Karena Tinggal Satu Gedung

1428 Kata
Divi turun dari taksi yang membawanya menuju super market. Ia pergi ke super market yang berada di depan gedung apartemennya setelah mendapat telepon dari Rangga kalau butuh beberapa bahan masakan untuk stok di lemar es. Berjalan agak jauh menuju gedung utama super market, Divi akhirnya masuk ke dalam super market. Ia mengambil troli dan membawanya berjalan—jalan di sepanjang lorong rak etalase makanan. Mengambil sayur mayur yang sudah dibungkus, beberapa rembah—rempah bumbu dapur, kemudian tak lupa membeli buah-buahan. Sambil berjalan dan mendorong troli belanjaannya, Divi pun mencoba menghubungi Rangga kembali. Beberapa saat tak ada balasan apapun, akhirnya Divi memutuskan untuk belanja sendiri. Memilih yang disukainya dan meletakkan kembali barang—barang yang tidak disukainya ke etalase. Tak butuh waktu banyak bagi Divi untuk menyelesaikan beberbelanjanya. Ia memang tak membeli banyak hanya beberapa barang sesuai dengan yang Rangga pesan di telepon saat ia masih berada di dalam taksi. Benar, jika dipikir—pikir Rangga jauh lebih paham soal rumah tangga dibanding dirinya. *** Baru saja antri di depan kasir, Divi mendapati telepon selulernya berbunyi. Melihat bahwa Rangga yang meneleponnya, Divi pun segera mengangkat. “Halo, Rangga!” “Div, kamu ada di mana?” tanya Rangga. “Aku di kasir. Aku udah selesai belanja. Kenapa? Jangan bilang kalau kamu mau minta aku beli sesuatu! Aku sudah selesai berbelanja, Rangga!” Mendengar gerutuan Divi, Rangga yang berada di seberang telepon pun terkekeh pelan. “Nggak kok. Aku ada di luar nih. Lewat pintu depan ya, aku tunggu.” “Bawa mobil kan?” “Nggak!” balas Rangga yang langsung membuat Divi kecewa. “Ckckc ... tidak berguna sekali!” balas Divi ketus. Rangga balas berdecak. “Loh jarak apartemen kita dari super market sangat dekat kenapa harus membawa mobil? Berapa hari kamu tinggal di Jakarta sudah malas berjalan kaki hmm?” tanya Rangga menyindir. Divi menghela napasnya. “Ya udahlah. Bantu aku bawa barang belanjaanku nanti!” Rangga berdehem. Setelahnya panggilan kembali ditutup. Divi akhirnya sampai pada antriannya di depan kasir. Ia menaruh semua belanjaan yang ada di atas troli untuk dihitung di mesin kasir. Saat sudah selesai dan semua belanjaan dimasukkan ke dalam plastik belanjaan, Divi mulai bertanya-tanya tentang belanjaannya yang berubah menjadi sangat banyak di banding perkiraannya. Setelah selesai membayar, Divi membawa tiga kantong belanjaan sekaligus. Ini terlalu banyak tapi ia membawanya hingga sampai di pintu ke luar. “Kamu belanja banyak barang,” kata Rangga mengagetkan Divi. “Ya ampun, Rangga! Kamu ngagetin tahu nggak!” balas Divi sambil menepuk pundak Rangga dengan kesal. Tiga plastik belanjaannya ia taruh ke bawah karena sudah sangat lelah hanya karena membawanya dari kasir ke pintu ke luar-masuk. Rangga tertawa pelan. “Maaf deh. Nggak sengaja!” Rangga mengambil alih dua kantong plastik dan membawakannya. Sementara itu Divi membawa satu kantong plastik berukuran sedang –yang paling kecil di antara dua kantong lainnya, yang kini dibawa oleh Rangga. Divi dan Rangga pun mulai berjalan bersama. Mereka berjalan di atas jalur pejalan kaki. “Kita pulang jalan kaki aja gimana?” ajak Rangga. “Kamu mau keberatan bawa banyak barang.” “Anggap saja olahraga kalau begitu!” kata Rangga sambil mengedikkan bahunya. “Aku ke mari juga jalan kaki.” Divi berdehem pelan. Rangga lebih hemat dari yang Divi bayangkan. “Jakarta sudah banyak berubah sekarang,” kata Rangga bercerita. Mereka berjalan bersama melewati trotoar jalan yang memang diperuntukkan para pejalan kaki. “Hmm ... nggak terlalu macet lagi kan?” “Macet mah tetap,” Rangga mengelak. “Tapi nggak separah dulu. Lagi, beberapa minggu tinggal di Jakarta aku baru sadar kalau Jakarta punya jalur pejalan kaki yang cukup membantu.” “Oh jadi ini alasan kamu datang dan mengajakku jalan kaki?” tanya Divi sambil memperhatikan baik—baik jalur yang sedang digunakannya. Memang jalur pejalan kaki sudah cukup nyaman. “Tapi jujur aja aku nggak nggak terlalu paham sih. Aku nggak pernah tinggal di Jakarta selama ini,” kata Divi mengingat asal usulnya. “Oh ya kamu dari Bogor ya?” Divi mengangguk sambil tertawa kecil. “Aku jadi kangen sama Bogor.” “Kangen?” “Hmm....” “Kalau begitu mau ke sana kalau ada waktu senggang?” ajak Rangga membuat Divi memperhatikan laki—laki itu beberapa saat. “Sekedar jalan—jalan. Kita bisa naik KRL ke Bogor terus pergi ke rumah kamu di sana.” “Rumahku di kontrakan. Percuma juga kalau ke sana,” kata Divi memberitahu. Awalnya rumah keluarganya hendak dijual, tapi akhirnya di tempati oleh salah satu teman kerja papanya yang bekerja di kantor yang berpusat di cabang Bogor. “Oh begitu....” Rangga akhirnya tak meneruskan perkataannya. Beberapa saat mereka berdua terdiam, sampai akhirnya Rangga mengatakan sesuatu. “Div, aku ketemu Jayden tadi sebelum ke sini. Kita ketemu di lift.” “Oh terus?” Divi merasa gelisah. Namun ia tidak mengatakan apapun. Rangga menoleh ke arah Divi sejenak. Ia menimbang, apakah harus mengatakan pada Divi bahwa ia juga sudah tahu hubungan masa lalunya dan Jayden, atau tidak. Rangga khawtair, jika ia memberitahu Divi akhirnya wanita di sampingnya itu justru akan menjauh padanya. Rangga bisa melihat bagaimana kecanggungan Divi jika ia bersama Jayden. “Rangga?” Divi menatap Rangga di sampingnya dengan bingung. Tangannya melambai di depan mata laki—laki itu. Membuatnya tersadar dari lamunan yang ada di benaknya. Rangga terkekeh pelan. Ia menggelengkan kepala. Tak jadi bercerita tentang apa yang sudah diketahuinya dari David. “Nggak papa sih. Tapi kayaknya kita bakal sering ketemu Jayden karena kita tinggal satu apartemen ya?” “Hmm emang iya. Canggung banget kan, kerja ketemu, di tempat tinggal pun harus bertemu,” balas Divi terasa emosi. Rangga tersenyum tipis. Ia melihat ke depannya dan tak menanggapi lagi perkataan Divi. Tak lama kemudian, mereka saling membisu sambil berjalan terus menuju gedung apartemen Bougenville. Sesampainya di lobi, Rangga dan Divi hanya bisa terpaku sambil terus melangkahkan kakinya. Kembali mereka menemukan Jayden yang baru saja ke luar dari kafetaria apartemen. Mereka saling menatap dan bersapa dengan senyum tipis. *** Jayden masih duduk di kafetaria meskipun sudah lewat setengah jam. Ia menghabiskan waktunya di sana untuk meminum kopi dan memperhatikan orang yang berlalang masuk dan ke luar dari kafe. Setelah minumannya habis, Jayden mulai bangkit berdiri. Laki—laki itu ke luar dari kafetaria dan justru berpapasan dengan Divi dan Rangga yang tengah membawa barang—barang belanjaan. Saat keduanya melihat Jayden, senyum keduanya nampak canggung. Mereka berdiri bersama di depan pintu lift yang masih tertutup. “Kalian baru selesai belanja?” tanya Jayden berbasa—basi. Ia hanya memperhatikan Divi meskipun wanita itu enggan untuk melihat ke arahnya. Tersenyum yang dipaksakan, Jayden pun akhirnya menganggukkan kepala. “Ya, seperti yang kamu lihat, Jay!” balas Divi tak ingin berbasa-basi. “Sini biar kubantu!” kata Jayden sambil mengambil alih plastik bawaan Divi. Namun, wanita itu segera menjauhkan pegangannya dan menggeleng pelan. “Nggak perlu! Ini cuma bawaan ringan,” kata Divi menolak. Ia memang hanya membawa satu plastik belanjaan, sedangkan dua plastik belanjaan besarnya sudah dipegang oleh Rangga yang rela menjemputnya ke supermarket. Jayden menghela napasnya. Itikad baiknya sama sekali tak dianggap dengan baik. Tak lama kemudian, pintu lift di depan mereka terbuka. Jayden masuk duluan diikuti oleh Rangga dan Divi yang kini saling mengobrol. Jayden hanya mendengarkan tapi tak lama kemudian ia merasa kesal karena diabaikan. Ia juga merasa kalah pada Rangga, rekan kerja Divi yang mengaku menyukainya itu sekarang sangat tidak sukainya. Melihat kedekatan keduanya membuat Jayden muak. Untungnya hal itu tidak berlalu lama saat akhirnya pintu lift terbuka menuju lantai 9. Jayden, Divi, dan Rangga ke luar dari dalam lift kemudian berjalan bersama menuju apartemen mereka masing—masing. “Jayden,” suara Rangga terdengar ramah. Jayden menoleh dan tersenyum kaku. Mereka sudah sampai di depan pintu apartemen Divi dan Rangga. “Selamat malam!” Jayden tertawa kecil lalu menganggukkan kepala. “Iya. Selamat malam!” Setelahnya Jayden melanjutkan perjalanannya menuju apartemennya sendiri. Setelah sampai ke dalam apartemennya, Jayden tak bisa berpikir apapun. Ia merasa cemburu bukan main, apalagi ia sekarang tahu bahwa yang menjadi ancamannya adalah Rangga. Laki—laki yang sudah jelas—jelas mengakui bahwa ia menyukai Divi. Namun Divi ... kenapa saat di apartemennya Divi bilang kalau dia sudah punya pasangan? Apakah dia berniat berbohong? Atau memang ada kekasih yang lain? Jayden masuk ke dalam kamarnya dengan kepala yang berat. Ia merasa kesal pada pikirannya sendiri. Berjalan menuju ranjang tidurnya, Jayden pun segera membanting tubuhnya. Ia mencoba memejamkan matanya sejenak, tapi tak lama kemudian ia kembali membuka mata. Karena efek kafein dari kopi yang diminumnya beberapa saat yang lalu, ia tidak merasa mengantuk.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN