Bersaing

1444 Kata
Bab 77 Bersaing Jayden masuk ke dalam mobilnya, duduk di jok belakang dan menghela napasnya dengan pelan. “Kamu ngobrol apa lagi sih sama Divi?” tanya Bruce sambil menolehkan kepalanya ke belakang. “Ini kita sebenarnya jadi nggak mau ke kelab?” Jayden menyandarkan punggungnya dengan nyaman di sandaran jok di belakangnya kemudian memejamkan matanya. “Ada deh. Mau tahu aja,” balas Jayden terdengar riang. Setelah Divi meluruskan kembali kesalahpahaman yang memenuhi kepalanya, pikiran Jayden jauh lebih tenang sekarang. Bruce mendengkus sebal mendengar jawaban Jayden. Namun tak ia terlalu masalahkan karena memang sikap Jayden terkadang begitu. Bruce sudah cukup hapal dengan apa—apa yang dilakukannya. “By the way, kita jadi pulang ke apartemen langsung atau ke kelab malam?” “Pulang aja ke apartemen. Aku ingin istirahat,” kata Jayden sambil membuka matanya. Tak lama kemudian, Jayden mengulum senyumnya membuat Bruce buru—buru membalik badan dan bersiap—siap melajukan mobilnya yang sejak tadi sudah dia panaskan. “Bruce....” Jayden memanggil Bruce yang tetap sibuk menyetir di depannya. “Hmm?” “Aku sedang memikirkan sesuatu—“ “Jangan memikirkan apapun! Aku tahu kamu akan melakukan hal yang menyebalkan nantinya,” balas Bruce membuat Jayden berdecak kesal. “Aku serius!” “Artis tidak perlu banyak berpikir! Kamu hanya harus menjaga penampilan dan attitude—mu dengan baik!” kata Bruce sama sekali tak ingin membahas soal apa yang dipikirkan oleh artisnya saat ini. “Bruce, aku terus memikirkan untuk mengajak Divi rujuk kembali. Kita bahkan sudah bisa bicara baik—baik! Divi sepertinya sudah tidak terlalu memikirkan perselingkuhanku dulu dengan Sabrina.” “Haaah—“ Bruce tahu pasti bahwa apa yang akan dilakukan Jayden tak akan disukainya. “Memangnya kamu yakin kalau Divi mau rujuk denganmu? Kayaknya tiap bersama kamu atau Sabrina sikapnya sangat canggung.” “Canggung seperti sekarang lebih baik, daripada dulu—“ Jayden mengingat apa yang terjadi padanya dan Divi. Divi yang dulu begitu sering memakinya. Namun sekarang, Divi tak melakukan itu. Memang jika mereka membahas masa lalunya, Divi akan terlihat marah, tapi menurut Jayden itu sudah lebih baik. “Dulu sangat sulit bagiku bahkan hanya untuk melihat Divi. Aku selalu melihatnya menangis dan penuh amarah. Jika tidak menangis, dia bisa menatapku dengan tajam seolah ingin membunuhku dengan tatapannya itu,” Jayden menjelaskan apa yang terjadi dulu pada manajernya. Bruce menatap Jayden dari spion mobil di atasnya. Ia melihat Jayden yang kini sedang melihat ke luar. Wajahnya diam—diam menyiratkan keinginannya yang terpendam. “Aku ingin membangun kembali rumah tanggaku, Bruce,” kata Jayden terdengar pelan. Suaranya begitu jauh tapi Bruce mendengar ungkapan laki—laki yang duduk di belakangnya. “Bukankah lebih baik jika kamu tidak kembali pada masa lalu yang hanya akan membuat kamu teringat pada penyesalan?” tanya Bruce membuat Jayden menoleh padanya. “Maksud kamu—“ “Kamu selalu merasa menyesal jika mengingat masa lalumu. Mengingat Divi dan anak kalian pasti selalu membuatmu menyesal. Apakah jika kamu nanti rujuk dengan Divi, itu karena kamu mencintainya atau karena rasa penyesalan itu?” tanya Bruce membuat Jayden berpikir panjang. “Aku mencintai Divi dan masih tak bisa melupakannya.” “Kamu hanya menyesali apa yang sudah terjadi padamu dulu,” kata Bruce mengelak perkataan Jayden. “Kamu ingin memperbaiki kesalahan yang kamu lakukan dulu. Kamu merasa bersalah dan iba sampai merasa harus rujuk dengannya.” “Bruce, aku tidak segila itu!” balas Jayden sambil berdecak. Tatapan matanya berubah begitu tajam. “Aku memang masih mencintai Divi bahkan ketika aku mau berpisah dengannya. Aku sadar yang kulakukan dulu bersama Sabrina adalah kekhilafan. Aku sangat menyesalinya sampai tak sanggup untuk melihat Sabrina lagi.” Bruce mendadak terdiam. Ia buru—buru mengambil ponselnya, ponsel yang sejak tadi berteleponan dengan Sabrina segera ditutup. “Jadi kamu salah jika berpikir bahwa keinginanku untuk rujuk itu karena alasan penyesalan pada masa lalu. Justru aku menyesal karena sudah membawa Sabrina dalam hubunganku dan Divi dulu. Aku tidak bisa berpikir normal dulu. Aku sangat menyesalinya, Bruce.” Bruce sudah tidak bisa lagi mendengarkan Jayden. Ia sibuk berpikir apakah Sabrina baik—baik saja sekarang? Sabrina pasti sudah mendengar semuanya. Keinginan Jayden yang hendak rujuk dengan mantan istrinya pasti membuatnya terluka. “Bruce, berhenti mendekatkanku dan Sabrina!” kata Jayden tiba—tiba memberikan peringatan. “Aku tidak melakukan itu.” “Kamu melakukannya selama ini, jangan berpura—pura bodoh lagi!” kata Jayden memperingatkan dengan tegas. “Apalagi sekarang Sabrina sudah balik, bisa—bisa kamu mengganggapku dan Sabrina masih berhubungan.” “Aku tidak melakukan itu ya,” kata Bruce tidak mau disalahkan. “Oke terserah kamu mau mengaku atau tidak. Aku hanya ingin menegaskan untuk kamu berhenti mendekatkan aku dan Sabrina. Berhenti mengatakan pada semua orang kalau aku dan Sabrina sangat dekat. Aku tidak ingin mendengarnya lagi!” Bruce menelan ludahnya susah payah. Ia memutar bola matanya dengan kesal lalu lebih fokus melihat ke jalanan yang berada di depannya. Untungnya sekarang apartemen yang di tempati Jayden begitu dekat, jadi ia tak perlu berkeliling—keliling lagi terlebih dahulu. Sesampainya di apartemen Bougenville, Bruce memaksakan dirinya untuk menjemput Jayden. Sang manajer itu takut jika Jayden mampir ke apartemen nomer 92 di mana Divi kini tinggal. Setelah meletakkan barang—barang Jayden, Bruce pun pamit. Laki—laki itu hendak pulang ke tempat tinggalnya sendiri. *** Jayden melihat wadah styrofoam di depannya. Ia sudah memegang sendok dan bersiap menyantap makan malamnya yang apa adanya. Makan malamnya pemberian dari kantor majalah InSight Love! Indonesia. Tak hanya makan makan, ada juga buah—buahan, minuman yang sudah habis sejak di studio. Tangan laki—laki itu perlahan membuka wadah styrofoam kemudian mulai menyendokkan makanan ke mulutnya. Namun tak sampai lima sendok makan, Jayden menghentikan makannya. Ia menutup kembali wadah styrofoam yang ada di atas mejanya. Menyudahi makan malamnya dengan kilat. Bangkit dengan langkah lebar, Jayden buru—buru memuntahkan kembali makanan yang baru saja di makannya. Kepalanya mendadak pening setelah tak berhasil memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Jayden sendiri heran kenapa terkadang tubuhnya menolak untuk makan nasi. Meskipun terkadang ia bisa menerimanya begitu saja. Jayden yang sudah tidak berselera makan, buru—buru membuang wadah styrofoam di atas meja. Memindahkan ke dalam tempat sampah yang berada di dapur. Setelahnya Jayden ke luar dari apartemennya. Ia baru akan mandi dan membersihkan dirinya jika sudah hendak tidur dan sangat kelelahan. Saat berjalan di koridor gedung apartemen lantai 9, Jayden melihat ke arah pintu nomer 92 di mana Divi tinggal. Ia sama sekali tak berhenti hanya beberapa saat memelankan langkah kakinya. Tak lama kemudian, Jayden sampai di depan lift. Ia berdiri karena menunggu pintu lift yang masih tertutup. Beberapa saat kemudian, setelah pintu lift terbuka, Jayden pun memasukinya. Hampir saja pintu liftnya kembali tertutup saat Jayden melihat seseorang ke luar dari apartemen yang selalu mencuri perhatiannya. Bukan Divi, sosok yang ke luar dari pintu apartemen itu tak lain adalah rekan kerja Divi. Namanya Rangga. Kini Jayden mengingat bahkan menghapalnya dengan baik. Menahan pintu lift agar terus terbuka, Rangga akhirnya sampai ke dalam lift. Mereka berdiri bersama. Keduanya sama—sama menuju lantai dasar. “Makasih,” kata Rangga setelah pintu kembali tertutup. Jayden segera menganggukkan kepalanya. “Ehm ya, sama—sama.” “Saya nggak nyangka kalau ternyata kita tinggal di apartemen yang sama,” kata Rangga memulai obrolan. “Ya, saya juga tidak menyangkanya.” Ternyata kamulah yang menjadi teman seapartemen Divi. Jayden menatap Rangga dengan tidak nyaman kemudian mengangguk—anggukan kepalanya. “Saya dengar dari David—“ Jayden menolehkan kepalanya. Apa yang David katakan? “Divi mantan istri kamu ... ternyata.” Jayden mengerjapkan matanya. “Padahal aku sudah meminta David untuk merahasiakan masa laluku dan Divi pada siapapun di kantor kalian.” “David mengatakan itu karena tahu aku menyukai Divi.” Setelah mendengar perkataan Rangga soal perasaannya pada Divi, tanpa sadar wajah Jayden menunjukkan ketidaksenangannya. “Aku sudah lama menyukai Divi.” “Kenapa harus mengatakannya padaku?” tanya Jayden lalu menghela napasnya. “Aku hanya ingin menjelaskan posisiku. Dari awal aku melihatmu dengan Divi, aku sadar bahwa ada yang aneh dari kalian berdua. Divi takkan pernah mengatakan apapun. Dan aku bersyukur karena David mau menjelaskannya.” Jayden tak mengatakan apapun. Hingga beberapa saat kemudian di saat sebentar lagi pintu lift terbuka, laki—laki itu menjelaskan maksudnya. Bergantian dari apa yang sudah dilakukan oleh Rangga. “Kalau begitu kita bisa mulai bersaing,” kata Jayden dengan suaranya yang tajam. “Saya sudah berniat untuk rujuk dengan Divi.” Setelah mengatakan apa yang diinginkannya, Jayden tersenyum miring. Laki—laki itu meninggalkan Rangga yang masih berdiri diam. Jayden ke luar dari lift dan pergi menuju kafetaria apartemen Bougenville.[] *** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN