku pernah mendengarnya merancau. Aku kangen sama kamu. Aku mau kamu kembali.” Sabrina mendengkus kesal. Apa benar jika Jayden masih mencintai Divi? Apakah ia benar—benar tidak punya kesempatan lagi untuk menjadi pendamping hidup laki—laki itu? “Sudahlah! Jangan bahas hal ini lagi! Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan,” kata Sabrina dengan ketus. “Kamu masih mengharapkan Jayden, ha?” tanya Bruce membuat Sabrina terdiam. “Aku berharap setelah kepergianku ... dia akan lebih baik saat memperlakukanku.” “Bagaimana dengan pertemuan pertama kalian di rumah Mam Denis?” Sabrina kemudian menoleh ke arah Bruce. Wajahnya nampak sebal. “Jayden sama sekali tak berubah!” Bruce pun hanya bisa menahan tawanya. Tak lama kemudian ia terdiam dan mengatakan hal yang akan menjadi kekhawatiran Sabrina. “Apa mungkin Jayden masih mencintai Divi? Itu sebabnya dia tidak tertarik dengan siapapun. Termasuk kamu!” Sabrina terdiam. Namun ia segera memukul punggung Bruce dengan keras. “Jangan bicara sembarangan! Jayden akan menjadi milikku!” katanya sebal. Namun dalam hatinya, Sabrina tidak bisa mengabaikan perasaannya yang khawatir. Sabrina juga ragu dengan apa yang sudah dikatakan oleh Bruce. *** Divi melihat ke arah tanda tangan Sabrina dan terdiam beberapa saat. Wanita itu merasa de javu karena melihat kembali sosok—sosok di masa lalunya dengan waktu berdekatan. Kenapa justru takdir membawanya ke mari untuk bertemu kembali dengan kedua orang yang sudah menyakitinya dulu? Divi menghela napasnya. Ia melihat kembali ke arah tanda tangan Sabrina yang nampak cantik, kemudian membandingkannya dengan tanda tangannya yang sama sekali tak memiliki nilai artistik. Sangat mudah ditiru. “Div?” suara seseorang terdengar memanggilnya sambil mengetuk pintu ruangan meeting yang sudah dibukanya. Divi menoleh. Ia melihat Rangga sedang berdiri, menghadang pintu ruang meeting agar tak kembali tertutup dengan otomatis. “Kenapa?” “Itu dipanggil sama David! Tanyain soal tanda tangan kontrak dengan model baru.” “Oh....” Divi mulai bangkit berdiri. Ia bangkit dengan tangan yang sudah memegang dokumen penting yang baru saja ditanda tanganinya. “Oke aku ke ruang David sekarang!” Rangga mengikuti Divi saat wanita itu berjalan menuju ruangan David. “Kenapa sih lo? Kayak lemeeees terus?” “Nggak tahu nih! Kayaknya karena sarapannya sedikit.” “Oh jadi mau nyalahin aku?” “Aku nggak bicara seperti itu ya!” ketus Divi sambil menatap Rangga dengan senyum menggodanya. “Jadi emang salah kamu sendiri?” “Ckck....” dengan mudahnya Divi berubah menjadi kesal. “Hooh. Iya, aku yang salah! Puas kan? Ck!” Setelahnya Divi berjalan lebih cepat menuju ruangan David. “Ngapain sih ngikutin dari tadi?” tanya Divi pada Rangga yang terus berjalan di sampingnya. “Loh ge—er! Aku kan emang harus ketemu David!” kata Rangga dengan menyebalkannya. Divi berdecak sebal kemudian membiarkan Rangga terus berjalan bersamanya. “Bilang kek dari tadi!” kesalnya dengan gigi terkatup. Divi merasa moodnya hancur karena Jayden dan Sabrina. Namun ia justru melampiaskannya pada Rangga. Divi menghela napasnya dengan berat membuat Rangga menatapnya dengan bingung. Namun Rangga tak sampai bertanya, laki—laki itu hanya diam dan mereka masuk bersama ke ruangan David.[] *** bersambung >>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN