“Lita akan sering mengunjungi Mama dan Papa nantinya.” Kata Lita sambil memeluk kedua orang tuanya. Pasangan paruh baya itu tampak mengangguk sambil tersenyum walaupun nyatanya batin mereka berat untuk melepaskan anak dan cucu kesayangan mereka. Segaris senyum mengembang di wajah Danu kala memandang anaknya. Sedangkan tangannya bergerak meraih Noora yang sudah terlihat lebih ceria setelah tidur siangnya selama dalam perjalanan menuju ke bandara.“Kami juga akan berkunjung ke Bali… jangan khawatir. Jaga saja Noora baik-baik.” Ucap lelaki yang penuh wibawa lagi hangat itu sambil menggendong Noora. Lita hanya mengangguk sembari mengeratkan pelukannya pada sang mama.
Erland dan Nasya memandang penuh haru kearah mereka.
Lita melepaskan pelukannya pada mamanya kemudian beralih pada Nasya,”Pergilah ke Bali bersamaku, Sya…” tangannya mendekap erat tubuh sahabatnya itu. Sebenarnya sudah berkali-kali Lita meminta Nasya untuk ikut bersamanya membuka usaha di Bali. Namun sepertinya gadis itu masih enggan meninggalkan kota tercintanya ini. Terlebih lagi, Nasya tak pernah mau merepotkan Lita. Walaupun Nasya tahu, Lita tidak akna berkata’tidak’ jika dirinya meminta bantuaan pada Lita.
“Nanti aku akan mengabarimu, Lit. Jangan lupa, jaga kesehatanmu. Dan juga Noora…” embun dari matanya tak mampu lagi dia bendung. Begitu deras meluncur begitu saja mengaliri pelukan Nasya pada Lita.
“Your attention please, passengers of X Airlines on flight number XX-408 to Bali please boarding from door F1, Thank you.” Panggilan boarding sudah menggema di seantero terminal keberangkatan dimana mereka akan menaiki pesawat. Erland tersenyum melihat Lita masih saja menyempatkan diri untuk kembali memeluk erat mamanya.
“Lit, ayo! Sudah waktunya…” seru Erland. Tampak Noora antusias menanggapi seruan Erland. Gadis itu berjalan riang meninggalkan Opa dan Oma nya sembari menarik travel bag mininya menuju kearah Erland yang berdiri tak jauh dari mereka.
“Tolong jaga Lita ya, Erland.” Nia menghampiri Erland lalu menggenggam erat tangannya. Jantung Erland berdegub semakin kencang saat wanita seumuran mamanya itu menggenggam tangannya sembari menitipkan anak perempuannya, Lita, padanya.
“Mama…” Lita merengut, tangannya mengusap lembut lengan mamanya. Seakan menghentikan tindakan mamanya tersebut. Dia bukan anak kecil yang bisa dititipkan kepada siapa saja bukan?. Terutama pada Erland. Hal itu akan membuat Lita bertambah malu dan tak enak hati pada Erland.”Lita berangkat ya, Mam, Pap...” sambil mengucapkan kalimat perpisahan Lita melambaikan tangan kepada orang tuanya dan juga Nasya. Mereka membalas lambaian tangan Lita dengan wajah yang sendu. Walaupun mereka yakin bahwa itu adalah jalan terbaik yang sudah Lita pilih. Ya, Lita sudah dewasa. Dia berhak menentukan jalan hidupnya sendiri sekarang.
Akhirnya Erland, Lita dan juga Noora, mereka bersama-sama memasuki pintu keberangkatan menuju ke boarding gate. Lita menggenggam tangan Noora dengan erat. Lita tersenyum tipis. Inilah awal kehidupannya yang baru. Membayangkan apa yang akan dia hadapi nanti membuatnya tak sabar untuk segera tiba di Bali. Semuanya sudah digariskan dan yang Lita percayai adalah bahwa kehidupannya di Bali akan lebih baik. Dia dan Noora, pasti akan ada kebahagiaan bagi mereka. Dan pasti, Lita sekaligus Noora dapat menjalani semua prosesnya dengan lebih baik lagi nanti.
Erland melirik kearah sisi kanannya. Disana berdiri seorang wanita yang sangat cantik. Dia menggenggam tangan mungil seorang gadis kecil. Wanita itu tersenyum tipis dengan pandangan kedepan, entah pandangan apa yang mata indah itu tangkap hingga membuat pemiliknya tersenyum dengan begitu cantiknya. Erland tak tahu pasti apa yang kemudian membuat mata indah itu tiba-tiba berkedip perlahan dengan senyuman yang masih merekah sempurna disana. Namun, ini adalah pemandangan yang benar-benar indah diantara penat dan crowded-nya antrian boarding masuk pesawat.
Deg!
Jantung Erland serasa terhenti. Berapa lama dia mengenal Lita dan baru saat ini dia menyadari bahwa wanita dalam pandangannya itu adalah wanita sempurna?
“Erland?” panggilan itu membuyarkan lamunannya. Lita tengah mengibas-ngibaskan tangannya didepan muka Erland ketika dia tersadar bahwa semua orang sudah boarding kecuali mereka,”Mana boarding pas kamu?” lanjut Lita kembali seraya menengadahkan tangan meminta kertas yang berada digenggaman Erland.
“Ahh! Iya…” Erland menyodorkan kertas miliknya pada Lita. Pria itu kini tengah memaki dirinya sendiri, dia merasa sangat bodoh sekarang. Bagaimana bisa dia melamun ditengah antrian yang sedang mengular. Dan sekarang semua orang sudah selesai untuk boarding, tapi dia malah fokus berkhayal tentang Lita.
‘Erland!! Buat malu!!’ gerutu nya dalam hati.
Sedangkan Lita hanya menggelengkan kepalanya seakan tak mengerti apa yang membuat pria dihadapannya itu kehilangan fokus.
*****
“Tak masalah bukan jika kita duduk bersama?” tanya Erland kepada Lita setelah Lita terlihat kikuk karena mereka duduk bertiga didalam satu deretan.
Lita hanya membalasnya dengan segaris senyuman. Sebenarnya dia tak menduga jika dia akan duduk berjejer dengan Erland. Tapi apa boleh buat, dirinya dan Erland hanya terima bersih tentang urusan tiket. Sekretaris papanya yang sudah mengurus semuanya. Terlebih Noora ingin duduk didekat jendela. Maka otomatis, dirinya harus duduk di tengah yang mana artinya dia harus duduk bersebelahan dengan Erland. Dan keadaan ini sungguh semakin membuat Lita kikuk.
Erland adalah teman dekat Rey. Dan selama Lita menikah dengan Rey, dia tak merasa terlalu akrab dengan Erland. Hal ini lah yang membuat dirinya tampak begitu rikuh ketika Erland yang harus terbang bersama dengan dirinya karena Erland-lah yang kebetulan memegang proyek pengembangan resortnya yang berada di Bali.
“Oh iya! Nanti selama berada di Bali, Pak Danu menyarankan aku untuk tinggal dirumahmu, Lita. Apa tidak masalah untukmu?”
“Hah??” Lita menoleh ke arah Erland sembari melongo,”Apa, Erland? Aku kurang fokus tadi.” Lita kembali meyakinkan pendengarannya tidak salah.
“Iya. Pak Danu menyarankan aku untuk tinggal dirumahmu sementara aku mengurus pengembangan resortmu… Apa kamu keberatan?” pria itu terdengar serius walaupun senyum tetap terlihat menghiasi bibir tipisnya. Kali ini Lita yakin pendengarannya tidak salah. Tapi, apa papanya sudah kehilangan kewarasannya? Mengapa dia menyuruh seorang laki-laki tinggal dirumah anak perempuannya?
“Kenapa? Kamu keberatan?” Erland berusaha meyakinkan bahwa Lita tak keberatan, wanita itu tampak termenung sesaat. Alisnya beberapa kali bergerak seperti orang yang sedang berpikir dengan keras.
“Ahh… Ngg… silahkan saja. Ada beberapa kamar kosong dirumahku. Kamu bisa menggunakan salah satu nya.” Lita kembali tersenyum kecut sembari menatap pria disebelahnya.
“Mami, Om Erland akan tinggal dirumah kita?” Noora tiba-tiba menyambar pembicaraannya dengsn Erland.
“Iya, Sayang. Noora nggak keberatan kan kalau Om tinggal sementara waktu dirumah Noora?”
“Nggak kok, Om. Noora malah senang karena nanti rumah Noora jadi ramai..”
Dan begitulah, Noora dan Erland sibuk bercerita. Membicarakan apa saja yang akan mereka lakukan nanti. Dan mereka akan pergi kemana saja disaat akhir pekan. Atau tentang hal-hal remeh seperti rencana Erland untuk membuatkan pancake kesukaan Noora untuk breakfast. Sedangkan Lita yang berada ditengah-tengah keduanya merasa sedikit tak nyaman. Dia merasa menjadi tembok yang sesekali terpaksa harus tersenyum mendengar guyonan garing mereka. Bahkan Lita terlihat menahan nafas berkali-kali saat tak sengaja lengan Erland menyentuh tubuhnya. Berbeda dengan Erland. Pria itu terlihat lugas, sama sekali tak terlihat canggung terhadap dirinya yang notabenenya adalah mantan istri dari sahabat nya sendiri, Rey. Pria itu asyik mengobrol dan bersandau-gurau dengan gadis kecilnya.
“Wah, janji ya, Om! Nanti ajak Noora kepantai ya?” terdengar gadis kecilnya begitu sumringah mendengar semua rencana Erland sembari mengacungkan jari kelingking kearah pria disampingnya.
“Iya… Om janji!” pria disampingnya mengangguk mantap, senyumannya kian melebar memperlihatnya gigi putihnya dengan gingsul yang membuat kesan manis pada pria tersebut,”nanti Om ajak Noora ke pantai kalau akhir minggu.” Erland menyambut jari kelingking mungil Noora. Kini jari-jari mereka saling bertautan tepat di hadapan Lita.
“Mami, enak ya punya papi kayak Om Erland? Bisa ajak Noora kemana-mana, bisa masakin Noora pancake, bisa antar Noora sekolah…” mata coklat itu berbinar menatap kearah Lita. Dia berdehem seketika untuk menghentikan celotehan Noora yang menurut Lita sudah kelewatan.
Kata-kata polos Noora justru sukses membuat kedua manusia dewasa itu merasa grogi. Dan Erland, dia perlahan mulai melepaskan tautan tangannya pada tangan Noora lalu membenarkan posisi duduknya menghadap kearah depan. Pria itu menghela nafas dalam, jantungnya hampir melompat keluar saat dia mendengar anak kecil itu berkata demikian. Entah mengapa hatinya merasa senang sekaligus menggebu-gebu tak karuan.
Lita mendengar Erland menghela nafas,“maaf atas kelancangan Noora, Erland. Aku berjanji dia tak akan mengatakannya lagi.” Lita pun merasa tak enak hati ketika Noora berkata seperti itu. Dia sungguh tidak pernah menduga kata-kata itu akan keluar dari mulut anaknya. Karena dia tahu, anaknya sangat mencintai papinya, Rey.
“Aku tak keberatan, Lita. Dia masih terlalu kecil untuk memahami apa yang baru saja dia katakan.” Erland mengarahkan pandangannya kearah Lita, senyuman mengembang sempurna dibibirnya yang baru saja selesai bicara. Lita dengan cepat mengalihkan pandangannya pada Erland ketika kata-kata itu dengan lancarnya mengalun dari mulut pria yang tengah duduk disampingnya.
Mereka saling memandang untuk sesaat. Erland dengan senyumannya. Lita dengan muka bingung dan kerutan didahinya. Dan sejurus kemudian, kedua manusia dewasa itu tersadar bahwa ada sepasang mata kecil yang memperhatikan mereka. Noora. Gadis kecil itu masih terlihat sumringah dengan mata berbinar dan senyum lebar memperlihatkan barisan giginya. Tak ada yang tahu apa yang ada didalam pikiran anak berumur hampir 8tahun itu. Sedangkan Erland dan Lita, hening. Mereka sibuk dengan pikiran dan kecanggungan di hati mereka masing-masing.