Lamaran

2764 Kata
Bab 15 Lamaran Setelah beberapa hari terdiam, akhirnya Jayden sudah memutuskan dengan bulat keputusannya untuk bertanggung jawab pada kehamilan Divi. Ia melakukan itu bukan hanya karena kehamilan Divi, tapi karena perasaannya juga masih mencintai sang gadis. Jayden ingat sekali, bagaimana ia dulu begitu tergila—gila pada sikap cuek yang diperlihatkan Divi padanya. Mereka menghabiskan waktu dengan bekerja tanpa sedikit pun memasukkan perasaan di sana. Hal itu membuat Jayden begitu terpukau. Ia biasa mendapat godaan dari wanita yang di sekitarnya –tentu karena ketampanannya—tapi hal itu tak terjadi pada Divi. Berjalan dengan langkah ringannya, Jayden mulai mempersiapkan diri untuk hari di mana ia akan melamar Divi pada kedua orang tuanya. Salah satunya, Jayden akan membeli cincin kawin. Bagaimana pun juga ia harus melamar Divi dengan baik? Bukan hanya karena semata—mata ia sudah menghamilinya maka Divi kehilangan hal yang harusnya didapatkan wanita yang akan menikah dengan seorang pria. Berhenti di sebuah toko perhiasan emas di salah satu mall di Bogor, Jayden langsung mendapat sambutan hangat dari pelayan toko. “Selamat malam, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” “Saya mau mencari cincin pernikahan untuk melamar pacar saya. Apa kamu bisa memberikan beberapa rekomendasi?” tanya Jayden balik. Pelayan toko perhiasan pun tersenyum ramah. Ia mulai menunjuk dan berjalan ke arah lain dan Jayden mengikutinya. Setelah berhenti, pelayan toko itu pun kembali bersuara. Menjelaskan mengenai barang yang dijualnya. “Di sini adalah koleksi cincin untuk lamaran. Bapak bisa memilih langsung. Sekiranya orang seperti apa calon istri Bapak?” Jayden sudah memulai melihat perhiasan di depan matanya. Ia terpukau sejenak kemudian tersadar dengan pertanyaan sang pelayan. “Pacar saya orang yang ... dingin di luar, tapi begitu hangat di dalam.” Pelayan toko itu tersenyum dengan gerik mata yang kebingungan. Namun setelahnya ia memberikan rekomendasi cincin untuk Jayden. Ia mengeluarkan salah satu emas dari balik display lemari kaca yang ada di antara mereka. “Bagaimana dengan ini, Pak? Cincin ini cukup banyak disenangi oleh wanita yang punya banyak pekerjaan dengan hati lembutnya. Saya menyarankan untuk memberikan cincin sederhana ini.” Pelayan toko mengeluarkan pasangan cincin silver gold. Salah satu cincin yang lebih besar untuk laki—laki tanpa permata dengan garis cekung di tengahnya. Sementara untuk perempuan memiliki berlian kecil di tengah cincin dengan garis lengkung di antara dua garis luar. Terlihat sederhana dan indah. Jayden pun menganggukkan kepalanya. “Saya ambil,” kata Jayden. “Ukuran calon istri Bapak kira—kira apa Bapak tahu?” “Mungkin sekitar ... 16,” balas Jayden. Divi pernah bercerita soal ukuran jari kelingkingnya ketika mereka membahas soal cincin. “Kalau Bapak?” Jayden menggeleng kepalanya tidak tahu. Setelahnya ia mencoba cincin yang ada di depannya dan ternyata muat. Ia bersyukur dalam hati sambil tersenyum puas. “Kalau begitu saya akan mencari ukuran untuk pasangannya,” kata pelayan toko sambil mengambil tersenyum. Menganggukkan kepalanya, Jayden pun berdiri sambil diam. Ia menunggu beberapa saat hingga pelayan toko perhiasan itu kembali menghampirinya. Membawakan cincin untuk Divi dan menunjukkan pada Jayden sejenak. “Bagaimana, Pak? Jadi ambil?” Jayden menganggukkan kepalanya. “Iya, saya ambil.” “Baik,” balas sang pelayan toko. “Saya akan bungkuskan untuk Bapak sebentar.” Kembali, Jayden menganggukkan kepalanya. Setelah melakukan pembayaran, ia pun meninggalkan toko perhiasan yang sudah dikunjungi. Ia tersenyum sambil berjalan meninggalkan mall. *** Langkah kaki Jayden terhenti sejenak saat ia menitipkan barang sebelum memasuki super market. Di sampingnya, Jayden bertemu dengan ayah kandung dan adik tirinya. Mereka kelihatan begitu lengket. Terlihat sekali bagaimana sang adik tiri begitu dekat dengan Papanya. Mata Jayden mengerjap beberapa saat ia menetralkan bulir air mata yang rasanya memenuhi kelopak matanya. “Kak Aiden,” suara Lilina terdengar saat mengetahui Jayden di sebelahnya. Sang ayah pun segera menoleh kala mendengar sang putri memanggil anak sulungnya. Ia melihat Jayden dan nampak bahwa sang anak sedang berdiri sambil memegang kartu yang baru didapatkannya dari laci penyimpanan. “Jay, kamu ada di sini juga?” “Iya, Pa,” kata Jayden. “Mau belanja keperluan rumah juga?” tanya Papa Julian. Jayden menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu aku duluan, Pa, Li....” Jayden tentu saja tak nyaman jika ia harus berbelanja bersama ayah dan adiknya. Apalagi keduanya kelihatan dekat, seolah Jayden hanya akan menjadi pengganggu nantinya. Berjalan lebih dulu, setelahnya Jayden membawa keranjang dorong berukuran kecil. Ia berjalan dengan langkah mantapnya dan memasuki super market. Jayden segera mengambil beberapa roti dan kue yang ingin dimakannya di rumah dari etalase. Setelahnya ia mulai membeli frozen food, sayur dan buah segar. Setelah selesai, Jayden mulai berbelanja persediaan kopi dan s**u untuk di rumah. Hingga akhirnya ia berada di etalase pasta gigi dan bertemu kembali dengan Lili dan Papa Julian. Mereka kelihatan sudah berbelanja banyak snack ringan. Saling tertawa bersama membuat Jayden tak ingin melihat mereka. “Kak Aiden, beli sayur juga. Kak Aiden bisa masak ya?” tanya Lilina saat sudah berada di hadapan Jayden. Jayden menganggukkan kepalanya. “Aku hidup sendiri jadi aku harus bisa masak.” Papa Julian nampak terganggu dengan perkataan Jayden. Apalagi sang anak menatapnya dengan dingin seolah ingin menyalahkannya. Beberapa tahu yang lalu, Papa Julian dan Jayden pernah bertengkar sangat hebat. Ketika itu Papa Julian masih berusaha keras agar Jayden mau tinggal bersama keluarga barunya. Namun hal itu tidak disambut baik oleh Jayden. Jayden bahkan mengatakan semua pikirannya dulu. Bahwa ia menganggap dirinya sebagai anak yang dibuang oleh kedua orang tuanya dan ia tidak ingin hidup dengan salah satu di antara ayah dan ibunya lagi. Papa Julian masih mengingatnya dengan jelas dan itulah sebabnya hubungan mereka menjadi begitu canggung. Namun tetap saja, Papa Julian hanya bisa pasrah. Ia sadar bahwa yang pernah dilakukannya pada Jayden adalah hal yang tak bisa dimaafkan. Jadi ia tidak memaksa Jayden lagi dan membiarkan kehidupan mereka sebagai ayah dan anak terasa sangat asing. “Kak Jayden, habis ini kita makan malam di rumah yuk?” ajak Lilina dengan ramah. Ia kembali mencoba mendekatkan dirinya dengan sang kakak. Seperti kata mamanya, ia harus bersikap baik pada sang kakak. Tak peduli Jayden akan menolak kebaikan hatinya. Bagaimana pun mereka adalah kakak adik, saudara yang memiliki darah yang sama, meskipun berbeda ibu. “Mama pasti senang kalau lihat Kak Jayden ikut makan malam di rumah kita.” Jayden segera menggelengkan kepalanya. “Malam ini aku ada janji dengan pacarku.” “Pacar?” “Hmm ... aku juga akan menikah dengannya dalam waktu dekat. Aku akan segera melamarnya.” Perkataan Jayden membuat ayah dan adiknya terdiam. Sang ayah nampak shock sebentar lalu tersenyum senang. “Papa senang karena kamu akan segera menikah. Kapan kamu akan melamarnya? Papa akan menjadi wali kamu untuk melamar calon istri kamu nanti.” Tatapan mata Jayden nampak dingin. Ia menggelengkan kepalanya. “Nggak perlu, Pa. Aku bisa melakukan itu sendiri....” “Tapi, Jay—“ “Papa bisa datang ke acara pernikahanku nanti.” Papa Julian nampak kesal tapi tak lama kemudian, sang putra justru meninggalkannya dengan Lilina. Jayden nampak berlawanan arah dengannya dan kembali berbelanja seolah tak terjadi apapun yang serius. “Pa, Kak Jay kok gitu sih?” tanya Lilina sambil memeluk lengan ayahnya. Lilina melihat bagaimana sang ayah yang terdiam dan mengasihaninya. Ia tidak suka dengan sikap Jayden yang tidak menganggap ayahnya. Ayahnya adalah yang terbaik. Ia tidak suka jika ada orang yang menganggapnya remeh bahkan begitu saja meninggalkannya tanpa hormat. “Kamu jangan salah paham ya, Li. Kak Jay memang begitu karena dia sudah dewasa. Dia pasti nggak mau menyusahkan Papa.” Lilina terdiam. Ia tidak membalas perkataan ayahnya. Ia sudah besar dan ia tidak sebodoh itu untuk mempercayai semua perkataan ayahnya. “Cih!” Lilina berdecih sambil melihat ke arah punggung Jayden yang makin menjauh. *** Jayden terdiam di atas meja makan dengan plastik belanjaan yang masih utuh. Ia masih memikirkan ayahnya. Ia merasa bersalah karena sudah berkata yang tidak menyenangkan. Terdiam sambil menatap ke arah belanjaannya yang belum dibongkar dan masih berada dalam plastiknya, Jayden kembali tersadar kala mendengar ponselnya berbunyi. Ia melihat nama peneleponnya dan menemukan nama Divi di sana. Ia tersenyum tipis lalu mengangkatnya. “Halo, Sayang.” “Jay, kamu udah pulang ke Bogor?” “Hmm,” balas Jayden dengan berdehem. Ia kemudian tersadar dari lamunannya lalu bertanya. “Div, aku mau ngomong sesuatu. Malam ini aku ke rumah kamu ya?” “Malam ini?” “Iya. Aku ke rumah kamu sekitar 20 menit lagi,” kata Jayden lagi. Divi diam beberapa saat. “Div, kamu masih di situ kan? Kamu dengar kan?” “Iya, Jay. Aku dengar kok. Kamu mau ke sini kan? Oke.” “Ya udah kalau gitu, tunggu aku ya. Aku mau siap—siap dulu,” kata Jayden. Ia mematikan panggilannya lalu menaruh ponselnya di atas meja makan. Setelahnya Jayden mulai menyiapkan dirinya. Ia pergi mandi untuk bersiap ke rumah Divi dan meninggalkan belanjaannya yang masih belum ia bongkar sama sekali. *** Jayden memakai pakaian kasualnya untuk menemui Divi di rumahnya. Perpaduan antara jas biru elektriknya dengan kaos putih membuat Jayden nampak begitu rapi. Ia menghela napasnya sambil duduk di dalam mobil. Beberapa saat lalu, ia sudah menghubungi Divi dan mengatakan bahwa ia sudah berada di luar rumah. Jayden jujur saja sangat gugup sekarang. Malam ini, ia memutuskan untuk melamar Divi dan memberitahukan kedua orang tua Divi bahwa putrinya juga sudah mengandung anaknya. Rasa gugup dan khawtair akan kemarahan kedua orang tua Divi menjadi satu. Ini tidak semudah yang dibayangkannya. Tok, tok.... suara jendela mobil yang diketuk membuat Jayden kaget. Saking gugupnya sampai ia tidak menyadari keberadaan Divi yang sudah ada di depannya. Jayden memaksakan dirinya untuk tersenyum lalu turun dari mobil. Tak lupa, ia mengeluarkan parcel buah untuk kekasihnya. “Loh, Jay! Kamu ngapain bawa buah gini.” Divi makin bingung dengan kekasihnya. Pasalnya saat ia melihat Jayden tuurn dari mobil dengan pakaian kasualnya, ia sudah merasa aneh. Sekarang ditambah oleh—oleh yang kekasihnya persiapkan. “Malam ini aku mau ngelamar kamu ke kedua orang tua kamu,” kata Jayden dengan entengnya. “Apa?” Divi kaget tentu saja. Jayden tak mengatakannya sama sekali sebelumnya bahwa ini adalah hari di mana mereka akan mengakui sesuatu pada kedua orang tuanya. “Kamu belum siap?” tanya Jayden. Divi langsung menggelengkan kepalanya. “Bukan,” katanya. “Bukannya aku belum siap, tapi aku kaget aja. Karena kamu nggak bilang ini saatnya.” Jayden terkekeh pelan sambil mengambil alih parcel buah yang dipegang oleh Divi. “Sini biar aku yang bawakan! Pasti berat!” kata Jayden sambil mengulum senyumnya. Mereka masuk ke dalam rumah dan kegugupan Jayden makin menjadi. Apalagi saat ia melihat ayah Divi yang tiba—tiba saja ke luar dari dalam rumah sambil membawa tablet kesayangannya. “Selamat malam, Om!” sapa Jayden sambil tersenyum ramah. Papa Dwika –ayah Divi— balas tersenyum pada Jayden. “Wah ada Jayden ya, pantas aja dari tadi Divi nggak di kamar. Dia ternyata nungguin kamu.” Jayden melirik Divi dan kekasihnya itu terlihat cemberut. “Papa apa—apaan sih. Berisik tahu!” Jayden dan Papa Dwika tertawa mendengar penuturan Divi yang manja. “Oh ya, silakan duduk, Jay!” Papa Dwika mempersilakan duduk pada tamunya kemudian ikut duduk di sofa. Setelah terduduk, Papa Dwika pun mengomentari penampilan pacar anaknya yang nampak rapi dan seolah hendak menghadiri acara yang cukup penting. “Kamu kelihatan rapi sekali dengan jas seperti itu.” “Makasih, Om.” Jayden tersenyum. Di sampingnya Divi terduduk dengan tangan terjalin. Wanita itu terlihat gugup di samping Jayden. “Div, lihat tuh pacar kamu malam ini ganteng banget kan?” kata Papa Dwika membuat Divi menoleh menatap Jayden sejenak. Divi hanya tersenyum lalu menundukkan kepalanya dengan gugup. “Waaah ada Jayden ya main ke rumah,” kata Mama Kayla sambil membawa camilan dan minuman untuk tamu anaknya. Saat melihat Jayden, Mama Kayla pun tersenyum. “Jayden ganteng ya, Pa. Kayak eksekutif muda,” puji Mama. “Tuh kan benar kata Papa, Jay, kamu malam ini so good.” “Makasih, Om, Tante.” Jayden tersenyum lalu melirik ke arah Divi yang masih saja menundukkan kepalanya. Ia melihat bagaimana tangan Divi yang terjalin lalu memegang tangannya dengan erat. Melihat kemesraan antara anak dan pacar anaknya membuat kedua orang tua itu sedikit curiga. Seolah mereka ingin mengatakan sesuatu yang lebih serius. “Om, Tante, sebelumnya saya mohon maaf karena nggak bisa menjaga Divi dengan baik,” kata Jayden mengawali kata—katanya. Sayangnya di awal perkataannya, membuat ketiga orang yang ada di ruang tamu khawatir. Mengapa terdengar seolah Jayden ingin putus dari Divi dan diumumkan di depan mereka. “Jay—“ Jayden tersenyum ke arah Divi lalu melanjutkan perkataannya. “Saya menghamili Divi, Om, Tante!” Mama Kayla dan Papa Dwika terlihat shock. Ia terdiam sejenak sambil menatap ke arah Jayden dan Divi yang saling bergenggaman tangan. “Saya ke sini bermaksud untuk bertanggung jawab pada kehamilan Divi. Saya mencintainya dan saya ingin membangun pernikahan dengan Divi.” “Seharusnya kalau kamu mencintai Divi, kamu menjaganya, Jay. Kenapa baru sekarang saat Divi hamil kamu berniat untuk menikahinya?” tanya Mama Kayla terdengar kecewa. Ia tidak menyangka jika anak dan kekasihnya sudah berhubungan sejauh itu. “Maafkan saya, Tante. Saya sadar kalau tindakan saya salah. Tapi saya dan Divi saling mencintai.” “Apakah cinta membenarkan tindakan zina?” tanya Mama Kayla membuat suasana rumah menjadi suram. “Ma, Mama kok ngomong begitu sih. Kita kan tahu kalau orang pacaran memang mungkin akan melakukan hal seperti itu. Lagipula ini juga kan yang Mama inginkan, Divi bisa cepat menikah dan memberikan kita cucu?” “Mama nggak ngerti sama Papa.” Mama Kayla mendengkus. Ia marah karena anak yang selama ini selalu dijaganya dinikmati oleh laki—laki yang belum menikah dengannya. Bahkan kini Jayden hendak menikahi Divi karena ia mengandung. “Saya minta maaf, Tante.” “Ma, aku yang mau. Jayden sama sekali nggak pernah memaksaku. Aku melakukannya dengan Jayden karena kami saling mencintai. Lalu apa masalahnya? Lagipula kamu sudah sama—sama dewasa. Semua perempuan di usiaku pasti pernah melakukannya dengan pacar mereka.” “Nggak semua, Divi! Hanya segelintir wanita yang tidak menghargai dirinya sendiri dengan baik yang melakukan itu dengan laki—laki yang bukan suaminya.” “Sst sstt, Ma—“ Papa Dwika mencoba menenangkan istrinya. “Ini juga salah Papa. Papa yang udah ngasih Divi pemikiran yang terlalu bebas. Kebebasan yang melebihi norma yang ada di sekitar kita. Mama benar—benar kecewa sama kamu Divi, Jayden!” setelahnya Mama Kayla melipat kedua tangannya di depan d**a. Memperlihatkan wajah tidak senangnya. “Jayden, kamu sudah dengarkan perkataan Mama Kayla? Dia kecewa dengan kamu dan Divi. Tapi meskipun begitu, Om dan Tante tentu saja akan menyetujui pernikahan kalian. Apalagi sekarang Divi sudah mengandung anak kamu.” “Maafkan saya, Om, Tante!” “Ma, Pa, maafin Divi!” Mama Kayla tak membalas sedangkan Papa Dwika nampak menganggukkan kepalanya. Papa Dwika memiliki pemikiran yang berbeda dari istrinya. Ia sama sekali tak kecewa dan menanggapi dengan bahagia lamaran Jayden. Meskipun putrinya dilamar karena kondisinya yang kini tengah berbadan dua. “Om boleh tanya sesuatu ke kamu, Jay?” tanya Papa Dwika setelah beberapa saat terdiam. “Iya, Om?” “Apakah kamu menikahi anak saya karena kehamilannya? Atau karena kamu mencintai Divi?” Jayden terdiam beberapa saat. Namun setelahnya ia tersenyum simpul. “Saya mencintai Divi, Om, Tante. Saya tentu akan menikahinya meskipun Divi tidak sedang mengandung anak saya. Saya percaya bahwa Divi adalah wanita yang tepat untuk saya.” Jayden menggenggam dengan erat tangan Divi. Mendengar jawaban Jayden, tak hanya Divi, tapi kedua orang tua Divi menatap dengan serius kekasih anaknya. Mereka seolah percaya bahwa perasaan Jayden sangat tulus pada Divi. Mama Kayla mendesah pelan. “Mungkin memang sudah takdir Divi harus seperti ini. Meskipun Tante kecewa, tapi Tante peraya kalau kamu memang mencintai Divi sepenuh hati kamu.” Jayden perlahan menahan senyumnya. “Jadi Mama menerima Jayden untuk dengan Divi?” tanya Papa Dwika membuat istrinya mendesah lelah. “Bukannya kita nggak punya pilihan lain?” tanya Mama Kayla balik. Papa Dwika menganggukkan kepalanya. Meskipun terdengar amat dipaksakan, tapi setidaknya sang istri tidak membuat masalah menjadi panjang. “Jayden, kami menerima kamu sebagai calon suami Divi. Om harap kamu bisa membahagiakannya. Divi sangat berharga bagi Om dan Tante. Asal kamu berjanji akan membuatnya bahagia, kami tentu saja menerima kamu.” Mendadak Jayden merasa berat. Ia takut. Ia khawatir tidak bisa membuat Divi bahagia bersamanya. “Jay—“ Jayden merasakan pergerakan di tangannya. Saat ia menoleh, ia melihat Divi yang menunggu jawabannya. Dan akhirnya Jayden pun menganggukkan kepalanya. “Saya janji, Om. Saya akan berusaha untuk selalu membuat Divi bahagia.” Dan janji tidak semudah itu untuk ditepati.[] *** bersambung >>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN