Chapter 13 - Serba Kikuk II

1014 Kata
‘Para penumpang yang terhormat, selamat datang di Bali Kita telah mendarat di Bandar Udara internasional I GUSTI NGURAH-RAI. Kami persilahkan kepada anda untuk tetap duduk sampai pesawat ini benar-benar berhenti dengan sempurna pada tempatnya dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan….’ Pengumuman dari salah satu cabin crew yang memberi tahu bahwa mereka sudah mendarat dengan sempurna di Bali  membuat Lita segera merapikan semua perlengkapan Noora. Gadis kecil itu tampak selalu excited  selama 2jam lebih berada di pesawat. Namun beberapa saat kemudian tangan Noora menarik lengan baju yang Lita kenakan. Gadis kecil itu seperti menginginnkan Noora mendekat padanya. Dia ingin membicarakan sesuatu kepada Lita. Tatapan mata Noora seperti mengharapkan sesuatu. Lita menundukan sedikit badannya kearah Noora agar dia dapat mendengar apa yang akan gadis kecilnya itu katakan. “Mami… apa nanti… papi akan sering ke Bali untuk bertemu sama Noora?” tanya Noora setengah berbisik kearah telinga Lita. Mata Lita membulat. Bimbang dan sedih mendekap erat  nuraninya sebagai seorang ibu. Pandangannya tampak resah berpendar pada kursi yang berjejer dihadapannya. Wajah Lita betul-betul tampak gelisah sejurus kemudian. Kata-katanya tak mampu keluar dari mulutnya. Dia tak tahu apa yang akan dia katakan kepada Noora. Lita juga tak tahu apakah Rey nantinya akan sering datang menemui Noora atau tidak. Jika Lita berkata ‘iya’ namun kenyataan ‘tidak’, itu pasti akan membuat Noora kecewa. Lita sungguh tak ingin membuat Noora membenci papinya sendiri akibat kecerobohannya menjawab pertanyaan Noora. “Ehm, nanti Mami akan tanya papi dulu ya, Sayang? Karena papi mungkin sedang sibuk bekerja. Iya kan?” Noora menatapnya  sendu. Tapi segaris senyum Lita seperti berusaha meyakinkan Noora, bahwa maminya akan mengusahakan apapun yang terbaik agar papinya bisa sering datang menemui Noora di Bali. Erland hanya terdiam. Pembicaraan antara Lita dan Noora sungguh sangat dilematis. Seorang ibu harus mengupayakan agar anaknya  tidak merasa kekurangan kasih sayang. Selain itu dia juga harus berjuang membesarkan dan memberikan penghidupan yang layak bagi anaknya. Dan pertanyaan yang dilontarkan oleh Noora baru saja kepada Lita, sebenarnya terkesan sangat biasa. Sangat lugas pula karena dilontarkan oleh seorang anak kecil seperti Noora. Namun menjadi tak biasa ketika yang mengalaminya adalah seorang ibu tunggal. Pertanyaan itu selalu sulit untuk mendapatkan jawaban. Tak hanya Lita, tapi bagi Erland, keadaan ini menjadi dilema tersendiri. Dia harus pandai menempatkan dirinya ditengah-tengah Lita dan Noora. Erland kembali melirik Noora selagi Lita sibuk mengemas beberapa barang. Gadis kecil dengan barbie ditangan kanannya itu sedang memandang keluar jendela pesawat. Entah apa yang anak itu pikirkan. Tapi Erland bisa melihat jika dia tak seceria sebelumnya saat beberapa waktu yang lalu mereka saling melemparkan tawa dan candaan. ***** “Apa tidak masalah kalau kamu tidur dikamar atas, Erland?” tanya Lita kepada tamunya seketika mereka memasuki pintu rumah yang menghidangkan luas nya area ruang tengah. “Tak  masalah untuk ku Lita. Tapi apa sungguh tak masalah bagi mu jika aku berada disini?” tanya Erland kembali kepada sang Tuan rumah. “Ini adalah keinginan papaku, Erland. Aku tidak ingin mengecewakannya nanti.” Jawab Lita. Erland teregun sejenak. Lita tidak ramah kepadanya. Dia dapat merasakan hal itu. dirinya sendiri pun tak mengetahui dengan pasti mengapa Pak Danu menyuruhnya untuk tinggal dirumah anaknya yang jelas-jelas adalah seorang wanita single. Tak buang-buang waktu, Lita segera menunjukan dimana kamar Erland berada. Langkah nya lebar menaiki anak tangga. Dengan lantai mezzanine yang dapat langsung menyuguhkan pemandangan ruang tengah ketika dia memandang kearah bawah, pemandangan dari lantai dua ini menjadi cukup menyenangkan. Langkah Lita terhenti ketika dia berdiri tepat didepan sebuah ruangan yang hanya berjarak 2meter dari tangga. Tangannya bergerak meraih gagang pintu. Seketika pintu terbuka, kamar yang luas pun terlihat. Tampak kamar itu baru saja dibersihkan karena bau pengharum ruangan masih dapat Erland baui melalui indra penciumannya. Dengan springbed tinggi plus sprei coklat muda rapih membungkusnya, satu lemari berukuran besar, satu meja kerja dan satu ruangan yang Erland dapat tebak itu adalah kamar mandi. “Ini kamarmu, Erland. Sementara waktu aku memilih untuk tidak akan ada pembantu disini. Aku akan meminta pegawai resort datang hanya untuk membantu membersihkan rumah ini. So, anggaplah tempat ini seperti rumah mu sendiri. Jika kamu membutuhkan apapun, kamu bisa meminta pegawai resort untuk membantumu.” Lita kemudian melangkah menuju pintu, meninggalkan Erland yang masih berdiri sambil tersenyum tipis memandang kepergiannya. “Thank you, Lit..” Lita membalikan tubuhnya kearah Erland saat mendengar lelaki itu mengucapkan terima kasih padanya. Dia melemparkan senyum simpul lalu melanjutkan langkahnya menuju kelantai satu dimana putrinya berada. Gadis kecil itu terlihat merebahkan tubuhnya di sofa, matanya terkatup sempurna tanda Noora sudah tertidur pulas. Mungkin dia lelah karena selama penerbangan dia sama sekali tidak berhenti bercanda dan bercerita dengan Erland. Perlahan-lahan Lita menggendong tubuh putri nya, membawanya menuju lantai 2. Dimana kamarnya berada, tepat bersebrangan dengan kamar Erland. Mulai hari ini dia benar-benar harus berusaha sangat mandiri. Dia harus menyesuaikan dirinya dengan keadaan. Sebenarnya Lita tak tahu apa yang ada didalam pikiran papanya. Mengapa dia harus menyuruh Erland untuk tinggal bersamanya. Padahal papanya sangat paham jika Lita ingin menyendiri, ingin hidup tenang tanpa kehadiran orang lain didalam lingkup hari-harinya. Bahkan untuk sekedar pembantu rumah tangga dan pengasuh saja Lita enggan memakai jasa mereka. Tapi papanya malah menghadirkan Erland didalam rumahnya. Lita sungguh tak mengerti bagaimana jalan pikiran papanya saat ini. Lita merebahkan tubuh putrinya diranjang bersprei putih. Noora sama sekali tak bergeming, sepertinya gadis kecil itu sedang bermimpi indah sehingga membuatnya nyenyak sekali dalam tidurnya. Dipandangi wajah cantik itu,”kita mulai semuanya dari awal ya, Sayang…” gumamnya sambil membelai rambut Noora. Tampak putri kecilnya itu bergerak memiringkan tubuhnya. Membuat Lita tersenyum sejururs kemudian melihat tingkah tidur Noora. Lita merasa dirinya harus segera membersihkan tubuhnya karena perjalanan dari Jakarta menuju Bali hari ini sangat menguras energinya. Diwarnai dengan drama Noora yang membuat dirinya mati kutu didepan Erland, 'Ahh, anak ini... aku harus lebih sabar lagi menghadapinya...' gumam Lita sembari masuk ke dalam bath up berisi air hangat. ***** Drrrttt Drrrtttt... Lita melirik ponselnya, layar menyala. Erland... 'Untuk apa dia menelpon aku?' pikir Lita. Tangan bergerak meraih ponselnya. "Yaa, Erland... Ada apa?" "Mau makan siang denganku?" sahut suara diujung sana.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN