Chapter 8 - Aku Tak Ingin

1133 Kata
“Mengapa kamu tak membiarkan aku memuaskanmu? Apa lebih nikmat jika jarimu yang melakukannya dari pada aku?” tangan Rey menangkap tubuh Lita dengan cepat. Mata Rey menatap tajam pada Lita yang gugup tak tahu hendak berkata apa.“Jawab, Lita! Kamu... Argh!” Rey tampak kian tak terkontrol, dia mengibaskan tangan keudara untuk membuang geram dalam dadanya. Lita tersenyum miring, dia menatap Rey dengan pandangan meremehkan sekarang. Dia melangkah mendekati laki-laki yang sudah terlihat kepayahan menahan emosi tersebut. Dimata Rey tersirat sesuatu. Hasrat. Ada perasaan yang membuat Lita seketika tersadar, pria itu sedang sangat menginginkan dirinya. Ada ledakan dalam hati Rey yang membuatnya membuang urat malu dan datang mengiba padanya. Lita melangkahkan kakinya berjalan mendekati Rey dengan penuh percaya diri. Bibirnya menyungging senyum manis, senyum yang dulu pernah membuat Rey bertekuk lutut padanya. Memandang wajah Rey membuat Lita merasa sedih, marah sekaligus kasihan. Sedih, bagaimana dulu dia sangat mencintai Rey. Memberikan segalanya kepada laki-laki dihadapannya. Menjaga kesetiaan, tubuh dan hatinya hanya untuk suaminya. Marah karena dengan begitu tega, pria dihadapannya itu mengkhianati pernikahan dan janji yang sudah mereka ucapkan, untuk setia satu sama lain, untuk mencintai dalam keadaan baik dan buruk, sehat ataupun sakit. Kasihan, karena sekarang pria ini datang kepadanya. Mengharapkan semua yang berlalu bisa kembali? Lita melebarkan senyumannya. Membuat deretan gigi rapinya sedikit terlihat. Masih lekat dalam ingatan Lita, tentang semua perlakuan kasar Rey ketika dia berusaha menceraikan dirinya. Seketika terputar kembali ingatan-ingatan itu, saat Rey dengan angkuhnya memaksakan perceraian pada Lita berkali-kali. Bahkan secara terang-terangan dan mudahnya memberikan hak asuh Noora, anak semata wayang mereka pada Lita tanpa berusaha memperjuangkannya terlebih dahulu. Disaat Lita begitu jatuh, dia begitu terluka karena perselingkuhan Rey dengan Jihan akhirnya terkuak. Dan saat itu, disaat kaki Rey dengan tanpa ampun menendang perut Lita yang sudah melahirkan benihnya.  Semua itu membuat Lita tersadar, tak akan ada lagi ‘kedua kali’. Lita masih menatap lekat pada Rey dengan sayu. Bibir Lita mengatup, menurunkan sedikit pola senyumannya. Jemari lentik Lita dengan kuku berwarna toscanya mulai menyentuh dan begerak meraba d**a Rey, bidang dan kencang. Tangan putih Lita kontras dengan baju yang kini dikenakan Rey, semakin menambah daya tarik Rey terhadap Lita. Matanya memandang wajah Rey, menikmati ekspresi wajah pria itu. Dia yang dulu dengan begitu angkuh dan mudahnya meninggalkan Lita, sekarang tengah memejamkan matanya rapat-rapat. Sedang menikmati setiap sentuhan dan belaian lembut  dari jemari Lita. Senyuman kembali mengembang kembali dibibir Lita. Dia melangkahkan lagi kakinya kedepan, membuat dirinya semakin menempel pada tubuh Rey. ”Apakah kamu begitu menginginkan aku sekarang, Rey?” pertanyaan dengan suara lembut itu keluar dari bibir Lita diiringi dengan gerakan telunjuknya yang asik berputar manja pada areola Rey. Rey membuka matanya. Memandang wajah Lita yang berada tepat dihadapannya, jemari Lita lembut sedang berada pada d**a Rey. Wanita itu tersenyum kearahnya, membuat wajah Lita tampak lebih berseri dimata Rey. Sesaat perasaan Rey membuncah meresapi pertanyaan Lita yang baru saja dia dengar. Bagai diawang-awang dia mulai mendapatkan angin segar, ‘mungkin saja Lita akan menerima ku kembali.’ Begitu kata hati Rey, membuatnya kini dapat tersenyum lebar. “Tentu saja aku menginginkanmu, Lita. Aku sangat menginginkanmu sekarang.”Rey menjawab dengan yakin sambil membungkukan badannya bersamaan dengan tangannya yang melingkari pinggang sexy Lita. Mengarahkan kepalanya mendekati leher wanita itu. Menghembuskan sedikit nafas hangatnya disana. Lita memalingkan wajah sedikit kearah kanan badannya. Dia sudah tidak dapat lagi menikmati setiap perlakuan Rey padanya. ”Aku menginginkan kita seperti dulu lagi, Lita. Dan aku menginginkan anak kita, Noora. Atau mungkin, kita harus memberinya adik?” Bisik Rey ditelinga Lita. Wangi tubuh Lita membuatnya lupa diri untuk beberapa saat. Namun Rey memilih untuk tak melakukan apapun lebih jauh lagi, dia tak ingin Lita menjauh darinya. Batin Lita bergemuruh, ada segunung amarah yang sudah siap meletus diujung senyum bibirnya. Kaki Lita melangkah mundur, tangannya melepaskan lingkaran tangan Rey dari pinggangnya. Dengan bibir yang tetap tersenyum, Lita berjalan menyamping seraya merabai lengan Rey yang tampak kokoh. Mata Rey pun mengikuti kemana arah Lita berjalan. Rey seakan selalu terpesona pada kecantikan dan kemolekan tubuh Lita sekarang. Dan saat jari Lita yang mulai menyentuh setiap inchi tubuhnya, Rey semakin ingin memiliki wanita yang sudah pernah dia tinggalkan itu kembali. Kaki Lita terhenti saat tangan halusnya dengan mudah memeluk lengan kiri Rey. Dengan sedikit berjinjit menyamai tinggi telinga Rey, Lita berbisik dengan mesra,”Sayangnya, aku tidak ingin kembali kepadamu.” Air muka Rey berubah seketika. Matanya membulat mendengar apa yang Lita bisikan padanya. Wajah dan telinganya memerah. Bukan ini jawaban yang dia inginkan keluar dari mulut Lita. Gerahamnya gemeretak. Darah Rey seakan mendidih menerima penolakan dari mantan istrinya itu. Seharusnya Lita menerima dirinya kembali sekarang. Bahkan Rey sudah rela merendahkan dirinya, namun itu juga tak dapat membuat Lita membuka hati untuk menerimanya kembali. Lita melepaskan pelukan tangannya pada lengan Rey. Dia dapat melihat mimik wajah Rey yang marah dan kecewa ketika mendengar kata-katanya tadi. Lita segera mengambil langkah menuju keluar dari kamarnya. Meninggalkan pria itu sendirian didalamnya. Rey bersama dengan semua kenangan dan cerita mereka dirumah ini. “Apa karena, Erland?” Terdengar suara  Rey yang setengah berteriak dari dalam kamar. Lita menghentikan langkahnya sejenak, dia mengarahkan wajahnya sedikit kekiri tanpa ingin menghadap kepada pria dibelakangnya. ”Bukan Erland, tapi kamu sendiri. Kamu mengkhianati ‘kita’, Rey! Itulah sebabnya. Jadi jangan berusaha menyalahkan siapapun, kamu lah yang menyebabkan kehancuran ini.” Dengan nada yang tegas namun tenang, Lita memungkas pertanyaan Rey. Lita tahu, pria itu ingin mereka beradu argument. Tapi Lita sudah terlalu lelah menghadapi Rey yang bukan siapa-siapanya lagi. Rey hanyalah masa lalu Lita. Masa lalu yang begitu menyakitkan. Rey bersama dengan semua kenangan dan cerita mereka dirumah ini. Sudah tak akan ada lagi didalam kamus hidupnya. Lita sudah mengubur dalam-dalam semua kenangan itu. Kenangan manis, pahit, sedih dan bahagia. Semuanya. Lita menuruni anak tangga menuju lantai 1 rumahnya meninggalkan Rey yang entah merenungi apa diatas sana. Dia berhenti dianak tangga terakhir, matanya berembun. Dadanya naik turun berupaya mengambil sebanyak-banyaknya udara yang mampu dia hirup. Yaa.. Lita berusaha menenangkan hatinya yang mulai rapuh kembali dan tak menentu akibat ulah Rey kepadanya. Lita sudah sejauh ini melangkah. Menerima paksaan Rey untuk bercerai. Memberikan pengertian pada Noora untuk memahami kondisi bahwa orang tuanya sudah berpisah. Menyembuhkan segala sakit hati yang selama perselingkuhan itu terjadi, sedikit demi sedikit telah menggeroti jiwanya. Memulihkan sendiri kondisi dirinya yang sempat dianggap ‘tak layak’ oleh Rey. Dan sekarang Lita sedang berusaha menata kembali hidupnya. Membuang semua kenangan pahitnya dimasa lalu. Berusaha menjalani hidup yang lebih baik dan lebih bahagia dengan Noora. Semua itu bukan hal mudah untuk Lita lalui. Kemudian,  sekarang si b******k Rey itu datang memintanya untuk kembali? ”Semua sudah selesai, Lita. Kamu harus selalu seperti ini. Kuatlah! Kamu harus tetap menjalaninya seperti ini. Hidup Noora bergantung padamu. Dia lebih penting dari apapun sekarang.” Bisikan hati Lita seperti memberikan kekuatan padanya. Tekad untuk kembali berdiri dan menjadi tegar. Menjadi single mommy yang baik bagi anak semata wayangnya, Noora. Single mommy yang selalu mementingkan Noora, melindungi Noora dan mencukupi semua kebutuhan Noora. Kasih sayang, perhatian dan materi. Lita memegang dadanya yang kian sesak,’Mami akan selalu ada untuk kamu, Noora. Mami janji…’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN