Bab 73
Terus Bertemu
Wanita itu terdiam dengan wajahnya yang dingin. Hatinya kembali terluka saat ia harus berbicara dengan Jayden, membahas masa lalu mereka yang kini terasa tak mudah baginya.
Divi menghela napasnya. Kadang ia tidak bisa memahami dirinya sendiri. Bersikap seolah kembali terluka karena pengkhianatan yang sudah dilakukan mantan suaminya. Padahal jika diingat—ingat hal itu sudah cukup lama terjadi. Maka dari itu, kadang Divi ingin sekali melepaskan kebenciannya. Namun ternyata hal itu sulit, apalagi saat ia harus kembali melihat dan berinteraksi dengan orang—orang yang sudah menyakitinya dan cukup membuatnya trauma.
Setelah beberapa saat terdiam, Divi mendapat panggilan telepon dari seseorang di ponselnya.
Ia yang bahkan masih memegang ujung tali tas kerjanya pun mulai mengerjapkan mata. Tersadar bahwa sejak tadi ia berada dalam lamunannya. Tersadar bahwa ia kembali mengorek luka lama yang selama ini telah ditanggungnya.
Mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, Divi pun mendapati Rangga—lah yang telah menghubunginya.
“Halo,” sapa Divi dengan tatapan mata kosong.
“Aku kayaknya nggak bisa pulang cepat malam ini. Kamu udah siapkan makan malam?” tanya Rangga di sebrang telepon.
“Ehm belum, Rangga.”
“Oh syukurlah. Kalau begitu tidak perlu menyiapkan makan malam. Cukup untukmu saja. Aku akan makan malam dengan David.”
Divi pun membayangkan bagaimana Rangga dan David akan makan malam bersama. “Kalian nggak sedang nge—date kan?” tanya Divi menggoda. Mendadak melupakan masa lalu yang mengganggunya.
“Oke, aku tahu kamu agak gila!” kata Rangga ketus. “Aku masih menyukai wanita, Divi!” lanjutnya.
Divi terkekeh pelan. “Iya ya.” Setelahnya panggilan Divi tutup. Ia melihat ponselnya yang tanpa notifikasi kemudian menghela napasnya. Barulah setelah itu ia bersiap untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya, Divi melihat ke dalam lemari es. Ia melihat beberapa bahan masakan. Namun bukannya mengeluarkan bahan—bahan yang hendak dimasaknya, wanita itu berdecak pelan sambil menggelengkan kepala.
Rasa malas untuk masuk langsung menggerogotinya.
Divi menutup kembali pintu lemari es kemudian mengambil ponselnya. Menimbang untuk memesan makanan melalui aplikasi jasa antar makanan.
Namun saat sedang memilih, perut Divi justru berbunyi. Wanita itu merasa keroncongan, seolah tak memberinya waktu untuk menunggu lagi karena sudah sangat kelaparan.
Divi mendadak teringat bahwa hari ini ia makan sedikit. Nafsu makannya buyar saat berada di kantor. Semua itu karena aku melihat Jayden dan Sabrina! Ah mengingat dua makhluk itu lagi membuat Divi mendengkus kesal.
Akhirnya, Divi bersiap untuk ke luar dari apartemen. Ia membawa dompetnya dan ke luar dari pintu apartemen.
Sambil berjaga—jaga karena khawatir melihat Jayden lagi di luar, Divi buru—buru ke luar dan masuk ke dalam lift.
Divi buru—buru memencet tombol lift agar tertutup saat justru melihat Jayden yang kini berjalan di koridor. Laki—laki itu secara kebetulan juga ke luar dari apartemennya.
Ah, kenapa bisa tepat sekali? Saat aku ke luar, Jayden juga ke luar! Kesal Divi dalam hatinya.
Setelah lift mulai turun dan akhirnya berhenti di lantai dasar, ia pun bersyukur bukan main. Ia buru—buru berjalan menuju restoran yang berada di bawah gedung apartemen.
Divi pernah melewatinya dan mendengar tentang hidangan di restoran apartemen Bougenville yang cukup enak dari mulut Rangga. Maka dari itu ia memutuskan untuk makan malam di sini.
Setelah menemukan restoran dengan nama yang persis dengan nama gedung apartemen, yaitu Restoran Bougenville, Divi pun menuju counter kasir. Ia memesan makanan di sana lalu memilih paket makanan. Paket ayam panggang beserta nasi, omelet, dan juga jus mangga.
Setelah selesai memesan, Divi mendapat bel. Setelah membayar pesanannya, ia pun duduk di kursi yang ada di sana.
Baru saja duduk untuk menunggu, Divi pun tersadar bahwa ia ketinggalan ponselnya. “Aah kenapa bisa ketinggalan?” gerutunya tanpa sadar.
Divi pun akhirnya menunggu sambil terdiam. Ia memegang dompet lipat yang dibawanya kemudian memutar—mutarnya. Membuka tutup resletingnya. Memperhatikan kondisi dompet yang sudah dipakainya 6 bulan terakhir kemudian memikirkan untuk membeli dompet yang baru.
Sampai akhirnya Divi mendapati seseorang yang tiba-tiba saja duduk di depan kursi yang masih kosong di depannya.
Jayden lagi!
Divi mendengkus kesal. Wajahnya nampak tak suka dengan keberadaan Jayden. “Kenapa duduk di sini?” tanya Divi. “Masih banyak tempat kosong, kenapa harus duduk di depanku?” lanjutnya emosi.
Jayden mengetuk meja di depannya dengan pelan. Ia tersenyum simpul dan itu mengingatkan Divi pada kekasihnya yang dulu. Pada Jayden yang dulu begitu mencintainya. “Kamu kelihatan gabut, jadi aku temenin!”
“Aku nggak butuh ditemani. Makasih.” Divi membuang mukanya karena malas melihat Jayden.
Jayden masih memaksakan dirinya untuk tersenyum. “Aku ingin tahu keadaan Emil.”
Mendengar nama anaknya yang disebut, Divi pun menoleh. “Kalau kamu ingin tahu, kamu bisa menemuinya. Tidak perlu menemuiku!”
“Aku bahkan tidak tahu alamat baru kamu dan keluarga kamu di Sydney. Aku sudah bertanya pada pemilik rumah lama tapi dia tidak bisa memberitahuku apa—apa.”
Divi pun membuang mukanya. Memang idenya untuk tidak memberitahu alamat barunya pada Jayden. Ia sudah berkongsi dengan wanita pemilik rumah yang dulu ditinggalinya bersama keluarganya.
“Emil baik. Dia juga cerdas. Ayahku mengajarinya banyak hal.”
Jayden menghela napasnya. Divi kini telah menyindirnya karena tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk Emilio, anak mereka. “Kamu pasti punya foto Emil sekarang. Aku ingin melihatnya.”
“Aku ketinggalan ponselku,” kata Divi jujur apa adanya.
Jayden menatap dengan mata menyipit. Seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Divi padanya.
“Aku serius!” balas Divi saat melihat bagaimana Jayden yang kelihatan tak percaya padanya. “Aku memang membencimu, tapi aku tidak akan berbohong soal masalah sepele seperti ini!” Divi mendadak berdiri. Ia merogoh saku celana dan cardigan yang dipakainya. “Lihat kan? Tidak ada sama sekali!”
“Iya, iya, aku percaya.” Jayden akhirnya mengalah. Karena memang sepertinya Divi tidak membawa ponselnya. Bahwa benar jika Divi ketinggalan ponselnya entah di mana.
Setelah mengatakan bahwa ia percaya, Divi akhirnya menghela lega. Tak lama kemudian bel yang sejak tadi dipegangnya berbunyi. Divi melihat ke arah counter restoran dengan tema self service itu pun bangkit berdiri.
Berjalan menuju conter restoran, Divi akhirnya mendapatkan makanan yang dipesannya di atas nampan yang cukup besar.
Membawanya, Divi kemudian mencari tempat lain. Ia tidak ingin duduk bersama Jayden.
Membuang mukanya saat Jayden melihat ke arahnya, Divi kemudian berhasil sampai ke meja kosong yang lain. Ia duduk dan mulai menyiapkan hidangan yang akan dimakannya.
Sementara itu, Jayden yang menyadari bahwa Divi tak kembali ke tempatnya duduk pun hanya bisa menggeleng pasrah. Ia tak habis pikir dengan Divi.
Meskipun sikapnya bisa dibilang lebih baik daripada saat ia berada di Sydney, tapi ia merasa Divi begitu mati—matiin ingin menghindarinya.
Menghela napasnya, Jayden kemudian menuju counter pemesanan. Ia memesan minuman dan menunggu sambil berdiri di depan counter.
Sesekali Jayden dan Divi saling pandang satu sama lain.
Divi sendiri yang menyadari Jayden tengah memesan pun jadi agak was—was. Ia buru—buru menyelesaikan makanannya. Ia harus segera selesai agar Jayden tak menghampirinya lagi.
Namun belum selesai makanannya habis, Divi justru tak melihat keberadaan Jayden di sekitarnya. Ia yang tadinya sibuk menundukkan kepala untuk menyelesaikan makanannya tiba—tiba kehilangan sosok yang tadi mengganggunya.
Merasa aneh, Divi melihat ke samping kanan dan kirinya. Namun ia tetap tak menemukan keberadaan Jayden. Merasa sedikit lega, Divi pun segera menyelesaikan makan malamnya. Setelah itu, lebih baik ia mengurung dirinya di dalam kamar apartemen, pikir Divi. Berada di luar, cukup mengganggunya dengan keberadaan Jayden, sang mantan suami.
***
Divi baru saja ke luar dari restoran saat ia berpapasan dengan Bruce. Laki—laki yang juga ditemuinya di kantor itu cukup kaget saat melihat Divi di lobi gedung apartemen.
“Bu Divi?” Bruce yang kini sudah tahu mengenai hubungannya Jayden dan Divi pun nampak canggung.
“Bruce, sedang apa?” tanya Divi mengabaikan Jayden yang berada di antara mereka. Bruce nampak sibuk dengan koper dan baju—baju yang masih dalam plastik hangernya. Apa itu barang—barang Jayden? pikir Divi setelah memperhatikan.
“Saya nganterin baju—baju Jayden,” kata Bruce jujur.
“Dia ngambil dari loundry,” kata Jayden melanjutkan yang langsung mendapatkan tatapan bingung dari Bruce. Apalagi Bruce tadi mengambilnya dari apartemen Jayden. Laki—laki yang bekerja sebagai manajer Jayden itu tak tahu alasan hingga artisnya itu menyuruhnya mengambil pakaian dari kamar apartemennya dan membawanya ke apartemen Bougenville.
“Oh gitu—“ kata Divi kebingungan. “Kalau begitu, saya permisi duluan!” kata Divi sambil meninggalkan Jayden dan Bruce yang masih berdiri diam.
“Tunggu, Div!” kata Jayden membuat Bruce menoleh ke arahnya. Divi sendiri merasa tidak yakin untuk menunggu Jayden. Laki—laki itu sedang aneh karena terus mencoba mendekat padanya, pikir Divi.
“Maaf, Jay! Aku lagi ada perlu. Aku duluan ya,” kata Divi sambil menoleh singkat. Setelahnya wanita itu meninggalkan Jayden dan Bruce lebih cepat. Wanita itu setengah berlari menuju lift. Meninggalkan Jayden yang kini ditahan oleh Bruce.
Jayden merasakan cengkraman tangan Bruce. Ia menatapnya sejenak dengan tidak suka hingga Bruce Agung melepaskan cengkramannya.
“Sorry, Jay!” kata Bruce.
Jayden berdecak kemudian berjalan mendahului Bruce untuk mengikuti Divi. Namun kembali Bruce mengatakan sesuatu yang membuatnya berhenti bergerak.
“Aku tahu hubungan kamu dan Divi itu seperti apa,” kata Bruce lantang.
Jayden menoleh sejenak dan menunggu Bruce menyelesaikan perkataannya.
“Divi mantan istri kamu kan, yang kabur ke Sydney.”
Jayden tak begitu takut meskipun masa lalunya diketahui oleh orang lain, apalagi Bruce. Bruce adalah orang terdekatnya. Dia pasti tahu cepat atau lambat. “Hmm, memang!”
“Jadi maksud kamu sekarang ini apa?” tanya Bruce membuat Jayden tak jadi melangkahkan kakinya.
“Sekarang ini apa?” ulang Jayden. “Apa maksud kamu?”
“Jayden, kamu nggak bisa bohongi aku! Apa kamu ingin rujuk dengan Divi sampai jauh—jauh membawa pindah beberapa pakaian kamu ke mari! Apa Divi tinggal di apartemen ini?” tanya Bruce membuat Jayden lelah.
“Hmm—“ Jayden menghadap ke arah Bruce. “Iya! Aku sendiri nggak tahu apa yang sedang kulakukan. Tapi aku ingin dekat dengan Divi lagi.”
Bruce menghela napasnya. “Bukan maksudku untuk turut ikut campur,” kata Bruce tapi nyatanya ia memang ingin ikut campur. “Tapi hubungan kamu dan mantan istri kamu sudah lama berakhir. Kamu sendiri kan yang selama ini meyakini hal itu hingga kamu mau bekerja di bidang entertain. Bidang yang kamu sendiri nggak pernah inginkan.”
“Bruce! Cukup lihat dan saksikan saja!”
“Terus gimana dengan Sabrina?” tanya Bruce saat Jayden hendak melangkahkan kakinya. Tak menanggapi kekhawatirannya pada Jayden.
“Aku dan Sabrina tak punya hubungan apa—apa. Kamu jelas saja kan tahu hal itu,” kata Jayden menjelaskan. “Jadi tak perlu berpikir terlalu jauh tentang hubunganku dan Sabrina.”
“Sabrina itu memiliki perasaan yang tidak berubah untuk kamu, Jay!” beritahu Bruce. Laki—laki itu ingin menyadarkan Jayden bahwa apa yang akan dilakukannya jika sampai mengejar mantan istrinya hanya akan membuat masalah.
“Aku tidak peduli!” balas Jayden sambil berjalan meninggalkan Bruce.
Bruce kembali mengikuti Jayden dengan koper dan pakaian—pakaian yang ada di pelukannya. “Jay, jangan terlalu terbawa perasaan! Ibu kamu pun akan lebih senang kalau kamu bersama Sabrina lagi!”
“Tidak perlu menyangkutpautkan hal itu pada Mama,” kata Jayden tak suka. Ia berjalan dengan langkah lebar menuju lift. Sementara itu Jayden sudah yakin bahwa Divi sudah berada di lantai 9 atau mungkin sudah masuk ke dalam apartemennya.
“Jay!” kata Bruce dengan lelah. “Jangan buat masalah! Karir kamu sedang cemerlang. Tinggal sebentar lagi sampai kamu menjadi seorang aktor.”
“Aku tak ingin jadi aktor.”
“Jayden!” seru Bruce kesal. “Ayolah! Jangan berpikir pendek! Kalau kamu jadi aktor, bayaran kamu akan jauh lebih besar dari sekarang.”
Jayden diam. Mulutnya seolah terkunci rapat. Ia memencet tombol lift kemudian menunggu beberapa saat hingga pintu lift terbuka. Sementara itu di sampingnya, Bruce terus berbicara semaunya.
“Jayden, pokoknya kamu harus jaga jarak dari mantan istri kamu itu! Divi hanya akan membuat masalah dalam karir kamu. Sampai sekarang hanya sedikit orang yang tahu kalau kamu pernah menikah dan sudah bercerai dari mantan istrimu!”
“Apa aku harus memberitahu Yogi soal ini. Biar menjadi headlines berita untuknya. Biar tidak seolah—olah bahwa aku menyembunyikan statusku yang sebenarnya dari pers?” tanya Jayden sambil menoleh ke arah Bruce.
Bruce yang mendengar ide Jayden pun segera menggelengkan kepalanya. Ia dan Jayden sudah masuk ke dalam lift dan kini tengah menuju ke lantai 9. “Jangan berbuat yang macam—macam! Kalau kamu melakukannya sekarang, kamu mungkin hanya akan menghancurkan karir Divi bersamamu.”
“Kenapa jadi karir Divi?” tanya Jayden. Tatapannya nampak tak suka.
“Karena Divi sekarang sedang bekerja bersamamu. Dan lagi tempatnya bekerja masih baru. Aku kira kalau ada masalah di awal launching itu akan mengganggu majalah InSight Love! tempatnya bekerja.”
Jayden mendadak mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa hal itu terjadi? Jadi yang harus kulakukan sekarang hanya diam? Pikir Jayden kesal.
Melihat rahang Jayden yang mengeras, Bruce jadi takut. Ia meminggirkan tubuhnya agar tidak terlalu dekat dari Jayden. Mulutnya pun mendadak terkatup rapat.
Bruce memang suka bicara tapi jika Jayden sampai emosi dan memukulnya, itu pasti akan menyakitkan. Bruce harus menjaga jarak dan mulutnya saat ini.[]
***
bersambung >>>