Chapter 9 - Fantasi

1136 Kata
Lita berada diruang tamu, dia sedang memperhatikan Noora yang sibuk memeriksa tas miliknya dan segala isi didalamnya.“Sudah tidak ada yang tertinggal kan, Sayang?” Lita bergerak mendekati anaknya. Dia membelai lembut rambut Noora. Rambut hitam yang tebal seperti milik Lita. Wajah cantik gadis kecil itu seketika menoleh pada Lita. Mata cokelat terang yang Rey wariskan pada Noora begitu berbinar-binar saat menatap dirinya. “Udah semua, Mami…” jawab Noora dengan senyum lebar. Semua barang yang diperlukannya selama penerbangan 2jam 40menit itu sudah tertata rapi didalam ranselnya. Tablet, headphone, minuman, tissue, dan lain-lain sudah ada didalamnya. Tak lupa Barbie kesayangannya yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi kecuali  saat dia kesekolah. Barbie itu adalah hadiah dari Rey. Ayahnya. “Bagus, jangan sampai ada yang tertinggal yaa…” Lita tersenyum lalu berdiri meninggalkan Noora diruang tamu. “Sya, aku titip Noora ya. Aku mau keatas sebentar.” “Oke..” jawab singkat Nasya yang sedang berada didapur. Dia sedang membuatkan cemilan kesukaan Noora. Karena gadis kecil itu berkata, ingin makan pancake favoritnya. Lita sekali lagi menelusuri setiap sudut rumahnya. Menyerap seluruh energi positif yang ada didalamnya. Rumah yang menjadi tempat Lita bernaung selama kurang lebih 8tahun bersama Rey, namun kini harus dia tinggal entah sampai kapan. Lita memasuki ruangan demi ruangan, namun selalu saja hadir bayangan dan kenangannya bersama Rey yang secara otomatis terlintas tanpa dapat Lita kendalikan. Lita beralih keruangan lain, dia berdiri didepan kamarnya. Lita menyentuh gagang pintu dihadapannya, sambil memejamkan mata menahan keadaan hatinya yang sedang kurang baik. Kamar dihadapan Lita itu akan menjadi kamar kosong, tidak akan tersisa apapun disana. Kecuali kenangan yang Lita tinggalkan didalamnya. Perlahan Lita memutar gagang pintu. Membuka kembali kenangan sebelum dia pergi. Tangannya meraba tempat tidur yang sudah bertahun-tahun menemani dirinya dan Rey. Bayangan itu kembali mengusik. Kenangan dimana dia dan Rey menghabiskan hari-hari pertama setelah pernikahan. Tubuh Lita meremang. Ingatannya kembali kemasa-masa itu, Lita kembali memejamkan matanya. Berusaha  sekuat tenaga untuk mengusir semua bayangan semu itu. “Hallo, Noora kesayangan Oom...” sayup-sayup terdengar suara seseorang dari arah lantai bawah membuyarkan angan Lita. Dia segera keluar kamar dan menuruni tangga dengan tergesa. Mencari tahu siapa laki-laki yang tadi berbicara pada anaknya. Di ruang tamu, telah duduk sosok yang dulu sangat akrab dengannya berada disamping Noora. “Alex? Sedang apa kamu disini?” Lita mengerut dahi, pandangan matanya seolah menyelidik. Dia sungguh terkejut dengan kedatangan Alex. Terlebih Lita tidak berniat sama sekali untuk memberi tahu tentang segala hal yang menyangkut dirinya kepada Alex lagi. “Apa kamu benar-benar tidak akan memberi tahu dia?” suara perempuan yang sangat akrab ditelinganya kembali mengagetkan dirinya. “Sya, aku kan---“ Dia menoleh pada Nasya yang sedang menyajikan pancake dihadapan Noora. Gadis kecil itu langsung menyambar pancake favoritnya itu dengan sangat lahap. “Apa kamu sebegitu tidak inginnya mengenal aku lagi, Lit?” Alex yang merasa dijauhi kemudian membuka suara. Ada hal aneh yang Lita lakukan sejak dia memutuskan untuk menerima perjodohannya dengan Tari. Ya, Lita seperti menjauhinya. “Bukan begitu, Alex. Aku hanya tidak ingin Tari salah paham.” “Salah paham apa sih, Lita. Aku peduli sama kamu. Ayolah, jangan naif! Tari tidak sebodoh itu untuk menyalah-pahami kedekatan kita…” Alex sekarang mengernyitkan dahinya. Perasaannya menjadi semakin kesal. Pertama adalah karena Lita akan segera pergi meninggalkan kota ini beberapa jam lagi. Kedua, Lita ternyata dengan sengaja menjauhinya. Hanya karena dia tidak ingin melihat Tari salah paham. Alex melihat Lita dengan tatapan yang menuntut, kedua matanya fokus pada Lita. Sedangkan wanita yang ada didalam pandangannya itu hanya dapat diam tanpa membalas sedikitpun kata yang Alex lontarkan. ‘Argh, Sial! Kalau aku tahu kamu akan bercerai dengan Rey, aku tidak akan pernah menikahi Tari, Lit!” batin Alex sangat frustasi hingga dia menyesali pernikahannya dengan Tari 8bulan lalu. Dia menggersah sembari menyandarkan tubuhnya pelan-pelan pada sofa yang dia duduki. Keadaan kembali hening tanpa suara. Noora sudah tidur dengan pulas entah sejak kapan. Lita memandangi gadis kecilnya yang mungkin sedang kelelahan. Flashback Masih jelas dalam ingatan Lita, siang itu Tari menghubunginya. Wanita cantik itu berkata akan datang ke kantornya. Lita merasa ada yang janggal, wanita yang baru satu minggu menjadi istri Alex itu bukannya pergi berbulan madu namun justru datang menemuinya.  Lita langsung mengiyakan dan berjanji akan menemuinya direstoran hotel tempatnya bekerja. Saat makan siang sudah lewat, Lita dengan tergesa memasuki lift untuk turun menemui Tari yang pasti sudah menunggunya direstoran hotel. Benar saja seorang wanita cantik sedang duduk sendiri sembari melambaikan tangan kearahnya. Namun, wajahnya tidak sesumringah biasanya, beberapa kali Lita berjumpa dengan Tari sebelum dia menikah dengan Alex. Dan Tari merupakan wanita yang periang dan sangat ramah menurut Lita. Sekarang eskpresi wajah Tari cenderung datar. Lita pun segera menghampiri Tari dan menarik kursi dihadapannya. “Maaf aku terlambat. Mau pesan makan dulu atau---“ “Langsung saja, kak…” Tari memotong perkataan Lita. “Ohh, oke. Silahkan, apa yang bisa aku bantu?” Lita tersenyum ramah sambil membetulkan posisi duduknya. Walaupun dalam hatinya ada perasaan menyelidik. “Kak, aku mohon kakak jauhi Alex ya… bukankah kak Lita sudah punya suami?” mata Tari berkaca-kaca saat mengatakan permohonannya. Suaranya terdengar bergetar. Yang membuat Lita semakin tidak mengerti adalah permintaannya terdengar konyol ditelinga Lita. “Menjauhi? Maksudmu?” Lita mengerutkan dahinya. Tangannya dilipat diatas meja. “Kalian punya hubungan spesial kan?” tuduh Tari. Matanya kini sudah berembun. “Wait, hubungan spesial? Aku dan Alex sudah saling mengenal sejak kami kuliah. Begitu juga dengan Nasya dan suamiku, Rey. Mustahil Alex tak memberitahumu. Kami berteman akrab, Tari…” Lita tampak menjelaskan dengan menggebu-gebu. Tidak akan pernah mungkin Lita memiliki kedekatan spesial dengan Alex disaat dia memiliki Rey yang sangat mencintainya saat itu. “Lalu, kenapa Alex selalu saja menyebut-nyebut namamu saat kami berhubungan suami istri, bahkan ketika dia mengigau sambil memeluk aku saat tidur. Dia selalu menyebut namamu. Aku… aku sakit kak..” tangis Tari pecah. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Deg!! Jantung Lita berdebar kencang ketika mendengar penuturan Tari kala itu. Biadap Alex! ‘Dia menjadikan aku sebagai fantasi sexnya saat dia meniduri Tari? Menyebut namaku saat mereka sedang berhubungan badan?’ batin Lita marah, seketika dia merasa sangat jijik dengan Alex. “Tenanglah, Tari. Aku sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan Alex selain pertemanan kami. Aku akan menjauhinya mulai sekarang. Aku berjanji padamu…” Dan benar, janji itu Lita tepati hingga saat ini. Apapun yang terjadi. Walaupun Lita tahu jika Alex mencintainya sejak mereka sama-sama duduk dibangku kuliah, tapi Lita sungguh tidak menyimpan perasaan apapun padanya selain perasaan sayang sebagai teman karib. Namun dengan adanya pengakuan Tari yang seperti itu, membuat perasaan sayang Lita pada Alex yang awalnya sebagai teman itu juga menghilang sepenuhnya. Lita kini melihat Alex sebagai ancaman. Dan sudah seharusnya, Lita menghindari ancaman itu. Fashback end. 3jam lagi menuju jadwal keberangkatannya. Lita beranjak dari tempat duduknya. Meninggalkan Alex yang sedari tadi tak lepas memperhatikan dirinya. Lita hendak meletakkan bekas pancake yang sudah selesai Noora makan. Nasya yang berada didapur kemudian menyambut Lita dengan memberikannya air putih dingin. Lita menerimanya dan langsung mengusung gelas itu ke bibirnya. Sahabatnya itu memang yang terbaik. “Lita….” Lita seketika menoleh kearah datangnya suara, matanya membulat ketika menemukan siapa pemilik suara yang baru saja memanggilnya. Seorang laki-laki berdiri didepan pintu sambil menatapnya. Dengan senyum mengembang menampilkan barisan gigi dengan satu gingsul disebelah kiri. “Erland?!” Terlihat tatapan Alex tajam menyelidik kearah laki-laki yang berdiri diambang pintu itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN