Lita serta-merta melepaskan pagutan Rey pada tubuhnya. Suara anaknya membuatnya tersadar bahwa apa yang baru saja dia lakukan merupakan kesalahan besar yang seharusnya tidak pernah dia lakukan.“Masuk ke wardrobe dan jangan keluar sebelum papa dan mamaku pulang. Cepat!” perintah Lita pada Rey, laki-laki itu menurutinya bahkan tanpa membantah sedikitpun.
Lita merapikan bajunya yang sudah berantakan dan seterngah terbuka. Tak lupa dia merapikan rambutnya yang sudah kusut akibat pergumulannya dengan Rey. Ada rasa kesal yang menghinggapi rongga dadanya, hasrat yang tak terselesaikan membuat degup jantungnya meningkat, lebih meningkat lagi karena Lita takut jika anak dan kedua orang tuanya mengetahui apa yang baru saja dia lakukan dengan Rey. Beruntung gadis kecilnya berteriak sehingga dia dan Rey dapat lebih cepat mengetahui kehadiran mereka dirumah ini.
“Mami….” Teriak Noora sekali lagi ketika dia tak dapat menemukan maminya dilantai 1. Seluruh rumah dalam kondisi yang berantakan karena Lita bekerja keras memilah milih barang-barang apa saja yang akan dia bawa kebali.
Lita memegang dadaynya. Degupan kencang didada kirinya belu juga mereda malah semakin menjadi-jadi. Suara langkah melewati tangga terdengar ditelinganya. Lita mematut diri didepan cermin, mengoreksi penampilannya agar tak ada sesuatu yang mencurigakan dimata kedua orang tuanya.
‘Ahh! Kenapa ada bekas ini disini!?’ gerutu Lita ketika melihat bekas kemerahan di samping lehernya. Cepat-cepat dia mengambil concealer yang ada dimeja riasnya. Lita mengoles lalu meratakannya disekitar bekas kemerahan itu agar tak terlihat oleh kedua orang tuanya.
“Mami?” suara Noora seketika membuat Lita yang sedang dalam keadaan kalut semaakin terkejut.
“Ah,, sayang… kenapa cepat sekali pulangnya?” kata-kata yang Lita keluarkan seakan-akan bahwa dia berharap anaknya itu tak cepat pulang.
Rey yang mendengar kata-kata Lita merasa bagai diatas awan. Dia yakin bahwa Lita masih menginginkan belaian darinya. Dia memandang kearah juniornya dibawah sana,”Tenang, kita akan mendapatkan mami mu kembali.” Gumam Rey sambil tersenyum.
“Mami nggak senang kalau Noora pulang cepat ya?” gadis kecil itu cemberut, dia merasa maminya tak menginginkannya pulang kerumah terlalu cepat. Padahal sejak tadi dia sudah merayu oma dan opanya agar tak usah berangkat les berenang karena dia sudah sangat merindukan Lita.
“Ohh, bukan begitu, Noora sayang.” Lita menghampiri anaknya yang sedang berdiri diambang pintu,”Tapi bukankah seharusnya Noora masih sekolah? Lalu Noora juga harus berangkat les berenang bukan? Jadi apa anak mami hari ini membolos?” Lita bertanya seakan menyelidiki anak kesayangannya itu. Dia membelai lembut rambut pendek anaknya yang dihiasi dengan bandana merah, serasi dengan seragam sekolahnya.
“Noora kangen mami. Noora pengen sama mami aja.” Anak itu rupanya ingin bermanja-manja dengan Lita, dia memeluk erat pada Lita.
“Katanya, dia kangen maminya. Dia tidak ingin pergi berenang. Jadi kami bawa Noora pulang. Jangan terlalu memaksakan sesuatu pada anakmu, Lita…” Kata Nia kepada anaknya yang sedang memeluk Noora diambang pintu.
“Iya, mam. Makasih sudah jemput Noora…” Lita menatap mamanya dengan penuh rasa terima kasih. Dia melepaskan pelukannya pada Noora dan bergerak mengajak kedua perempuan yang paling dia sayangi itu untuk turun kelantai 1.
“Lita, papa lihat ada mobil Rey didepan rumah. Apa dia ada disini?” Danu berjalan dari tangga menuju kelantai atas dimana anak dan istrinya berada. Dia bertanya pada anaknya seakan curiga tentang keberadaan mantan menantunya itu didalam rumah anaknya.
“Hah, masak sih, Pa? Nggak kesini kok dia. Mungkin dia kerumah Erland, kami kan bertetangga. Dia tinggal disamping, Pa.” Lita gugup, sangat gugup bahkan. Saat papanya mulai menanyakan tentang keberadaan Rey didalam rumahnya. Beruntung sahabat Rey, Erland, pindah disebelah rumah Lita sehingga dia bisa menjadikannya sebagai alasan mengapa mobil Rey terparkir didepan rumahnya.
“Oh, baguslah. Kalian sudah bukan suami istri Lita. Jangan mengulangi kesalahanmu 2x, jauhi dia. Cari laki-laki yang lebih baik, yang menyayangi kamu dan juga cucuku, Noora.” Kata-kata papanya, selalu saja dapat membuat Lita merasa sangat bersyukur memiliki Danu dan Nia sebagai orang tuanya.
Noora tampak diam, dia mengerti. Dia menyadari bahwa sekarang mami dan papinya sudah tak hidup satu atap lagi. Dia sadar bahwa dengan kepindahannya seminggu lagi ke Bali, itu akan membuat intensitas pertemuannya dengan papinya menjadi berkurang, namun dia yakin bahwa maminya akan memenuhi semua kasih sayang yang dia butuhkan. Ya, anak berumur 7 tahun itu sangat yakin bahwa maminya sangat menyayanginya. Maka dia diam tak ingin banyak bertanya. Dia tidak ingin menambah beban pikiran untuk maminya. Dia hanya ingin selalu dekat dengan maminya, ingin selalu memeluk dan bermanja dengan maminya. Bahagia bersama maminya.
Rey mendengar sayup-sayup apa yang dikatakan oleh mantan mertuanya itu. Hatinya memanas mendengar Danu menyarankan kepada Lita untuk menjauhinya dan mencari laki-laki selain dirinya. Giginya beradu menimbulkan bunyi gemeretak, rahangnya mengeras, tangan tanpa sadar menepak keras pada lemari kayu tempatnya bertumpu,”Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil kamu dari aku, Lita!” geramnya.
“Iya, Pap. Terima kasih sudah perhatian dan menyayangi Lita dan juga Noora.” Kata Lita sambil memeluk papanya. Dia akan mengingat apa yang baru saja papanya katakan, untuk tidak lagi berada dekat dengan Rey. Dia tidak ingin jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Laki-laki yang sudah pernah berselingkuh, maka seumur hidup dia akan tetap seperti itu. Tidak akan pernah merasa puas, walaupun dalam ucapannya dia sudah mengakui bahwa dia bersalah dan dia sudah meminta maaf. Tapi, dia pasti akan mengulanginya untuk kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya.
Karena perselingkuhan itu ibaratkan candu yang akan selalu membuat penikmatnya merasakan tantangan, kenikmatan dan kepuasan saat menjalaninya. No, Lita tak ingin lagi menjadi korban. Cukup satu kali dan itu adalah kebodohan Lita sendiri yang sudah pernah berharap bahwa Rey akan berubah. Padahal sudah jelas semua itu tidak akan pernah mungkin terjadi.
“Yasudah, Lit. Papa sama Mama pulang dulu. Besok biar sopir saja yang akan mengantarkan Noora kesekolah. Papa lihat acara packing mu masih butuh proses panjang. Papa harus ketemu klien setelah ini untuk proses hotel yang di Bali.”
“Iya, Pap. Hati-hati ya..” Lita menggandeng Noora untuk mengajaknya mengantar kepulangan Opa dan Oma nya.
“Sudah.. sudah... lanjutkan saja. Mama dan Papa bisa keluar sendiri. Tak perlu diantar. Bye, Noora… besok Oma jemput ya pulang sekolah.” Kata Nia sambil mencium cucu kesayangannya yang begitu membuatnya gemas.
“Bye, Oma.” Noora memeluk dan mencium pipi Nia.
“Bye, Opa.” Noora kemudian beralih mencium dan memeluk Danu.
“I love you, Princess.” Danu menuruni tangga sembari melambaikan tangannya pada Noora disusul dengan Nia yang mengikutinya. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang ditutup. Lita memastikan kedua orang tuanya sudah pergi dari rumahnya dengan melongok keluar jendela diruang keluarga lantai 2.
Lita kembali kearah anaknya yang sedang melepas lelah disofa sambil menonton acara kartun kesukaannya,”Noora sayang, mandi dan ganti baju dulu ya sayang…” Lita membelai rambut Hitam nan tebal milik anaknya.
“Iya, Mami.” Anak manis itu kemudian berjalan menuju kamarnya.
Pintu kamar Noora sudah tertutup.
Lita kemudian segera kembali kekamarnya. Membuka pintu kamarnya lalu membuka ruang wardrobe-nya,”Cepat keluar, Rey. Dan jangan pernah kembali lagi kesini sebaik mulai sekarang kita bertemu diluar saja.”laki-laki dihadapannya tampak tak percaya dengan apa yang Lita ucapkan. Bahkan 15menit yang lalu mereka baru saja berhubungan badan dan sekarang Lita mengusirnya.
“Kamu yakin tidak merindukan aku, Lita? Kita belum menyelesaikan urusan kita bukan?” Rey mulai membelai lembut pipi dan menurun menyusuri leher Lita, membuat Lita menahan nafas akibat himpitan tubuh mantan suaminya itu. Bibir Rey kini sudah kembali mengecup leher Lita, dan bodohnya Lita sama sekali tak memberontak. Malah terkesan menikmati.
“Aku tidak ingin Noora melihat kita, Rey..” bibir Lita berkata menolak namun tubuhnya seakan meminta lebih.
“Apa yang salah? Aku ini papinya…” Rey membalas perkataan Lita dengan menghisap kuat pangkal leher Lita hingga meninggalkan kissmark keunguan disana.
Rey paham, bahwa Lita tak dapat menolak apa yang dia lakukan sekarang. Dia tahu mantan istrinya itu tak pernah sekalipun berhubungan dengan laki-laki lain kecuali dirinya. Sehingga sedikit sentuhan saja darinya sudah dapat membuat Lita jatuh dipelukannya. Hal ini yang mebuat Lita berbeda dengan Jihan. Jihan mungkin saja sekarang sedang mengandung anak laki-laki lain. Dan Rey tidak ingin bersama dengan wanita yang sudah mengkhianati dirinya.
Begitulah laki-laki, saat dia berkhianat. Dia melakukannya sesuka hati.
Namun saat wanita yang berkhianat, mereka akan langsung menganggapnya barang yang sangat menjijikan.
Begitu juga paradigma manusia yang menganggap bahwa laki-laki yang berselingkuh dengan wanita lain itu masih bisa dimaafkan, namun perempuan yang berselingkuh itu adalah hal yang sangat fatal. Bukankah seharusnya perselingkuhan itu memang tidak boleh terjadi baik dari pihak perempuan maupun laki-laki?
“Aku… Ak---“ kata-kata Lita terbungkam dengan ciuman Rey yang mulai memanas. Ada setan yang mulai menguasai hati dan pikirannya sejak dia mendengar ucapan dari mantan mertuanya. Dia tidak ingin Lita pergi meninggalkan dirinya.
‘Aku harus menghamilimu, Lita. Dengan begitu kamu dan Noora akan tetap berada disisiku.’ Sumpah Rey saat itu pada dirinya sendirinya.
Rey terus memagut bibir penuh milik Lita, Lita sekuat tenaga berusaha melepaskan dirinya dari Rey. Rey membuatnya susah untuk bernafas. Terlebih lagi, tangan Rey sudah tidak terkontrol, bergerilya kemana-mana dengan sangat kuat dan memaksa. Lita kemudian teringat pada kata-kata papanya,’carilah laki-laki yang benar-benar menyayangimu dan juga cucuku, Noora.’ Suara itu terus saja terngiang ditelinganya.
Namun himpitan Rey membuat Lita susah untuk mengelak. Ciumannya semakin memanis diiringi dengan tangannya yang sudah menelusup dibalik piyamanya.
“Papi…! Mami…!” Noora berdiri didepan pintu dengan muka terkejut kearah wardrobe dikamar maminya. Disana ada Papi dan Maminya yang sedang melakukan aktifitas yang selayaknya tidak dilihat oleh anak 7tahun.
“Noora!!?” Kedua orang tua itu terbelalak menatap kearah Noora yang sekarang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.