Bab 74
Lupa Kunci
Alis laki—laki mengerut saat melihat wanita yang tadi menghindarinya justru masih berada di luar pintu depan apartemennya.
Tak hanya Jayden, Bruce pun kebingungan dengan sikap Divi yang kini berjongkok di depan pintu apartemen nomer 92.
“Divi, ada apa?” tanya Jayden setelah mendekat ke arah Divi.
Divi segera mendongakkan kepalanya saat mendengar namanya dipanggil oleh seseorang yang pasti akan mendapatinya dengan kondisi yang kurang menyenangkan.
“Apa terjadi sesuatu dengan kamu, Div? Kenapa masih belum masuk juga?” tanya Jayden lagi karena Divi masih belum mau menjawab pertanyaannya.
“Eng ... kelupaan kartuku.”
“Pakai pin saja. Kenapa harus bingung?” tanya Jayden lagi.
Divi menghela napasnya. Masalahnya ia lupa pin apartemennya. Apalagi yang merest nomer pinnya adalah Rangga, bukan dirinya. “Aku tidak ingat,” balas Divi membuat Jayden dan Bruce nampak bingung.
“Kalau begitu kamu pergi ke luar. Petugas keamanan pasti akan memberikanmu kunci cadangan dan membukakan pintu untukmu,” kata Jayden lagi.
Divi menghela napasnya. “Aku akan melakukan itu kalau memang tinggal di apartemen sewaanku sendiri.”
“Maksudnya?” tanya Bruce ingin tahu. Ia juga penasaran dengan hal yang terjadi pada Divi.
“Ah tidak apa—apa.”
“Apa jangan—jangan kamu menyewa apartemen pada penyewa apartemen lagi?” tanya Bruce tiba—tiba.
Divi diam sejenak, tapi kemudian ia menganggukkan kepala. “Teman kantorku yang menyewanya.”
“Oh jadi kamu tinggal bersama teman sekantor kamu di apartemen ini?” tanya Jayden.
Divi pun menganggukkan kepala. Ia kemudian berpikir sejenak. Kenapa ia harus menceritakan masalahnya pada Jayden dan Bruce?
“Teman kamu yang tinggal bersama sekarang di mana?” tanya Jayden lagi.
“Eng ... iya. Apa dia tidak berada di dalam?” tanya Bruce penasaran.
Divi menatap ke arah Bruce, karena lebih baik berbicara dengan laki—laki yang bekerja sebagai manajer Jayden itu. “Dia masih di kantor. Sepertinya juga akan lembur.”
Jayden merasa punya kesempatan. Ia melihat ke arah Divi dan menawarkan bantuannya. “Kalau kamu mau, kamu bisa menunggu di apartemenku?” tawar Jayden membuat Divi dan Bruce menatapnya dengan dalam.
“Aku hanya menawarkan diri. Lagipula tidak enak juga kalau aku membiarkan kamu menunggu di sini seperti ini,” kata Jayden menjelaskan. “Duduk di luar pintu apartemen seolah sedang menunggu seseorang.”
Divi langsung menggelengkan kepala. Lebih baik menunggu di luar pintu apartemen yang ditinggalinya daripada masuk ke tempat tinggal Jayden. “Hmm tidak perlu, terima kasih.”
“Ehm kenapa tidak mencoba menghubungi temanmu saja dan meminta pin pintu apartemennya?” tanya Bruce lagi. Sama seperti Divi, Bruce juga tidak suka dengan tawaran Jayden yang mengajak Divi ke apartemen yang mendadak ingin ditinggalinya. Bruce rasa Jayden sudah gila sekarang!
“Itu masalahnya. Aku kelupaan hapeku juga,” kata Divi jauh merasa bingung. Kondisinya terasa mengenaskan karena ulah kecerobohannya sendiri.
Bruce mendadak menghela napasnya. Ia ikut frustrasi kala membayangkan situasi yang tengah Divi lakukan. “Astaga, kenapa Bu Divi bisa begitu ceroboh?” tanya Bruce mengeluh. Seolah sedang mengejek Divi yang sadar diri akan kebodohannya.
Mendengar ucapan Bruce, Divi hanya bisa diam. Ia sudah tahu bahwa kecerobohannya masih sama seperti dulu.
“Jadi mau tetap menunggu di sini sampai teman seapartemen kamu datang, Div?” tanya Jayden lagi.
Divi menatap Jayden yang kembali menawarinya tumpangan sementara. Wanita itu menghela napasnya. Ia melihat ke arah lantai yang tadi di dudukinya dan terasa dingin di bokongnya.
“Kamu nggak perlu khawatir, Bruce juga ikut.”
Divi melihat ke arah Bruce yang nampak menatap Jayden dengan keberatan.
Menghela napasnya, Bruce kemudian menganggukkan kepala. “Iya, Bu Divi. Saya masih harus ke apartemen Jayden. Kalau mau, kita bisa ke apartemen Jayden bersama. Bagaimana?”
Divi sama sekali tak yakin. “Ah saya tidak enakan harus main ke apartemen Jayden.”
Jayden menaruh tangannya di belakang pundak Bruce kemudian mengeratkan pegangannya di sana, membuat Bruce agak kesakitan tapi tak sampai membuatnya berteriak mengaduh.
Menoleh ke arah Jayden takutt-takut setelahnya Bruce kembali menatap Divi yang ragu akan tawaran Jayden. “Ayolah tidak apa—apa! Bagaimana kalau sambil duduk di dalam apartemen Jayden, sekalian kita mencari solusi?” tanya Bruce pada Divi. Ia merasa harus membantu Jayden membujuk Divi setelah mendapat ancaman melalui tatapan mata artisnya itu.
Divi diam sejenak. Ia berdesis pelan kemudian melihat ke arah lantai dan langit—langit gedung apartemennya. “Apa nggak papa kalau saya mampir? Saya takut jadi gosip—“
“Tidak akan terjadi hal seperti itu. Apartemen Bougenville sangat ketat soal privasi pemiliknya. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Oh ya?” Divi mengulur waktu. Ia ingin menolak secara tegas, tapi kondisinya yang sekarang membuatnya sangat ragu.
“Iya. Saya tahu hal itu karena saya yang mengurus soal proses jual beli saat Jayden membeli unit apartemen di sini.”
Divi terbatuk pelan saat mendengar bahwa Jayden membeli unit apartemen yang kini ditinggalinya. Sepertinya Jayden sekarang benar—benar kaya dan sukses, ia bahkan bisa membeli apartemen. Berbeda dengannya, jangankan apartemen, mobil pribadi saja dia tak punya.
Mendadak Divi memikirkan ke mana semua uang yang dihasilkannya selama ini?
Namun sebentar saja Divi tersadar bahwa uang tabungannya banyak habis untuk belanja impulsif saat sedang stres di masa terburuknya. Apalagi pada saat itu ia sama sekali tak bekerja sama sekali.
“Bu Divi, bagaimana?” tanya Bruce lagi menanyakan tawaran Jayden.
Divi menatap Jayden sejenak kemudian mengangguk tipis. “Oke,” katanya dengan senyum canggung.
Jayden menahan senyum lebarnya. Ia kemudian berjalan lebih dulu. “Ayo kalau begitu!” kata Jayden mengajak Bruce dan Divi kembali berjalan menuju apartemennya.
Divi pun berjalan di belakang. Ia membersamai Bruce karena tak ingin berjalan bersama Jayden yang justru akan membuatnya menjadi sangat canggung.
***
Divi duduk dengan rapi di sofa ruang tamu apartemen Jayden yang nampak kosong. Mendadak ingatannya kembali ke rumah Jayden, rumah laki—laki itu yang dulu ditinggalinya saat sudah menikah dengannya. Sekarang gimana ya kabar rumah Jayden di Bogor? Tanya Divi dalam hatinya.
Sementara Divi duduk di sofa ruang tamu, Jayden dan Bruce justru berada di dalam dapur apartemen. Keduanya sedang menyiapkan minuman untuk disandingkan kepada Divi.
“Kamu nggak ada urusan lain?” tanya Jayden pada Bruce. Laki—laki itu sedang menyiapkan teh hangat untuk Divi.
“Kamu mau aku meninggalkan kalian berdua saja? Oh tidak akan kubiarkan hal itu terjadi,” balas Bruce yang kini sedang membuka lemari es. Manajer Jayden itu sedang mengecek kondisi ruangan apartemen yang baru—baru ini ditinggalkan oleh penyewa sebelumnya.
Jayden tak menjawab perkataan Bruce. Ia sibuk menunggu air panas yang mendidih agar bisa menyediakan teh hangat untuk Divi.
“Ehm kamu tidak serius kan kalau akan pindah ke mari?” tanya Bruce lagi.
“Aku serius,” Jayden memutuskan untuk menjawab pertanyaan dari Bruce. “Aku bahkan memintamu membawakan pakaian—pakaianku kan?”
“Jadi kamu pindah ke sini karena ada ... mantan istri kamu yang tinggal di sini juga kan?” tanya Bruce tepat sasaran.
“Iya. Sudah jelas sekali kan?” tanya Jayden sambil membalikkan badannya. “Jadi tidak perlu menanyakan berulang pertanyaan ini. Kamu sudah cukup mengenaliku dengan baik kan, Bruce?”
Bruce menghela napasnya dengan berat. “Kenapa sih harus seperti itu? Kalian sudah berpisah ya sudah. Kenapa kamu harus terlalu membawa perasaanmu seperti sekarang ini?”
“Aku tidak memintamu ke mari untuk menilai apa yang kulakukan,” kata Jayden ketus.
Bruce berjalan mondar—mandir di hadapan Jayden. “Jay, berhenti segera! Divi juga kelihatannya tidak menyukaimu lagi! Sudahlah, jangan membuat hubungan kalian semakin terlihat canggung!” kata Bruce dengan suara berbisik. Ia khawatir jika suaranya yang penuh antusias terdengar oleh tamu mereka, Divi, yang kini duduk di ruang tamu.
Jayden mendadak terdiam setelah mendengar perkataan Bruce. Divi sudah tidak menyukainya lagi? Entah mengapa perkataan Bruce yang biasa ceplas-ceplos kini terasa menyakitkan untunya.
Dulu, Jayden dan Divi saling mencintai. Hingga pengkhianatan yang dilakukannya terjadi.
Jayden tersenyum miring. Ia mendengkus kesal. “Memang pantas Divi tidak menyukaiku. Dia bahkan lebih pantas jika membenciku.”
Mendengar perkataan Jayden yang ketus membuat Bruce terdiam. Ia kadang tidak mengerti dengan sikap Jayden. Namun setelahnya ia membuang muka, dan mengalihkan topik pembicaraan. “Mungkin lebih baik kalau aku menemani Divi di ruang tamu. Ehm, Jayden, aku juga minta teh hangatnya satu. Punyaku harus yang manis!” kata Bruce berpesan.
Setelahnya Bruce meninggalkan Jayden yang masih menyiapkan teh hangat untuk Divi.
***
Bruce dan Divi duduk di ruang tamu dan saling mengobrol soal pekerjaan masing—masing. Meskipun terasa canggung karena mereka harus berada di apartemen Jayden, tapi keduanya –tanpa Jayden—terasa nyaman saling mengobrol.
Yang penting bagi keduanya Bruce tidak membahas soal Jayden dan Sabrina, sedangkan bagi Divi yang terpenting untuknya bahwa ia tak perlu mendapatkan pertanyaan soal masa lalunya bersama Jayden.
Setelah beberapa saat, Jayden pun kembali ke ruang tamu. Ia membawa tiga gelas cangkir berisi teh hangat. Membawanya menggunakan nampan dan menaruhnya di atas meja ruang tamu.
“Silakan diminum, Div! Tak perlu sungkan,” kata Jayden sambil duduk di sofa ruang tamu.
Divi menganggukkan kepala. Ia tak segera meminum tehnya karena dari uap yang ke luar dari atas cangkir yang dilihatnya saja sudah bisa diperkirakannya bahwa teh yang dibawakan oleh Jayden itu masih sangat panas.
Sementara itu, Bruce langsung mengambil cangkir teh yang baru disandingkan oleh Jayden. Ia mencicipinya dan langsung kepanasan. “Ya ampun, Jay! Kamu nggak kasih dingin sama sekali?” tanya Bruce dengan kesal. Lidahnya sesekali terjulur ke luar. Laki—laki itu merasa bahwa lidahnya sekarang terasa melepuh karena air panas yang baru diminumnya –padahal sangat sedikit.
Jayden segera menggelengkan kepala. “Lebih baik jika menggunakan air panas langsung!”
Bruce melirik Jayden dengan tajam. Ia kesal sekali.
Jayden sendiri tak terlalu memikirkan kondisi Bruce. Ia menatap ke arah Divi yang hanya memperhatikan Bruce. Jarang sekali Jayden mendapati Divi melirik ke arahnya.
Mereka tak mengobrol sama sekali dan hanya terdengar eluhan dari mulut Bruce yang lidahnya melepuh sementara. Tak lama kemudian, setelah merasa lebih baik, Bruce pun membuka obrolan agar suasana di antara Jayden dan Divi lebih ceria.
“Oh ya, Bu Divi,” katanya memulai obrolan. Ia melirik Jayden dengan penuh dendam karena sudah membuatnya mencicipi air panas.
“Iya?”
“Bu Divi udah punya pasangan belum?” tanya Bruce membuat Jayden menatapnya dengan kesal. Namun Bruce sama sekali tak peduli. Laki—laki itu memang sengaja membuat Jayden kesal.
“Ehm saya....” Divi mencoba agar tidak terkecoh dan menoleh ke arah Jayden. Ia hanya menatap ke arah Bruce. “Ehm saya sama sekali tidak tertarik dengan sebuah hubungan saat ini.”
“Loh kenapa? Bu Divi kan cantik. Masa tidak ada satu laki—laki pun yang mencoba menyatakan cintanya dan membuat Bu Divi cenat cenut gitu?”
Divi terkekeh pelan. “Ngg ... sebenarnya ada sih,” kata Divi membuat Jayden yang duduk di sofanya merasa terkejut.
Sementara itu, Bruce langsung menatap ke arah Jayden. Wajah Jayden yang dingin membuat Bruce puas. Pasti sekarang Jayden sedang kesal. “Siapa tuh, Bu Divi? Apa jangan—jangan Pak David?”
Divi kembali tertawa kecil. “Saya malah tidak terlalu akrab dengan David,” kata Divi membuat Bruce beroh—ria.
“Oh ya? Padahal saat di kantor tadi siang saya merasa setiap kali melihat Bu Divi dan Pak David, saya merasa kalau kalian sangat serasi. Sangat cocok menjadi pasangan kekasih.”
Divi langsung menggelengkan kepalanya. “Aku sama sekali tak memiliki hubungan dengan David. Mungkin itu hanya persepsi kamu saja.”
“Oh iya kah? Tapi mungkin memang benar!” Bruce terkekeh pelan. Ia kembali memperhatikan ekspresinya yang berpikir. “Aku jadi penasaran dengan siapa orang yang sudah memiliki Bu Divi!”
Jayden terbatuk pelan. “Div, kayaknya udah hangat tehnya. Silakan diminum dulu!” kata Jayden kaku. Memotong pembicaraan Bruce dan Divi yang terasa menyebalkan di telinga Jayden. Ngapain sih Bruce membahas soal pasangan Divi?
Divi menoleh sekilas ke arah Jayden kemudian tersenyum tipis. Ia mengalihkan pandangannya ke arah meja yang berada di hadapannya. Ia tak ingin melihat Jayden terlalu lama. Membuat perasaan wanita itu tak enak saja.
Mengambil cangkir teh yang ada di depannya, Divi pun mencicipi teh buatan Jayden dengan pelan. Jayden pun melakukan hal yang sama. Mereka minum teh bersama. Dan Bruce pun melakukannya juga.
Setelah keduanya meminum teh manis yang suhunya sudah hangat kuku, ketiganya pun dengan bersamaan menaruh kembali cangkirnya di atas meja.
Tubuh ketiganya terasa lebih hangat setelah menikmati teh manis yang disediakan tuan rumah.
***
Setelah sudah cukup lama berada di ruang tamu Jayden, Divi yang sudah kelelahan pun segera bangkit berdiri. “Seperti aku harus mengecek ke luar. Barang kali saja teman satu apartemenku sudah pulang,” kata Divi, pamit untuk pulang.
Jayden buru—buru ikut bangkit berdiri. “Oke kalau begitu biar aku antar,” kata Jayden. Ia ingin mengantar Divi karena jika teman satu apartemennya itu belum pulang, ia bisa mengajak Divi kembali menunggu di apartemennya.
“Ehm nggak usah, Jay! Nggak perlu. Lagian kan dekat.” Divi menggeleng dengan cepat. Ia tak ingin diantar oleh Jayden.
“Nggak papa. Aku bisa antar!” Jayden mendahului Divi. Mengabaikan Bruce yang masih berada di antara mereka. “Bruce, aku antar Divi sebentar!” katanya pamit.
Divi merasa tak enak hati. Tak lama kemudian, ia sudah berada di koridor apartemen. Berjalan bersama Jayden menuju pintu apartemennya yang berada di nomer 92.
Hingga akhirnya keduanya sampai di depan pintu apartemen yang Divi tinggali, wanita itu pun segera memencet bel apartemennya. Berharap Rangga sudah berada di dalam.
Namun beberapa saat menunggu pintu terbuka, Divi merasa senang bukan main. Ia melihat pintu apartemennya terbuka dari dalam. Memperlihatkan sosok laki—laki yang tengah memakai kaos pendek berwarna hitam dengan celana trainingnya. Rambut laki—laki itu nampak basah dan di pundaknya terdapat handuk kecil –guna untuk mengeringkan rambutnya.
“Rangga, syukurlah kamu udah pulang,” kata Divi dengan sangat bahagia. Akhirnya ia bisa masuk ke dalam apartemennya.
“Loh! Aku kira malahan kamu udah tidur di kamar kamu, Div!”
“Ah ceritanya panjang!” kata Divi merasa lelah. “Aku udah ngantuk banget nih!” Divi berjalan masuk. Ia sengaja mengatakan itu agar bisa berpisah dari Jayden.
Sementara itu Rangga baru tersadar dengan keberadaan Jayden. Ia yang sudah mengenal Jayden di kantor pun segera menyapa. “Loh ini bukannya calon model kita?”
“Selamat malam,” Jayden menyapa Rangga yang memang pernah dilihatnya di kantor InSight Love! Indonesia bersama Divi. Perasaannya sekarang langsung tak enak. Kenapa laki—laki itu berada di apartemen Divi? apakah Divi ... jangan –jangan tinggal bersama laki—laki ini? Teman sekantornya dan teman seapartemennya adalah laki—laki.
Apa jangan—jangan ini yang dimaksud Divi soal pasangannya itu?[]
***
bersambung >>>