CHAPTER 7 - Mengapa?

1508 Kata
CHAPTER 7 Noora terlihat menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia diam mematung diambang pintu yang terbuka. Rey segera melepaskan Lita dari himpitannya. Membiarkan wanita itu menghampiri anak mereka yang sedang berdiri disana entah dalam perasaan dan keadaan yang bagaimana. “Noora…” sapaan lembut Lita terdengar saat dia menghampiri anaknya, namun Noora tak juga mau membuka kedua tangganya,”Noora…” Lita membelai lembut rambut anaknya itu. Lita membujuk anaknya agar mau membuka kedua tangannya. “Mami… Papi kenapa ada disini? Papi jahatin Mami?” Keringat dingin tampak membasahi kening anak itu. wajahnya memucat dan nafasnya tidak teratur. Noora menatap Lita dengan tatapan penuh tanda tanya dan kegelisahan. Lita meraih gadis kecilnya, mendekap tubuh mungil yang sedang menunjukan ekspresi ketakutan dihadapannya. Lita dapat merasakan jantung Noora berdegup dengan cepat. “Nggak apa-apa, Noora. Papi disini karena Papi kangen Noora. Papi nggak jahat..” bujuknya pada anaknya. Sesungguhnya Lita berbohong demi kebaikan semuanya. Yang paling penting adalah, dia tak ingin jika nanti Noora tumbuh dengan kebencian terhadap papinya sendiri. “tapi Papi gigit Mami, Papi jahat sama Mami. Noora nggak mau sama Papi..” Noora mulai menangis sesenggukan didalam pelukan Lita. Harap-harap cemas ini tidak akan membuat Noora menjadi membenci papinya atau bahkan trauma terhadap laki-laki nantinya. “Bukan seperti itu sayang, Papi hanya sayang Mami. Seperti Papi sayang Noora. Sudah ya, jangan menangis. Mami baik-baik saja...” Lita sendiri sedang dalam keadaan gelisah tentang bagaimana cara untuk menjelaskan pada anaknya tentang apa yang baru saja dia lihat. Pasalnya dia tak dapat menjawab apa-apa lagi selain kata-kata tersebut. Bagaimana dia bisa menjelaskan pada anaknya bahwa papinya yang merupakan mantan suaminya berusaha untuk menidurinya. Lita menepuk-nepuk pelan punggung anaknya, menenangkan gadis kecil itu dan membujuknya untuk beristirahat dikamarnya. ‘Ya Tuhan, maafkanlah aku yang tak berhati-hati melangkah dan menjaga putri kami…’ batin Lita menengadah. *** Lita tengah menidurkan Noora saat Rey selesai merenungi kesalahan fatalnya hingga anak semata wayang mereka melihat aktifitas yang tak sepantasnya dia lihat. Dia duduk disofa menatap acara kartun favorit Noora. Pikirannya kembali ke 20menit yang lalu, disaat dia dengan bodohnya memaksa Lita untuk menuruti nafsunya. Betapa bodohnya Rey sekarang karena mengharapkan Lita mau kembali padanya yang sudah jelas-jelas berselingkuh dengan Jihan. Cklek… Suara pintu kamar ditutup membuyarkan lamunannya. Tampak Lita masih dengan piyamanya keluar dari dalam kamar Noora. Dengan langkah gontai dan rambut yang tak bisa disebut rapi, wanita ini terlihat tetap cantik di mata Rey. “Noora sudah tidur?” Tanya Rey menyambut Lita yang duduk disampingnya. Lita menghempaskan tubuhnya tepat disamping Rey. Pria itu mengikuti arah gerak tubuh Lita. Disofa, Lita menyandarkan punggung dan kepalanya. Dia memejamkan matanya dengan erat, berusaha mengatur ritme nafas agar dapat menenangkan batinnya yang sedang gusar. Lita menghembuskan nafasnya sampai habis lalu menarik nafas kembali dalam-dalam. Rey terus memiringkan badannya, terus memandangi wajah wanita didepannya yang masih tetap mulus tanpa sedikitpun kerutan. Hanya terlihat area matanya yang menggelap tanda Lita kelelahan kurang beristirahat. Percikan-percikan hasrat itu kembali muncul saat dia menatap Lita dengan posisi seperti ini. Tatapannya menjelajahi area leher dengan bekas kissmark keunguan hasil karya bibirnya. Lalu menurun menuju area d**a penuh yang tadi sempat di remasnya dengan gemas. ‘Ahh, sial! Kenapa dia bisa semenarik ini sekarang!’ geram Rey. Dia mengusap gusar wajahnya dengan kedua tangannya. Kemudian mengikuti posisi yang sama persis dengan Lita. Dua anak manusia itu berada dalam satu sofa yang sama, posisi yang sama namun dengan isi pikiran yang berbeda. “Rey..” Lita mulai membuka suaranya. “Hm…” suara berat Rey mulai menyaut. “Kenapa kamu ingin melakukannya denganku sekarang?” wanita itu memiringkan kepalanya kearah Rey. Menatap wajah tampan pria yang pernah menjadi suaminya itu. Hidung bangir, mata teduh, dan bibir tipis pria itu menjadi suguhan indah bagi mata Lita saat dia memandang Rey. “Aku juga tidak mengerti semua ini, Lit.” Rey menatap langit-langit ruang keluarga dilantai dua. Seperti hendak mencari jawaban atas hasratnya yang kian membuncah pada mantan istrinya itu. Lita mengerutkan keningnya. Dia semakin penasaran dengan semua ini. Jawaban Rey tidak memberikannya kepuasan dalam hatinya. Dia masih memandangi Rey seakan menuntut jawaban dari pria itu. “Keinginanku untuk memilikimu kembali semakin kuat saat aku melihatmu hari ini.” Rey kembali melanjutkan pembicaraannya lagi. “Bukan karena Jihan mengandung anak laki-laki lain?” Lita mencoba menerka-nerka tentang apa yang terjadi sebenarnya,”seandainya saja Jihan mengandung anakmu, tentu kamu akan tetap bersama dengannya kan, Rey?” Lita kembali memalingkan wajahnya dari Rey, lalu ikut menatap langit-langit rumahnya. “Seandainya saja Jihan tidak pernah hadir dalam keluarga kita-----“ kini Rey berandai-andai. “Seandainnya saja kamu tidak berselingkuh dengannya.” Dan ini adalah penutup pembicaraan mereka karena Lita beranjak pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Meninggalkan Rey yang  masih berandai-andai merenungi semua kesalahannya. “iya, Lit. Kamu benar. Seandainya saja aku tidak berselingkuh dengan Jihan.” Rey menutup rapat-rapat matanya. Perasaan sedih dan kecewa atas tindakannya sendiri kini memenuhi hati dan kepalanya. Dia menyandarkan kepalanya dibantalan sofa. Berharap ada kenyamanan yang akan dia rasakan. **** Lita mengunci pintu dan mulai melepas satu persatu pakaian yang melekat dibadannya. Dia memandangi leher serta dadanya yang berhiaskan tanda merah keunguan dari pantulan kaca cermin wastafel kamar mandi. Tangannya meraba satu persatu tanda keunguan itu, masih tersisa gelenyar rasa saat Rey menyentuh bagian-bagian sensitive tubuhnya dengan bibir dan lidahnya. Lita tahu ini gila, namun dia sadar  ini adalah manusiawi. Raganya membutuhkan belaian dan sentuhan. Hasrat Lita memuncak hanya dengan meraba bagian yang berbekas kemerahan itu. Masih hangat ditelinganya bagaimana Rey mendesah menyebut namanya saat menyatukan tubuh mereka. Lita mengangkat satu kakinya diiringi dengan jemari lentiknya yang mulai memasuki area intimnya dan secara bersamaan meremas dan memelintir payudaranya sendiri. Jari-jarinya bergerak lincah mengikuti hasrat dalam dirinya yang menuntut pelepasan. Dia memejamkan matanya merasakan setiap sensasi yang muncul dari setiap sentuhan jemarinya sendiri. Menghadirkan fantasi bercinta yang panas. Membuat tubuhnya menegang setelah beberapa lama jemari itu menari-nari disana. “Rey… Ahhh…” desahan demi desahan tanpa Lita sadari keluar dari bibirnya. Tanpa dia sadari juga nama Rey lah yang dia sebut sebagai bentuk pelepasan atas semua pencapaiannya. Gelenyar nikmat dengan cepat menjalar dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Membawanya sekejap kedalam memori saat dulu setiap saat Rey selalu memuaskan hasratnya diranjang. Lita kembali membuka mata, mengeluarkan tangannya dari area intimnya. terlihat bercak cairan  bening memenuhi jemarinya, Lita memandangnya sekilas lalu mencuci tangannya. Dia menuju kearah shower untuk membasuh seluruh tubuhnya. Tangannya bergerak memutar knob shower sedikit kekanan kearah warna merah yang secara bersamaan mengalirkan air hangat keseluruh tubuhnya. “Aku tidak pernah menyangka selama hidupku, aku akan melakukan ini.” Lita berseringai. Mengejek dirinya sendiri yang tak dapat menahan nafsunya. Dia goyah. Dia lemah. Dan tubuhnya menyerah pada nafsu yang sudah Rey pantik dalam raganya. **** Rey masih menyandarkan dirinya disofa. Membayangkan hal-hal menyenangkan yang mungkin akan dia, Lita dan putri mereka, Noora, lakukan jika saja Rey tak berpaling pada Jihan. Never mind, I'll find someone like you I wish nothing but the best for you, too "Don't forget me, " I beg I remember you said "Sometimes it lasts in love, but sometimes it hurts instead" Lagu yang lumayan akrab ditelinganya mengalun lembut dari arah kamar Lita. Rey masih menahan diri untuk berhenti mencampuri urusan mantan istrinya itu. Namun ketika ponsel Lita berhenti bersuara, beberapa saat kemudian benda itu kembali berdendang mengalunkan lagu favorite Lita. Jiwa penasaran Rey tergelitik untuk memasuki kamar Lita. Dia bangkit dari singgasana nyamannya memasuki pintu kamar yang terbuka. Rey mengangkat benda persegi panjang itu dari atas meja rias. Erland Mata Rey membelalak melihat nama sahabatnya itu terpampang dilayar ponsel Lita. “Ada hubungan apa antar Lita dan Erland?” gumam Rey. Seketika jarinya bergerak menggeser panah ketombol merah lalu mematikan ponsel Lita. Namun kecurigaan dan pertanyaannya terhenti ketika terdengar desahan dari arah kamar mandi. “Lita? Apa yang dia lakukan?” ia menggumam. Rey merasa sangat terusik dengan desahan-desahan tersebut. Dia  berusaha melihat kedalamnya tapi pintu kamar mandi didesign sangat rapat sehingga sama sekali tak ada celah untuknya dapat menyelidik kedalam. Rey memutuskan untuk berdiri didekat kamar mandi untuk mencuri dengar. Menikmati setiap desahan Lita dan gema suara yang mungkin akan muncul selanjutnya. Dia menyandarkan tubuhnya pada tembok disisi kiri pintu kamar mandi. Suara desahan semakin jelas terdengar. “Lita m********i?” pertanyaan itu seketika muncul dibenak Rey dan disambut dengan erangan Lita yang menyebut namanya. Rey merasakan jika juniornya mulai memberontak dibawah sana. Deg! Deg! Deg! Dada Rey berdegup cepat mendengar semua ini. “Mengapa dia tak memintanya padaku?” geram Rey pada dirinya sendirinya.”Ada aku dirumah ini, dan Lita? Dia sangat menginginkan aku. Mengapa dia tidak memintaku malah memilih untuk memuaskan dirinya sendiri?” Rey semakin geram dengan pertanyaan yang dia buat sendiri. Tangannya mengacak kasar rambutnya. Sedangkan jantungnya berdegub dengan cepat. Dia tak dapat mengendalikan perasaannya yang kini cambur aduk tak tentu arah. Didalam kamar mandi, suara desahan sudah berganti dengan gemericik air shower yang menandai berakhirnya aktifitas Lita tadi. Rey beralih duduk disisi ranjang yang masih acak-acakan bekas pergulatan antara dia dan Lita. Dia sedang menanti Lita keluar dai kamar mandi, harap-harap cemas Lita akan bersedia membagi sedikit kehangatan pada dirinya. Cklek! Pintu wardrobe terbuka. Lita melangkahkan kakinya keluar dengan mengenakan pakaian santainya. Dress rumahan tanpa lengan berwarna dominan putih dengan kombinasi biru tua sepanjang paha. Handuk kecil melilit rambutnya yang basah. Dia terlihat sangat sexy dimata Rey. Mata Lita seketika membelalak ketika mengetahui Rey berada dikamarnya. Walau bagaimanapun, Lita merasa Rey tidak berhak masuk kearea kamarnya lagi tanpa ijin dari darinya. “Rey! Ka---“ kata-kata Lita secepat kilat dippotong oleh Rey. “Mengapa kamu tak membiarkan aku memuaskanmu? Apa lebih nikmat jika jarimu yang melakukannya dari pada aku?” tangan Rey menangkap tubuh Lita dengan cepat. Mata Rey menatap tajam pada Lita yang gugup hendak berkata apa.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN