Ponsel Rusak

2226 Kata
Bab 14 Ponsel Rusak Jayden menunggu di tempat reparasi ponsel untuk menanyakan kondisi ponselnya yang rusak. “Gimana, Bang, hape saya?” tanya Jayden to the point. Sebelum mampir ke counter ponsel itu, Jayden bahkan sudah mampir ke mall untuk membeli ponsel baru. Ia sudah tidak yakin dengan kondisi ponselnya yang sudah hancur. “Atas nama siapa ya, Bang?” tanya Mas konter yang tak diketahui namanya oleh Jayden tersebut. “Jayden, Bang. Yang tadi pagi ke sini,” balas Jayden. “Oh Bang Jay,” kata Mas konter itu sambil menundukkan kepalanya. Ia mengambil ponsel milik Jayden yang masih dalam kondisi mengenaskan. “Datanya bisa diambil nggak, Bang?” “Udah. Udah saya backup malah. Cuma karena LCD—nya udah rusak parah, saya mau mastiin dulu ke Abang. Hapenya mau diganti LCD—nya atau gimana? Tapi bagian presesornya juga udah kena, Bang. Kalo saran saya sih ya mending ganti yang baru.” “Ya, Bang. Lagian saya tadi udah beli hape baru,” Jayden mengeluarkan ponsel barunya yang masih gres di depan Mas konter yang langsung saja tertawa. “Datanya tolong dipindahin ke hape saya, Bang. Yang penting mah data—data di ponsel saya soalnya.” “Oalah. Siap, Bang! Siap!” Setelahnya Mas konter pun mengambil alih ponsel Jayden. Jayden menunggu sambil memperhatikan Mas konter hingga akhirnya ponsel barunya dikembalikan begitupun dengan ponsel miliknya yang sudah rusak. “Bang, data saya di laptop Abang tolong langsung dihapus ya?” “Sudah, Bang! Siap!” katanya dengan senyum lebar. Jayden menganggukkan kepalanya sambil mengulum senyum. Ia memberikan ongkos jasa tukang konter yang sudah membantu mem—backup data dari ponsel lamanya lalu permisi pulang. Langkah Jayden rasanya lebih tenang sekarang karena ponselnya sudah kembali seperti semula. Namun langkah Jayden terhenti tiba—tiba saat ia melihat seseorang yang nampak sedang menunggunya. Berdiri menyandar di mobilnya. Saat melihat Jayden, wanita itu tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya. “Jayden!” Jayden membuang mukanya sebentar tapi langkah kakinya tentu saja menghampiri Sabrina. Lebih tepatnya, ia mendekati mobil miliknya. “Ngapain lo di sini?” tanya Jayden. Ia tidak nyaman dengan keberadaan Sabrina. Bayangan dirinya dan Sabrina yang saling berpagutan dengan mesra membuatnya kesal sendiri. Sayangnya, Sabrina yang seolah tak ingat apapun karena pengaruh alkohol saat itu justru terus menerus menghampirinya. Seolah ingin dekat dengannya. “Sewot banget sih!” ketus Sabrina. “Gue kan tadi lewat sini. Terus ngelihat lo jalan dari sana, makanya gue tungguin!” “Terus?” “Anterin gue balik yuk?” kata Sabrina seolah mengajak pergi makan dan ia yang hendak mentraktir. “Gue nggak salah dengar nih? Lo mau minta tolong gue anterin lo?” tanya Jayden dengan ketus. “Nggak! Gue nggak mau! Gue mau balik, capek!” Wajah Sabrina langsung cemberut. Saat ia mendapati kunci mobil Jayden dibuka, Sabrina dengan tidak tahunya masuk ke dalam mobil. Duduk di jok penumpang yang berada di depan. Jayden mendengus kesal tapi kemudian ikut masuk ke dalam mobil. “Ngapain sih lo ikut masuk segala? Lo nggak diajarin sopan santun apa?” “Gue belajar kok,” kata Sabrina. “Perasaan sikap lo nggak kayak gini dulu. Sekarang gue perhatiin lo kok kayak bar—bar banget!” komentar Jayden berharap Sabrina sadar diri dan buru—buru ke luar dari mobilnya. “Lagian kita kan udah dekat, ngapain juga sih harus pura—pura jaim terus!” Sabrina tersenyum lebar. “Oh jadi dulu itu sikap kamu yang kayak priayi itu cuma pencitraan?” Sabrina tidak membalas. “Anterin yuk! Gue tinggal di Kedaton Apartement.” “Ogah! Turun sekarang dari mobil gue,” kata Jayden menolak dengan terus terang. “Gue nggak ada waktu buat nganterin orang lain sekarang! Lagian masih sore juga, masih banyak taksi kan yang lewat?” Sabrina mendadak menunjukkan wajah memelasnya. “Jay, jangan gitu dong! Please bantuin gue, anterin gue ya. Sekali ini aja! Anggap aja kalau lo lagi berbuat baik sama anak yatim.” Jayden terdiam saat mendengar Sabrina menyebut dirinya sebagai anak yatim. Apakah benar jika wanita itu anak yatim? “Ah....” Jayden segera menggelengkan kepalanya. “Pulang sendiri! Tuh lihat! Di luar masih ramai!” “Emang pernah Jakarta sepi? Ramai terus lagi!” ketus Sabrina. Ia duduk dengan paten di atas kursi penumpang. Seolah tidak ingin turun sebelum sampai ke tujuannya, Sabrina bahkan melipat kedua tangannya di depan d**a. Jayden menahan napasnya kemudian mendesah dengan berat. Sepertinya akan sulit membuat Sabrina meninggalkan mobilnya sekarang. Akhirnya, Jayden pun mulai menyalakan mobilnya. Merasakan laki—laki di sampingnya menyerah untuk mengusirnya dari mobil, Sabrina pun duduk dengan lebih nyaman. Ia pun tersenyum senang. Sepanjang perjalanan Sabrina mencoba mencairkan suasana. Ia bahkan tak sungkan untuk menceritakan masalahnya hingga bertemu dengan Jayden. “Tadi sebenarnya gue pulang naik taksi, tapi tiba—tiba taksinya mogok. Jadi gue harus jalan kaki! Kayak takdir banget pas gue baru jalan sebentar eh ngelihat lo lagi jalan ngelamun gitu!” kata Sabrina dengan santainya. “Lo nggak nyadar kan pas gue dadah dadah ke arah lo dari tadi?” “Kapan?” tanya Jayden balik. Sabrina mendengus kesal. “Tuh kan emang nggak nyadar!” Jayden tak mengatakan apapun dan fokus menyetir. “Lo ada masalah apa sih, Jay?” tanya Sabrina membuat Jayden termenung. “Meskipun lo nggak pernah bilang, tapi dari raut muka lo, kelihatan banget kalau lo tuh lagi ada masalah.” Jayden masih tak menanggapi perkataan Sabrina. Yang dilakukannya hanya mendengarkan sambil mengemudikan mobilnya menuju Kedaton’s Apartement di mana Sabrina tinggal. “Jay, lo udah pernah ke Kedaton’s Apartement?” “Apa?” tanya Jayden. Barulah ketika Sabrina tidak membahas soal dirinya, Jayden menanggapi. “Giliran gue nanyain hal lain langsung direspon. Nyebelin banget, sumpah!” gumam Sabrina sambil membuang mukanya. “Nggak ... soalnya ini kan jalan ke Kedaton’s Apartement. Kayak lo pernah ke sini aja hapal bener sama jalannya.” Gue pernah ke sini pas nganterin lo yang lagi setengah sadar. Pasti lo lupa! Pikir Jayden dalam hati. Sabrina melipat kedua tangannya lagi di depan d**a. Ia menunggu sampai mobil yang ditumpanginya itu sampai ke depan apartemennya. Masih berada di dalam mobil, Jayden merasa ponselnya berbunyi. Ia mengambil ponsel baru miliknya yang berada di saku jas yang dikenakan lalu melihat identitas penelepon sebentar. Dari Divi. Jayden mendesah pelan lalu memilih untuk tidak mengangkat panggilan kekasihnya itu. Apalagi di samping, terdapat Sabrina. “Wah lo jadi ganti hape baru, Jay?” tanya Sabrina sambil tersenyum ceria. Ia juga melihat ada yang sedang mencoba menghubungi Jayden yang diberi nama Pacar. Bahkan meskipun tahu bahwa pacar Jayden menghubunginya, Sabrina tetap tidak bersuara. Ia membiarkan ponsel Jayden berhenti berdering. Setelah nada deringnya berhenti, Jayden buru—buru mematikan daya ponselnya, membuat Sabrina menatap laki—laki di sampingnya dengan alis berkerut tanda penasaran. “Tadi kenapa diangkat?” Jayden menatap Sabrina sejenak. “Menurut lo kenapa?” tanyanya balik sambil terus menyetir. “Lo nggak enakan karena ada gue di dalam mobil lo?” “Hmm—“ Jayden menganggukkan kepalanya. Sabrina lalu mendesah pelan. “Pasti model pacar lo ini sosok yang suka cemburuan. Sampai gue lagi nebeng mobil lo aja, lo nggak mau angkat telepon dari dia. Menurut gue sih, kalau lo sampai terintimidasi seperti itu, hubungan lo sama cewek lo udah nggak asyik.” Jayden terkekeh pelan. “Sok tahu sekali!” komentar Jayden membuat Sabrina ikut tertawa. “Tapi serius loh, Jay!” kata Sabrina sambil menganggukkan kepalanya. “Karena kalau nggak merasa terintimidasi, lo pasti akan langsung angkat panggilan pacar lo tadi.” Jayden hanya mengedikkan pundaknya. Ia tidak ingin menjelaskan pada Sabrina bahwa alasannya dengan tidak mengangkat panggilan dari Divi adalah karena dia tidak bisa leluasa bicara dengan kekasihnya itu. Apalagi mereka memiliki rahasia yang hanya mereka berdua saja yang mengetahui. Jadi biarlah saja Sabrina memikirkan apapun yang ingin dipikirkannya. Mobil silver Jayden akhirnya berhenti di depan gedung apartemen kelas menegah yang ada di Jakarta. “Jay, masuk dong! Antarin sampai ke lobi kek?” “Gue sibuk! Harusnya lo udah bilang makasih ke gue karena udah nganterin lo sampai ke sini, kenapa masih aja protes?” Sabrina mendengus pelan dengan wajah cemberut. “Tega banget sih sama cewek secantik gue,” kata Sabrina sambil memakai tali tas di pundaknya. Setelahnya ia pun turun dari mobil Jayden. Jayden hendak pergi langsung jika saja, Sabrina tidak mengetuk jendela mobilnya. Menurunkannya beberapa saat kemudian, Jayden pun mendapatkan senyuman tulus dari wanita cantik berdarah mojang Bandung itu. “Thank you ya udah mau nganterin gue pulang! Gue emang nggak salah menilai! Gue tahu kok, meskipun lo kadang judes, lo sebenarnya baik ke semua orang lain.” Jayden berdehem pelan. “Jay, lo suka makan apa?” tanya Sabrina lagi secara acak. Jayden bingung dan memutuskan untuk tidak mempedulikannya. “Udah ya! Gue balik dulu!” setelahnya Jayden menutup jendela mobilnya. Ia pun meninggalkan Sabrina yang masih berdiri di trotoar jalan. Sekarang, Jayden benar—benar akan pulang ke tempat kostnya. *** Divi mendapat telepon pada akhirnya. Ia nyaris menangis saat akhirnya sang kekasihnya menghubunginya. “Halo, Jay,” kata Divi dengan antusias. “Halo, Div! Kamu lagi ngapain? Aku ganggu kamu istirahat ya?” Divi mengelengkan kepalanya. “Nggak kok, Jay. Aku malah senang karena mau nelepon aku. Kamu ke mana aja sih, Jay? Kok kamu makin sulit dihubungi! Kamu butuh waktu buat sendiri ya?” “Maksud kamu?” tanya Jayden balik. “Kamu lagi bahas apa sih? Aku susah dihubungi emang karena lagi sibuk kerja, Div.” “Tapi sepanjang hari ini ponsel kamu lebih sering nggak aktifnya. Aku kira kamu nggak mau kuhubungi lagi!” “Astaga, Divi! Kamu mikirin apa sih? Kamu pikir aku akan kabur dari tanggung jawabku? Aku kan sudah bilang ke kamu sebelumnya, kalau aku butuh waktu sebelum bilang ke orang tua kamu. Aku tetap akan bertanggung jawab, Sayang. Tolong sabar ya! Kerjaanku juga sedang sangat menyita waktu sekarang ini!” Divi hanya mendengarkan. Entah ia harus percaya, atau harus menaruh curiga pada kekasihnya. “Div, tadi pagi hapeku jatuh dari tangga. Rusak parah tapi untungnya masih bisa di—backup datanya.” “Ya ampun, jadi hari ini kamu nggak bisa angkat telepon aku karena hape kamu rusak, Jay?” “Hmm,” Jayden berdehem pelan. “Ini hapeku baru selesai di charger juga. Jadi setelah baterai full aku langsung hubungi kamu. Kamu pasti khawatir kan?” Mata Divi berkaca—kaca. Tentu saja ia sangat khawatir. Bagaimana bisa ia tidak khawatir jika pacarnya tak memberinya kabar seperti biasa? Tak mendapatkan kabar beritanya saja sudah cukup membuat Divi merasa nyaris frustrasi, apalagi jika ia tak berjodoh dengannya, mungkin bisa jadi jika Divi akan langsung bunuh diri. Membayangkannya saja, Divi tak sanggup. Divi sadar betapa besar cintanya untuk Jayden. “Jay, seharusnya kamu kirim aku DM IG atau kirim aku email misal ponsel kamu rusak kayak tadi,” kata Divi dengan nada suaranya yang bergetar. “Div, kamu nangis?” Divi terisak pelan. “Nggak kok,” katanya sambil menggelengkan kepalanya. Padahal gadis itu sudah nyaris menangis jika saja tak memaksakan diri untuk tersenyum. “Aku nggak nangis kok, Jay. Ngapain juga aku nangis.” Terdengar tawa renyah di seberang telepon. Jayden terkekeh lalu berdehem. “Iya, aku percaya sama kamu. Nggak mungkin banget untuk Divi nangisin Jayden hanyakarena nomer ponselnya nggak aktif seharian,” kata Jayden terdengar seperti sebuah ejekan untuk Divi. “Apaan sih!” ketus Divi. “Udah deh! Aku mau tidur nih! Udah ya!” Setelahnya Divi mematikan panggilan teleponnya. Ia menatap ponselnya mendesah lega karena akhirnya ia mengetahui teka—teki keabsenan Jayden di ponselnya hari ini bahkan akhir—akhir ini. Tak lama kemudian, Divi kembali mendapat notifikasi dari ponselnya. Ia mendapat pesan chat dari Jayden. [ Selamat malam! Semoga tidur kamu nyenyak dan bisa mimpiin aku! ] –Jayden. Divi tersenyum. Ia membayangkan Jayden sambil memeluk bantal dengan erat. Tak lama kemudian, ia menutup wajahnya di bantal tersebut untuk meredam suara teriakan histerisnya karena senang. *** Beberapa hari yang lalu.... Malam ini terasa lebih hangat bagi dua orang pegawai kontrak yang kini sedang menikmati jum’at malam bersama. Tidak seperti biasanya, laki—laki yang biasanya sudah meninggalkan ibu kota sepulang kerja di hari jum’at itu justru kini masih berada di Jakarta. Jayden –lelaki itu—tidak sendiri. Ia bersama seorang gadis dan kini sedang berada di sebuah kelab malam yang cukup meriah. Mereka berdua terdampar di tempat itu karena ajakan rekan kerja mereka. Namun anehnya setelah berada di sana, keduanya hanya duduk bersama di meja bar sambil menghadap ke arah bartender yang terus menerus menyiapkan minuman untuk tamu bar mereka. Keduanya terlarut dalam obrolan sambil menikmati alkohol bersama. Tidak seperti Jayden, Sabrina yang duduk di sebelah laki—laki itu nampak begitu bersemangat menegak minuman kerasnya. “Kadang gue tuh nggak ngerti sama mereka. Apa karena gue cuma pegawai kontrak, terus gue sama sekali nggak diajak semeja sama mereka?” tanyanya sambil melirik ke arah meja di mana rekan kerja mereka sedang menghabiskan waktu bersama. “Cuih! Gue nggak butuh lo sekalian! Gue bisa menikmati malam ini di sini!” Sabrina yang mulai kehilangan kewarasan karena efek minuman keras itu pun bangkit berdiri. Ia membuka blazer hitam yang dipakainya lalu menyerahkannya pada Jayden yang sedang duduk sambil memperhatikannya. Setelahnya Sabrina pun melangkah menuju lantai dansa. Ia masuk ke dalam kerumunan orang dugem dan menggoyangkan tubuhnya dengan lihai. Wanita itu benar—benar sudah kehilangan akalnya.[] *** bersambung>>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN