Bab 75
Pasangan Divi
Rangga yang mulai sadar akan kehadiran Jayden pun segera menoleh ke arahnya. “Jayden kan?”
“Iya, memang saya.” Jayden mengiyakan.
Rangga kemudian menatap Divi dan Jayden secara bergantian. “Kalian habis breefing?” tanya Rangga sama sekali tidak berpikir negatif tentang keberadaa Jayden yang bersama Divi.
“Ehm iya, Rangga,” kata Divi menjawab duluan. Ia melihat Jayden dengan kilat kemudian menatap Rangga kembali. “Ya udah kalau begitu, aku masuk ke dalam dulu ya?”
Rangga menatap kepergian Divi yang begitu tiba—tiba. Bahkan sama sekali, wanita itu tidak pamit pada Jayden, model yang akan bekerja sama dengan majalahnya itu.
Agak canggung, Rangga pun menatap Jayden dengan senyum ramahnya. “Ehm, kayaknya Divi kecapekan ya,” katanya dengan ragu.
Jayden melihat ke bagian dalam apartemen yang ditinggali Rangga dan Divi kemudian kembali menoleh ke arah laki—laki yang kini menghalangi pandangannya. “Hmm ... sudah malam juga. Sudah waktunya istirahat. Kalau begitu saya permisi,” Jayden menundukkan kepalanya. Ia meninggalkan Rangga dengan wajah datarnya. Laki—laki itu mendadak sangat kesal setelah tahu bahwa mantan kekasihnya sudah memiliki pasangan. Mereka bahkan tinggal di satu apartemen, sekantor juga.
“Hah....” Membayangkannya saja sudah terasa menyebalkan, pikir Jayden.
Laki—laki itu berjalan menuju apartemennya. Ia bahkan tak sadar bahwa Rangga memperhatikannya dari tadi.
Rangga berpikir bahwa Jayden salah jalan. Karena arahnya berlawanan dari arah lift. Namun tak lama kemudian, laki—laki itu justru tercenggang saat mendapati Jayden membuka salah satu pintu apartemen tanpa memencet bel terlebih dahulu.
Apa jangan—jangan Jayden tinggal di apartemen yang sama dengannya? Tanya Rangga dalam hati. Ia kini sudah tak mendapati Jayden berdiri di ujung koridor. Laki—laki yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya sudah masuk ke dalam bilik apartemennya.
“Waaah!” Rangga benar—benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia menutup pintu depan apartemennya kemudian berjalan menuju sofa depan televisi. Ia masih tak menyangka bahwa ternyata satu gedung dengan Jayden.
Duduk di sofa, Rangga pun kembali memeluk bantal sofanya. Barulah setelah itu ia meraih laptop kerja miliknya. Rangga masih harus bekerja, ia membuat beberapa data dan masih harus menyelesaikannya.
***
Divi membaringkan tubuhnya dengan lemas di atas ranjang. Pandangannya tertuju pada langit—langit kamarnya yang berwarna putih. Tak ada yang istimewa dari kamarnya selain lampu—lampur yang bertugas untuk menerangi ruang.
Saat Divi mencoba memejamkan matanya, wanita itu kembali menghela napas karena harus melihat sosok laki—laki yang baru saja ditemuinya.
Ini sangat tidak menyenangkan! Bersusah payah baginya lari dan mencoba melupakan Jayden, tapi kini justru ia bekerja bersamanya. Lebih parah lagi bahwa ia justru tinggal di satu gedung apartemen dengannya.
Merasa lelah lahir batin, mata Divi jadi sulit terpejam. Pikirannya mengambang ke mana—mana. Wanita itu memikirkan Jayden yang kini tambah tampan dan beberapa fakta yang terungkap saat mereka sedang bersama.
Masih terjaga padahal sudah nyaris tengah malam, Divi mendapati seseorang menghubunginya.
Meraih ponsel yang sejak tadi berada di nakas di samping ranjang, Divi pun kemudian mendapati panggilan dari sang ayah.
“Halo,” Tanpa pikir panjang Divi mengangkat panggilan ayahnya.
“Halo, Div! Kamu lagi ngapain?”
“Aku mau tidur, Pa. Ini udah jam setengah 1 malam.”
“Oh iya, Papa lupa. Kita beda wilayah waktu ya,” Papa terdengar menyesal. “Sekarang di sini udah jam setengah 5 pagi soalnya, Div.”
“Hmm ... emangnya ada apa sih, Pa, sampai telepon—telepon pagi buta kayak gini?”
“Bukan Papa kok yang pengen ngobrol,” kata Papa Dwika membuat Divi terdiam sejenak. Tak lama kemudian suara anak Divi terdengar. Suara anak laki—lakinya yang sangat ia rindukan terdengar.
“Halo, Mom?” sapanya dengan ceria.
“Halo, sweet boy. Kamu sudah bangun pagi—pagi sekali?”
“Aku biasa bangun pagi. Opa mau ajak aku lari—lari pagi, Mom.”
“Oke, kalau begitu hati—hati. Selalu dengar instruksi dari Opa. Oke?”
“Iya, aku selalu melakukan itu.” Emilio terdengar mendengkus kesal karena kecerewetan ibunya. “Mom, I love you....”
Divi mendadak tersenyum. Wanita itu sangat senang dengan perkataan anak laki—lakinya. “Hmm, iya, Emilio Sayang. Mom loves you too.”
Setelahnya panggilan beralih kembali. Divi mendengar suara ayahnya. “Div, udah ya. Katanya kamu juga kan mau tidur.”
“Iya, Pa.”
“Maaf ya sudah mengganggu waktu istirahat kamu?”
“Nggak papa, Pa. Papa juga seharusnya lebih banyak istirahat. Ingat Papa sudah tidak muda lagi!” gumam Divi menasihati ayahnya dengan ketus.
“Iya, iya. Kamu jangan terlalu berisik. Lama—lama kamu cerewetnya kayak Mama kamu,” kata Papa Dwika dengan ketus. “Udah ya, bye?”
Setelahnya panggilan pun berakhir. Divi tersenyum simpul setelah mendengar perkataan sayang dari putranya. Ia menaruh kembali ponselnya dan memikirkan sang anak yang kini jauh dari pandangannya.
Namun setidaknya, Divi sangat lega karena anaknya tidak bersama kedua orang tuanya. Divi sangat tahu bahwa Emilio selalu menjadi kesayangan kakek dan neneknya.
Semoga mereka yang berada di Sydney selalu baik—baik saja, pikir Divi. Ia perlahan mulai mengantuk. Tak lagi memikirkan Jayden membuat pikirannya lebih baik.
Dan tak lama kemudian, Divi pun terlelap dengan nyamannya dengan posisi menyamping ke arah kanan.
***
“Div, kamu tahu kalau Jayden tinggal di gedung apartemen kita juga?” tanya Rangga saat mereka dalam perjalanan menggunakan mobil, menuju kantor.
Divi yang sejak tadi melihat jalanan dari sampingnya pun berdehem. Lagipula tak ada gunanya juga jika ia berbohong soal fakta tentang Jayden. “Hmm....”
“Aku jadi sekarang bertanya—tanya, kemarin itu saat kamu ketemu Jayden di mana loh?”
“Hmm, emangnya kenapa?” tanya Divi balik.
“Kamu nggak ada di restoran atau kafe Bougenville kan?”
“Emh ... aku ada di apartemen Jayden. Sebenarnya—“ Divi merasa ragu untuk memberitahu Rangga soal apa yang terjadi padanya kemarin.
“Kenapa?” tanya Rangga. Ia bertanya karena Divi justru terdiam setelah hendak memulai ceritanya dengan kata sebenarnya.
“Sebenarnya kemarin aku ketinggalan hape dan kartu masuk ke apartemen.”
“Heh, apa?” tanya Rangga. Ia menoleh karena bertepatan dengan lampu merah di depannya.
“Aku sudah nunggu kamu di depan pintu apartemen. Tapi saat itu Jayden dan Bruce –manajernya itu—datang dan menawarkanku untuk menunggu di apartemennya.”
“Bukannya kamu sudah tahu pin—nya. Kenapa sangat bingung?” tanya Rangga tak habis pikir.
“Aku lupa,” kata Divi. Ia menyadari kebodohannya.
“Ya ampun. Kalau begitu, kita ganti lagi saja nanti pin—nya. Biar sesuai dengan pin kamu, biar aku yang mengingatnya.”
“Udahlah lagian baru kali juga,” kata Divi tak ingin berpikir jauh.
“Pulang nanti kita ganti lagi pin—nya!” Rangga tidak mempedulikan penolakan Divi. Rangga ingin melakukan itu agar Divi nyaman tinggal bersamanya.
Sesampainya di kantor, Divi dan Rangga pun memulai pekerjaannya.
***
Jayden baru saja sampai ke kantor InSight Love! Indonesia saat Bruce segera membalikkan badannya untuk menghadapnya yang duduk di jok belakang mobil.
“Ingat kan, Jay! Semua kata—kataku barusan?”
Jayden melepaskan sefety belt¬—nya kemudian berdehem.
“Jangan bersikap berlebihan pada Divi!”
“Aku tahu!”
“Dia sudah punya pasangan. Kemarin malam kamu bahkan mendengarnya sendiri,” kata Bruce mengingatkan.
“Iya. Aku juga sudah tahu,” kata Jayden tak nyaman. Setelah mengetahui laki—laki yang sedang berkencan bersama mantan istrinya entah mengapa membuat perasaan Jayden tak enak. Meskipun begitu ia hanya bisa memendamnya sendiri.
Tak ada orang yang bisa diajaknya bicara.
Jayden turun dari mobil yang ditumpanginya kemudian berjalan mendahului Bruce yang tengah menyiapkan pakaian dan tas besar milik artisnya.
Sesampainya di kantor InSight Love! Indonesia, Jayden terdiam saat melihat Divi yang tengah mengobrol bersama kekasihnya itu. Perasaannya mendadak kesal. Kenapa sih baru sebentar saja ia harus melihat kedekatan antara Divi dan pacarnya itu? Mengganggu matanya saja!
Saat keberadaan Jayden sudah diketahui, Divi pun segera berjalan menghampirinya. Ia tak sendiri. Ia berjalan bersama laki—laki berjaket denim, Jayden mengenalnya sebagai photografer yang memang bekerja untuk majalah InSight Love! Indonesia.
Mereka segera menuju studio pemotretan yang berada di lantai yang berbeda kemudian memulai sesi pemotretan sendirian.
Divi yang bekerja sebagai kepala tim edisi spesial pembukaan InSight Love! Indonesia pun ikut serta memperhatikan setiap foto yang diabadikan kamera.
Wajah Jayden sudah di make up, pakaiannya sudah berganti dari pakaian branded ternama Indonesia yang berasal dari sponsor juga dari pakaian branded ternama mancanegara.
Divi mencoba sebaik mungkin agar tidak terlalu memikirkan masalah pribadinya bersama Jayden. Ia membangun dirinya dengan afirmasi positif bahwa yang harus dilakukannya saat ini adalah bekerja dengan profesional.
Sementara itu, Jayden melihat ke arah kamera dan melakukan instruksi yang dikatakan oleh photografer. Hanya sesekali dan sangat jarang, ia sempatkan waktu untuk melihat ke arah Divi yang kini sedang ditemani oleh Rangga yang berada di sebelahnya.
Di kantor juga bersama? Mereka nggak bosen apa sama-sama terus kayak gitu? pikir Jayden sesekali.
“Jayden!” Anton memanggilnya, membuatnya menoleh dan kembali fokus melihat ke arah kamera.
Blitz demi blitz dilalui oleh Jayden. Berbagai gaya dan beberapa item digunakan. Hingga beberapa saat kemudian, photografer sudah mengizinkannya untuk istirahat. Ia pun menghela napasnya dengan lega dan duduk di kursi santainya. Sementara itu, Divi dan Rangga sibuk melihat hasil pemotretan di layar PC berukuran 32 inchi tersebut.
Jayden mengambil botol minum yang sudah dibukakan tutupnya oleh Ina, lalu menegaknya beberapa saat. Ia merasa haus apalagi saat angin kipas mengenai wajahnya.
“Na, Bruce mana?” tanya Jayden pada asistennya.
“Bruce kayaknya lagi terima telepon tadi, Mas,” kata Ina memberitahu. “Mau saya panggilin orangnya, Mas?”
Jayden langsung menggelengkan kepala. “Nggak perlu, Na.” Jayden menegak kembali air mineralnya. Setelah itu ia menatap ke arah Divi yang tengah serius melihat hasil pemotretan.
“Oh ya udah kalau gitu, Mas.”
“Na, tadi penampilan saya gimana?” tanya Jayden mendadak penasaran dengan hasil fotonya. Namun untuk berjalan dan ikut masuk ke kerumunan orang yang sedang melihat hasil fotonya membuatnya malas.
“Bagus, Mas, kayak biasanya. Mas Jayden juga kelihatan ganteng banget. Kayak ada swag—nya gitu. Keren!” puji Ina.
Jayden tersenyum tipis. Tapi ia tidak sepenuhnya percaya pada Ina. Asistennya itu terkadang hanya suka memujinya karena ia bertanya. Kembali meminum air mineralnya lagi, tak lama kemudian Jayden mendapati Bruce yang sudah kembali menghampirinya.
“Dari mana aja, hmm?” tanyanya dengan kepala mendongak.
“Tadi dapat telepon dari Sutradara film Cinta di Masa SMA.”
“Aku baru dengar nama filmnya.”
“Iya, memang film baru.”
“Oh,” Jayden menganggukkan kepalanya. “Ada apa emangnya?”
“Sutradaranya mau kamu ikutan kasting buat main film Cinta di Masa SMA.”
“Film yang tadi kemarin juga kan belum?”
“Ya, baguskan. Udah ada tawaran lagi!” kata Bruce dengan senyum tertahannya. “Gimana? Mau coba kan?”
Jayden menghela napasnya. “Aku sibuk sekarang. Tolak aja!”
“Kamu sibuk apa?” tanya Bruce balik. “Kamu mulai banyak menolak pekerjaan. Apa jangan—jangan karena dia?” Bruce menatap Divi dari kejauhan.
Jayden melihat ke arah pandangan Bruce pun berdecak pelan. “Aku sudah cukup banyak bekerja kan beberapa tahun lalu. Apa salah kalau aku minta pengurangan jadwal sekarang?” tanya Jayden. Ia tak ingin Divi disalahkan pada keputusannya.
“Kamu bukan meminta pengurangan jadwal sekarang!” kata Bruce kesal. “Tapi kamu lebih banyak mencoba tidak mengambil kesempatan besar, Jay! Ayolah! Ini juga kan demi diri kamu sendiri. Selain itu kalau kamu bisa menjadi artis besar di Indonesia, agensi artis kita akan makin dipercayai oleh public figure yang lain.”
Jayden menghela napasnya. Rasanya penuh sesak. Ia yang dulunya hidup seolah sebatang kara dan hanya memiliki satu tanggung jawab untuk dirinya sendiri. Kemudian berubah, menjadi kepala keluarga. Namun bukannya menjadi kepala keluarga untuk keluarga kecilnya. Ia justru menjadi tulang punggung keluarga untuk keluarga ibunya.
Ibunya memang masih memiliki kekayaan berasal dari mantan suaminya. Namun aset—aset itu mulai habis karena demi pengobatan ibunya yang tidak sedikit.
“Jayden? Kamu mendengarkanku tidak?” tanya Bruce, menyadarkan Jayden yang melamun sejenak.
Jayden berdehem pelan. Ia bangkit berdiri kemudian berjalan menghampiri Anton dan yang lainnya. Ia hendak melihat hasil dari pemotretannya barusan.
“Bagaimana, Ton, hasilnya?” tanya Jayden to the point.
“Bagus kok, Mas. Empat jempol pokoknya buat Mas Jayden!” kata Anton dengan senang. Ia memperlihatkan foto—foto Jayden yang aestetik kemudian menatap Jayden yang kini sedang melihatnya sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
“Ya udah, oke.” Jayden tersenyum puas. Ia menatap ke arah Divi yang langsung mencoba pergi dari sampingnya.
“Habis ini tinggal ganti pakaian aja ya, Mas?”
“Oke. Tapi aku ke toilet dulu,” kata Jayden pamit. Saat sudah agak jauh, Jayden bertanya pada Divi yang kini berada di depannya. “Gimana menurut kamu, Div?”
Divi tidak membalas dan berjalan lebih dulu. Ia tidak menyangka bahwa Jayden juga akan ke toilet.
“Div!” Jayden menarik tangan Divi.
Divi yang kaget pun kini menatap Jayden. “Kamu apa—apaan sih!”
“Aku kan tanya sama kamu, gimana menurut kamu? Gimana menurut kamu hasil pemotretan tadi?”
“Kalau kata Anton bagus, ya berarti bagus.” Divi tak banyak berkomentar.
Jayden menatap Divi yang kembali meninggalkannya. Ia menghela napas dan kembali mengikuti Divi. Sayangnya wanita yang pagi ini memakai setelan celana bahan berwarna baby blue itu buru—buru masuk ke dalam kamar mandi. Divi meninggalkannya dan menjaga jarak dengannya.
Akhirnya Jayden pun memilih masuk juga ke dalam toilet laki—laki. Ia tidak segila itu dan masuk ke dalam toilet wanita hanya untuk mengobrol dengan Divi yang terus bersikap canggung dengannya.[]
***
bersambung