Divi merasa agak lega. Tentu saja ia merasa lega karena sejak membuka mata atau saat ke luar dari apartemen yang ditinggalinya bersama Rangga, ia tak perlu berpapasan dengan Jayden.
“Div, nyari siapa?” tanya Rangga yang memperhatikan tingkah wanita di sampingnya yang seolah sedang mencari seseorang.
“Nggak! Emang harus nyari siapa?” tanya Divi balik. Ia mengulum senyum bahagianya kemudian berjalan dengan tenang bersama Rangga. Mereka berjalan di basemen gedung apartemen kemudian naik mobil milik Rangga.
Masuk ke dalam mobil, Divi memakai sabuk pengamannya. Ia kembali menghela napasnya seolah begitu lega hanya karena tak bertemu dengan Jayden yang hanya dengan melihatnya bisa membuat batinnya gelisah.
Rangga duduk di belakang kemudi kemudian mulai melajukan mobilnya setelah memakai sabuk pengaman. “Pagi—pagi gini kamu udah kelihatan seneng ya?” celoteh Rangga membuat Divi terkekeh pelan.
Wanita itu menyelipkan helaian rambut di daun telinganya. “Ah nggak. Biasa aja kok. Perasaan kamu aja,” balas Divi.
Rangga balas tertawa lalu mengusap kepala Divi dengan lembut. “Aku senang kalau melihat kamu bahagia.”
Divi terdiam sejenak setelah merasakan elusan tangan Rangga di kepalanya. Setelah tangan laki—laki itu lepas untuk mengusap rambutnya, ia pun memperbaiki kembali mahkotanya itu.
Melihat kelakuan Divi, Rangga lantas mengulum senyumnya. Tak lama kemudian, ia kembali fokus menyetir. Melajukan mobil yang ditumpanginya bersama wanita yang disukainya ke kantor InSight Love! Indonesia.
***
Setelah bekerja setengah hari, Divi dan Rangga pergi makan siang bersama ke salah satu restoran yang dekat dengan gedung kantor. Ia pergi jalan kaki karena ajakan Rangga.
Sambil berjalan di trotoar jalan yang tak terlalu panas, Rangga pun memulai obrolan. “Tadi Sabrina nggak jadi datang ya kayaknya?” tanya Rangga.
“Hmm,” Divi menganggukkan kepalanya. “Timnya Anton udah menghubungi, terus dia malah minta sore juga biar bareng sama Jayden. Ckck, mungkin kalau bukan karena rekomendasi dari pihak Jayden, aku sudah minta Anton untuk tidak jadi model di majalah kita.”
Rangga mengulum senyumnya. Ia sama sekali tak menatap Divi dan sibuk memperhatikan sekitarnya yang ramai. Masih banyak mobil pribadi yang berlalu lalang menambah kemacetan. Sementara sesekali bus transjakarta lewat di jalurnya.
“Rangga, kenapa?” tanya Divi saat memperhatikan Rangga yang justru tak memperhatikannya sambil melihat jalanan di sekitarnya.
“Nggak papa,” Rangga menatap Divi dengan lekat. “Emang kenapa?”
“Kamu lihatin mobil—mobil terus,” kata Divi lagi.
“Aku suka melihatnya. Kayak masih nggak nyangka Jakarta bisa begitu berubah,” kata Rangga dengan senyum tertahannya. “Aku jadi berpikir, apa lebih baik aku tinggal di Jakarta aja dan tidak perlu kembali ke Sydney?”
Divi mendadak menghela napasnya. Ia teringat dengan obrolannya bersama kedua orang tuanya. “Aku juga mungkin nggak kembali ke Sydney lagi,” kata Divi yang justru balas membuat Rangga kaget.
“Kenapa?” tanyanya langsung.
“Kontrak pekerjaan papaku sudah akan berakhir awal tahun depan, kemungkinan besar Papa dan Mama akan memilih tinggal di Bogor kembali. Mereka sudah berada di Sydney selama 5 tahun. Udah kangen banget katanya sama Indonesia. Sama masakannya, keluarga-keluarga juga.”
Rangga yang mendengarnya pun kemudian terdiam. “Kamu juga akan ikut pindah?”
“Mungkin ... aku nggak bisa tinggal jauh dari keluargaku. Apalagi anakku selalu dalam pengawasan omanya.”
“Kamu mau terus bekerja?”
“Hmm ... aku perlu bekerja,” Divi menganggukkan kepalanya. “Aku nggak bisa mengandalkan orang lain untuk menghidupiku dan anakku. Emil sebentar lagi masuk usia sekolah, aku akan butuh biaya besar untuk itu.”
“Bagaimana dengan ayahnya?” tanya Rangga kaku. Ia tak yakin untuk menanyakan soal Jayden, tapi kemudian mulutnya berkata begitu saja.
Divi mendadak terdiam. Ia mengingat Jayden yang sudah sering bertemu dengannya, mengobrol dengannya. “Aku tidak peduli dengan ayah Emil. Aku hanya mengandalkan diriku sendiri.”
Tangan Rangga tiba—tiba berada di belakang tubuh Divi, laki—laki itu memeluk tubuh wanitanya dari samping. Mereka terus berjalan beberapa saat kemudian hingga sampai di pintu depan restoran.
***
Divi mulai merasa tidak nyaman berada di kantor hari ini. Hari sudah mulai sore dan kedua model yang harus menghadiri pemotretan di kantor studio InSight Love! Indonesia sudah datang.
“Mbak Divi,” suara di sampingnya terdengar. Anton yang memanggilnya menolehkan kepalanya ke belakang.
“Menurut Mbak properti kita cukup ini saja kan? Apa ada pihak sponsor yang harus ikut masuk ke foto?” tanya Anton memastikan.
Divi menggelengkan kepalanya. “Nggak ada kok. Cukup begini saja,” kata Divi. “Karena nanti modelnya memakai pakaian hitam dan seksi, konsepnya udah jelas kan?”
“Sudah dong, Bu! Sesuai brifing kan?” Anton memastikan kembali.
Divi menganggukkan kepalanya. Ia mulai duduk di atas kursi. Di sudut lain, Jayden sudah mengganti pakaiannya. Laki—laki itu memakai celana bahan panjang dengan kaos tanpa lengan berwarna senada.
Jayden tiba—tiba menghampiri Anton kemudian mengobrol dengannya. Divi yang hanya duduk di kursi pun nampak memperhatikan. Tak lama kemudian, Divi melihat laki—laki yang pernah menjadi bagian hidupnya itu membuka kaos yang dipakainya. Membuatnya telanjang d**a. Tubuhnya yang six pack membuat Divi membuang mukanya. Laki—laki itu tak berubah, tapi jika diperhatikan lagi Divi sadar bahwa berat badan Jayden pasti sudah banyak berkurang.
Divi memperhatikan Jayden yang kini kembali bersiap. Sedangkan Sabrina sudah mulai bersiap dengan memakai crop top pendek yang hanya menutup buah dadanya. Untuk bawahannya, Sabrina memakai celana hitam senada dengan yang dipakai oleh Jayden. Melihat penampilan keduanya membuat Divi menahan napas. Ia tak tahu bagaimana nanti keduanya akan berpose s*****l di depan kamera.
Rangga baru saja masuk ke dalam studio pemotretan saat melihat Divi yang begitu serius saat memperhatikan kedua modelnya.
“Minum dulu!” Rangga yang tiba—tiba mengulurkan minuman s**u berfrementasi itu membuat Divi menoleh.
Divi menerimanya. Rangga menusukkan sedotan ke minuman Divi setelahnya. “Makasih,” katanya sambil tersenyum simpul.
Rangga balas tersenyum kemudian ikut memperhatikan pekerjaan model mereka. Tak lama kemudian, lampu utama di studio pemotretan dimatikan. Lampu yang tersedia hanya berasal dari lampu blitz untuk keperluan pemotretan.
Anton sudah memulai pekerjaannya. Sementara Jayden dan Sabrina memulai dengan foto sendiri-sendiri. Hingga waktunya foto bersama, seisi ruangan nampak menahan napasnya karena berbagai pose Jayden dan Sabrina yang nampak sangat dekat dan lekat.
Divi memperhatikan Jayden dan Sabrina dan mulai gelisah. Ia bukannya tidak suka dengan apa yang mereka lakukan sekarang dan merasa cemburu. Namun pikirannya kembali pada masa lalu. Ia seolah membayangkan kembali apa yang dilakukan oleh Jayden bersama Sabrina dulu di belakangnya.
Kondisinya yang lemah karena sedang hamil besar sedangkan suaminya berada di luar kita menghangatkan dirinya bersama Sabrina. Apakah ini yang kamu lakukan bersama Sabrina dulu, Jay?
Suara isakan terdengar di seluruh penjuru ruang yang sepi dan senyap, Divi yang tiba—tiba menangis mulai bangkit berdiri. Ia meninggalkan tempatnya duduk lalu masuk ke dalam toilet.
Divi tak melanjutkan tangisnya tapi tetap mengurung dirinya sendiri di dalam bilik toilet. Ia kira, ia sudah kuat. Ia kira Jayden dan Sabrina tidak akan mengganggu pikirannya. Namun Divi salah, ternyata sakit hatinya kembali dan kenangan masa lalunya segera menyergapnya. Membawanya pada kesedihan yang sudah lama tidak dirasakannya.
Divi menyalakan air closet kemudian terisak lagi. Dalam hati, ia merasa bahwa takdir tak berpihak padanya. Ia yang sakit hati dulu, tapi kini justru kembali melihat hal yang menyakitkan seperti dulu.
Mengusap kedua sudut matanya dengan kasar, Divi kemudian menyudahi tangisannya. Ia bangkit berdiri kemudian mengerjapkan matanya beberapa saat kemudian.
“Aku harus profesional. Masa karena melihat mereka bermesraan aku nangis sih? Cengeng!” Divi bicara pada dirinya sendiri. Divi mengerjapkan matanya setelah itu kembali terduduk di atas kloset kamar mandi yang masih tertutup rapat. Ingat, Div! Jayden bukan siapa-siapa kamu lagi. Jayden cuma orang dari masa lalumu! Nggak ada yang yang harus kamu tangisi. Kamu harus sadar. Ini sudah menjadi keputusanmu juga, menyerahkan Jayden pada Sabrina dulu. Mereka toh pantas bersama. Dibanding denganku, Jayden memang lebih pantas ketika bersama.
Divi meyakinkan dirinya. Namun anehnya setelah melakukan itu ia kembali menangis. Ia merasa tidak pantas karena pernah berhubungan dengan laki—laki itu. Kini justru ia merasa rendah diri karena pernah menjalin hubungan dengannya.[]