Cemburu

2248 Kata
Bab 76 Cemburu Laki—laki kembali berdiri di depan kamera. Anton sang photografer pun mulai menunjukkan bakat memotretnya pada sang model. Hasil foto yang langsung terekam di layar komputer membuat Divi, Bruce, dan beberapa orang yang memperhatikan dengan serius pun terpesona. “Jayden memang kelihatan lebih tampan kalau di foto dari sisi kirinya. Iya kan?” tanya Bruce pada orang—orang di sekitarnya. Divi diam saja. “Memang Jayden lebih tampan dari sisi kiri,” balas seseorang yang terdengar berada di belakang Divi. dari suaranya saja, Divi bisa menebak bahwa yang berada di belakangnya kini tak lain adalah Rangga. Divi mendongakkan kepalanya dan ia beradu mata dengan Rangga yang langsung memberikannya senyuman. “Udah ada di sini lagi sih?” tanya Divi. Ia memposisikan dirinya di samping laki—laki itu. “Ya emang udah selesai urusanku. Jadi aku ke sini,” kata Divi. Ia menghampiri Divi yang tengah mengikuti sesi pemotretan kedua yang dilaksanakan sejak jam 16.30. Divi melihat ponselnya sejenak. Ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 18.30 malam. “Udah siap—siap mau pulang?” “Hmm,” Rangga berdehem pelan sambil menganggukkan kepalanya. “Pemotretannya masih lama nggak kira—kira?” tanya Rangga sambil mendekatkan wajahnya di telinga Divi. Divi menghela napasnya dengan pelan. “Kayaknya masih agak lama. Kalau mau, pulang duluan aja?” tanya Divi mempersilakan laki—laki yang tinggal satu apartemen dengannya itu. Rangga menghela napasnya. “Kamu emangnya nggak papa kalau harus kutinggal? Kamu pulang sama siapa nanti?” “Jangan lebay!” kata Divi sambil mencubit lengan Rangga dengan gemas. “Kita bukan anak sekolahan yang butuh ditemankan ke mana—mana. Gih pulang! Nggak berguna kalau kamu cuma nunggu di sini tanpa adanya keperluan kerja.” Rangga terkekeh pelan. “Ambil waktu istirahat terbaik, nggak tentu kan besok bisa pulang tepat waktu?” kata Divi lagi dan langsung Rangga berikan anggukan kepala. “Ya udah kalau begitu, aku pulang duluan. Kamu bawakan kartu masuknya? Jangan sampai kayak kemarin!” nasihat Rangga yang langsung disambut gelak tawa oleh Divi. Divi sama sekali tak memperhatikan Rangga yang perlahan berjalan menjauhinya. Wanita itu terdiam dan senyumnya mendadak memudar saat melihat Jayden yang kini tengah menatapnya dengan datar. Apaan sih lihat—lihat? Pikir Divi sambil mendengkus sebal. “Jay, lihat kamera!” suara Anton mengalihkan pandangan Jayden. Ia melihat ke arah kamera beberapa saat kemudian. Namun setelah dua menit, Jayden tiba—tiba ke luar dari frame. Laki—laki itu melepaskan dasi yang sejak tadi dipakainya. “Kita udahan aja,” kata Jayden secara mendadak. Membuat semua orang yang berada di studio pemotretan terbengong—bengong. “Tanggung lah, Jay! Sebentar lagi udahan. Kita ambil beberapa pose lagi terus, gimana?” pinta Anton sambil memegang kameranya. Ia juga lelah karena memotret Jayden, tapi ini pekerjaannya. Masalahnya Jayden yang sejak tadi bersikap baik di tempat kerja dan melakukan pekerjaannya dengan baik justru di menit—menit akhir meminta break. Ini sangat mengganggunya! Jayden menghela napasnya. “Kalau begitu, aku ke toilet sebentar!” kata Jayden dan kemudian berjalan begitu saja meninggalkan tempatnya berdiri. Ia melirik Divi dengan dingin lagi sejenak membuat wanita itu kebingungan. “Bruce, tolong kasih tahu dong Jayden tinggal sebentar lagi buat shoot! Sampai jam 7 malam udah kok. Gue janji!” kata Anton sambil menatap ke arah Bruce yang sedang berdiri tidak terlalu jauh dari Anton. Divi pun memperhatikan Bruce, membuat laki—laki menghela napasnya. “Bentar deh!” Setelahnya Bruce meninggalkan ruang pemotretan. Ia masuk ke dalam toilet laki—laki kemudian menemukan Jayden sedang berdiri di depan cermin. Laki—laki itu sedang mencuci tangannya. “Kenapa lagi sekarang?” tanya Bruce mengeluh pada Jayden. “Kenapa apanya? Aku capek! Jadi aku minta break. Itu salah?” tanya Jayden nyolot, membuat Bruce tak yakin bahwa alasan artisnya itu hanya karena lelah. “Aku nggak yakin kalau alasannya cuma karena capek,” kata Bruce dengan wajah seriusnya. Laki—laki itu yang lebih banyak mengurusi hidup artisnya di banding kehidupan pribadinya sendiri itu menunggui Jayden sambil menyandar di dinding. “Ya terserah lah mau percaya atau nggak,” Jayden melipat kedua tangannya di depan d**a. “Habis dari sini kita ke kelab gimana?” tanya Jayden mengubah topik pembicaraan dengan manajernya itu. Bruce yang mendengar ide Jayden pun segera menggelengkan kepala. “Kamu masih butuh energi penuh untuk besok. Besok kita ke kantor Visimedia.” “Ke sana lagi? Untuk apa?” tanya Jayden mendadak ingin sekali berteriak. Ia butuh ruang untuk me—refreshing kan pikirannya yang penat. “Untuk wawancara dengan teman wartawan. Beberapa pemain juga akan datang,” kata Bruce lagi. Jayden mendadak tidak yakin. “Aku kan hanya sebagai kameo. Tidak perlu datang untuk wawancara. Aku bahkan tak ikut masuk ke alur filmnya nanti. Nggak perlu bertindak terlalu berlebihan, Bruce.” “Aku hanya ingin jika kamu diliput. Itu saja! Ini tidak pantas disebut terlalu berlebihan. Yang benar saja, Jay!” “Pokoknya aku nggak mau datang!” Jayden membuang mukanya. Ia berjalan melewati Bruce ke luar dari toilet pria. Setelah kembali, Jayden tak menemukan sosok Divi di studio pemotretan. Ia duduk di kursi santainya beberapa saat kemudian, tapi hingga sepuluh menit duduk bersantai, Divi tetap tak memperlihatkan batang hidungnya. Apa Divi memutuskan untuk pulang duluan? tanya Jayden dalam hati. “Udah mendingan, Mas? Kita bisa lanjut fotonya?” ajak Anton sambil menghampiri Jayden. Jayden menghela napasnya. Namun kemudian ia segera bangkit berdiri. Lagipula riasannya sudah didempul ulang oleh make up artist saat ia sedang duduk bersantai. Setelah melakukan beberapa kali shoot, Anton pun menyelesaikan pemotretannya hari ini. Memang cukup lama karena mereka melakukan banyak foto sponsor, tapi setelahnya saat Jayden ikut melihat foto-fotonya ia cukup puas dengan apa yang dilakukan oleh Anton. Photografernya sangat berbakat! Puji Jayden dalam hati pada Anton yang tengah memperlihatkan hasil kerja kerasnya. “Bang Anton, kalau bisa besok kita ambil shoot agak sore aja ya?” Bruce bertanya. Ia berdiri di samping Anton. “Jayden besok ada jadwal mendadak. Dia mau ada sesi wawancara.” “Loh tapi kan udah dibicarakan pemotretannya pagi. Nggak bisa begitu dong seharusnya?” tanya Divi yang tiba—tiba saja sudah berada di studio pemotretan. Jayden memperhatikan Divi dan nampak bahwa wanita itu kembali seperti sedia kala. “Iya, sih, Bu Divi! Tapi ini penting banget buat karirnya Jayden. Tolong ya kasih keringanan! Dari pihak kami juga kan selalu memberikan keringan untuk pihak InSight Love! masa pas dibalik nggak bisa sih?” Divi rasanya ingin berdebat, tapi saat Anton menatap dengan sungkan. Ia jadi menghela napasnya dengan lelah. “Jadi gimana menurut kamu, Ton?” tanya Divi pada photografernya. Anton tersenyum simpul. “Nggak papa kok, Bu. Kita bisa rechedule.” “Tuh kan bisa! Oke kalau begitu, besok kita ketemu lagi agak siang.” Bruce terlihat senang dengan keputusan yang baru di dengarnya. Setelahnya beberapa saat kemudian, Jayden dan Bruce pun bersiap untuk meninggalkan studio. Meninggalkan Divi yang masih berada di sana sambil berbicara dengan Anton yang kini tengah membereskan ruang studio agar keesokan hari bisa digunakan lagi dengan baik. “Anton, lain kali kalau kita udah deal soal jadwal terus minta diganti kayak tadi jadi mau ya?” kata Divi menasihati Anton. “Nggak papa kok, Bu. Lagian besok kita bisa majuin jadwalnya Mbak Sabrina. Saya udah kontak orangnya dan besok kita lakukan photoshoot.” “Nggak barang Jayden?” tanya Divi mendadak bingung. Karena konsepnya yang diinginkannya bukan seperti itu. “Iya, Bu. Pak David minta foto Sabrina juga sendirian. Buat jaga—jaga aja sih, Bu, kalau butuh untuk profil.” Divi menghela napasnya. “Nanti kamu bisa handle sendiri nggak kira—kira?” “Eh handle gimana ya?” tanya Anton mendadak kebingungan. “Saya kayaknya besok nggak bisa lihat langsung photoshootnya. “Hmm ibu ada perlu besok?” tanya Anton penasaran. Divi mendadak terdiam. Ia bahkan tak punya banyak alasan. “Nggak deh, kita lihat aja buat besok.” Divi segera menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa membuat alasan yang dibuat—buat. “Kalau begitu saya pergi duluan ya?” Anton pun menganggukkan kepalanya. Laki—laki itu kembali membereskan semua pekerjaannya. Memastikan bahwa hasil kerja kerasnya hari ini berjalan dengan baik dan tanpa celah. Anton memang sosok yang perfeksionis, ia tidak terlalu percaya pada asistennya. Bukan karena mereka tidak berhati—hati tapi karena memang lebih percaya pada dirinya sendiri dalam melakukan segala sesuatu. Apalagi jika soal photographer, hal yang sangat dicintainya. *** Divi baru saja ke luar dari kantor. Ia berjalan menuju trotoar jalan raya agar bisa menggunakan kendaraan umum. “Kamu pulang dengan siapa?” tanya seseorang yang suaranya sangat dikenalinya. Jayden. “Sendirian,” kata Divi tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jayden yang kini berada di sampingnya. Ikut berjalan bersamanya menuju ke jalan raya utama. “Pacar kamu itu nggak tungguin kamu memangnya?” tanya Jayden membuat Divi berhenti berjalan. Ia berpikir cukup keras tentang maksud Jayden. “Kenapa?” tanya Jayden penasaran. Ia juga bahkan ikut berhenti berjalan. Divi kemudian menatap Jayden sejenak. “Pacar? Pacar siapa?” tanya Divi bingung. “Laki—laki yang tinggal di apartemen kamu itu?” Dari sorot matanya nampak bahwa Jayden gelisah. Namun laki—laki itu mencoba bersikap sesantai mungkin. Meskipun nyatanya saat melihat Divi bersama Rangga membuat Jayden memburu karena cemburu. “Yang tinggal di apartemenku?” Divi kembali melanjutkan perjalanannya. Ia melangkahkan kakinya lagi di samping Jayden. “Itu Rangga. Kamu sudah pernah berkenalan kan dengannya?” “Oh iya. Aku sudah berkenalan kah dengannya?” Jayden tak yakin. Tapi memang wajah Rangga cukup familiar. “Mungkin aku sudah berkenalan, tapi aku lupa siapa namanya.” “Rangga!” Jayden kemudian terdiam. Oh Rangga namanya, sungut Jayden dalam hati. “Jadi udah berapa lama kamu berpacaran dengannya? Kamu bahkan tinggal seatap dengannya. Kamu mau menikahinya?” tanya Jayden terdengar cerewet. Divi yang mendengarnya merasa bingung. “Aku tidak memiliki hubungan seperti yang kamu katakan dengan Rangga!” Jayden menautkan alisnya. Namun ia kemudian memikirkan hal lain. “Jadi kamu hanya sekedar berpacaran dan tinggal bersamanya tanpa berniat untuk menikahinya suatu saat nanti?” Divi kemudian berdiam diam. Ia sudah sampai di pinggir jalan raya. “Maksud kamu bertanya kayak gini apa sih?” sungut Divi kesal. “Kamu mau bilang kalau aku kumpul kebo?” Jayden memundurkan dirinya. Ia berada dua langkah di samping Divi. Membuat jarak dengan Divi dan membuat mereka begitu canggung. “Aku tidak mengatakan itu sama sekali ya. Jangan menuduhku hanya karena pikiran negatifmu saja!” “Terus?” Jayden menghela napasnya. “Bukannya kamu bilang kalau kamu punya pasangan saat di apartemenku kemarin? Itu dia kan, Rangga itu pacar kamu?” “Oh jadi kamu mengira kalau Rangga itu pacarku karena kita tinggal bersama?” tanya Divi mulai menyadari kesalahpahaman yang dirasakan oleh Jayden. “Memang iya kan?” Divi mendengkus kesal. Ia pun menggelengkan kepalanya. “Nggak! Puas kan?” Jayden mengerutkan keningnya. “Masa sih?” “Terserah kalau nggak percaya. Aku nggak masalah dengan pikiran salah paham kamu atau orang lain,” kata Divi dengan ketus. Jayden terdiam sejenak. Ia melihat ke arah mobil—mobil pribadi yang berlalu lalang di jalan utama. “Jadi kamu nggak ada hubungan apapun dengan laki—laki bernama Rangga itu?” Divi berdehem. Ia menundukkan kepalanya. Namun tiba—tiba pikirannya mendadak terasa berat. Ia menoleh ke sampingnya, ke arah Jayden yang masih berdiri di sampingnya. Mempermasalahkan Rangga yang tinggal bersamanya. Kenapa sikapnya seperti laki-laki yang cemburu pada pasangannya? Divi bergerak menyamping. Ia menjauhi Jayden karena khawatir jika akan menjadi gosip yang tidak—tidak untuk laki—laki itu. Menghela napasnya, Jayden kemudian tersenyum lebar. “Syukurlah kalau begitu.” Divi melirik Jayden dengan aneh. Kenapa Jayden bersyukur setelah tahu bahwa aku dan Rangga nggak lagi dalam hubungan asmara? Jayden menoleh ke arah Divi dan merasa kaget saat melihat posisi berdiri wanita itu yang cukup jauh darinya. “Kamu nggak mau banget ya deket—deket aku?” Divi menggelengkan kepalanya. “Biasa aja tuh!” “Div?” Jayden mendekat selangkah. Divi ingin menjauh tapi tangannya ditahan oleh Jayden. Membuatnya sepatu heels—nya agar tak jadi terkena genangan air yang ada di bawahnya. “Hampir aja!” kata Jayden. “Kamu boleh menghindariku, tapi seharusnya kamu lihat dulu apa yang ada di bawahmu,” gerutu Jayden memberikan nasihat. Divi tidak membalas. Ia berdiri di samping Jayden dan mereka terdiam untuk beberapa saat. “Kamu nggak pulang bersama Bruce?” tanya Divi akhirnya, membuka obrolan kembali. “Aku menyuruh Bruce pulang duluan.” Jayden sebenarnya menyuruh Bruce menunggu di mobil yang ada di basemen. Ia ke mari memang sengaja untuk menghampiri Divi untuk mengobrol dengannya. “Oh gitu....” Divi tidak terlalu memperhatikan Jayden hingga beberapa saat kemudian ada mobil taksi yang akhirnya meluncur menghampirinya. Merasa lega, Divi pun segera melambaikan tangan membuat taksi yang melaju di jalan raya itu melambat dan kemudian berhenti di depannya berdiri. “Aku pulang duluan deh kalau begitu. Kamu cari taksi lain aja ya?” kata Divi sama sekali tak berbasa—basi untuk mengajak Jayden pulang bersamanya, padahal mereka tinggal di satu gedung apartemen yang sama. “Bye!” Divi membuka pintu taksi kemudian masuk ke dalamnya. Ia segera menyebutkan alamat yang ditujunya pada supir taksi. “Pak, ke Apartemen Bougenville ya?” “Baik, Bu.” Setelahnya taksi pun melaju di jalan raya. Meninggalkan Jayden yang kini hanya bisa memandangi dalam diam. Setelahnya ia berbalik badan. Kembali menuju basemen gedung kantor InSight Love! Indonesia.[] ** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN