Bab 72
Penyesalan yang Menggerogoti Jayden
Divi menghela napasnya dengan berat. Ia kini tengah terduduk di atas kloset, di dalam bilik yang ada di toilet kantornya. Wajahnya nampak lelah, tentu saja. Ia merasa hari ini energinya terkuras habis setelah berpura—pura bersikap biasa saja di depan Jayden, dan kemudian dilakukannya lagi di depan Sabrina. Kedua orang yang dulu menghancurkan hidupnya kelihatan lebih baik dan Divi merasa karena harus bersikap kuat di depan mereka dalam rentetan waktu yang dekat, hari ini.
Setelah merasa lebih baik ketika sendirian, Divi mulai membuka ponselnya. Ia baru menyadari bahwa ada pesan masuk di ponselnya. Dari nomer baru yang tidak dikenalinya.
Mengerutkan keningnya, Divi pun dengan refleks membuka pesan dari nomer asing yang masuk ke ponselnya.
[ Ini Jayden, Divi. Save nomerku. ] –Jayden.
“Jayden?” Divi tiba—tiba mencengkram ponselnya dengan kesal. Kenapa justru laki—laki itu yang menghubunginya duluan? Kenapa dia harus memberitahu nomernya dan justru menyuruhnya menyimpan nomernya?
Divi mengatur napasnya yang awalnya memburu. Hingga akhirnya ia tenang, dalam hati ia membenarkan tindakan Jayden mengiriminya pesan karena ini urusan pekerjaan. Tak ada hal yang lebih penting daripada urusan pekerjaan bersama laki—laki itu.
“Tenang, Divi! Relaks,” kata Divi lebih kepada dirinya sendiri.
Setelah makin tenang, Divi pun ke luar dari kloset di toilet umum itu. Ia melihat sekitarnya dan menemukan toiletnya yang sedang dipakai oleh beberapa wanita, karyawan baru di kantornya.
Divi tersenyum tipis saat melihat beberapa orang yang menyapa karena mengenalnya. Tak lama kemudian, ia pun ke luar dari toilet.
Menuju ke arah meja kerjanya, Divi kemudian bersiap untuk membereskan meja kerjanya. Sudah waktunya pulang bekerja dan Divi juga ingin segera meninggalkan kantornya yang terasa sesak sejak pertemuannya dengan Sabrina hari ini.
Rangga yang baru saja kembali dari ruangan David melirik ke arah Divi yang tengah bersiap—siap. “Udah mau balik?” tanya Rangga.
“Hmm,” balas Divi tanpa menatap ke arah Rangga yang masih berdiri di dekatnya. “Kamu masih lama nggak?” tanyanya sambil menoleh.
Rangga menatap wajah Divi untuk beberapa saat. Wanita yang masih mencuri hatinya itu terlihat lelah. Namun sebentar saja ia tersadar dengan apa yang harusnya ia lakukan.
Berdehem pelan, Rangga kemudian menjawab pertanyaan Divi. “Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan segera. Kalau kamu mau pulang duluan, nggak masalah.”
“Oke, aku pulang duluan aja ya?” katanya menegaskan. Divi memegang tas kerjanya.
Rangga kembali mengangguk. “Kamu menyimpan kartunya kan?”
“Aku bawa,” kata Divi sambil tersenyum simpul.
Rangga kembali terdiam karena menikmati senyuman di wajah Divi. Namun kembali ia mengangguk karena tersadar dari lamunannya. “Kalau sempat, buatkan makan malam ya?” katanya sambil menegakkan tubuhnya.
Divi terkekeh pelan. “Pantas aja suruh aku pulang duluan, mau dibuatin makan malam ya?”
“Loh kan kamu duluan yang minta pulang duluan, bukan aku!” kata Rangga ketus. “Kenapa jadi seolah—olah aku yang nyuruh kamu pulang duluan?”
“Hussh,” kata Divi merasa berisik di telinganya. “Udahlah! Aku mau pulang,” kata Divi sambil bangkit berdiri. Tak ingin mendengarkan pembelaan dari Rangga.
Rangga mendengkus dengan kesal.
Saat Divi mulai melangkah meninggalkan Rangga, ia pun berhenti bergerak setelah lima langkah. Kembali menoleh ke arah Rangga, Divi pun berbicara pada laki—laki yang masih menatapnya pergi. “Iya, iya, nanti aku siapin makan malam. Kamu tenang aja!” balas Divi sewot.
Rangga yang mendengarnya hanya bisa tersenyum tipis. Kembali ia melihat Divi yang berbalik badan meninggalkannya. Terus memperhatikan Divi, Rangga sampai baru tersadar bahwa ia tidak bisa membuang perasaannya begitu saja.
Merasa bodoh, Rangga kemudian merasa frustrasi saat kehilangan Divi dari pandangan matanya.
Menggerakan tangannya dengan pelan sesuai arah tubuhnya, Rangga pun kembali berjalan. Ia menuju meja kerjanya sendiri. Lebih baik, ia segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa menyusul Divi pulang ke apartemen.
***
Divi baru saja turun dari taksi yang ditumpanginya saat ia kembali mendapat pesan dari ponselnya.
Ia mengeceknya sambil terus berjalan dan mendapati pesan dari nomer asing milik Jayden yang belum sempat disimpannya.
[ Kamu baru pulang? ] ¬–Jayden.
Mendadak Divi berhenti bergerak. Ia merasa diikuti. Bagaimana Jayden bisa tahu kalau dia baru pulang?
Merasa horor, Divi tetap menghentikan langkahnya. Ia bahkan mulai memperhatikan ke arah kanan dan kirinya. Namun sampai beberapa saat, Divi tak mendapati seseorang yang dikenalinya itu di sekitarnya.
Merasa tak harus membalas pesan dari Jayden, Divi pun kembali melanjutkan perjalannya. Saat ia menunggu di pintu lift, Divi mempertimbangkan untuk bertanya pada Jayden.
Namun bahkan sampai pintu lift itu kembali dari lantai 10, Divi tak hanya memperhatikan dan membaca ulang pesan dari Jayden.
Gimana Jayden bisa tahu kalau dia baru pulang? Divi terus berpikir.
Ting! Suara pintu lift yang terbuka membuat Divi menggeser badannya. Ia membiarkan orang yang tadinya berada di dalam lift ke luar terlebih dahulu. Baru saja hendak menahan pintu lift dengan menekan tombol lift di sebelahnya saat ia justru menyentuh tangan seseorang yang sudah memencetnya lebih dulu.
“Ehm maaf,” kata Divi sambil menoleh ke arah orang di sampingnya.
Saat ia mendapati seseorang yang sedang berada di pikirannya, Divi pun mendadak terdiam. Wanita itu shock dengan apa yang dilihatnya saat ini.
“Halo, Div?”
Divi mengerjapkan matanya. Saat ia merasakan pintu lift hendak kembali tertutup, Jayden kembali menahannya dengan menekan tombol di samping pintu lift.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Divi membuat Jayden terdiam.
“Mungkin terdengar tidak mungkin, tapi aku tinggal di sini,” kata Jayden membuat Divi memundurkan posisi berdirinya.
“Apa?”
Jayden tersenyum tipis saat menyadari bahwa Divi kelihatan begitu shock dengan apa yang baru saja diberitahunya.
“Bagaimana bisa? Memang sejak kapan kamu tinggal di sini?” Divi seolah tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Jayden. Bagaimana bisa jika mereka tinggal di satu gedung apartemen?
Jayden terkekeh pelan. “Sejak setahun tahun yang lalu,” katanya sedikit berbohong. Jayden tak tinggal di gedung apartemen itu. Namun apartemen yang sudah dibelinya sejak setahun yang lalu itu baru saja kosong. Ditinggalkan oleh penyewanya hari ini. Jayden ke mari karena ingin mengecek kondisi di dalam apartemennya. Tapi siapa sangka bahwa ia justru bertemu dengan Divi yang sepertinya tinggal di apartemen Bougenville. Ini hal yang cukup luar biasa baginya untuk diketahui secara kebetulan.
Divi terdiam sejenak. Tak lama kemudian, laki—laki itu masuk ke dalam lift. Ia kembali memencet tombol lift agar tidak menutup.
“Ayo masuk!” ajak Jayden membuat Divi yang sejak tadi melamun pun tersadar dari lamunannya.
Divi bergegas masuk kemudian berdiri di samping Jayden setelah menekan tombol 9.
Jayden diam sejenak tapi saat melihat Divi yang sudah melamun, akhirnya laki—laki itulah yang menutup pintu lift.
“Aku nggak nyangka kita bertemu lagi di sini.”
“Hmm,” balas Divi dengan deheman. Wanita itu nampaknya malas menghadapi Jayden.
“Kenapa tidak membalas pesanku?” tanyanya lagi.
“Hmm aku kira hanya nomer asing,” kata Divi akhirnya.
Jayden tersenyum tipis. Ia memundurkan tubuhnya karena ingin melihat Divi yang berada di sampingnya. “Kalau boleh jujur, aku senang bisa melihat kamu lagi.”
Kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak senang karena melihat kamu lagi! Balas Divi dalam hati. Ia ragu untuk mengatakannya langsung pada Jayden.
“Div, kamu udah menyimpan nomerku kan?”
“Ah iya, udah,” balas Divi sambil tersenyum paksa. Ia sama sekali tak menoleh ke arah Jayden. Melihat laki—laki itu membuatnya kembali terluka. Dan ia punya masa besar karena akan lebih sering melihat Jayden dan beberapa waktu karena pekerjaan mereka.
Jayden tersenyum tipis. Ia menyandarkan tubuhnya di lift sambil mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celana yang dipakainya. Tidak yakin kalau Divi sudah menyimpan nomer pribadinya itu di ponsel miliknya, Jayden pun segera melakukan miss call ke nomer Divi.
Tepat dugaannya! Jayden melihat ponsel Divi bergetar dan saat ia mengambilnya, laki—laki itu mendapati nomernya yang belum bernama.
“Ehm itu aku!” kata Jayden saat mendapati Divi terdiam sambil menatap ponselnya yang bergetar. Tak lama kemudian, Jayden me—riject panggilan sendiri.
Divi yang tertangkap basah sedang berbohong pun segera menyimpan kembali ponselnya. Ia tidak mengatakan apa-apa dan merasakan hawa canggung di antara keduanya.
Hingga akhirnya pintu lift terbuka, Divi kembali merasakan Jayden yang mengikutinya.
“Ngapain kamu ke luar juga?” tanya Divi dengan ketus. “Jangan bilang kalau apartemen kamu juga di lantai 9!”
Jayden terdiam. “Hmm ... lantaiku di sini!” Jayden merasa keberuntungan sedang berpihak padanya. Ia tersenyum tipis.
“Di mana apartemen kamu?” tanya Jayden balik.
Divi mengerjapkan matanya. “Aku nggak tinggal di sini sebenarnya,” kata Divi, tapi setelahnya ia merasa bodoh karena sudah memberitahu Jayden.
“Hmm maksud kamu?” tanya Jayden dengan bingung.
Divi menghela napasnya. “Pokoknya aku tinggal sementar di sini.”
“Oh ... oke,” kata Jayden sambil menganggukkan kepala. Mereka kembali berjalan dan Divi berhenti di apartemen nomer 92. Berbeda dengannya yang tinggal di ujung koridor dengan nomer apartemen 98. “Kamu tinggal di sini ... untuk sementara?”
Divi menghela napasnya. Ia merasa lelah karena harus berjalan dan bersikap tidak terjadi apa—apa dengan sang mantan kekasih. Ini rasanya tidak mudah!
“Ya,” katanya sambil bersiap membuka pintu. Divi mencari kartu apartemennya yang sebagai kunci otomatis di dalam tas beberapa saat kemudian.
“Ehm aku tinggal di apartemen nomer 98,” kata Jayden. Meskipun tangannya sedang sibuk mencari ke dalam tas, tapi Divi mendengarkan perkataan Jayden.
“Oke, bye!” kata Divi begitu saja. Ia tersenyum tipis sambil menatap Jayden. Tangannya sudah menemukan apa yang dicarinya.
Jayden terdiam saat Divi akhirnya menempelkan kartunya ke depan pintu apartemen. Mendadak pintu pun terbuka dengan menyisakan cela.
Divi menatap Jayden yang masih belum bergegas pergi dari hadapannya. “Ngg ... kamu nggak pergi ke apartemen kamu?”
Jayden masih terdiam. Namun saat ia merasakan Divi hendak masuk ke dalam apartemennya, laki—laki itu kemudian menahan tangan Divi. Wajahnya berubah serius. Laki—laki itu belum siap untuk berpisah dari Divi. Pertemuan mereka hari ini terasa singkat.
Merasakan tangannya dipegangi oleh Jayden membuat wanita itu menatap sebal. Namun bukannya dilepaskan Jayden justru menarik Divi kembali bersamanya.
Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Jayden membawa Divi dalam pelukannya yang hangat. Keduanya terdiam untuk beberapa detik hingga akhirnya Divi tersadar bahwa ia dalam pelukan mantan suaminya yang b******k dan buru—buru melepaskan diri.
“Kamu apa—apaan sih? Menurut kamu, apa yang kamu lakukan ini sopan?”
Jayden mengusap wajahnya dengan frustrasi. “Lalu apa menurut kamu ini benar? Kita mantan suami istri dan kamu justru bersikap seolah nggak terjadi apapun di antara kita,” Jayden akhirnya mengatakan hal—hal yang ingin dikatakannya sejak mereka bertemu pertama kali di kantor InSight Love! Indonesia.
“Terus kamu gimana?” tanya Divi. Emosinya terpancing. “Memangnya mau kamu gimana?”
“Hah,” kata Jayden lelah. “Div....” Saat Jayden hendak memeluk Divi lagi, wanita itu justru mundur ke belakang. Mewanti—wanti kalau Jayden memeluknya lagi, tanpa aba—aba.
“Aku tahu ini sulit buat kamu,” kata Jayden.
“Memang semua terasa sulit saat aku harus bertemu kamu lagi,” kata Divi jujur. Ia merasakan dadanya penuh sesak. “Belum lagi Sabrina.”
Jayden merasa menyesal. “Maaf karena kamu harus bertemu Sabrina lagi.”
Divi segera menggelengkan kepalanya. Ia menatap Jayden dengan dalam. “Kamu nggak perlu menyesal. Lagipula itu masa lalu kita.”
“Div!” Jayden menahan tangan Divi kembali saat wanita itu hendak masuk ke dalam apartemennya. “Aku ingin bicara sebentar!”
Divi yang kembali membuka pintu pun terdiam. Ia akhirnya menutup pintu kembali dan menyandar di depan pintu apartemennya yang tertutup rapat. “Apa yang harus kubicarakan denganmu, Jay?”
“Div ... aku udah lakukan apa yang kamu minta! Aku udah nggak pernah ganggu kehidupan kamu lagi. Tiga tahun, Div. Aku tahan diriku sendiri selama tiga tahun. Aku bahkan nggak nemuin anak kandungku karena aku menghargai kamu!”
“Jadi kamu mau menyalahkanku karena nggak menemui Emil selama ini?” tanya Divi ketus. Tatapan matanya sangat tajam. Ia kesal dengan apa yang baru saja Jayden katakan.
“Bukan itu,” kata Jayden, menyesali perkataannya barusan. “Bukan itu maksudku.”
“Ini udah terlalu lama, Div. Apa seenggaknya ... kamu bisa memaafkanku yang dulu? Aku sadar apa yang kulakukan dulu sangat tidak dewasa. Aku tahu—“
“Jay, fokus saja ke depan! Aku lihat juga kamu masih berhubungan kan dengan Sabrina.”
Jayden mendadak terdiam. Divi pasti merasa tersinggung karena kata—kata Bruce di kantor. “Aku sama sekali tidak punya hubungan apapun lagi dengan Sabrina,” kata Jayden jujur.
Divi menghela napasnya. “Kalau kamu tidak punya, kalau begitu lakukan saja apa yang mau kamu lakukan bersama Sabrina. Seperti dulu! Waktu kamu duain aku bahkan saat aku sedang hamil anak kamu.”
Jayden merasa sakit hati dengan ucapan Divi meskipun memang perkataannya yang menyakitkan adalah kenyataan yang sudah terjadi pada masa lalunya.
“Nggak ada lagi kan yang harus kita bicarakan?” tanya Divi. Ia kembali membuka pintu dan Jayden sama sekali tidak menahannya. Laki—laki itu kembali pada masa lalunya. Pada bayangan masa lalunya yang telah menyakiti Divi.
Jayden terdiam. Laki—laki itu merasa benci. Benci pada dirinya yang dulu. Benci pada dirinya yang telah mengkhianati Divi dan anak mereka.
Sekarang penyesalan itu menggerogotinya.[]
***
bersambung >>>