Chapter 10 - Tertarik

1255 Kata
“Erland?” Lita kembali menuju keruang tamu setelah meminta Nasya membawa minuman yang dijawab dengan anggukan oleh wanita itu.Terlihat tatapan Alex tajam menyelidik kearah laki-laki yang berdiri diambang pintu itu. “Mama? Papa? Kok bisa barengan begini sih?” tak berhenti sampai disitu, kekagetan Lita berlanjut. Rupanya dibelakang Erland, berdiri mama dan papa Lita. Lita memang menantikan kedua orang tuanya. Pasalnya kedua orang tuanya yang akan mengantarkan dia kebandara, namun dia tak menduga jika Erland juga akan berada disini. “Om.. Tante..” tiba-tiba Alex muncul dibelakang Lita dengan senyum ramah sambil mencium tangan kedua orang tua Lita. “Eh, Alex… kamu sudah lama disini? Mana istri kamu?” Nia menyalami Alex lalu menanyakan perihal istrinya. Membahas Tari didepan Lita membuatnya sangat malas. Tapi mau tidak mau dia harus menjawab pertanyaan mama Lita. “Saya sendiri, Tante. Tari sedang ada urusan tadi…” Nia tersenyum mendengar jawaban dari teman anaknya itu. Dengan mulut membulat dan mengangguk-angguk Nia memasuki rumah setelah mengajak Erland masuk terlebih dahulu kerumah. Lita hanya dapat terdiam mengadapi situasi ini. Situasi yang menurutnya tidak nyaman. Disaat ini, dia hanya ingin ada kedua orang tuanya dan Nasya. Lita ingin setiap waktunya diisi dengan orang-orang terdekatnya saja. Tapi sekarang dia malah harus berada dalam situasi yang penuh kecanggungan seperti ini. ***** Mereka sudah mengambil posisi duduk masing-masing, Lita duduk disamping Nasya sambil memangku kepala Noora yang masih tidur dengan nyenyaknya. Danu duduk berdampingan dengan istrinya, Nia. Sedangkan Alex duduk bersebrangan dengan Erland sehingga keduanya terlihat sering beradu pandang. Semuanya kini sedang menikmati teh yang dibuat oleh Nasya. “Oh iya, Lit.” Erland membuka percakapan, dia memposisikan tubuhnya menghadap Lita sebagai lawan bicaranya,”Kita akan berangkat ke Bali bersama-sama nanti.” “Uhukkk!!” Lita terbatuk. Minuman yang baru saja akan Lita telan mendadak menyebar keseluruh kerongkongannya. Semuanya terkejut termasuk Erland sendiri. Dengan sigap, jiwa Alex yang memang seorang dokter secara refleks bermain. Bermaksud untuk memberikan bantuan pada Lita, Alex mendekat dan menepuk punggung Lita. Namun dengan halus Lita menolak dengan mengayunkan tangannya kedepan. Alex dengan muka yang masam kembali ketempat duduknya, ternyata niat baiknya pun tak diterima oleh Lita. “Maaf, gimana Erland maksudnya, aku kurang paham.” Sambil berdehem berusaha meredakan tenggorokannya yang gatal, Lita mulai membuka suara menanggapi kata-kata Erland yang tadi sempat terjeda. “Jadi, seperti yang kamu tahu, Lita. Papa kamu, Pak Danu,” Erland melihat kearah Danu yang sedang tersenyum sambil memperhatikan diskusi yang berlangsung didepannya,”Beliau berencana untuk mengembangkan pembangunan Halim Resort yang ada di Bali.” Erland menangkap ada kebingungan diwajah Lita. “Benar, resort yang akan kamu tangani nanti, Lit.”Erland melanjutkan kata-katanya setelah melihat Lita telah menemukan jawaban,”maka dari itu, beliau memberi kepercayaan pada perusahaanku untuk mengerjakan proyek itu. Dan aku akan berangkat kesana bersama kamu nanti. Untuk meninjau lokasi pembangunan dan urusan lainnya yang berkaitan dengan pengembangan itu.” Erland tersenyum mengakhiri penjelasannya. Lita menatap papanya penuh tanya, lalu bergantian melihat kearah mamanya. Namun keduanya hanya tersenyum dan mengangguk, membuat Lita semakin tak mengerti. Belum lagi semua urusan kepindahan ini selesai 100%, Lita harus langsung mengurus pengembangan resort. Sedangkan Alex dengan muka yang sedikit masam memilih untuk diam karena dia tahu, ini bukan bidangnya. Sesekali dia tersenyum jika orang disekitarnya tersenyum. Alex sama sekali tak merasa ada yang membuatnya bahagia saat ini. Lita melirik jam dinding di ruang tamu,”Ahh sudah waktunya kita berangkat, Pap..” tutur Lita pada papanya yang diikuti dengan gerakan kepala Danu melihat kearah jam dinding. “Ohh benar, Mam... Kita harus cepat-cepat berangkat. Jangan sampai mereka ketinggalan pesawat.” Danu kemudian bangkit dari tempat duduknya diikuti oleh Nia dan semua yang berada disana. ”Ehhm, Alex juga ikut ke bandara?” tanya Nia ketika dia melihat kearah Alex yang sejak tadi hanya diam dan tersenyum. “Alex nggak ikut, Mam. Nasya yang akan ikut mengantar aku ke bandara.” Lita melirik kearah Nasya tanpa memperdulikan Alex yang hanya mengangguk sambil tersenyum kecut. Alex begitu kecewa pada Lita sekarang. Bahkan untuk mengantar Lita sampai kebandara pun dia sudah  tidak diperbolehkan. “Okelah, kalau begitu… Pak Soleh! Bantu angkat barang Bu Lita ya..” perintah Danu kepada sopirnya yang sudah siap sedia berada dipintu sedari tadi. “Nggeh, Pak...” dengan cepat semua barang Lita sudah masuk ke bagasi mobil. Semua sibuk dengan persiapan Lita, Noora dan juga Erland untuk bertolak ke Bali. “Erland, ambil barangmu. Pindahkan saja ke mobil, Om ya.” Suruh Danu kepada Erland. Sedangkan dirinya sibuk menggendong cucu kesayangannya yang masih terlelap. Nia membantu suaminya mengurus Noora dengan membawa ranselnya. “Saya naik taksi saja, Om. Tadi saya kemari unt---“ “Sudah, sama Om saja. Cepat ambil barangmu...” Perintah Danu pada Erland. “Benar itu, sudah sama kami saja. Daripada harus naik taksi.” Kini Erland tak dapat lagi membantah. Erland segera menuju kerumahnya yang berada persis disamping rumah Lita untuk mengambil 1 travel bag berukuran sedang dan sebuah tas laptop yang sudah dia persiapkan sejak kemarin. Dia hanya membawa beberapa baju dan keperluan lainnya untuk beberapa hari. Erland mempercepat langkahnya keluar dari rumah, dia tak ingin membuat keluarga Lita menunggu lama. “Erland….” Suara yang tak asing itu menghentikan langkah Erland. “Rey?!” Erland bukan main terkejut melihat Rey sudah berdiri  didepan pintu rumahnya. “Kamu diam-diam mendekati Lita!?” sergah Rey kepada karibnya yang kini diam membisu sebab terkejut dengan kehadiran Rey. “Bukan begitu, Rey. Ini murni urusan pekerjaan.” Jelas Erland sambil memeriksa kunci pintu apakah benar-benar sudah aman atau belum. Mengingat dia selama ini tinggal sendiri didalam rumah, sehingga penting baginya untuk menjaga rumahnya tetap aman selama beberapa hari dia tinggalkan ke Bali. “Halah, alasan!! Bilang aja kalau kamu tertarik pada Lita!!” Rey mulai bertindak kasar, dia menyepak travel bag Erland yang berada dekat dengan kakinya. Erland tidak mengerti mengapa sahabatnya itu bertindak seperti ini. ‘Bukankah Rey yang dulu memaksa Lita untuk menandatangi surat perceraian itu. kenapa sekarang dia malah seakan ingin ikut campur tentang kehidupan Lita?’ Erland berpikir dengan keras. Namun Erland tetap diam tak bersuara, dia tak ingin menanggapi perkataan Rey. Dia tahu sahabatnya itu seperti apa. Erland dengan tenang mengambil tas yang sudah disepak oleh Rey dan bergegas meninggalkan Rey didepan rumahnya. Dia harus secepatnya berangkat ke bandara jika tidak ingin tertinggal pesawat. “Hey, mau kemana kamu?!” tangan Rey menggeret kerah kaos Erland dengan kuat hingga membuatnya tertarik kebelakang. Hal itu membuat tas laptop yang Erland jinjing terlepas dari genggamannya. Kali ini Erland menghembuskan nafasnya dengan kasar. Plakkkk! Erland berbalik badan, dengan kekuatan penuh dia mendaratkan bogem mentah pada pipi Rey. Membuat Rey limbung seketika setelah menerima pukulan tiba-tiba dan penuh amarah dari Erland. Dia mendekati Rey yang sudah tersungkur di aspal, tangannya cekatan meraih leher Rey,“Bukankah kamu sendiri yang ingin pergi dari kehidupan Lita?! Sekarang biarkan dia bahagia dengan kehidupannya. Dan nikmati saja kehidupanmu dengan w************n itu, Begundal!” Dengan sigap Erland kembali meraih travel bag dan tas berisi laptop yang terjatuh. Dia hanya bisa berharap, semoga laptopnya tidak rusak. Karena semua dokumen tersimpan disitu. Namun, Erland tak membuang waktu lagi. Dia segera memasuki rumah Lita, disana semua orang telah menunggunya didalam mobil. Pak Soleh pun membuka bagasi belakang agar Erland dapat memasukan barang-barangnya. Erland duduk dibelakang didepan disebelah pak soleh. Sedangkan dibarisan kedua Nia bersebelahan dengan Danu yang tengah sibuk memangku Noora. Dibelakang ada Lita dengan Nasya sedang asyik mengobrol, entah membahas tentang apa. Perjalanan menuju ke bandara tidak begitu jauh. Hanya butuh waktu 40menit. Setelah semua siap, pak Soleh segera menancap gasnya keluar dari gerbang. Dia berhenti sebentar untuk mengunci gerbang karena mulai saat ini rumah itu akan benar-benar kosong tanpa. Dari kaca depan, mata Erland melirik kearah belakang. Tepatnya kearah Lita,’Rey memang benar-benar bodoh , Lit. Apa yang ada dipikirannya sampai bisa meninggalkan wanita seperti kamu?’ d**a Erland bergemuruh ketika mengucapkan kalimat itu dalam hatinya. Dia telah banyak melihat gadis-gadis seksi dan cantik, juga bukan sekali dua kali mereka menghangatkan ranjang Erland. Tapi batinnya tak pernah ‘berisik’ seperti sekarang ini. Nasya juga tak kalah cantik dari Lita, tapi saat melihat Nasya rasanya biasa saja. “Apa aku sedang tertarik pada janda temanku?” Erland merasa konyol terhadap dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN