Chapter 11 - POV REY

1884 Kata
Manusia dicipatakan dengan berbagai nasib yang berbeda. Begitu juga dengan aku yang dilahirkan dengan nasib yang begitu baik. Dilahirkan ditengah-tengah keluarga kaya raya. Hidup mewah bergelimang harta dan juga dianugerahi fisik yang mendekati sempurna.Ibarat orang-orang suka berkata, aku ini 90% mendekati sempurna. Dan yaa… aku rasakan memang seperti itu. Apalagi saat aku berkenalan dengan Lita. Dia seorang gadis yang anggun, cantik, menarik dan selalu membuatku berdebar saat berada didekatnya. Lebih sempurna lagi karena dia juga  mempunyai background keluarga mapan sama seperti keluargaku. Nasya mengenalkan aku kepadanya kala itu. Pertama melihatnya, rasanya aku sudah tahu bahwa dialah jodohku. Aku akan menjadikannya istriku. Begitulah teriakan hatiku sejak pertama kami bertemu. Kalian pasti mengira ini lucu.. haha, silahkan tertawa. Karena aku pun sama. Aku seorang laki-laki 22tahun saat itu, kuliahku saja baru masuk tahun ketiga. Dan Lita, hmm… dia mahasiswa tahun kedua. Satu angkatan dengan Nasya. Tapi aku sudah terpikirkan untuk menikahi Lita. Mungkin karena dia terlalu cantik. Jujur saja, aku benar-benar menyukainya sejak awal bertemu dengannya. Ku lihat banyak sekali laki-laki yang memperhatikannya. Tapi syukurlah, dia gadis yang tidak gampang didekati. Selama kami dekat pun, tidak pernah sekalipun aku bisa menciumnya. Hanya berpegangan tangan, itupun jika berjalan-jalan ke mall. Selain itu kami sama sekali tidak pernah kontak fisik, tidak juga dengan berciuman. Berpelukan? Bisa dihitung dengan jari tangan kananmu. Padahal aku sudah terbiasa dengan hubungan satu malam saat itu. Yaa.. aku sudah bukan perjaka lagi dari aku duduk dibangku SMA. Sehingga tak jarang aku diliputi kesal dan jengkel saat Lita menolak ku untuk sekedar menciup bibirnya. Ya, sesulit itulah Lita dulu. Aku masih dapat mengingat debaran-debarannya sampai sekarang. Sangat menyenangkan. Bulan berganti bulan, aku semakin intens mendekatinya. Namun, kata cinta tak pernah kunyatakan padanya. Aku ingin membuat Lita jatuh kedalam pelukanku. Aku bukan laki-laki yang mau menerima kekalahan. Aku tak ingin Lita menolak aku, seperti semua laki-laki yang saat itu berusaha mendekatinya. Hingga ditahun terakhir, saat aku mempersiapkan skripsi. Aku beranikan diri untuk melamarnya. Ku hias lapangan kampus secantik mungkin untuk menarik perhatiannya. Ini adalah senjataku untuk katakanlah “memaksa Lita” menerimaku. Walaupun tanpa memaksanya, aku juga sudah bisa menebak bahwa Lita akan menerimaku. Tapi karena aku tidak menyatakan perasaanku pada Lita, jadilah kami saat itu hanya menjalani hubungan yang tidak jelas statusnya. Oh iya, semua ini juga terkesan tergesa-gesa bukan. Kenapa? Kalian bisa menebaknya? Kalian pasti sudah tahu, didekatnya ada seorang laki-laki yang selalu saja menempel padanya. Ya, Alex. Dia mahasiswa kedokteran, berbeda jurusan dengan Lita. Tapi kulihat laki-laki itu selalu saja berada bersama Nasya dan Lita. Aku gerah, emosiku memuncak saat melihat mereka selalu saja bersama-sama. Dari tatapan mata Alex pada Lita, aku bisa menebak dia menyukai Lita. Setiap kali aku mengajak Lita pergi bersamaku, Alex selalu saja terlihat tidak suka. Aku yakin Lita tahu Alex menyukainya. Mustahil Lita tak merasakan perbedaan itu. Tak akan ku biarkan dia mendekati ataupun menggoda pujaan hatiku. Inilah caraku. Aku akan melamar Lita dan mendapatkannya lebih dulu. Mustahil Lita akan menolak aku. Dia gadis yang sempurna. Tentu saja dibutuhkan juga cara yang luar biasa untuk memilikinya bukan? Benar saja, dia menerimaku. Tak susah juga untukku mendapatkan restu kedua orang tuaku dan juga orang tua Lita. Semuanya sangat menyetujui hubungan kami. Tentu saja aku bahagia saat itu, aku berhasil mendapatkan Lita yang jelita. Sama seperti namanya. Aku menikahi Lita saat dia berumur 22tahun dan aku berumur 24 tahun. Saat itu kami baru lulus kuliah. Lita memiliki otak yang cemerlang. Dia lulus dengan cepat, bagus juga. Dengan begitu aku jadi bisa menikahinya lebih cepat juga. Ya kami adalah pasangan muda. Tapi background keluarga kami membuat kami sangat yakin, bahwa membangun rumah tangga diusia muda tidak akan susah. terutama masalah finansial, bagiku itu tidak terlalu sulit untuk memberi istriku sandang, pangan dan papan. Saat itu jangan ditanya bagaimana peraasaanku? Aku, seorang laki-laki yang hampir tak bisa jauh dari makhluk bernama wanita, dianugerahi seorang istri cantik, seksi dan perawan pula. Tak bisa digambarkan lagi bagaimana perasaanku. Aku mencintainya. Benar-benar mencintainya saat itu. Diawal-awal pernikahan Lita meminta untuk menunda kehamilan. Aku pikir itu pemikiran yang bagus. Kami bisa sama-sama mengejar karier dan membangun bisnis keluarga kami masing-masing. Karena kami sama-sama anak tunggal, beban kami kian berat, diusia muda kami harus berpacu dengan waktu menguasai semua ilmu bisnis dan me-manage nya dengan cekatan. Tapi Tuhan benar-benar pemegang kuasa yang sesungguhnya, rupanya rencana menunda kehamilan tidak berjalan sesuai rencana. Lita hamil di bulan ke 5 pernikahan kami. Beruntung dia sama sekali tidak merasakan ngidam selama masa kehamilannya. Sehingga kami masih bisa sama-sama bekerja. Dia semakin cantik saat hamil, Lita yakin kalau anak itu adalah anak perempuan. Sayang sekali karena aku sangat menginginkan anak laki-laki untuk meneruskan bisnis keluargaku. Yahh, tapi ini sudah takdir. Akhirnya anak kami lahir. Seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Kulitnya putih  dan rambutnya hitam seperti Lita. Matanya coklat terang dengan bulu mata lentik dan hidung mancung yang mirip sepertiku. Dialah anakku. Noora Danubharata. Semua perasaan kecewaku atas jenis kelamin anak yang tak sesuai keinginanku tiba-tiba saja musnah. Aku mencintainya, sangat mencintainya. 6tahun lebih sejak kelahiran Noora… Kehidupan keluarga ku  bisa dikatakan bahagia. Bisnis ku yang sukses, istri ku cantik dan seorang pekerja keras, juga anak perempuanku yang cantik dan cerdas. Tapi ada satu hal yang aku rasa kurang. Anak laki-laki. Aku sungguh-sungguh menginginkan anak laki-laki. Tapi mengapa Lita belum juga hamil kembali? Itu yang membuat aku tak habis pikir. Padahal hampir setiap hari aku setor pada Lita, tapi kenapa belum juga membuahkan kehamilan? Hingga… Malam itu hujan sangat deras. Aku pulang lebih dulu dari kantor. Lita pulang 1jam kemudian karena ada meeting dikantornya. Tapi kali ini Lita tak pulang sendirian, dia membawa sekretarisnya. Jihan. Kami beberapa kali bertemu, tapi aku tak menaruh minat padanya. Dia hanya menang seksi dari Lita, walaupun tidak bisa dikatakan jelek. Lita meminta ijin untuk Jihan yang akan bermalam dirumah kami karena hujan benar-benar deras dan Jihan berkata bahwa tidak bisa pulang. Aku iyakan saja toh kamar dirumah kami ada beberapa. Dan malam itu juga, untuk pertama kalinya aku tertarik untuk meniduri wanita lain selain Lita. Aku berpapasan dengan Jihan saat kami bertemu didapur untuk mengambil air minum. Dia hanya memakai singlet dan celana short, laki-laki mana yang tak akan tergoda melihatnya seperti itu. Apalagi dengan belahan dadannya yang membusung dan pantatnya yang bergerak padat menggemaskan. Aku jamin laki-laki lain juga tak akan mampu menahan hasratnya. Aku mencoba menyenggolnya. Pura-pura saja tidak sengaja tapi rupanya dia juga menanggapi godaanku dengan genitnya. Ahh, benar-benar menggemaskan. Kubawa dia ke kamarnya yang berada diujung lorong. Permainan kami malam itu sungguh panas. Berbeda dengan Lita yang sudah tidak semenggairahkan dulu lagi. Jihan benar-benar sangat menggemaskan membuat aku mendesah berkali-kali. Walaupun dia sudah tidak perawan lagi, tapi masih terasa nikmat. Dari situ aku mulai sering bertemu dengan Jihan, dan kami juga sering melakukan itu. Karena sensasi antara Jihan dan Lita sungguh berbeda. Tapi namanya bangkai, walaupun disimpan serapat apapun akan tercium juga. Lita mengetahui perselingkuhanku dengan Jihan yang selama 6bulan terakhir aman-aman saja. Apa dia marah? Pasti!!! Dia bahkan memecat Jihan saat itu juga… Tapi anehnya dia berusaha menutupinya dari keluargaku dan juga keluarganya. Aku menjadi semakin diatas angin. Bahkan saat aku berniat menceraikan Lita, dia justru menolak keras. Dari situlah, selama berhari-hari, sering kali aku tak pulang kerumah karena aku lebih memilih menghabiskan waktuku dengan Jihan. Hal itu berlangsung berbulan-bulan. Aku beberapa kali masih pulang kerumah karena aku rindu Noora. Juga untuk membicarakan perceraianku dengan Lita pastinya. Ku lihat Lita sudah semakin seperti nenek-nenek. Tubuhnya sangat kurus seperti kurang makan. Aku jadi tidak berselera lagi dengannya. Ditambah ada Jihan yang montok dan menggairahkan. Seandainya tak hadir Noora, tentu aku sudah menceraikan Lita secara sepihak. Aku juga membicarakan hal ini pada sahabatku, Erland. Tapi kata Erland, aku harus memikirkannya masak-masak. Bagiku sudah pasti, tidak ada yang perlu dipikirkan lagi. Bila perlu, aku akan memaksa Lita untuk menyetujui perceraian ini. Sampai pada saat, Jihan mengatakan dia hamil. Aku benar-benar senang mendengarnya. Ku harap itu adalah anak laki-laki yang aku impi-impikan. Hari  itu juga, aku membawanya kedokter untuk memeriksakan kehamilan Jihan. Kandungannya sehat dan normal. Sejak saat itu, aku semakin jarang pulang kerumah. Aku merasakan mempunyai dunia baru yang aku inginkan selama ini. Sekali lagi aku datang kerumah Lita untuk memaksanya menandatangani surat cerai. Namun dia tetap menolak. Ini membuatku benar-benar naik pitam, entah setan apa yang merasuki ragaku. Aku menendang perutnya karena sangat jengkel dengan penolakan-penolakannya selama ini. Dia mengaduh meminta ampun padaku, namun aku tetap saja menendangnya. Setelah itu kutinggalkan saja dia dirumah itu. Selang satu bulan sejak saat itu, jadwal control kehamilan Jihan tiba. Dia berulang kali mendesakku untuk segera menceraikan Lita. Dan aku menurutinya. Aku mampir lagi untuk meminta tanda tangannya. Seperti yang sudah kalian tahu. Didalam surat gugatanku, aku sudah memutuskan untuk memberikan Lita beberapa property dan juga hak asuh Noora. Lagi pula aku juga akan punya anak, jadi biarlah Lita mengasuh Noora. Berbeda dari sebelumnya, kali ini Lita mengiyakan untuk menandatangi surat itu. Dan 2bulan setelah itu kami resmi bercerai. Lega sekali hatiku. Jangan kalian tanyakan bagaimana tanggapan orang tuaku, mereka sangat marah dengan keputusanku, apalagi saat mereka tahu bahwa aku berselingkuh. Mereka mengancamku, tidak akan memberikanku warisan. Tapi aku ini anak tunggal mereka, pada siapa mereka akan mewariskan kekayaan mereka jika bukan kepadaku? Akhirnya, aku bisa menikahi Jihan. Pikirku saat itu. Dan memang harus secepatnya, aku tidak mau anakku lahir diluar nikah mengingat kandungan Jihan sekarang sudah berumur 4bulan. Aku sangat bahagia melihat setiap perkembangan kehamilan Jihan. Aku menyuruhnya untuk tinggal di apartement saja sementara aku berkerja. Aku akan mengatur pertemuan Jihan dengan kedua orang tuaku. Ini tidak akan mudah, tapi aku yakin ini akan berhasil. Namun aku benar-benar terkejut saat satu bulan kemudian, tepat saat kandungan Jihan berusia 5 bulan. Aku mendengar Jihan membicarakan sesuatu. Dia berbicara pada sebuah foto laki-laki sembari mengelus perutnya. Pada foto itu, Jihan mengatakan akan menjaga anak mereka? Seketika itu juga aku mendekatinya. Kutanyakan kepada Jihan, apa maksud ucapannya. Dia hanya bisa menangis sambil memohon ampun padaku. Ahh, sial!! Rupanya selama ini perempuan s****l ini membohongi aku. Aku benar-benar kalut saat itu. Brengsek! Aku berkali-kali mengumpat. Aku benar-benar marah dan kecewa terutama pada diriku sendiri. Aku membuang istri dan anakku hanya untuk seorang p*****r seperti Jihan? Otakku ku taruh dimana saat itu!? Tidak! Aku harus mendapatkan kembali istri dan anak ku. Tapi hal mengejutkan terjadi. Satu bulan setelah aku tahu anak dalam kandungan Jihan bukan anakku, Erland memberitahuku bahwa Lita dan Noora akan pindah ke Bali. Ahh!! Pikiranku kacau!! Aku langsung mendatanginya saat itu juga. Setelah 2bulan pasca perceraian, aku tidak menjenguk mereka berdua, aku rindu!! Benar-benar aku merindukan saat-saat bersama mereka. Aku datang kerumahnya. Lita membukakan pintu. Aku benar-benar terkejut. Litaku, ahh… maksuku Lita mantan istriku sudah kembali. Dia sekarang terlihat cantik, lebih cantik dari saat dia gadis dulu bahkan. Dan dengan bodohnya aku menceritakan bahwa janin yang Jihan kandung bukan benihku. Tapi apa, Lita malah meninggalkan aku. Lita  seakan-akan tak peduli padaku lagi. Aku berpikir, aku harus menghamili Lita  jika aku ingin mendapatkannya kembali. Maka tanpa berlama-lama aku memulai melakukan niatku, dan sepertinya Lita tak banyak menolak. Pergumulan kami panas dan hampir saja aku berhasil. Sayangnya tidak. Orang tuanya datang mengantarkan Noora. Setelah mereka pergi pun aku berusaha melancarkan niatku lagi walaupun juga tidak berhasil. Aku sudah merendahkan diriku dihadapannya tapi dia tetap tidak mau menerimaku lagi. Dan sekarang? Aku mengetahui bahwa Erland juga ikut pindah ke Bali. Si b******k satu itu berusaha mendekati Lita rupanya?? Dia pikir aku akan diam saja? Dia pikir bisa melawan aku?? Cuiihh!!  Jangan mimpi!! Saat aku mendatangi rumahnya dan memperingatkan dia, dia malah menghajar aku. memang setan si Erland itu!! Lihat saja, aku tidak akan pernah membiarkan Erland merebut Lita dari tanganku!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN